Monday, 12 January 2015

[Cerpen] di muat Tabloid Apa Kabar

Sebenarnya saya ngirim untuk moment hari Ibu, tetapi karena hokinya di bulan januari :D
cerpen saya kirim tanggal 28/11/2014
dimuat tanggal 11/01/2015 
selisih dua bulan ya :D 
ini yang jadi model kakak angkat saya, karena tabloidnya terbitnya di negara Hongkong sana 
jadi alhamdulillah, masih ada yang menginforamsikan pemuatannya. 
Cara mengirimnya saya sertakan di bawah postingan, ya :-D


Ramuan Masakan Ibu
By Nyi Penengah Dewanti

Ada yang selalu kurindukan setiap kali jam makan sudah berdentang. Makanan yang setiap hari kumasak untuk majikan hanya beberapa kali kuincipi. Bukan karena rasanya tidak enak, namun rasanya bosan setiap kali memasak, aku memakan masakanku sendiri. Walaupun majikan selalu memujiku bahwa makananku sungguh enak, “Housiek. Houseik Ani ...” katanya berulang kali dan berkat masakanku pula majikanku menjadi sayang padaku.
Hari Senin aku memasak ikan manis pedas, Selasa aku memasak balado terong dan telor, Rabu rendang, Kamis, Jumat dan Sabtu. Setiap hari selalu kurubah lauk pauk dengan menu sayur agar tidak monoton. Setiap kali akan memasak aku menyempatkan diri menelepon ibuku. Aku memintanya resep masakan pada ibu. Semua perkataan ibu aku jalankan beserta trik dan caranya. Setiap hari mendapat pujian dan setiap minggu mendapat hadiah dari majikan. Alhasil majikan selalu mengundang teman-temannya untuk makan di rumah.
Cenhai houmeh ...” kata teman mahjong majikanku.
Haiya, housiek a!” seru tamu majikanku yang lainnya.
Padahal aku memasaknya dengan biasa saja, sesuai perintah ibuku. Sebenarnya aku memraktikkan masakan-masakan ibuku agar aku bisa mendapati kenikmatan ketika aku memakan masakan ibu. Tapi yang terjadi aku merasa masakanku semakin tidak memiliki rasa yang dapat membuat air liurku menetes. Namun anehnya orang lain yang memakannya selalu nambah dan meminta memasak resep yang lainnya. Dan pada suatu siang di musim dingin, aku mendengar percakapan majikanku sepulang dari belanja.
“Sepertinya masakan kungyanmu mengandung sihir,” katanya terdengar keras dari arah pintu.
“Sihir apa?”
“Ya, sihir. Jampi-jampi biar kamu semakin dekat dengan dia,” sahabat majikanku itu terus mengompori majikanku, “kamu tahu, Aling kan? Kungyanku itu, sudah empat tahun ikut aku, tapi masakannya kian hari tidak bertambah enak, biasa saja,” ucapnya seraya agak dongkol.
“Ah kau terlalu berlebihan, Lisa.”
“Kamu tidak percaya padaku?” liriknya sebal ke arah majikanku, aku masih terus saja mengikuti percakapan mereka, “besok kuajak kamu ke tempat orang pintar, kita lihat apakah omonganku benar atau tidak.”
Majikanku mengangguk lalu mengalihkan perhatian pada sebuah majalah fashion yang sedari tadi dibuka-buka karena mendengar celoteh sahabatnya. Kemudian aku masuk memasang wajah tersenyum dan mengucapkan salam. Dan seperti biasa aku menyiapkan makan siang, karena majikanku sedikit tidak enak badan ia tidak masuk ke kantor.
+++

[CERNAK] di muat Padang Ekspres


Minggu kedua bulan Januari ini, saya merasa bahagia sekali, tiga karya saya dimuat media berbeda. Resensi di Singgalang, cernak di Padang Ekspress dan cerpen di Tabloid ApaKabar Hongkong.
Cerita anak ini saya kirim pada tanggal 6/01/2015 lho
dan dimuat 11/01/2015 hehehe ... 
masa tunggu hanya enam hari saja
wanna to try it?
di bagian akhir postingan saya sertakan emailnya ya :-D 






Bermain Layang-layang
Galang menggerutu sebal, kenapa papa-mamanya harus pindah rumah. Bukan hanya itu saja, galang harus pindah sekolah juga. Galang tidak punya teman di tempat tinggalnya yang baru. Meskipun walau baru sehari berpisah, Galang sudah merindukan sahabat-sahabat lamanya.
“Galang, kok sedih begitu, Nak?” ucap mama Galang mendekati sang putra.
Galang menunduk, enggan melihat mata mama. Galang takut menangis, karena kesepian tidak punya teman. “Galang rindu sama teman-teman, Ma.”
Mama mengusap rambut Galang, dengan lembut. “Mama yakin, sebentar lagi. Galang pasti punya teman.
“Lang, Galang,” seru papa Galang dari arah ruang tengah.
Ya, papa dan mama Galang sedang sibuk berbenah di rumah barunya. Rumah baru namun terlihat umurnya sudah lama. Bukan rumah yang baru dibangun, mungkin saja ini rumah yang diberikan dari kakek, pikir Galang.
“Lihat, Nak. Apa yang papa temukan?” kata papa dengan penuh semangat.
Galang awalnya cuek, malas sekali. Papa pasti sedang merayunya, agar Galang tidak terus-terusan merengek  karena tidak memiliki teman. “Itu layangan siapa, Pa?”
Papa melangkah mendekati Galang, papa tersenyum. Kemudian memberikan beberapa layangan itu kepada Galang. “Ini layangan papa dulu, lho!”
Bulat mata Galang, langsung terpana. “Kok Galang nggak pernah lihat di rumah yang lama, ada layangan, Pa?”
“Papa menemukannya di rumah baru kita?” kata papa senang. “Dulu, papa tinggal sama kakek di sini. Sebelum kakek meninggal.”
“Jadi, papa kecilnya dulu tinggal di sini?” ulang Galang mulai tertarik.
“Yuk, kita main layang-layang,” ajak papa, Galang langsung bangkit. Wajahnya tak lagi murung, dan papa sukses membuat Galang lupa akan kesedihannya.
Papa mengajak Galang mengurai benang layangan, untuk diikatkan pada sudut dan tengah layangan. Di halaman sebelah rumah Galang, ada kebun yang luas.  Di sana Galang dan papa akan mulai menerbangkan layang-layangnya.
“Pegang setinggi mungkin, Nak!” teriak papanya, “Ya. Bagus, lepaskan,” perintah papa Galang lagi. Layangan berhasil naik, perlahan dan mulai meninggi.
Dari arah lain ada beberapa anak seumuran Galang, yang juga sedang bermain layang-layang. Ada yang lebih besar  dan dewasa, kebun itu ramai. Ketika ada layangan putus, mereka beramai-ramai mengejar. Kelihatannya seru sekali, Galang ingin ikut berlari mengejar, jika nanti layangan yang diterbangkannya bersama papa putus.
“Papa, tinggal ya, Nak. Papa mau bantuin mamamu lagi, kasihan berbenah sendirian,” ujar papa ketika melihat Galang. Karena sudah memiliki teman baru. “Tapi, Galang jangan ikut mengejar layangan putus, ya!” pesan papa. Galang ingin menanyakan kenapa, tapi papa sudah beranjak menjauh.
Angin yang kencang, membuat Galang kewalahan mengatasi benang. Apalagi di atas sana, layangan Galang sedang dililit layangan lain. Galang berusaha agar layangan itu tidak kalah, sayangnya kemampuan Galang dalam bermain layangan  belum mahir. Layangan Galang, putus.
“Ayo, Lang!” teriak teman di sebelahnya. “Kejar layangan.”

[Resensi] di muat Harian Umum Singgalang

Kabar Bahagia jatuh lagi di Januari, kali kedua resensiku dimuat Harian Umum Singgalang. 
Seneng, tentu saja. Novel ini hasil barter aku sama penulisnya, yang juga sahabatku nulis. Ini novel pertama dia yang terbit, tetapi masih bejibun naskah dia lho! 

Resensi ini aku kirim tanggal 22/12/2014
kemudian dimuat tanggal 11/01/2015 
lumayan singkat ya :D

Mau tahu gimana caranya kirim resensi ke sana?
di akhir postingan, aku sertain alamat emailnya, ya. 
Semangat!


Judul                          : Dua Keping Cinta
Penulis                        : Madun Anwar
Penerbit                      : Mediakita
Tahun terbit              : November 2014
ISBN                           : 9797944824
Jumlah halaman        : 139 halaman
Review:

Kebahagiaan Orang Tua di atas Segalanya


            Dua Keping Cinta – Mengisahkan perjalanan cinta Raihan dan Lestari akan pertemuan tidak sengaja mereka di perpustakaan sekolah, kemudian timbul sebuah rasa yang disebut; cinta. Keduanya masih malu-malu mengakui tentang perasaan mereka masing-masing, yang membuat sahabat mereka geram.
            Ialah Dila dan Dito, kedua sahabat Lestari itu membantu percomblangan diam-diam antara dirinya dan Raihan. Lestari dibesarkan oleh ibu tanpa Ayah, sementara Raihan Mama dan papanya telah bercerai.
            Ibu Lestari adalah penjual kue dan menerima pesanan, suatu ketika Lestari disuruh mengantarkan kue ke pemesan di daerah perumahan elit. Tanpa disangkanya saat mengantarkan kue pesanan seseorang, yang membukakan pintunya adalah Raihan. Terkejutlah Lestari dan bergegas pulang, hari berikutnya dan selanjutnya Raihan sering bertemu entah tanpa sengaja pun dipertemukan dengan sengaja atas bantuan Dito dan Dila.
            Lestari balik arah. Dan ... ia sedikit melotot. Ia terkesiap. “Kamu?” tunjuknya.Ah, ia tidak menyangka kalau bertemu dengan Raihan lagi. (halaman 22)
            Sebenarnya Lestari sudah curiga, namun Dito dan Dila selalu mengajaknya dengan alas an berdiskusi atau dengan kegiatan lain yang menyangkut belajar. Lestari tidak bias mengelak, kadang kala ia pun mengambinghitamkan pekerjaannya mengantar kue sebagai alasan untuk lari dari pertemua. Setiap kali berdekatan dengan Raihan, Lestari gugup dan canggung.

            Lestari dan Dila sekarang duduk, dan lestari terlihat matanya memandang Raihan. Ada kecanggungan pada dirinya. Apalagi di otaknya sedang mengaung tentang Dito yang sudah menceritakan Raihan tentang dirinya. Duh, ada rasa ingin memaki Dito kalau sudah begini. (halaman 33)

Saturday, 10 January 2015

[CERNAK] di Muat Radar Bojonegoro


Alhamdulillah  bahagia sekali cernak yang dibuat kali kedua, bisa termuat di media cetak Radar Bojonegoro. Pada Minggu pertama, tanggal 4 Januari 2015. 
Tahun baru prestasi baru, semangat baru



Rumah Kue

            Galang sangat menyukai kue buatan ibu, rasanya manis, legit dan lezat. Setiap kali ibu membuatkan kue Galang pasti menghabiskannya tanpa sisa. Jika ibu memberinya hanya sepotong, Galang akan nambah lagi dan mengambil sendiri di kulkas. Bukannya ibu Galang pelit, namun ibu Galang tidak ingin, Galang nantinya sakit perut karena kebanyakan makan kue. Apalagi kue buatan ibu sangat manis, banyak cokelat di dalam lapisan kue. Toping kue diberi lapisan creamy yang manisnya melebihi gula.
            “Bu, tambah lagi satu kue ya?” mata Galang berbinar dan memohon.
            Ibu tersenyum, “Kerjakan PR-nya dulu, ya Nak. Baru nanti Galang boleh ambil kue satu lagi.”
          “Galang pasti ngerjain PR kok Bu, tapi Galang mau makan kue dulu,” Galang mulai merengek.
            “Beri waktu perut Galang untuk menggiling makanan, kan baru saja Galang makan siang? Lalu makan kue, nanti kalau sakit perut bagaimana, karena kekenyangan?”
“Tidak akan, Bu. Boleh ya, Bu?” Galang terus memohon agar permintaannya dikabulkan.
Sementara Ibu mengantar Galang, ke kamarnya. Menemaninya untuk mengerjakan PR. Sayangnya telpon rumah bordering, ibu mengangkatnya lalu izin pada galang untuk mengantarkan kue pesanan tetangga sebelah. Sejak itu Galang malas keluar kamar, ia mogok makan malam.
            Ketika malam sudah larut, Galang tidak bisa tidur, perutnya berkali-kali berbunyi memberi sinyal. Ia menyesal kenapa tidak menuruti perkataan ibu, untuk makan malam. Galang, masih jengkel karena tadi siang hanya diberi kue sepotong, padahal kue itu sangat enak. Galang menarik selimutnya, turun dari kasur. Ia menuju dapur dan menarik pintu kulkas. Matanya terkesima melihat kue-kue buatan ibu, ia mengambil satu, dua lalu melahap dan perutnya kekenyangan. Galang kembali ke kamar dan mulai menarik selimutnya kembali. Perut kenyang membuatnya mudah memejamkan mata.
          

Tuesday, 6 January 2015

[Book Review] 123 Anti Bego 2




Judul                          : 123 Anti Bego (2)
Penulis                         : @allienstartrek (Arief Ashshiddiq)
Penerbit                       : Plotpoint
Jumlah Halaman          : 112 halaman
Terbit                           : Cetakan pertama, Agustus 2012
Review                        :

Pengetahuan itu Penting

            123 Anti Bego 2, buku yang berisi tentang tips dan pengetahuan penting. Bahasanya kocak, kadang membuat saya terpana, “Oh ternyata gitu, ya?” “Hmm ... bener juga ya,” saya kemudian tersenyum tidak menyangka. Uniknya di setiap tips, memiliki checkbook. Yang mana berisikan angka 1 sampai dengan 5. Yang bertujuan untuk, mengetahui tingkat kepentingan tips bagi para pembacanya.
            Buku ini juga disisipi ilustrasi-ilustrasi dan komik, yang akan membuat pembacanya tidak merasa bosan. Penerbit memang sangat lihai, mengemas buku ini menjadi menarik. Bukunya juga tidak terlalu tebal, enak dibawa ke mana-mana, karena ukurannya 18 cm. Dalam pemilihan judulu dan warna cover, buku ini sangat eyecatching. Dan di angka 123 tersebutlah, anda akan menemukan teka-teki yang terpapar.
            Orang yang banyak terawa lebih sehat dari pada yang tidak. Tertawa mengurangi level hormon stress dan menguatkan sistim imun, menurut statistik, anak umur empat tahun tertawa 300 kali sehari. Orang dewasa hanya tertawa 15 sampai 100 kali. (halaman 1)
            Ada banyak pengetahuan yang ternyata masih saya belum tahu banyak, buku ini ternyata semacam pengingat ajaib. Buku yang memberi banyak informasi dengan cara yang asyik. Saya paling suka dengan informasi di nomor 10.
            Untuk mengikat rasa cinta seseorang, cincin kawin ditaruh di jari tengah, tempat dulu orang percaya ada pembuluh darah yang langsung berhubungan dengan jantung hati orang tersebut. (halaman 07)
            Beberapa tips yang tertulis di buku ini adalah : tips menyimpan makanan di kulkas, tips merawat sandal kulit, tips mengatasi kamar tanpa AC, tips belanja agar tidak membuang waktu dan lain-lain.
            Buat cowok pun ada tips yang menarik di sini, ialah: tips mencuci velg mobil, tips mengutak-atik mesin motor, tips agar ditipu montir, etika tips memberikan uang tanda terima kasih, mengatasi rasa panik dan lain-lain. Kompit banget buku ini, juga diberikan hadiah pembatas buku satu namun bisa digunting menjadi empat.
            Di akhir buku 123 Anti Bego ini, ada teka-teki silang untuk mengasah otak. Pada halaman ke seratus. Sesuai tag line buku : merasa pintar? Coba temukan 5 kaca pembesar di 123. Buku ini berhasil membuat lebih pintar.

Sunday, 4 January 2015

[Book Review] Jemari 7 Penyair (Empat Daerah)








Judul                            : Jemari 7 Penyair (Empat Daerah)
Penulis                         : Didiek Soepardi. MS dkk
Penerbit                       :Leutikaprio
ISBN                           : 978-602-225-289-4
Jumlah halaman            : 182 halaman
Terbit tahun                  : Februari 2012
Review                        :

Berkembang dan Menurunnya Kesusteraan

            Jemari 7 Penyair adalah antologi puisi yang awalnya digagas oleh Hadi Lempe, salah satu penyair sekaligus kuratornya. Awalnya hanya lima orang kemudian berkembang tujuh penyair. Antologi Jemari 7 Penyair sebenarnya tertunda selama setahun dan tersendat-sendat untuk diwujudkan lantaran kesibukan masing-masing penyair.
            Masing-masing penyair menulis antara 17- 20an puisi. Puisi yang diangkat memakai macam-macam tema, dari lingkungan, cinta, politik, cuaca dan lain-lain.
            Aras Sandi menulis puisi 19 puisi dengan beberapa judul : pesta bunga, serumbung mendung, pergilah, mencari jejak penggembala, anak kalibacin dan lain-lain.

PENA

tak  hendak lagi melangkah, ingin kutinggalkan jejak luka karena renta memamah usia
telah kusapih kertas dalam percumbuan rapih tanpa bekas
hingga mataku mulai rabun kehilangan warna
terselimuti kecantikan
merambat gelap menuju buta
(halaman 21)

Saturday, 3 January 2015

[Book Review] Love Poems









Judul                           : Love Poems
Penulis                         : Sapardi Djoko Damono
Penerbit                       : Indonesiatera
ISBN                           : 979-775-008-4
Jumlah halaman           : 112 halaman
Tahun terbit                 : Februari 2007
Review                        :

Puisi Cinta Sepanjang Massa
           
Love Poems Adalah sekumpulan puisi dari berbagai Negara yang dipilih dan diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono. Puisi-puisi dalam buku ini asalnya berbahasa inggris kemudian diterjemahkan, namun ada juga beberapa pantun yang asalnya dari Indonesia.
Ada tiga pembagian puisi yang di kelompokkan, seperti pada bagian pertama ada puisi berjudul: Cinta Selalu Menyakitkan, Setiap Kali Merindukannya, Pada Saat Matahari Terbenam, Meskipun Aku Yakin, Orang Bilang, Katamu Dulu, Mala mini Aku Akan Datang, Di atas Pohon yang Tinggi, Bunga-bunga Mengembang, dan lain-lain ini berasal dari Negara Jepang yang penulisnya Anonim (tidak diketahui).
Masih di bagian pertama ada puisi dari India berjudul Radha kepada Krishna, Krishna kepada Redha. Alasan adalah judul puisi dari Mesir, dan ada dua puisi dari Indonesia, Racun dimakan jadi Penawar, Laksamana Memikat Elang.