Monday, 2 July 2018

Sosialisasi Sapta Pesona & FGD Kepariwisataan di Pekalongan



Sosialisasi Sapta Pesona & FGD Kepariwisataan di Pekalongan - Mewakili dari KBP (Komunitas Blogger Pekalongan), saya hadir dalam acara yang diadakan oleh DINPARPORABUD Pemkot Pekalongan. Setelah sebelumnya saya lemas karena insiden, Jadi Saksi Mata Kecelakaan Lalu Lintas. Alhamdulillah acara berhasil saya ikuti dengan tuntas, bahkan nara sumber memberikan apresiasi lebih kepada kami (Blogger Pekalongan).



Pengantar yang diisi oleh bapak Drs. Tjuk Kushindarto, sebagai Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga Pemkot Pekalongan membuat saya membelalakan mata. Mengapa? Karena, "Pekalongan menyatur Indonesia kecil," ucap pak Tjuk dengan bangga. Sekalipun saya tidak dilahirkan di Pekalongan, tetapi ayah saya pernah mengajar di SMP Islam dahulunya. Saya pun pernah mengenyam TK di Wonopringgo, dan akhirnya saya kembali lagi ke Pekalongan.

Pekalongan memang tidak memiliki lahan pertanian yang maksimal, cuma ada pantai. Alhamdulillahnya Pekalongan, menjadi kota kreatif dunia. Dimana daya tarik bertumpu pada, kaya akan budayanya. Budaya yang tidak hanya berasal dari batiknya, kulinernya tetapi juga keanekaragaman masyarakat yang tinggal di Pekalongan. Ada yang namanya kampung Arab, Jl. Belimbing Tionghoanya, Bugisan, Sampangan, Banjar dan lain sebagainya. Pak Tjuk dengan tertata, merunut apa yang Pekalongan punya. Beliau juga sangat mendukung untuk menciptakan, kampung wisata, kampung budaya yangn disertai dengan 'Edu Tourism'.

Sosialisasi Sapta Pesona

Diisi oleh bapak Husain Hutagalung, yang sekaligus dosen Trisakti School od Tourism. Beliau menceritakan dengan bahagianya, ketika mahasiswanya diterima oleh masyarakat Pekalongan untuk melakukan kunjungan. Meski kebanyakan mahasiswanya dari keturunan Tionghoa, nyatanya masyarakat tidak membedakan dari mana berasal. "Justru waktu mereka mau berpisah, yang terjadi tangis-tangisan antara mereka," ucap bapak Husain dengan berapi-api menjelaskan kepada audiens yang kebanyakan adalah bapak lurah di kota Pekalongan.

Pak Gandi menjadi Moderator acara


Dengan semangat yang tinggi pak Husain, menjelaskan kepada kami soal Sapta Pesona. Dimana ada 7 buah unsur: Keamanan, keterbiban, kebersihan, kesejukan, keindahan, keramahan dan kenangan. Sebuah kota, wilayah atau daerah di negara Indonesia haruslah memiliki unsur sapta pesona. Khususnya untuk wilayah yang sering didatangi wisatawan.

Pak Husain mencontohkan soal keindahan misalnya, "Masyarakat sekitar mohon maaf, masih menjemur pakaian dalamnya di luar. Bukan maksud saya menjelekkan. Tetapi karena lingkungan yang tinggali adalah termasuk yang sering dikunjungi oleh wisatawan. Maka sebaiknya, dibiasakan keindahannya," kata pak Husain memberikan masukan, "karena bagaimanapun daerah yang ditinggali kita menjadi cikal bakal untuk dikenang. Dimana para wisatawan itu akan kembali, karena keramahannya," lanjut pak Husain panjang lebar.

Bapak Husain Hutagalung


Dan yang masih saya ingat benar di kepala dan dalam benak, ketika pak Husain mengucapkan, "Indonesia diciptakan oleh Tuhan saat Dia tersenyum." MasyaAllah, hati saya langsung nyes, ada yang mengharu di pelupuk mata. Sebegitu cintanya Tuhan, dengan negara Indonesia tercinta. Jadi wajib bagi kita untuk menjaganya, berbekal dengan Sapta Pesona ini InsyaAllah, Indonesia ke depannya akan menjadi lebih baik lagi. Bahkan Indonesia merupakan negara yang paling kaya akan kebudayaannya di dunia.

Pariwisata dalam masyarakat

Materi selanjutnya diisi oleh dosen bahasa Inggris, bu Rina Fitriani dengan suara merdunya. Beliau memaparkan soal dalam membangun kepariwisataan suatu daerah, pertama kali yang dibangun adalah bukan dari penginapan (homestay), bukan dari akses jalannya, bukan pariwisatanya, melainkan dari orangnya. Masyarakatnya. Karena pariwisata mau dibawa kemana, adalah tergantung pengampunya. Penting untuk menyamakan visi dan misi, serta presepsi untuk mewujudkan komitmen bersama. Setelah itu ada, daya dukung akan muncul dari mana-mana. Barulah menjadi kota yang 'berdaya saing', jadilah khas dan berbeda dari yang lainnya.

Bu Rina juga memberikan warning, dalam beberapa hal. Soal kampung wisata dan kampung budaya yang nantinya hadir, haruslah bisa mensejahterakan masyarakatnya. Jangan sampai pemain besar dari luar masuk, karena kasihan nanti masyarakat kecilnya. "Boleh masuk, tetapi sebaiknya dibatasi," begitu ungkapnya dengan kehati-hatian. Beliau juga memberikan usulan, tidak hanya menjadi kampung wisata saja sekadar untuk jalan-jalan. Lebih dari itu, harus mengagendakan pelatihan, seperti misalnya belajar membatik. Meski di Museum Batik sudah ada, tetapi dibatasi waktunya. Sementara wisatawan lebih suka belajar lebih lama, membaur dengan masyarakatnya mencari 'soul'. Oleh sebab itu penting sekali pemerintah, masyarakat, dan warga untuk bersinergi bersama, saling mendukung dan menerapkan sapta pesona.

Peserta Sapta Pesona yang isinya bapak dan bu lurah


Masih ada lagi, orang wisata itu harus punya sikap mental yang melayani. "Seperti saya yang seorang dosen, saya melayani mahasiswa untuk menyalurkan ilmu. Berbagi pengetahuan yang saya punyai. Jika rasa berbagi sudah timbul dari dalam diri, munculah rasa ikhlas. Ini yang harus dimiliki," ungkap bu Rina dengan gamblang, "jangan lupa juga  ketika dalam berkomunikasi tidak pernah malu untuk bilang 'Maaf, tolong dan terimakasih'.

Aih ... saya bangga bisa berada di sini, mewakili KBP, terima kasih untuk kesempatannya gaes!

Basis sumber daya wisata

Terakhir pemateri adalah bu Hanni Adriani, yang sudah menulis buku tentang Kota Pekalongan. Proud of you Bu! Aku jadi kepengen juga bu, nulis buku tentang Pekalongan, semoga kesampaian aamiin. Jadi dalam mengembangan destinasi wisata, kita butuh semua aspek. Dari sumber daya alamnya, sumber daya sosial dan budaya dan sumber daya buatan.

Beberapa contoh yang dipaparkan oleh bu Hanni, adalah 'experience' ketika beliau belajar membatik. Ada rasa yang berbeda, ketika membaur dengan masyarakat. Soal promosi juga disinggung oleh beliau, kalau kampung batik di Pesindon sudah dikenal luas saatnya melakukan pemerataan kampung wisata yang lainnya untuk di gali terus. Selain itu apa yang sudah terbentuk, jangan lantas ditelantarkan tetapi terus dijaga agar tidak luntur.

Pak Tjuk dan Bu Hanik


Bu Hanik juga menceritakan project yang beliau tangani, dimana ada kampung Marawis yang khas. Maka untuk menciptakan kampung wisata, ambil dulu yang khas. Angkat, gali dan eksplorasi untuk dijadikan kampung wisata. Ada bocoran juga soal ruang lingkup dalam merencanakan pariwisata. Ada 7 hal adalah :

Pemberdayaan masyarakat
Pencitraan dan pemaknaan tempat
Penembangan daya tarik wisata
Pengembangan sarana dan prasarana
Pemasaran
Kelembagaan kepariwisataan
Membangun koordinasi linras stakeholder

Kalau sudah direncanakan, mulai untuk menggali. Mengembangkan, menciptakan branding kuat. Pekalongan punya apa sih? Apa yang menarik dari Pekalongan? Maksimalkan dan berikan dukungan penuh agar tercipta kebersamaan dalam membangun.

Focus group discussion pariwisata

Sesi pembekalan sapta pesona selesai, dilanjutkan oleh diskusi. Berhubung kami ada tiga baris dalam pembagian tempat duduk, perbaris dari kami diperbolehkan bertanya. Alhamdulillah amanah dari member group KBP berhasil saya tunaikan, beberapa diantaranya untuk menarik KBP (Komunitas Blogger Pekalongan) sebagai media patner dalam memviralkan agenda kepariwisataan yang ada di kota Pekalongan dan untuk PEMKOT Pekalongan untuk segera merilis agenda even wisata daerah Pekalongan sendiri.
           
Pak Husain menyikapi dengan bijak, bahkan memberikan apresiasi bahwa kami ini adalah corong untuk memviralkan apa yang terjadi di kota pekalongan. Soal wisatanya dan budayanya. Karena jaman semakin maju dan berkembang, beriklan itu tidak harus di televisi, radio tetapi juga melalui tulisan. Alhamdulillah pak Gandi selaku moderator, juga dengan baik mengajak kami serta membangun Pekalongan agar lebih mendunia lagi. Terima kasih untuk ilmu, pengalaman dan silaturahmi berharga ini. Semoga menjadikan kia semua menjadi pribadi yang senantiasa, mampu menebar manfaat. Aamiin.



Mau sukses sendirian apa berjamaah? Kalau sendirian ya udah, jalan aja dulu. Tetapi kalau mau sukses barengan, jangan lupa gengam tanganku. Kita melaju bersama, membangun dunia dengan cinta dari-Nya. Semoga bermanfaat, salam!



6 comments:

  1. Senang ya mbak jadi blogger juga bisa turut andil dalam bangun daerah sendiri

    ReplyDelete
  2. Wah seru dan edukatif banget ya acaranya. Sepakat mbak.keramahtamahan adalah faktor penting yg g boleh ditinggalin. Mau sebagus apapun tempat wisata, kalau 'tuan rumah' nggak welcome, ya Eman Eman.

    ReplyDelete
  3. Asik banget ya sosialisasinya jadi makin tambah ilmu ya. Mbak Nyi memang blogger keren dan top.

    ReplyDelete
  4. Kegiatan semacam ini memang harus diadakan di seluruh Indonesia. Biar semakin dikenal dan diaplikasikan soal sapta pesonanya.

    ReplyDelete
  5. Sukses selalu untuk mbak Nyi Penengah dan teman-teman, mari kita bangun pekalongan untuk membangun Indonesia.

    www.berkarakter.com

    ReplyDelete
  6. Go blogger go.. makin kontributif ya mba..

    ReplyDelete

Terima kasih sudah mampir ke blog sederhana saya, salam hangat