Monday, 8 May 2017

Malam Minggu di Kabupaten Batang

Kabupaten Batang


Nyipenengah.com - Berawal dari status BBM sahabat saya Sipit, yang ingin bermalam mingguan di Kabupaten Batang. Saya mengomentari jika ingin ikut serta, eh langsung deh cus jadi.

Kabupaten Batang sendiri, ialah salah satu Kabupaten yang ada di Provinsi Jawa tengah. Kabupaten Batang juga dekat dengan Kota Pekalongan, di mana kota yang terkenal dengan batiknya.

Sore pukul jam 3 Sipit menjemput saya di kostan dan kita baru berangkat pukul 5 sore. Sebelumnya saya mampir dulu ke rumah Sipit di desa Gringsing, selepas magrib kita langsung cus ke alun-alun Batang. Kurang lebih satu jaman perjalanan kami sampai, di alun-alun Batang sudah ramai pengunjung yang ingin menikmati akhir pekannya.

Saya dan Sipit langsung menuju ke tengah alun-alaun, di mana ada pohon besar yang tumbuh kemudian terkena petir dan membelah jadi dua. Kini pohon tersebut telah di lingkari oleh pagar, namun sayangnya anak-anak mudah pada nekat naik ke batang-batang dan bergerombol di sana. Tentunnya mau ngapain lagi kalau tidak berpose di depan pohon itu, lantas mengabadikannya. Saya juga tidak berdua saja lho, ada sepupu Sipit yang turut serta bersama kami. Wajahnya yang tidak asing, membuat saya dan dia mereka-reka. Oh ... ternyata sebelumnya kami pernah bertemu di pernikahan mbaknya Sipit, kami sama-sama jadi domas di pernikahan itu. Hubungan saya sama Sipit, berawal dari persahabatan saya dengan May, mbaknya Sipit. Entah kenapa justru saya dan Sipit jadi semakin akrab setelah May menikah. Mungkin ini ada benarnya yang dibilang teman-teman saya, jika saya supel. Gampang membaur dan mendapatkan teman. Saya bersyukur dengan lingkaran pertemanan ini, meski jarang berjumpa tetapi tidak saling melupa.

Kabupaten Batang


Selain pohon besar yang ada di tengah-tengah alun-alun, di depan jalan raya sana ada tulisan BATANG dengan huruf kapital. Ada juga beberapa seni ukuran yang menyambut kedatangan, siapa pun yang ingin berkunjung ke sini. Ada Gajah besar juga di gerbang, semacam dia yang mengucapkan selamat datang kepada kita. Di sisi kanan alun-alaun  ada lokasi yang digelar, dengan alas rumput sintetis. Nampak betulan tetapi bukan rumput asli, di kanan-kirin berdiri lampu bola yang mengintari. Nampak romantis jika di lihat dari kejauhan.

Ngomong-ngomon soal Kabupaten Batang ini, ada satu wilayah yang terkenal lho. Namanya  Alas Roban, di mana Alas Roban, menjadi wilayah yang lumayan ditakuti karena legendanya.

Sedikit cerita soal Alas Roban ini, berawal dari Sultan Mataram yang menyuruh Bahurekso melamar Dewi Rantan Sari. Gadis yang cantik jelita anak dari Mbok Rondo. Saat Bahurekso singgah ke kediaman Mbok Rondo dan bertemu Dewi Rantan, eeh ... malah mereka saling jatuh mencinta. Aduh ... jadi gimana dong? Yang namanya perasaan yang tetap saja perasaan, meski berkali-kali dibunuh ya tetep aja tumbuh.

Alun-alun Batang


Bahurekso memilih menuruti kata hati dan melawan Dewi Rantan, bukan untuk Sultan tetapi untuk dirinya sendiri. Berfikirlah si Bahurekso untuk kembali ke kerajaan, sembari memikirkan jalan keluarnya untuk mengatakan kepada Sultan perihal yang sebenarnya. Siapa sangka di jalan ia bertemu dengan Endang Wiranti, yang wajahnya mirip persis dengan Dewi Rantan. Bhahurekso mengatur rencana, meminta Endang menjadi Dewi Rantan. Yah ... namana bangkai akan kecium juga kan? Bahurekso diberi hukuman oleh Sultan, untuk membuka hutan lebat yang berbahaya.

Hutan lebat yang ditumbuhi pohon-pohon besar itu adalah jelmaan siluman, yang memiliki pemimpin siluman raksasa dan mempunyai putri yang cantik. Dialah Dubrikso Wati. Bahurekso bertanggungjawab atas kesalahannya, ia pergi ke hutan lebat itu menebang habis dan berperang melawan siluman. Sebagai tanda kekalahan tersebut, siluman raksasa menyerahkan Dubrikso Wati untuk dinikahi Bhahurekso.

Mereka menikah dan memiliki anak. Pepohonan besar yang berhasil ditumbang habis oleh Bahurekso dan sekarang menjadi jalan itulah yang dinamakan Alas Roban. Tetapi sampai sekarang masih banyak pepohonan gede dan rindang. Tiap kali saya lewat kesana, ini telinga kayak otomatis mendengung dan ketutup. Entahlah apakah masih ada misterinya, tetapi siapapun yang lewat sini pastinya memang merasakan aura ngerinya. Jangan lupa doa pokoknya kalau lewat Alas Roban, katanya kalau lewat sini bersama dengan hitungan orang ganjil. Yang satu ada aja kena. Saya pernah diceritain temen, kalau temannya ada yang ngeliat orang bawa motor tanpa kepala. Aduh ... bismillah deh ya, balik ke topik Kabupaten Batang aja, hehehe  ...

Alun-alun Batang


Akibat penebangan yang dilakukan Bahurekso, dalam skala besar menyebabkan bau. Banyak bangkai siluman betebaran. Bangkai dalam bahasa jawa disebut dengan 'batang', begitulah kira-kira asal usulnya nama kota Batang. Sultan juga menjadikan Bahurekso sebagai Bupati Kendal yang pertama.

Selain mencari spot unik untuk berpoto aku sama Sipit, juga mampir menikmati kuliner nasi Megono di pak Mungkin. Pak Mungkin? Iya, namanya pak  Mungkin. Apa saja yang saya makan di sana? Sampai jumpa ke postingan selanjutnya ya!



Salam

18 comments:

  1. Kalau di tegal namanya dewi rantam sari adadi daerah pesisir tegal sari. Pernah naik motor tegal semarang dan temenku ngrjar waktu biar ga kemaleman di alas roban

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha iyo kebanyakan ngejar waktu biar nggak kemalaman di Alas Roban ya.

      Delete
  2. Serius beneran ada mba macam liat orang naik motor tanpa kepala?! Duh saya malah fokus ke historis mistisnya ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. sudah jadi cerita umum kalo di sini mba Mir :-D
      Alas Roban terkenal horor hehehe

      Delete
  3. Nunggu penampakan nasi megononya Nyi :)

    ReplyDelete
  4. Nyi, tampilan blognya baru ya, unyu-unyu deh. Itu foto pegang lampu kok rada serem ya Nyi :)

    ReplyDelete
  5. Itu kampungnya Ibu saya, Nyi. Di Batang. Hehe, dan kalo mau ke Semarang or Surabaya pas pulang naik mobil, dulu itu emang kudu lewat alasroban yang jalanan lama. Itu horor emang selain jalanannya juga terlalu rawan. Etapi kalo sekarang kan dilewatin jalan baru, yg jalur lama kalo ga salah khusus truk atau muatan besar gitu. Jadi pengen ketemu sodara sodara di sana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo Peh kapan? hahhaa tar ketemuan di Batang.

      Iya sekarang sudah ada jalan baru, tetep aja tapi nembusi, kan berseberangan :-D

      Delete
  6. alas roban ini serem2 gimanaa gitu ya..mistis abiss

    ReplyDelete
    Replies
    1. haahha cerita dari jaman baheula itu mba Lingga ampe sekarang emang sepertinya masih.

      Delete
  7. horor gini mb 😂 jadi nikah sama Dubrikso klo sama Dewi Rantannya gmn mba?gantung?hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahha bagian ini entah mba Herva, kali Bahurekso menyerahkan kembali Deri ke Sultan.

      Delete
  8. Lha, saya malah fokus ke pak Mungkin.
    Mungkinkah ada menu yg bakal bikin kita balik lagi? #eaaa

    ReplyDelete
  9. Sering denger Alas Roban dengan kemistisannya, tapi terlepas dari itu aku suka baca sejarah yang kamu tulisin mbak, tengkyu yaaaa :D

    ReplyDelete
  10. kabupaten batang, baru dengar namanya mbak. enggak seterkenal pekalongan ya, padahal tetanggaan

    ReplyDelete
  11. Berdengung dan keutup gitu Nyi? ih, aku kok ngeri ya. Dulu kecil pernah lewat sana, tapi belum ngeh kalo ada cerita mistis gini loh

    ReplyDelete

Terima kasih sudah mampir ke blog sederhana saya, salam hangat