Monday, 2 July 2012

Cerpenku di koran Klick 27/5/2012


Cerpenku di koran Klick 27/5/2012
judul "Titik Hitam Yang Kecil"


 Titik Hitam yang Kecil
By: Nyi Penengah Dewanti


    Barangkali, semua orang ingin hidupnya mewah, menilik para tetangga mereka yang memiliki harta lebih berlimpah. Bisa membeli ini-itu tinggal tunjuk jari, tanpa perlu bersusah payah menjual tenaga dan keringat, sekali gesek dengan kartu ATM barang-barang yang mereka butuh langsung dapat digenggam. Sedangkan aku? Meluruskan rata jariku saja aku tak bisa.

    Umurku belum genap lima belas tahun, tapi dalam biodata kelahiranku dirubah dengan dua puluh satu tahun, selisih tua enam tahun. Aku lulus dalam medikal, tubuhku dinyatakan sempurna sehat. Tapi jari-jari tanganku memang tidak rata sempurna, siapa sih yang mau mengamati sedetail itu? Ibu jari dan jari kelingkingku lebih kecil dari ukuran normal manusia lainnya, hanya terlihat menyembul saja. aku tidak minder pun malu. Aku tetap bersyukur akan karunia ini, Alhamdulillah Allah masih memberiku lima jari yang sempurna menemani telapak tangan untuk bekerja.

    Dari ditawari calo, masuk PT, hingga proses penerbangan termasuk cepat kata ibu asramaku, “Kau hebat Danik, hanya waktu sebulan visamu sudah turun,” senyumnya.

    Kubalas senyuman itu. Lalu menjawab, “Berkat doa dari Ibu juga kan?” binar matanya menjadi bercahaya ketika kutakan itu.

    “Kau sudah seperti anakku sendiri, kau terlalu kecil untuk bekerja ke luar negeri, tapi apa daya ekonomi menuntut lebih dari yang kita butuhkan,” katanya sembari beranjak menatap teras melihat teman-temanku di penampungan yang sedang berbaris melaksankan olah raga sore hari.

    “Jadi anak Ibu seumuran dengan saya?” aku bertanya, dan ia mengangguk.

    “Kutinggalkan dia di rumah bersama neneknya,” ada nada getar di balik kalimat barusan. Tentu saja aku penasaran kemana suaminya. Apakah juga bekerja ke jantung kota Indonesia, ataukah meninggal, tapi aku urung bertanya.

    “Ayahnya kabur meninggalkan tanggung jawab, setelah Ibu kirimi uang untuk membeli sepetak sawah ketika Ibu bekerja di luar negeri dulu,” ia kembali menatapku tersenyum.

    Satu hal yang paling aku suka, ibu asramaku begitu ramah, ternyata senyumnya menyembunyikan seribu kelukaan yang menganga. Siapa sangka, orang yang amat disiplin, tegas, memberi banyak pelatihan berguna pada kami calon-calon tenaga kerja Indonesia. Adalah wanita kuat yang berrtahan di atas kerapuhannya sendiri.

    “Masing-masing manusia selalu memiliki masalah dalah hidupnya ya Bu? Nggak ada seorang pun yang nggak terbelit masalah, iya kan Bu?” mataku mengerling manja, berusaha menghalau gundahnya. Bu Darmi mendekatiku dan menarik hidungku, “Auw… sakit Ibu,” aku pura-pura memasang tampang kucelku. Dan kami saling berbagi ruang hati yang tidak pernah benar-benar terisi.

***
    Aku lelah. Lelah dengan suara keras yang berkicau setiap hari. Saling membentak dan menyalahkan. Saling berargumen dan melempar sesuatu yang jika jatuh ke lantai menimbulkan bunyi “prang”. Aku capek. Capek dengan kelakuan orang tuaku yang setiap harinya bertengkar. Berkali-kali tetangga menggedor-gedor rumah kami agar tidak berisik malam-malam. Tapi bapak seperti tidak memedulikan kemarahan tetangga. Malah semakin mengumpat seakan rumah kami berada di tengah hutan belantara.

    Lalu mamak serta merta menyuruhku keluar dari rumah, tidak lupa menggendong adikku yang masih umur 4 tahun. Aku enggan, aku ingin di rumah menemani mamak, aku takut terjadi apa-apa dengan mamak. Karena aku tahu kalau bapak kalap apapun bisa terjadi.

    “Demi adikmu cepat menyingkir. Mamak janji akan baik-baik saja,” usapan tangan keriput mamak tak mampu mengurangi pias kekhawatiran dalam hatiku. Aku masih diam di samping mamak. Mamak melotot meyuruh bergegas. Bapak masih mengucapkan mantra sumpah serapahnya dan terus membanting apa saja yang bisa dibanting. Terakhir aku melihat asbak kaca siap melayang, dan aku sekelebat melihat asbak itu mengarah ke mamak yang berada di belakangku. Demi apapun selamatkanlah mamak ya Allah.

***
    “Kau tidak makan Nik? Lusa kau sudah berangkat ke negara tujuan. Usahakan jaga kesehatanmu sendiri!” aku hanya mengangguk.

    “Bu, bolehkah Danik bertanya sesuatu?” di sela istirahat makan siang aku sengaja menyempatkan diri mampir ke dapur bertemu Bu Darmi. Sendok kuahnya diletakkan kemudian, menilik manik mataku seolah bicara “katakan saja, Nak”.

    “Jika ada kesempatan sekali saja dalam hidup, apa yang ingin Ibu lakukan?”

    “Kesempatan itu datang setiap hari berganti, tapi tidak dengan waktu yang bisa diputar kembali. Kejadian apapun dalam hidup adalah fase pembelajaran, pahit maupun senang. Ibu ingin, keluarga ibu kembali utuh, dan itu hanya impian belaka, Nak.”

    “Kenapa Ibu pesimis, Allah pasti kasih yang terindah untuk kehidupan Ibu, walo jalannya ga segampang yang kita ucap, Danik tahu itu,” aku merasa amat menyesal telah mengajukkan pertanyaan tadi.

    “Anak ibu sudah tidak ada lagi di dunia. Sakau. Ini salah ibu, terlalu memanjakkannya. Sepeninggal neneknya. Ia tinggal sendirian di rumah, sementara ibu merantau.  Dia memakai narkoba. Hasil kiriman ibu ternyata di buat beli barang haram itu,” ia menunduk, menghapus bening di sudut matanya. Kutepuk pundak bu Darmi.

    “Ibu yang sabar ya bu, ujian dari Allah, kita nggak boleh menolaknya,” bu Darmi menatap ke atas, di langit-langit atap dapur. Menahan tangisnya agar tidak jatuh berderai. 


    Segala sesuatu tak harus jadi sempurna untuk menjadi bahagia. Ada banyak masalah dalam kehidupan yang menghimpit manusia. Jadikan masalah seperti titik hitam yang kecil, ia setia menemanimu kemanapun jauhnya kamu melangkah. Terkadang belum apa-apa kita mengaggap masalah seperti raksasa yang hendak menerkam kita. Pikiran kita telah terhipnotis dengan kata “masalah”, yang berimbas ke tubuh. Membuat emosional, pemarah, dan kesehatan terganggu. Anggap saja masalah seperti tangan yang layak digenggam, bersabar dalam menghadapi, mulai tanyakanlah dalam diri untuk apa kita hidup. Aku dan waktu menjalani takdirku, tanpa siapapun. Hanya ada aku dan Tuhan. (*)


  
   

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir ke blog sederhana saya, salam hangat