Seorang Istri dan Mertuanya

26 comments


Ada seorang gadis di Sabtu Pagi, yang bertemu dan semeja dengan seorang laki-laki. Mereka tidak saling mengenal tetapi tergabung dalam sebuah komunitas jualan. Sendok dan garpu berdenting, masing-masing memakan dengan lahap menu yang ada di piring mereka. Kesunyian dan keheningan berlangsung beberapa saat, karena beberapa rombongan sudah meninggalkan meja. Satu dari mereka memulai sebuah percakapan.







 

"Kamu jualan apa?" Si gadis memulai dengan pertanyaan dan si lelaki tersenyum. Ia mulai menjawab satu persatu pertanyaan dari si gadis.

 

Sesungguhnya, gadis tersebut mulai menaruh hati dengan lelaki yang ada dihadapannya. Bukan karena faktor tampan, tetapi karena lelaki tersebut begitu sederhana dilihat dari tata bicara dan penampilannya.

 

Sehari setelah pertemuan tersebut meninggalkan kesan yang mendalam bagi gadis. Ia lantas mencari tahu tentang lelaki yang pernah ditemui tersebut, yang satu meja dengannya. tetapi bukan melalui media sosialnya, karena gadis itu tidak bertanya lebih lanjut mengenai media sosial yang dipunyai lelaki. Ia bertanya kepada salah seorang yang dikenalnya, untuk tahu lebih lanjut tentang lelaki itu. Maka, teman yang juga ustadz tersebut meminta si gadis untuk menuliskan proposal hidupnya, data dirinya selama ini untuk ditukar dengan informasi lelaki.

 

Kali pertama berkenalan, dari apa yang dilihat si gadis berlanjut ke pertemuan kedua dengan didampingi kenalannya tersebut. Lelaki sederhana yang ditemui di meja makan, pada suatu acara datang untuk mengajak bertaaruf dan bertemu keluarga. Hanya dalam waktu dua minggu, semua berjalan dengan begitu cepatnya.

 

Gadis yang sering membayangkan kehidupannya setelah pernikahan, bersama lelaki sederhana yang pernah ditemuinya tinggal serumah berdua tidak peduli masih kontrak atau rumah sendiri nyatanya pupus sudah.

 

Ia harus hidup dan membaur bersama kedua mertuanya yang sudah renta. Ia harus menjaga kedua mertuanya, seperti menjaga ibunya. Ia harus berpisah ratusan mil jauhnya, dengan saudara-saudaranya. Ia harus melepaskan kehidupan dan pekerjaanya, untuk mengikuti ke mana pun suaminya pergi.

 

Gadis yang sudah sah menjadi istri itu, mulai belajar untuk menerima. Dengan penerimaan yang berusaha untuk selalu ia ikhlaskan, meski sesekali ia rindu dan menangis jika ada selisih paham di antara ia dengan lelaki yang dicintainya. Meski ada yang tidak disukai dari kebiasaan, kedua mertuanya. Dan bagaimana ia harus berjauhan dengan keluarganya yang berkumpul di saat hari lebaran, untuk melayani keluarga dari suaminya terlebih dahulu.

 

Apalagi, kini kedua mertuanya tidak bisa berjalan seperti sedia kala, harus berbaring di kasur, atau duduk di depan rumah dengan dipapah. Bertambah pula kepayahan dalam keseharian yang harusnya, mereka nikmati seperti yang dirasakan oleh pengantin dengan usia belia.

Ayah mertuanya mengidap asam urat dan lambung kronis, terjatuh tiga kali menjelang puasa Ramadan tiba. Gadis yang sudah menjadi seorang istri tersebut, harus wara-wiri ke rumah sakit bersama sang suami. Sementara ibu mertuanya juga terkena penyakit komplikasi, diabetes basah, asma, dan darah tinggi.

 

Hari-hari Ramadan yang harusnya ia nikmati dengan suka cita, ditimpa ujian mertua yang sakit. Setiap malam harus begadang. Setiap pagi harus memasak, menyuapi, dan memandikan.

 

Menjelang satu hari sebelum lebaran, bapak mertuanya meminta dibelikan baju koko warna putih, dengan sandal model japit. Sementara ibu mertua, dibelikan baju daster berlengan panjang dan berpita.

 

Seorang istri yang sedang belajar mencintai  mertuanya dengan sepenuh hati, dan mengabdi kepada suami yang dicintainya selalu berusaha mengingat surga meski sesekali ia ingin murka, dan berteriak dengan lantangnya.

 

Gema takbir yang bergemuruh di mana-mana, letusan mercon dan kembang api di udara membuat malam lebaran menjadi begitu syahdu sekaligus pilu. Ia dan suaminya sudah sibuk memasak rendang, opor telur, dan masakan lainnya. Ia tidak perlu memasak lotong dengan ketupat, karena adik mertuanya sudah mengantarkannya di malam sebelum takbir menggema.

 

Pagi harinya saat orang-orang bersiap menunaikan sholat Idul Fitri, bersama dengan seluruh keluarganya. Seorang gadis yang sudah menjadi istri tersebut, sibuk wara-wiri dari dapur ke depan mengurus mertuanya. Membantu ibu mertua lebih dahulu untuk mandi, memakaikan pakaian yang bersih, dan wangi. Lantas berganti dengan membantu bapak mertua mandi, mendampingi suaminya. Ia juga memastikan keadaan rumah bersih, toples-toples camilan berjejer dengan manis. Piring dan gelas disiapkan untuk makan bersama. Sembilan belas anak, cucu, dan cicit dari keluarga suaminya tumpah ruah memenuhi seisi rumah.

 

Gadis yang sudah menjadi istri tersebut, belajar untuk menjadi istri sholeha. Ia yang pernah berdoa kepada Tuhannya, untuk diberikan teman hidup yang bisa menerima ia apa adanya, bersabar dan mau berjuang dengan dirinya untuk beribadah kepada-Nya. Pun yang memuliakannya sebagai istri atau wanita yang insyaAllah kelak akan melahirkan anak-anaknya. Maka, disituasi sepahit apa pun, ia belajar untuk bersyukur sudah dipertemukan dengan teman sejati.







 

Ada seseorang yang pernah menuliskan kriteria jodohnya dengan sangat detail, ada juga seseorang yang tidak butuh menulis kriteria jodohnya, dan ada juga seseorang yang sedang duduk menghadap sebuah layar gadgetnya detik ini.

 

Seseorang yang sedang membaca tulisan ini. Terima kasih sudah membaca kisah, 'Seorang Istri dan Mertuanya', karena demikianlah kisah ini terangkai dengan sederhana dariku yang sedang belajar untuk menjadi istri yang baik, dan menantu yang berbakti kepada mertuanya, untuk mendapatkan akhir yang bahagia. 

 

"Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti tema ‘Mudik dalam Tulisan’ yang diselenggarakan Warung Blogger”

Nyi Penengah
Aku suka membaca buku, apalagi membaca hatimu. Mari bekerjasama dengan penuh cinta. Jika berkenan email di sini: nyipenengah@gmail.com

Related Posts

26 comments

  1. semoga saya pun bisa seperti gadis tersebut mengurus mertuanya sama seperti mengurus kedua orang tuanya sendiri

    ReplyDelete
  2. memang bakti sama mertua itu jadi keharusan yaa mba.. karena mereka pun orang tua kita. sebisa mungkin mengupayakan berbuat yang baik dan menyenangkan hatinya

    ReplyDelete
  3. Masya Allah.. semoga selalu istiqamah dalam kesabaran dan kekuatan, Mbak. Dan semoga Allah memudahkan untuk mengurus mertua, melapangkan dada Mbak dan suami, dan semoga kondisi segera membaik. Entah apapun dan bagaimanapun itu.
    Allah Maha Baik, dan Dia sebaik-baik perencana. Semangat terus ya, Mbak. Hugs ❤️

    ReplyDelete
  4. Semaaangaaattt selalu, Nyi!
    Memang dinamika kehidupan seperti itu ya.
    Kita mau tak mau kudu ikhlas, sabar dan bersyukur.

    ReplyDelete
  5. Pertemuan dengan Pak Suami berkenang sekali, sama-sama sedang usaha yang dipertemukan dalam komunitas yang sama. Unik dan tak disangka-sangka memang ya, pertemuan jodoh itu.

    MashaAllah Mbak Nyi, semoga senantiasa diberikan kekuatan, kemudahan, dan kesabaran dalam merawat mertua ya. Semoga baktinya nanti diganjar dengan hal-hal luar biasa dari Allah. Sehat-sehat dan selalu jaga kesehatan ya, Mbak. Semoga apa yang dicita-citakan menjadi peran-peran tersebut terlaksana juga. Selamat Idulfitri juga untuk Mbak Nyi dan keluarga.

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah punya tiket surga, ya Mbak. Mertua yang bahagia juga merupakan berkah dan sumber rezeki yang tiada akan putus.
    Selamat berlebaran, Mbak

    ReplyDelete
  7. setuju banget sama kata2 Nyi yang "bersyukur sudah dipertemukan dengan teman sejati" , dalam kondisi apapun tetap harus bersyukur yaah.. Semoga bisa segera bersatu dengan teman sejatiku ^^

    ReplyDelete
  8. Mbak, makasih udah menulis kisah pengalaman ini. Aku jadi dapat perspektif baru tentang hubungan mertua-menantu.

    Semoga Allah selalu kuatkan mbak ya dalam ikhtiar menjadi menantu yang berbakti bagi mertuanya. Sehat2 terus mbak. Insyaallah allah balas kebaikan mbak.

    ReplyDelete
  9. semoga kita sama-sama diberi kelapangan dan kebahagiaan untuk menemani mertua ya mbaaak, menganggapnya seperti orang tua sendiri

    ReplyDelete
  10. Mbak.. Aku salut lho. Dibalik keuletanmu, ternyata begitu sayang sama mertua. Telaten ngurus dan kebayang banget sesibuk apa. Ngurus orang sakit, sudah sepuh, itu kayak punya bayi😢 Cuma istri yang kuat yang mendapatkan kesempatan tersebut. Jadi jalan surgamu insyaallah Mbak. Aamiin. Maaf lahir batin ya Mbak..

    ReplyDelete
  11. Aku selalu amaze sama perempuanmenikah yang sangat dekat dengan ibu mertuanya bahkan bisa saling berbagi. Karena aku ngga seperti itu, Tapi semua sudah ada jalannya masing-masing ya mbak.
    Semoga berkah selalu mbak

    ReplyDelete
  12. Masyaallah, surganya Allah sungguh cocok untuk gadis tersebut yang menerima suaminya apa adanya dan sangat berbakti pada kedua mertuanya. Ramadhannya pastilah sangat bermakna

    ReplyDelete
  13. Aku termasuk orang yang menuliskan kriteria jodoh dengan mendetil, bahkan sampai berdoa supaya bs punya hub yang harmonis sama mertua, soalnya kebanyakan kan mertua vs menantu perempuan gimana gitu yah hehehe... Buatku juga bakti ke orangtua dan mertua sama besarnya. Yg penting ikhlas niscaya pahala terkumpul heheh

    ReplyDelete
  14. mba saya bacanya merembes banget ya Allah, terharu pengen nangis campur aduk. saya bayangkannya kayak ada yang mau meledak di dada ini. sepertinya saya termasuk orang yang tidak menulis detail kriteria jodohnya, yang saya minta selalu bahagia dan diberikan kondisi yang baik semuanya dan semoga sesuai dengan mimpi selama ini, aamiin

    ReplyDelete
  15. Menarik banget kak kisahnya. Aku lama banget nggak nulis cerita macam gini. Belakangan nulis review mulu.

    ReplyDelete
  16. MasyaAllah Nyi, terharu banget bacanya. Mertua sesungguhnya adalah orangtua kita juga. Jadi kita harus memperlakukan mereka layaknya ke orangtua sendiri. Semangat yaaa mbak. InsyaAllah balasan yang indah dari Allah...

    ReplyDelete
  17. Masya Allah Nyi, semoga apa yang kamu lakukan menjadi ladang pahala sebagai menantu yang baik dan sholehah. Semoga segala urusanmu juga diperlancar ya Nyi, apa yang digariskan oleh Allah adalah rencana terindahNya.

    ReplyDelete
  18. MashaAllah~
    Ini seperti kisah dalam novel, Nyi.
    Aku selalu salut kalau penulis sedang bercerita.

    Barakallahu fiikum.
    In syaa Allah keberkahan demi keberkahan buat Nyi dan keluarga.

    ReplyDelete
  19. Aku kalau menikah maunya juga punya mertua yang baik, yang sayang sama menantunya. Soalnya banyak banget fenomena di Indonesia yang nggak akur sama mertuanya hihi. Semoga doaku dikabulin. Aamiin.

    ReplyDelete
  20. Subhanallah, sesungguhnya mertua menjadi orang tua kedua, selain orang tua sendiri yang wajib dihormati. Semoga mertuanya mbak selalu sehat selalu ya.

    Selamat hari raya..

    ReplyDelete
  21. Saya sangat bahagia punya mertua baik
    Bahkan lebih sabar dari mama kandung
    Ini jadi hadiah atas doaku agar mendapatkan yang demikian
    Karena apa jadinya kalau mertua juga kayak mama
    Bisa ga tenang saya jadi blogger

    ReplyDelete
  22. Berusaha mengingat surga. Itulah alasan terkuat untuk bisa mendebat perasaan bahkan logika. alasan ini bisa mengalahkan apapun. Maka, beruntunglah mereka yang masih ingat surga. Beruntung lagi Kalau yang melakukan sesuatu demi tuhannya

    ReplyDelete
  23. Mengingat surga adalah alasan yang paling jitu untuk memaksakan diri melakukan sesuatu. Apalagi kalau hubungannya sudah antara mertua-menantu. Tapi alangkah bahagianya orang yang memaksakan melakukan sesuatu krnengingat tuhannya, bukan surganya

    ReplyDelete
  24. Masya Allah, mbak sungguh seorang istri dan menantu yang luar biasa, Mbak. Insya Allah bisa menabung banyak pahala. Semoga segala urusannya dipermudah dan bisa segera tercapai impian-impian yang belum terwujud

    ReplyDelete
  25. Semua akan melalui fase ini kok Nyi, hanya saja waktunya yang berbeda. Nyi dipilih untuk mengalaminya di masa-masa awal pernikahan dimana kebanyakan berangan tentang kehidupan pengantin baru yang romantis dan penuh cinta. Semoga Nyi dan suami selalu diberikan kesehatan, kesabaran dan ketelatenan merawat beliau berdua ya, aamiin YRA. Yakinlah bahwa nanti akan ada hikmah dan balasan berlipat dari Allah atas bhakti dan kasih sayang kalian aamiin.

    ReplyDelete
  26. Masyaallah... Sejatinya, kita sebagai istri pun pengen ya orangtua kita diperlakukan dengan baik oleh suami, maka kita pun harus bisa bersikap baik terhadap mertua. Semangaaat mbak, semoga baktinya kepada mertua jadi ladang pahala ya

    ReplyDelete

Post a Comment