Sunday, 3 June 2012

#MyLifeAs : Kuliah

#MyLifeAs : Kuliah

    Apa yang dibutuhkan untuk mengejar dan menggengam sebuah cita-cita? Niat, doa, usaha, kerja keras, tidak mudah menyerah, dan perjuangan serta keoptimisan. Cita-cita paling sederhana saya adalah bermanfaat buat orang banyak. Tapi jika disuruh memilih satu cita-cita apa yang belum terwujud dan sedang ingin diusahakan buat terwujud adalah : kuliah.

    Mencari ilmu itu tidak harus dibangku kuliah right? Setuju banget. Ilmu bisa didapat di mana aja. Namun sayangnya untuk menggeluti dan fokus pada satu bidang saja dibutuhkan seorang guru untuk membelajari kita. Otodidak bisa? Bisa untuk belajar sesuatu hal tertentu, menulis misalnya. Saya otodidak untuk mulai bisa belajar menulis, tidak perlu mentor hanya perlu banyak membaca dan membaca.

    Untuk bisa mewujudkan impian saya harus menyeberang lautan. Terbang bersama burung besi melintasi samudera, bermil-mil jauhnya. Pekerjaan di negeri sendiri tidak cukup untuk menggenggam mimpi-mimpi saya. Menyekolahkan adik, membayar cicilan rumah, dan tunggakan listrik, air bulanan. Dengan segenap doa dan restu orang tua, menapaklah saya pada sebuah titik nol. Menjadi seorang tenaga kerja Indonesia di negara Hongkong. Semoga ini salah satu jalan saya untuk melompat lebih tinggi.

    Kesuksesan untuk menggapai cita-cita harus saya bayar mahal. Ikut orang itu sama dengan nasib yang di ujung tanduk. Saya tidak tahu bahaya apa yang akan mengancam saya, setiap saat harus serba hati-hati. Lha wong ikut saudara aja ada rasa ‘sungkan’ apalagi ini ikut orang lain yang notabene bukan satu kewarganegaraan, dibutuhkan pemahaman budaya, bahasa, dan tetek bengek lain tentang negara yang saya pijak sekarang.

    Setiap saat selalu ada masalah, setiap hari selalu ada kesalahpahaman, entah itu hal kecil yang diperbesar atau hal besar yang dibesar-besarkan. Tiap hari harus terima cacian, menerima konsekuensi dimarahi, bahkan tidak diberi makan. Semua demi cita-cita masa depan yang lebih baik, pengorbanan dari segi batin dan mental harus benar-benar siap. Kalau tidak jangan coba-coba iseng merantau ke negara orang. Dan saya berharap jangan lagi ada tenaga-tenaga kerja yang di ekspor ke luar negeri. Bertahanlah kalau bisa, bekerja di negeri sendiri lebih merasa merdeka dari pada di negara orang lain.

***

    Orang paling miskin adalah orang yang nggak punya cita-cita, dan orang yang paling bodoh adalah orang yang tidak berani mewujudkan cita-citanya. Dari kecil cita-cita saya beruba-ubah, tapi hanya satu cita-cita yang terus menuntut saya untuk mewujudkannya. Yaitu menjadi : guru. Mungkin karena mengajari orang yang belum mengerti itu mengasyikkan. Ilmu yang kita punyai meski sekecil benih bayam jika dibagi akan bertambah berkali lipat. Ini berlaku untuk apapun, sesuatu yang jika dibagi untuk orang yang sedang membutuhkan, insyaAllah keihklasan kita pun akan dibayar Tuhan dengan jalan yang lebih indah. Kuncinya asal : tulus.

    Jika pun Tuhan suatu saat tidak mewujudkan saya untuk bisa kuliah, saya yakin akan ada jalan lain yang dipilihkan olehNya yang lebih tepat buat saya. Terkadang menunggu adalah sesuatu hal yang membosankan, tapi jika menunggu takdir menjadi lebih baik dari sebelumnya kenapa nggak? Semoga Yang Mahatunggal mendengar pinta dan pengharapan saya, untuk dimudahkan jalannya.

    Teman saya bilang, “Udahlah nggak usah kuliah, aku ini yang lulusan S1 juga cari kerja susah. Kamu kan sudah kerja, mending kumpulin modal untuk usaha saja,” lantas saya mulai berpikir-pikir benarkah?

    Sering kali teman saya memberi nasihat, apa salahnya saya ingin kuliah lagi. Hanya saja mereka melihat dari segi bahwa saya kerja itu termasuk pencapaian yang sukses dari pada dia. Meski begitu tetap saja keinginan saya untuk bisa kuliah tidak surut, masih ada dalam kamar impian. Kadang saya envy kalau liat teman-teman yang bisa kuliah tapi mereka nggak benar-benar niat buat nimba ilmu. Biaya ada, kesempatan ada, tapi keinginan untuk bersungguh-sungguhnya yang nggak ada.

    Keberuntungan dan kesempatan yang kita punya belum tentu ada di detik hidup yang berikutnya. Buat teman-temanku yang sudah melewati garis tujuan awal, kembalilah ke tengah dan berusaha keraslah. Siapapun ingin melihat kamu sukses dan tidak gagal, tapi kembali ke prsonality kamu sendiri. Semoga apa yang saya tulis di atas dapat mencerahkan sedikit hati 
 yang bimbang. Good luck guys!  (*)


12:43 pm/3/6/2012
Valais, Sheung Shui, Hongkong.

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir ke blog sederhana saya, salam hangat