Tuesday, 23 December 2014

[Resensi] di muat Harian Umum Singgalang

Edisi Minggu, 14 Desember 2014



Judul                           : Honesty
Penulis                         : Mitha Juniar&Ari Keling
Penerbit                       : Grasindo
ISBN                           : 9786022516187
Tgl Penerbitan             : Juli 2014
Jumlah Halaman          : 181 hal
Review                        :

Cinta Membutuhkan Kejujuran

            Honesty, mengisahkan dua anak manusia yang telah dijodohkan jauh sebelum mereka lahir. Mikha dan Azriel. Mikha yang awalnya uring-uringan tidak mau dijodohkan setengah hidup menolak berubah total setelah melihat calonnya; Azriel. Mikha yang tidak menyukai tipe perokok membuat pengecualian untuk Azriel.
            Berbeda dengan Mikha yang langsung setuju ketika melihat Azriel. Ziel; sapaan Azriel. Ia bersandiwara untuk membuat keluarganya senang, karena sebenarnya Ziel telah memiliki kekasih; Tasya. Gadis yang menyukai baca sama seperti dirinya. Tasya tidak tahu menahu soal perjodohan tersebut, Ziel terus saja berupaya menyembunyikan soal tersebut agar Tasya tidak mencemburuinya.
“Aku juga belum pernah tuh. Lagi pula kalau sampai Ayah dan Ibuku tiba-tiba menjodohkan aku dengan seorang lelaki, tentu aku pasti menolaknya karena aku sudah punya kekasih,” terang Tasya sambil mencubit gemas pipiku. (halaman 14)

           
Bangkai yang disimpan akhirnya tercium juga. Mikha tidak marah perihal Azriel sebenarnya sudah memiliki kekasih  karena Mikha sudah terlanjur cinta. Tetapi buat Ziel putus dengan Tasya tidak menimbulkan kecewa atau patah hati dia bahkan tidak merasa kehilangan. Ziel merasa ada keanehan dalam dirinya, Ziel serta mesta mengingat saat ia mencium pipi Mikha dan Tasya kenapa tidak ada sesuatu yang bisa menggetarkan hatinya.
“Aku kecewa padamu kenapa tidak memberitahuku jika kamu sudah memiliki kekasih?” (halaman 37)

            Tasya yang belum sepenuhnya terima atas keputusan dari Ziel nekat mendatangi rumah Ziel dan menceritakan hal-hal yang berkaitan dengan Mikha kepada mama Ziel. Hal itu berdampak pada hubungan Mikha dan mama Ziel yang tidak membaik.
            Aku Justru mendapati wajah mama Ziel yang menatapku seperti macan yang sedang lapar. (halaman 69)
            Ketika sedang menjemput Mikha di rumahnya Azriel bertemu dengan sahabat Mikha; Sam. Sam memberikan Ipad milik Mikha yang tertinggal, namun saat itu juga Sam langsung pamit untuk pulang, Mikha tak melihat Sam lagi setelah turun dari lantai dua kamarnya.
            Ada yang lain dalam diri Azriel kali pertama bertemu Sam, lalu setelahnya Azriel meminta Mikha mengajak Sam di setiap pertemuan mereka. Azriel bahkan pernah memergoki Mikha yang sedang disuapi Sam steak di restoran langganan mereka.
            Aku tak bisa memungkiri itu pada diriku sendiri. sungguh, aku tak kuasa untuk itu. awalnya aku juga tak menyadari. Bahkan, setelah tahu bahwa ada sesuatu yang tak biasa terjadi pada hatiku, aku mati-matian berusaha tidak menanggapi. Tapi sialnya, kedua mata hitam itu, senyum itu, gelak tawa dan segala tingkah laku Sam membuatku benar-benar jatuh cinta. (halaman 81)
            Di luar dugaan dan diluar kendali Azriel ada perasaan membara untuk Sam. Padahal sebentar lagi pertunangan antara dirinya dan Mikha akan segera dilangsungkan. Beberapa kali pula Azriel sering mengajak ketemuan Sam.
            “Tak ada pasangan yang cocok. Yang penting kita mau berubah mencocokkan diri pada pasangan atau orang yang kita cintai,” kataku sambil menyentuh lengan Sam untuk kedua kalinya. “Sabarlah, aka nada seseorang yang datang dan jadi kekasihmu,” kataku lagi dan kembali menarik tanganku. (halaman 57)
            Tokoh Azriel dilemma dengan keputusannya sendiri akan memilih siapa. Tasya mantan pacar yang masih mengharapkannya terus dengan mendekati keluarganya. Mikha jelas-jelas gadis yang dijodohkannya memiliki pembawaan yang ceria dan supel atau ia menuruti keinginan hatinya yang bertentangan dengan hati nuraninya sendiri. Tetapi kejujuran haruslah diutarakan tanpa harus dipendam, agar segalanya melega.
            Honesty, mengajak kita menebak akan kah memilih siapa sang tokoh untuk dijadikan pelabuhan terakhirnya. Apakah ia harus menuruti keinginan orang tua atau kata hatinya sendiri.
Novel duet ini memiliki cover unik, bolak-balik dengan gambar cowok dan cewek pun dengan penulisan yang mengikuti covernya terbalik, agak pusing juga membacanya harus dibolak-balik dan diceritakan dalam dua sudut pandang oleh masing-masing penulisnya. Salut untuk kedua penulis berani mengangkat tema yang lumayan kontrofersial namun romantismenya terasa hangat. (*)

Peresensi: Nyi Penengah Dewanti. Mahasiswi fakultas Manajemen, STIE Semarang, (dekopinda) semester VI.
           


2 comments:

  1. Selamat ya,,,senengnya bisa nongol disitu :)

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah :D
    orangnya belum bisa sampe sana
    tulisannya dulu aja hehehhe

    ReplyDelete

Terima kasih sudah mampir ke blog sederhana saya, salam hangat