Thursday, 26 April 2012

Tips Menulis Fiksi Ayu Utami

Kali ini penulis novel Saman, Larung, Bilangan Fu, Saman, AYU UTAMI, berbagi 8 tips soal bagaimana cara menulis fiksi.

1. Bagaimana menuangkan ide?

Ide adalah ibarat keping-keping lego atau puzel. Kumpulkanlah yang kira-kira bisa saling dipasangkan. Setelah ada beberapa keping, coba susun. Setelah mulai tersusun, biasanya kita bisa menyadari bagian mana yang belum lengkap. Lengkapilah agar menjadi utuh. Prosa yang utuh biasanya memiliki tiga bagian: pembuka, isi, dan penutup.

2. Seperti apa pembuka, isi, dan penutup baik?

Pembuka seharusnya cukup pendek untuk menjelaskan ke mana cerita kira-kira berjalan. Dalam film, sepuluh menit pertama harus sudah bercerita tentang masalah utama kisah itu. Isi harus lebih panjang daripada pembuka dan penutup, dan harus bergerak menuju klimaks. Penutup menjelaskan penyelesaian konflik-konflik yang ada dalam isi. Biasanya ringkas.
Cerita pop yang standar seperti makanan. Pembukanya segar-gurih agar kita ingin melanjutkan menu berikutnya. Santapan utamanya harus nikmat dan berisi agar kita kenyang. Penutupnya manis. Bisa juga manis dan pahit sekaligus, seperti sepotong tiramizu dan secangkir espresso.
3. Bagaimana membuat cerita?
Ide cerita boleh apa saja. Tapi, sebuah cerita yang menarik harus memiliki satu hal ini: ketegangan atau suspens.

4. Bagaimana membangun ketegangan?


Pertama, ketegangan dibangun dari kemungkinan ya dan tidak. Ini cara paling gampang. Misalnya, membuat tokoh utama menginginkan sesuatu. Contoh: Pinokio ingin menjadi manusia sungguhan. Ketegangan terbangun seputar apakah Pinokio berhasil menjadi manusia, atau ia tetap boneka kayu selamanya.
Kedua, ketegangan dibangun dari kejutan. Ini lebih sulit dari yang pertama. Sebab, untuk membuat kejutan yang mengasyikkan, penulis harus lebih dulu membangun unsur-unsur yang diperlukan. Kalau tidak, kejutan itu hanya akan menjadi kebetulan yang menjengkelkan.

5. Bagaimana mengatasi mentok-penulisan?


Biasanya kita merasa jalan buntu jika kita terlalu tidak berjarak, sehingga kita tidak bisa melihat ada jalan lain. Ambillah jarak. Istirahat dan tinggalkan tulisan yang buntu itu selama beberapa hari (bisa juga beberapa pekan). Ketika menengok kembali, cobalah pakai cara pandang baru. Kembali lihat ide-ide seperti keping-keping lego atau puzel. Jangan-jangan kita memasang kombinasi yang salah. Jangan-jangan susunannya perlu diganti. Jangan-jangan ada keping yang masih harus diambil dari tempat lain.

6. Bagaimana mengatasi kehabisan ide?


Banyak membaca dan mendengarkan pihak lain. Enam puluh persen pekerjaan menulis adalah membaca.

7. Apa betul, agar bisa menulis maka tulis saja segala yang terlintas di benak?


Cara itu bolehlah untuk catatan harian. Untuk menghasilkan tulisan yang dibaca orang banyak, sebaliknya pikirkan apa yang dibutuhkan orang banyak (termasuk diri kita sebagai bagian dari orang banyak).

8. Bagaimana agar tidak takut menulis?


Agar tidak takut, jangan terlalu memikirkan diri sendiri. Segala rasa takut datang dari terlalu banyak memikirkan diri sendiri.

Sumber: http://www.ayuutami.com/

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir ke blog sederhana saya, salam hangat