Pengalaman Melahirkan Pertama Kali, MasyaAllah Luar Biasa


Pengalaman Melahirkan Pertama Kali, MasyaAllah Luar Biasa - Allhamdulillah akhirnya sempat juga menulis blog pengalaman melahirkan normal, atau melahirkan spontan/pervaginam.


blog pengalaman melahirkan normal pengalaman melahirkan normal pengalaman melahirkan tidak sakit
blog pengalaman melahirkan normal


 

Jadi setelah saya memeriksakan USG terakhir kali di hari Sabtu, janin sudah siap dilahirkan tinggal menunggu waktu karena sudah 39 minggu. Saya sudah menuliskan pengalaman 'Berapa Biaya USG RS Baitul Hikmah Kendal', tinggal klik saja ya.

 

Dua hari setelah saya USG saya mendapati tanda flek darah pada celana dalam, dan langsung kontak beberapa teman serta bidan yang saya sambangi. Rasa mulasnya itu beda sama pas mau pup, mulas yang agak nyelilit gitu. Jadi saya mulai memersiapkan diri, dengan didampingi suami.

 

Kalau mulas datang saya minta dipegangi suami, dan memainkan ball gymbal agar kedistrak dengan rasanya. Tapi makin lama, rasa mulasnya makin melonjak dan saya nggak tahan.

 

Dokter Kandungan Kendal yang saya sering periksa di sana, Dr Jundan Hidayat Sp OG, bertugas di RSI Muhammadiyah Weleri, maka pilihan saya melahirkan di RSI Kendal. Dengan bantuan mobil tetangga yang sebelumnya sudah saya tembung, kami berangkat. Saya, ibu, dan suami tentunya. Sepanjang perjalanan saya meminta adik untuk hati-hati dalam mengemudi. Soalnya lonjakan dikit aja, rasanya aduhai sekali.

 


Proses Melahirkan Normal di Rumah Sakit Islam Muhammadiyah Kendal


 

blog pengalaman melahirkan normal pengalaman melahirkan normal pengalaman melahirkan tidak sakit
pengalaman melahirkan normal

 

Kurang lebih pukul 11 malam saya masuk ke ruang IGD langsung, setelah dicek pembukaan 3 oleh bidan yang bertugas saya langsung ditangani untuk diinfus. Namun sebelumnya dilakukan tes SWAB terlebih dahulu, untuk protokol kesehatan dan itu pertama kali saya merasakan hidung dicolok. Allhamdulillah rasanya tidak sakit dan sedikit kaget saja.

 

Sembari menunggu, saya terus merasakan mulas dan meminta suami terus mendampingi. Tapi suami wara-wiri mengurus surat pendaftaran, allhamdulillah ada ibu. jadi ibulah yang juga membantu saya mengurangi rasa sakit dengan teknik rebozo.

 

Jujur dengan rebozo, rasanya memudar tapi seiring pembukaan yang terus berlanjut rebozo gagal mengurangi rasa tersebut. Mau bawa gymball kok lupa, padahal pas awal kontraksi di rumah saya menggunakannya dan sukses nyerinya sedikit berkurang. Mau jalan-jalan juga, tapi posisi sudah diinfus dan nggak enak kalau mondar-mandir karena hari sudah malam.

 

Setelah semuanya siap, saya disuruh duduk di kursi roda, oleh perawat. Tadinya mau jalan, eh ... ternyata jauh. Saya dibawa ke ruang bersalin, jadi bukan di ruang inap.

 

Di ruang bersalin RSI Muhammadiyah Weleri, saya disuruh tiduran untuk dicek semuanya. Dari pembukaannya udah nambah atau belum, tensi, dan juga detak jantung janin. Hal tersebut dilakukan terus-menerus dan bertahap sampai dengan proses melahirkan alami terjadi.

 

Pembukaan yang dari rumah 3, pelan-pelan terus bertambah. Menjadi pembukaan 5, 7, 8, dan 10. Di pukul 4 pagi, saya mulai dipersiapkan diri untuk melahirkan normal.

 

Rasanya? MasyaAllah, untuk mengejan itu saya membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam dan terbilang lama. Bidan dan perawat yang bertugas sampai heran, hehehe ... soalnya saya salah ketika mengejan.

 

Mengejan yang seharusnya seperti kita buang air besar, atau PUP justru saya mengejannya dengan pernapasan dada. Jadilah proses melahirkan normalnya berjalan agak lambat, "Ayo Bu Nyi, adeknya sudah mau keluar. Napasnya jangan di dada, tapi di perut seperti mau pup," ucap bidan yang bertugas. Tapi lagi-lagi saya salah mengejan, hiks. Padahal saya sudah berusaha juga.

 

Ternyata napas saya terengah-engah karena terlalu banyak mengeluarkan tenaga ketika kontraksi. Perawat yang bertugas sudah berkali-kali mengingatkan untuk 'menarik napas dan menghembuskan pelan,' seperti itu bukan malah Bergerak dan bersuara. Ya gimana, rasanya perut seperti ngilu gitu, terus kayak ada yang mendesak keluar seperti pup dan entah pembukaan ke berapa ketuban saya pecah.

 

Suami terus mendampingi dan memegang tangan kanan saya, sementara tangan kiri menggengam sisir warna hijau yang saya bawa dari rumah untuk menghilangkan rasa ngilunya. Ibu yang mendampingi justru lemas di bawah, karena melihat rasa sakit yang melilit anak perempuan satu-satunya. Bagian paling tidak sadar adalah, saya ternyata mencakari suami sampai memberikan luka. Itu si karena suami sendiri bilang, "Nggak apa-apa dicakar, ayok tarik napas lagi," begitu beliau menyemangati.

 

Balik lagi ketika saya mengejan, beberapa kali dan gagal, kepala janin udah bolak-balik lagi ditarik ulur, akhirnya bidan meminta izin untuk menggunting perinium (episiotomi) agar jalan lahir terbuka lebih lebar. Mengapa saya tidak menolak? Ya karena proses kelahiran bayi saya sudah cukup lama, dan saya sebagai ibu kurang menerapkan cara mengejan saat melahirkan dengan benar.

 

Kalau ditanya pas di episiotomi sakit nggak? Hehehe ... saya sudah tidak bisa merasakan lagi. Bahkan suami bilang, saya diepisiotomi dua kali, agar bayi tidak mengalami kesulitan untuk lahir.

 

Kok tidak sakit? Entah karena sudah merasakan ngilu pas kontraksi atau memang diberikan obat bius saya tidak memerhatikan karena fokus untuk mengejan. Tapi pas mendekati sudah waktunya lebih dari setengah jam, perawat meminta izin untuk menyuntikan obat ke infus. Beberapa bidan mendorong, tapi gagal, saya berusaha terus menarik napas panjang sekuat tenaga dan mulai mengejan dengan cara yang benar. Bidan naik ke atas ranjang mulai mendorong, dua bidang mendorong ditambah suami.

 

"Oek ... oek ... "

 

Allhamdulillah bayi perempuan saya lahir, dengan selamat, sehat, dan tidak kekurangan sesuatu apa pun. MasyaAllah, AllahuAkbar. Akhirnya saya bisa melewati proses melahirkan alami, dengan support semuanya. Saya kok ya nggak mengucapkan terimakasih kepada bidan yang bertugas, karena semuanya memakai masker jadi tidak tahu mana yang sudah menolong melakukan persalinan. Rasanya ada yang mengganjal gitu.

 

Melalui blog pengalaman melahirkan normal ini, saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada bidan dan perawat yang telah bertugas membantu saya melahirkan normal di waktu tengah malam sampai subuh. MasyaAllah, semoga Allah selalu menjaga dan melindungi tenaga medis yang sudah melaksankan tugasnya dengan baik.

 

Teruntuk Rumah Sakit Islam Muhammadiyah Kendal, terima kasih juga sudah memberikan pelayanan terbaiknya dalam menangani ibu melahirkan dan bersalin.

 

Setelah bayi perempuanku yang manis lahir, dengan berat 3360 dan tinggi 51 itu ditaruh di dada saya untuk melakukan IMD. Proses melahirkan bagian akhir yakni jahit-menjahit pun dilakukan. Jadi ini bukan cerita pengalaman melahirkan normal tanpa jahitan ya?

 

Kalau biasanya saya menanyakan teman-teman yang lebih dulu melahirkan berapa jahitan? Saya justru lupa bertanya kepada bidan saya mendapatkan jahitan berapa? Karena ketika merasakan proses menjahit tersebut setengah jam kurang lebih, saya tahu itu lebar sekali. Hehehe ... sampai kaki saya gemetaran ketika dijahit dan mengangkat pantat, untuk menghilangkan sedikit nyilu yang timbul. Tapi semua itu tidak masalah, karena si kecil sudah berada dalam dekapan dengan selamat dan mata berbinar lebar.

 

Proses menjahit selesai, saya mulai dibersihkan dan bisa berbaring dengan tenang. Menghebuskan napas lega, dengan didampingi ibu dan suami. Adik bayi dibawa ke ruangan lain untuk diperiksa juga serta diberikan imunisasi awal.

 

Setengah jam kemudian makan pagi tiba, tensi yang awalnya 140 turun menjadi 90, saya kehilangan banyak darah juga dan masih lemas. Dengan bantuan perawat yang membawakan kursi roda, saya dibawa ke ruang nifas. Sebentar kemudian adik bayi dibawa masuk juga.

 

MasyaAllah, saya bahagia. Tugas menjadi seorang ibu baru dimulai, semoga dalam prosesnya saya bisa belajar menjadi ibu yang terbaik dan bisa membimbing anak menjadi anak yang baik, sholehah, berakhlak mulia, serta cinta Allah dan Rasullullah.

 

Terima kasih Ibuku, sudah melahirkanku dan kini aku pun sudah merasakan bagaimana rasanya melahirkan sebenarnya. Terima kasih yang tak terhingga atas kasih sayangmu, dan aku yang masih banyak kurangnya ini.  

 

Ketika menuliskan ini, Ibu sedang memeluk erat cucunya dengan begitu erat. Aku membayangkan dahulu pasti aku dibegitukan. MasyaAllah, Tabarakallah. Terima kasih Allah, sudah menganugerahkan keluarga yang luar biasa.

 

Semangat buat ibu yang sedang mengandung dan melahirkan! InsyaAllah semuanya bisa dilalui dengan baik. Semoga blog pengalaman melahirkan normal ini, bisa menjadi gambaran, bagaimana nanti Bunda melahirkan ya? Salam.

 


Postingan Terkait

1 komentar:

  1. Alhamdulillah lahiran normal ya, nduk. Moga2 sehat selalu buat sekeluarga. Aamiin

    BalasHapus

Terima kasih sudah mampir ke blog sederhana saya, salam hangat