Saturday, 15 March 2014

Book Review "Seven Days"



Judul: Seven Days
Penulis: Rhein Fathia
Penerbit: Qanita
Harga: Rp 45.000
Tebal Halaman: 296 halaman
Tahun Terbit: Cetakan I, Februari 2013
ISBN: 978-602-9225-72-3


Hidup Harus Memilih
           
            “Nanti pasti aku bakal dapetin perempuan yang membuatku selalu merasa terpanggil untuk ada di dekatnya. Perempuan yang dipilih oleh hatiku karena memang aku menginginkannya.” (halaman 17)
            Bagaimana rasanya mencintai seseorang, namun seseorang itu tidak pernah merasa dicintai oleh kita? Bagaimana memendam rasa cinta pada sahabatmu sendiri selama bertahun-tahun dan kamu hanya sanggup mencintainya diam-diam? Hingga tercetus ide Shen untuk menikmati 7 hari di Bali bersama Nilam. Sebelum Nilam menjawab lamaran Reza.
            Day 1
            Selamat pagi, pantai Kuta …. (halaman 40)
            Segalanya masih normal. Shen sahabat yang baik, setia, sigap, dan sedia menemani. Nilam yang penakut akan anjing. Berulangkali Shen meyakinkan semua akan baik-baik saja, tapi Nilam keburu ketakutan dan parno dengan anjing. Menikmati pagi hingga senja di Kuta adalah impian Nilam. Lalu menikmati malam di Legian. Mereka berhenti di monument yang dulunya bekas pub, tempat terjadinya bom Bali yang menewaskan banyak turis asing.
Bali seperti kota mati (halaman 70)
Day 2
Perjalanan ke Ubud, pasar seni Sukowati. Tempat favorite Nilam, dengan senang hati ia mengeksplorekan diri. apalagi kalo bukan kegemaran Nilam belanja.
Ada cinta yang tumbuh karena witing tresno jalaran soko kulino. Ada juga cinta yang memang muncul tanpa ada alasan. Cinta itu hadir, ditujukan pada seseorang karena hati memang memilihnya (halaman 104)  
Day 3
Ketakjuban Nilam pada keramah tamahan warga Bali, yang selalu memberikan sapaan selamat pagi. Juga untuk urusan parkir mobil di jalanan yang tidak takut kemalingan. Mereka melanjutkan lagi perjalanan mengunjungi destination lain yaitu : pura Besakih. Nilam terkejut bukan kagum tetapi miris.
 “Shen …” bisikku mulai tak nyaman, tempat ini wilayah wisata, bahkan tempat suci untuk ibada. Mengapa malah banyak orang-orang menyeramkan yang memeras wisatawan yang ingin berkunjung? Ke mana petugas yang jaga? Otakku tak henti bertanya-tanya. Ada rasa khawatir jika para pemuda di sini melakukan tindak kekerasan pada kami.
“Kamu nggak apa-apa kalau kita nggak jadi ke sini?” bisik Shen (halaman 121)
Hari ketiga mereka tutup dengan menonton pementasan sendratari Ramayana. Shen mengacak rambut Nilam gemas. Ia merangkul bahu Nilam lembut. Tiba-tiba muncul pertanyaan dalam hatinya. apakah aku sudah bertindak tidak setia? (halaman 133)
Day 4
Lembah Monkey Forest mereka jelajahi, ketakutan dengan kera menguap. Dan ternyata tangan kera yang disangka cakarnya tajam itu, lembut seperti kulit bayi. Sore berakhir di pura Batu Bolong menikmati senja.
Telunjuk Shen menempel di bibirku. Matanya menatapku lembut, membuat jantungku lagi-lagi berdegup lebih kencang. Tentu alsannya bukan karena masalah ular. Ah, ada apa dengan hatiku dan acara petualangan di Bali ini? (halaman 149)
Day 5
Nilam kecapekan dan tidak ingin keluar pagi ini. Siangnya Shen mengajak ke tempat yang pasti disukai Nilam “Joger. Pabrik kata-kata” puas berbelanja, Nilam kehilangan Shen. Lemahnya sinyal, SMS tanpa balasan, terdamparlah langkah Nilam ke pantai Kuta. Menelephone Reza dan bertemu teman baru Made. Hingga akhirnya kedatangan Shen dengan wajah penuh kilat marah.
“He loves you,” Made mengedipkan mata dan tersenyum, aku balas menatapnya tak mengerti (halaman 180)
Day 6
Selamat pagi, Uluwatu ….
Selamat datang pantai Padang Padang. Patokan karang yang membuat Shen menggendong Nilam dengan kaki berdarah menjadi awal dari sebuah keterasingan antara keduanya.
Entah bisikan dari mana, kelopak mataku menutup perlahan. Ada kelembutan di sana, ada sentuhan yang mengungkap rasa sayang dan ingin memiliki. Ciman pertama kami (halaman 228)
Seven Days, adalah novel pemenang pertama lomba romance Qanita. Deskripsi yang apik, setting 90% di Bali dan sisanya di Jakarta. Penulis dengan detailnya menuliskan segala tempat pariwisata di sana. Namun ini bukan sepenuhnya buku panduan untuk traveling, karena ini novel penuh taburan cinta dan perasaan hati antar tokoh masing-masing yang berperan. Penokohan Reza digambarkan terlalu sempurna, lelaki yang memiliki hati seluas samudera. Kejujuran yang diterimanya dari kekasih yang hanya tinggal, menunggu jawaban iya atau tidak akan lamarannya harus berbesar hati. Konfliknya dibangun halus, tanpa efek deg-degan akan adanya adegan kekerasan.
Cinta tidak pernah memaksa kita untuk memilih, hiduplah yang mengharuskan untuk memilih. Termasuk memilih, kita ingin hidup dengan siapa (halaman 292)

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir ke blog sederhana saya, salam hangat