Monday, 12 January 2015

[Resensi] di muat Harian Umum Singgalang

Kabar Bahagia jatuh lagi di Januari, kali kedua resensiku dimuat Harian Umum Singgalang. 
Seneng, tentu saja. Novel ini hasil barter aku sama penulisnya, yang juga sahabatku nulis. Ini novel pertama dia yang terbit, tetapi masih bejibun naskah dia lho! 

Resensi ini aku kirim tanggal 22/12/2014
kemudian dimuat tanggal 11/01/2015 
lumayan singkat ya :D

Mau tahu gimana caranya kirim resensi ke sana?
di akhir postingan, aku sertain alamat emailnya, ya. 
Semangat!


Judul                          : Dua Keping Cinta
Penulis                        : Madun Anwar
Penerbit                      : Mediakita
Tahun terbit              : November 2014
ISBN                           : 9797944824
Jumlah halaman        : 139 halaman
Review:

Kebahagiaan Orang Tua di atas Segalanya


            Dua Keping Cinta – Mengisahkan perjalanan cinta Raihan dan Lestari akan pertemuan tidak sengaja mereka di perpustakaan sekolah, kemudian timbul sebuah rasa yang disebut; cinta. Keduanya masih malu-malu mengakui tentang perasaan mereka masing-masing, yang membuat sahabat mereka geram.
            Ialah Dila dan Dito, kedua sahabat Lestari itu membantu percomblangan diam-diam antara dirinya dan Raihan. Lestari dibesarkan oleh ibu tanpa Ayah, sementara Raihan Mama dan papanya telah bercerai.
            Ibu Lestari adalah penjual kue dan menerima pesanan, suatu ketika Lestari disuruh mengantarkan kue ke pemesan di daerah perumahan elit. Tanpa disangkanya saat mengantarkan kue pesanan seseorang, yang membukakan pintunya adalah Raihan. Terkejutlah Lestari dan bergegas pulang, hari berikutnya dan selanjutnya Raihan sering bertemu entah tanpa sengaja pun dipertemukan dengan sengaja atas bantuan Dito dan Dila.
            Lestari balik arah. Dan ... ia sedikit melotot. Ia terkesiap. “Kamu?” tunjuknya.Ah, ia tidak menyangka kalau bertemu dengan Raihan lagi. (halaman 22)
            Sebenarnya Lestari sudah curiga, namun Dito dan Dila selalu mengajaknya dengan alas an berdiskusi atau dengan kegiatan lain yang menyangkut belajar. Lestari tidak bias mengelak, kadang kala ia pun mengambinghitamkan pekerjaannya mengantar kue sebagai alasan untuk lari dari pertemua. Setiap kali berdekatan dengan Raihan, Lestari gugup dan canggung.

            Lestari dan Dila sekarang duduk, dan lestari terlihat matanya memandang Raihan. Ada kecanggungan pada dirinya. Apalagi di otaknya sedang mengaung tentang Dito yang sudah menceritakan Raihan tentang dirinya. Duh, ada rasa ingin memaki Dito kalau sudah begini. (halaman 33)

            Tidak ingin menyiakan weekend kali ini, Dito dan Dila pun merencanakan member kejutan di rumah Raihan lalu mengajaknya ke rumah Lestari. Sayang rencana tersebut gagal karena Mama Raihan sedang menerima tamu, Raihan tidak ingin pergi karena ingin menjaga mamanya.
            “Tamu baru lagi, Ma? Yang ke berapa? Apa yang sebelum-sebelumnya tak setia?” Raihan langsung memborbardir Mama dengan pertanyaan ketika batang hidungnya muncul, penuh dengan wajah tak suka dan kecewa. (halaman 45)
            Raihan merasa terluka setiap kali mamanya berganti-ganti pasangan semenjak perpisahan dengan papanya. Raihan ingin kedua orang tuanya rujuk kembali, sayangnya selalu saja ada alas an keduanya tidak ingin bersatu.
            “Han, sudah berapa kali Papa bilang. Papa dan Mama tidak selaras lagi. Kalau tetap diteruskan, tentu akan lebih parah. Bukankah kamu mengerti hal itu?” Papa memegang tangan Raihan dengan kuat, seolah member pengarahan untuk anak semata wayangnya itu. (halaman 60)


            Dua Keping Cinta – Memiliki kesamaan antar tokohnya, papa Raihan bercerai dengan mamanya, sementara Lestari tidak memiliki Ayah, karena telah meninggal. Mereka sama-sama memiliki kekurangan figure orang tua. Namun di pihak Lestari, ibunya diceritakan telah memiliki sahabat lelaki yang dekat dengannya, dan segera akan meminangnya, setelah kembali dari dinas luar daerahnya.
            Tidak hanya melibatkan cerita antar tokoh remajanya, namun Dua Keping Cinta juga menyajikan pergulatan batin kedua orang tua antar tokoh. Bagaimana mereka akan memulai kehidupan yang baru dengan pasangan baru, yang sama-sama sudah memiliki anak.
            “Makan malam, Bu?” tanyanya kemudian. “Dengan anak Om Darma?” lestari seolah belum percaya. Ia  memang tahu kalau Om Darma punya anak. Apalagi anaknya beda satu tahun dengannya.
             Perjalanan cinta Raihan dan Lestari pun menjadi teka-teki dalam cerita novel ini, ketika Raihan semakin yakin akan perasaannya dengan Lestari. Begitu juga Lestari yang semakin lama rasa sukanya menggunung, menunggu kepastian dari Raihan harus menahan diri.
            “kamu boleh membenciku, Tar. Tapi sungguh, perasaan ini tidak boleh kita biarkan tumbuh. Ada hal yang membuat itu tidak mungkin terjadi,” lanjut Raihan. (*)

Nyi Penengah Dewanti adalah nama Peresensi, mahasiswa STIE Semarang, semester V fakultas managemen.

[notes] : kirim resensinya ke email : singgalang @yahoo.co.id 
lalu, cc ke a2rizal@yahoo.co.id 
format tulisannya sekitar : 4ribu CWS 
honornya 25 ribu :) 
cuss kirim :D





0 comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir ke blog sederhana saya, salam hangat