Thursday, 17 July 2014

[Book Review] Sebelum Aku Menjadi Istrimu






Judul              : Sebelum Aku Menjadi Istrimu
Penulis            : Deasylawati P
Penerbit          : Indiva Media Kreasi
Tebal buku     : 224 halaman
ISBN               : 978-602-8277-71-6
Tahun terbit    : Februari 2013
Review : 

Mempersiapkan Diri Sebelum Menjadi Istri


            Banyak lajang yang bertanya-tanya pada saudara, pada keluarganya dan teman-temannya bagaimana persiapan menjadi seorang istri. Tahapan dan langkah apa yang harus ditempuh agar ketika hari H tidak panik dan ketakutan. Buku Deasylawati Prasetyaningtyas ini mengupas habis bagaimana kita harus bertindak. Ada 6 bab yang diusut dalam buku ini, pertama ‘Bersaing dengan Bidadari’.
            Ketika kita sebagai muslimah ini bercita-cita agar mendapatkan suami yang beriman dan shalih maka suami yang jenis seperti ini pulalah yang sangat diidam-idamkan oleh pada bidadari di surga itu. (halaman 12)
            Singkatnya para bidadari akan merebut suami kita yang beriman, jikalau kita tidak memertahankan suami yang sudah kita cintai. Namun ada cara yang bisa mengungulkan kita untuk mengalahkan para bidadari yaitu; memperbanyak ibadah kita kepada Allah.
            “Mengapa wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari?” dan jawaban Rosullullah juga sangat simpel, “Karena sholat mereka, puasa, dan ibadah mereka kepada Allah.”
Bab kedua membahas wanita yang baik untuk laki-laki yang baik pula. Karena untuk mendapatkan sesuatu yang baik kita harus memperbaiki diri terlebih dahulu untuk menjadi baik. Allah tidak akan menzalimi orang yang senantiasa berusaha ke arah kebaikan. Dalam suatu hadis Rasul menetapkan panduan untuk kita pilih.
            “Dari Jabir ra. Sesungguhnya nasbi Muhammad saw. Telah bersabda, ‘Sesungguhnya perempuan itu dinikahi karena agamanya, hartanya, dan kecantikannya. Maka pilihlah yang beragama.’”(HR. Muslim dan Tirmidzi)

Bab ketiga yang memiliki porsi hampir separuh buku ini membahas ilmu tentang pernikahan, bagaimana memanajemen keuangan, kepribadian pasangan, ilmu tentang kehamilan, pendidikan anak, juga ilmu gizi disertai tips dan kiat-kiatnya. Di buku ini juga dijelaskan mengenai besar kecilnya mahar tidak dibatasi oleh syariat Islam, sekemampuan calon suami dan kerelaan hati calon istri. 

Bab keempat memaparkan tentang kesiapan mental dan perawatan pranikah. Nikah adalah satu ibadah sunah yang sangat penting, mitsaqan ghaliza (perjanjian yang sangat berat). Banyak konsekuensi pasangan suami istri, apalagi jika sudah menjadi istri letak surga ada pada suami. Itulah sebabnya kesiapan mental menjadi hal yang utama. Ada juga tes pemeriksaan pranikah yang bisa dilakukan.; Hematologi rutin, Urine rutin, Golonga darah, gula darah, HBsAG, VDRL, Gambaran daerah tepi, TORCH.
Bab kelima latihan-latihan penunjang ketika sudah menikah. Misalnya beberes rumah, latihan memasak, latihan mengasuh anak, jahit-menjahit. Ada trik juga untuk menenangkan bayi, anak yang rewel dan anak yang susah untuk makan.
            Memiliki rumah tentunya merupakan idaman setiap orang, meskipun bukan sesuatu yang mudah tentunda, apalagi buat pasangan muda yang baru menikah. Maka tak perlu harus rumah pribasi, rumah kontrakan pun bisa kita buat nyaman untuk ditinggali sehingga menambah keharmonisan rumah tangga. (halaman 180)
            Tips menyimpan daging, resep memasak simpel, cara menenangkan anak yang rewel dan ketrampilan menjahit diberikan dalam bab kelima.
            Kalau misalnya kamu punya bekal ilmu tentang jahit-menjahit yang pastinya akan banyak bermanfaat buat kamu dan keluarga. (halaman 206)
            Terakhir ‘Bismillah, Luruskan Niat’. Segala perbuatan bergantung pada niat awalnya. Sebelum menikah, sebelum menentukan siapa laki-laki yang akan menjadi calon suami, coba refleksikan kembali, untuk apa persiapan ini kamu lakukan.
            Ingat, tujuan nikah adalah untuk mencari ridha Allah. (halaman 212)
            Jika kita bisa menjadikan diri sebagai perhiasan dunia yang paling indah maka kita akan menjadi kebahagiaan paling lengkap yang pernah ada. (halaman 216)
            Sungguh setelah membaca buku ini saya mendapatkan pencerahan luar biasa, bahwa menikah adalah ibadah yang penuh perjuangan. Bukan hanya kebahagiaan yang diraih dalam waktu sebulan, namun kebahagiaan seumur hidup, sebab itu harus butuh pembekalan yang bukan main-main. Buku ini juga diberi bab tambahan bagaimana menjalin hubungan baik dengan mertua. Di akhir buku penulis mendoakan bagi sesiapa saja yang akan menikah.
            Barokallahu laki wa baaroka’alaiki, wa jama’a bainakumaa fi khoirin. (halaman 217)
+++
Nama peresensi : Nyi Penengah Dewanti
Data singkat : Mahasiswi STIE Semarang, jurusan Manajemen smester III

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir ke blog sederhana saya, salam hangat