Tuesday, 15 July 2014

[Book Review] Braga Siang Itu




Braga Siang Itu. Gambar diambil dari Andi Publisher


Penulis            : Triani Retno A
Judul              : Braga Siang Itu
Penerbit          : Sheila (Imprint Penerbit Andi)
Cetakan          : 2013
Jumlah hal.    : iv + 140 halaman
ISBN               : 978-979-29-4157-9
Harga             : Rp 29000
Kategori         : Fiksi (Kumpulan Cerpen)

Review            :    

Luka-Liku Kehidupan

                Ketika melihat judul buku tersebut yang diupload oleh penulisnya via facebook, saya bisa memastikan langsung bawa Braga adalah nama suatu tempat di Bandung. Mengingat sang penulis, “Teh Eno” selalu menuliskan karyanya dengan setting di daerah tersebut dan beliau juga tinggal di sana. Ketika ada giveaway buku tersebut di blog kak Atria langsung saja saya ikutan nggak mau ketinggalan.Alhamdulillah saya memenangkannya.
                Lima belas cerpen dalam buku ini mengisahkan seputar kehidupan yang kebanyakan tokoh utamanya perempuan. Teh Eno lihai dalam mengambil ide dalam kesehariannya, di setiap ceritanya saya bisa menebak bahwa beberapa karakter dalam tokoh ini adalah murni beliau, melihat ada anak kembar, single parent dan beberapa hal yang merujuk ke sana. Bukan membicarakan si penulis namun saya envy keproduktifitasan beliau dalam meracik cerita.
                Braga Siang Itu, judul yang diambil dari novel berlatar Mei 1998 dan Januari 2012. Kisah Ben dan Fei, mahasiswa dari sebuah universitas yang ingin memperjuangkan hak rakyat dengan mengadakan sebuah demonstrasi. Ambisi Ben untuk membela kepentingan rakyat berputar balik haluan. Fei kehilangan Ben yang dulu, Ben sudah berubah dan hadirlah sosok Ron sebagai penengah sekaligus seseorang yang baru dalam kehidupan Fei.
                Bunda, Ibu yang Tak Pernah Ada, tokoh “aku” yang mengagumi sosok Rahmi; gadis kecil yang menjual jasa tenaga untuk membawakan belanjaan berat di pasar yang enggan dibawa sang empunya. Si Aku suka mendengarkan cerita dari Rahmi yang memiliki latar belakang keluarga harmonis. Si Aku ingin bertukar tempat dengan Rahmi, namun di kemudian si Aku ini merasa jauh lebih beruntung dari seorang Rahmi.

                Sansevieria, tanaman yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia yang berarti Lidah mertua. Kehidupan rumah tangga yang selalu direcokin oleh mertua si lelaki, dan sang wanita menumpahkan kekesalan itu dengan menanam lidah mertua.
                Saat Malin Bertanya, kisah si Malin yang selalu penasaran dengan namanya. Kenapa ibunya memberi nama Malin, dan kenapa ibunya selalu saja mengumpatinya dengan kata-kata kasar. Seolah perangai ibu yang lemah lembut penuh kasih sayang jauh dari harapan.
                Masih ada cerpen lainnya dengan judul: Sarapan, Undangan, Suara, Ceu Kokom, Bunda Tak Tersenyum, Surat Untuk Presiden, Merajut Hari, Hati yang tak kunjung damai, Gunting, Gigi dan Hujan.
Kalau ditanya cerpen mana yang paling saya suka adalah; Hujan. Cerita yang apik, dua wanita dengan dua nasib berbeda yang bertemu di atas angkutan. Hanya bermodalkan sebuah payung kecil yang menaungi mereka berdua mereka menjadi teman. Sesimpel itu saja.
Moral of the story-nya:
Begitulah sebuah cerita dalam kehidupan, tak melulu harus sempurna. Sebab seseorang yang dengan apa adanya menerima, hadir dan melengkapi kita akan jauh lebih membuat kita merasa sempurna.(*)

2 comments:

Terima kasih sudah mampir ke blog sederhana saya, salam hangat