Sunday, 4 January 2015

[Book Review] Jemari 7 Penyair (Empat Daerah)








Judul                            : Jemari 7 Penyair (Empat Daerah)
Penulis                         : Didiek Soepardi. MS dkk
Penerbit                       :Leutikaprio
ISBN                           : 978-602-225-289-4
Jumlah halaman            : 182 halaman
Terbit tahun                  : Februari 2012
Review                        :

Berkembang dan Menurunnya Kesusteraan

            Jemari 7 Penyair adalah antologi puisi yang awalnya digagas oleh Hadi Lempe, salah satu penyair sekaligus kuratornya. Awalnya hanya lima orang kemudian berkembang tujuh penyair. Antologi Jemari 7 Penyair sebenarnya tertunda selama setahun dan tersendat-sendat untuk diwujudkan lantaran kesibukan masing-masing penyair.
            Masing-masing penyair menulis antara 17- 20an puisi. Puisi yang diangkat memakai macam-macam tema, dari lingkungan, cinta, politik, cuaca dan lain-lain.
            Aras Sandi menulis puisi 19 puisi dengan beberapa judul : pesta bunga, serumbung mendung, pergilah, mencari jejak penggembala, anak kalibacin dan lain-lain.

PENA

tak  hendak lagi melangkah, ingin kutinggalkan jejak luka karena renta memamah usia
telah kusapih kertas dalam percumbuan rapih tanpa bekas
hingga mataku mulai rabun kehilangan warna
terselimuti kecantikan
merambat gelap menuju buta
(halaman 21)


            Asy’ari Muhammad menulis 22 puisi dengan judul diantaranya: Yang Mulia, Negeri Amnesia, Nisan, Bukit Putih, Gadis Pelabuhan, Riwayat Batu-batu, dan lain sebagainya.

HUJAN DI ATAS BATU-BATU

hujan di atas batu-batu cadas
melarutkan sepi
mengaliri sungai-sungai membawa ke laut

(Halaman 48)

            Djawahir Muhammad, ada 20 puisi yang ditulisnya, tirai, sebutir debu, angin, sajak iklan, lelaki yang malang, catatan 1979, duka bumi manusia, dari jembatan kali code dan lain-lainnya.

SEBUTIR DEBU

ketika sebutir debu terangkat ke udara
dunia seisinya ikut terbang bersamanya

(halaman 51)

            Didiek Soepardi MS, menulis 21 puisi. Kidung Sukma, sampai kapan, keraguanmu, kecamuk rasa, melepas sunyi jiwa, sampai kapan, sajak biar dan sebagainya.

RINDU KEMARIN

kau di sana
ku di sini
meniti hari-hari yang penuh penantian
memandang samar cakrawa
dengan kecamuk rindu
yang kian membual

(halaman 81)

            Kemudian Hadi Sulistyono dengan 24 puisi. Ratu Ayu Neni dengan 20 puisi dan Sulis Bambang dengan 20 puisi. Buku ini penuh taburan puisi yang akan membuat kita, secara tidak langsung turut membahagiakan ke tujuh penyair.
            Ada pesan terselubung di balik terbitnya antologi Jemari 7 Penyair. Yaitu mereka menentang adanya menurunnya kesusteraan di Indonesia. Dengan jalan menerbitkan antologi puisi ini mereka membuktikan bahwa, kesusteraan Indonesia semakin berkembang, tidak hanya lewat jalur akademis, kesustraan bertumbun pun tanpa dipelajari (otodidak).


0 comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir ke blog sederhana saya, salam hangat