Tuesday, 18 March 2014

Book Review "Putih dalam Cinta"


MENGAMBIL PELAJARAN DARI SEBUAH NOVEL
Hidup berumah tangga bukanlah sesuatu hal yang main-main, namun harus dipertanggungjawabkan pada Sang Mahakuasa. Membaca novel ini mengingatkan kita pada kasus komedian Bopak Castello yang sedang ramai saat ini. Sang istri pergi karena tidak tahan dengan kondisi ekonomi keluarga yang berada di titik terendah. Seharusnya bagi dua orang yang telah hidup berumah tangga dan memiliki anak masalah ini hal yang wajar. Bisa diselesaikan dengan cara baik-baik, tetapi sang istri memilih pergi.
Di sini Ray sang suami dan Manisha sebagai istri berpisah selama empat tahun. Kemudian si anak yang baru dua bulan ditinggal telah tumbuh besar, seusia dengan kepergian ibunya. Manisha datang lagi dalam hidup Ray, sementara Ray telah memiliki kekasih baru; Risa. Ray berencana menceraikan Manisha jika dia kembali.
“Ray, aku kembali. Aku menyesal, Ray. Aku …” Manisha berjongkok di hadapan Ray. Dia meraih kaki kanan Ray seraya memohon maaf padanya.  (halaman 19)
Manisha meminta maaf pada Ray, Ray belum memaafkan tapi memberi tempat tinggal untuk Manisha agar bisa dekat dengan Naira. Naira di sini berperan sebagai gadis kecil yang cerdas, dia gampang membaur dengan orang baru. Manisha sang ibu dipanggil tante sesuai kehendak Ray, agar Naira tidak kaget. Karena Ray telah menceritakan bahwa ibu Naira sudah meninggal.
Kedua ibu dan anak ini akhirnya dekat, karena kontak batin dan Naira merasa nyaman. Kehadiran Manisha setelah kepergiannya membuat hati Ray berpijar kembali, namun ia harus mengukuhkan hati karena sudah sepakat dan berjanji pada Risa. Konflik mulai timbul ketika ibu Ray jatuh terpeleset dan dibawa ke rumah sakit. Manisha yang takut menghadapi ibu Ray, Manisha yang akhirnya bertemu dengan Risa, dan Ray di sini harus menepati janjinya pada Risa untuk bercerai.
Manisha mau menandatangani surat perceraian itu jika Naira bisa pergi bersamanya. Tetapi karena akhirnya Naira tahu bahwa Manisha adalah ibunya, itu lebih dari kebahagiaan yang tak terhingga dan Manisha bersedia menandatangani surat perjanjian.

Saturday, 15 March 2014

Book Review "A Cup Of Tea for Writer"




Judul buku: A Cup of Tea for Writer
Penulis: Triani Retno A., Herlina P. Dewi, dkk.
Tebal: 195 halaman
Penerbit: Stiletto Book
Terbit: September 2012

Review :

Hanya mereka yang bertekad kuat yang mampu bertahan, hanya mereka yang mampu menjaga pijar semangat yang dapat terus melangkah di jalan ini. A Cup of Tea for Writer, wajib dimiliki oleh penulis yang kehilangan semangat, kehilangan ide dan mood untuk kembali bangkit inilah dunia kita :menulis. 

Stiletto sebelum menerbitkan buku ini terlebih dulu membuat audisi umum, saya pun sempat ikut waktu itu namun gagal :D tak lantas membuat saya menyerah, saya malah penasaran dengan sesiapa yang lolos dan bersemangat untuk membaca karya mereka. Bukan sembarangan karya dipilih dan saya yakin mereka yang lolos dalam audisi ini adalah wakil dari kami yang mencintai dunia tulis. 

Kisah inspiratif pertama dibuka oleh Triani Retno A, yang biasa saya panggil Teteh. Kisah beliau dengan judul: Senangnya Menulis. Kisah perjalanan beliau dari jaman cerpennya terbit di media cetak hingga beliau kini menjadi seorang editor. Dan Stiletto menjadi salah satu penerbit yang beliau editori.
Senangnya, menulis membuat saya eksis dan mandiri
Senangnya, menulis membuat saya dapat ikut menopang keuangan keluarga
Senangnya, menulis membuat saya menjadi lebih berarti dan bermanfaan bagi orang lain.

Kisah kedua oleh Ririe Rengganis. Sebab Impian Ayah Bukanlah Impianku. Aihh cerita ini membuatku meleleh :D ayahnya menyuruh masuk kedokteran tetapi dia ngotot masuk sastra. Tanpa restu ayah namun ibunya selalu mendukung, ketika ia lulus menjadi editor dan akhirnya bukunya diterbitkan ayahnya masih angkuh sampai mba Ririe ini menulis surat untuk ayahnya. Aduh akhirnya sang ayah bangga padannya.
            Tulisan adalah jejak rekam terbaik bagi mereka yang kelak kita tinggalkan di dunia
(halaman 15)
           

Book Review "The (Un)lucky Girl"

Judul: The (Un)lucky Girl
Penerbit: Stiletto Book
Penulis: Loyenk Rap
Harga: Rp 34.000
Tahun Terbit: Cetakan I, Maret 2013
Tebal Halaman: 160 halaman
ISBN: 978-602-7572-13-3

Biarkan Anak Berkembang Sesuai Kemampuanya

Orang tua adalah guru pertama bagi anak-anaknya. Jangan pernah memaksakan kehendak orang tua kepada anak, karena anak mempunyai hak untuk berkembang sesuai kemauannya.
Dahulu Helen memiliki mimpi menjadi penyanyi, tetapi keinginan itu ditentang keras oleh sang ayah. Tawaran produser dari Jakarta pun tidak mampu direngkuhnya. Ia menelan bulat mimpinya. Selepas SMA ia dilamar oleh Panca Buwana. (halaman 6-7)
Ketika Serenada lahir, Helen kembali menemukan jalan. Diarahkannya Serenada kecil untuk mengikuti serangkaian banyak les di luar jam sekolahnya. Les vocal, les nari, les drama, modeling, les piano, dll. Nada tidak memiliki akses untuk bermain bersama teman-temannya, jadwal Nada diatur ketat oleh Helen, mamanya.
Diam-diam Serenada menarik napas. Duh, Mama! Kapan kau akan berhenti menyiksaku? (halaman 12)
Sahabat Nada, Carmen mengajak Nada bermain Barbie di rumahnya. Diutarakanlah keinginanan Nada meminta izin mamanya. Namun mamanya tidak memberi izin, keesokan paginya Nada dibelikan seperangkat boneka Barbie lengkap dengan rumah-rumahannya.

Book Review "Seven Days"



Judul: Seven Days
Penulis: Rhein Fathia
Penerbit: Qanita
Harga: Rp 45.000
Tebal Halaman: 296 halaman
Tahun Terbit: Cetakan I, Februari 2013
ISBN: 978-602-9225-72-3


Hidup Harus Memilih
           
            “Nanti pasti aku bakal dapetin perempuan yang membuatku selalu merasa terpanggil untuk ada di dekatnya. Perempuan yang dipilih oleh hatiku karena memang aku menginginkannya.” (halaman 17)
            Bagaimana rasanya mencintai seseorang, namun seseorang itu tidak pernah merasa dicintai oleh kita? Bagaimana memendam rasa cinta pada sahabatmu sendiri selama bertahun-tahun dan kamu hanya sanggup mencintainya diam-diam? Hingga tercetus ide Shen untuk menikmati 7 hari di Bali bersama Nilam. Sebelum Nilam menjawab lamaran Reza.
            Day 1
            Selamat pagi, pantai Kuta …. (halaman 40)
            Segalanya masih normal. Shen sahabat yang baik, setia, sigap, dan sedia menemani. Nilam yang penakut akan anjing. Berulangkali Shen meyakinkan semua akan baik-baik saja, tapi Nilam keburu ketakutan dan parno dengan anjing. Menikmati pagi hingga senja di Kuta adalah impian Nilam. Lalu menikmati malam di Legian. Mereka berhenti di monument yang dulunya bekas pub, tempat terjadinya bom Bali yang menewaskan banyak turis asing.
Bali seperti kota mati (halaman 70)
Day 2
Perjalanan ke Ubud, pasar seni Sukowati. Tempat favorite Nilam, dengan senang hati ia mengeksplorekan diri. apalagi kalo bukan kegemaran Nilam belanja.
Ada cinta yang tumbuh karena witing tresno jalaran soko kulino. Ada juga cinta yang memang muncul tanpa ada alasan. Cinta itu hadir, ditujukan pada seseorang karena hati memang memilihnya (halaman 104)  

Book Review "Kimchi, I like it


 
Judul               : Kimchi, I Like It... (cinta memang begitu rasanya)
Penulis             : Ratna Farida
Penerbit           : de Teens (imprint Divapress)
Halaman          : 180 halaman
Terbitan           : Juni 2013


Berawal dari sebuah misi, Vicha dan si murid asal Korea semakin dekat. Namun di sisi lain, seorang sahabat Vicha tidak mau kalah menyatakan cinta, hingga kecemburuan pun menjadi awal keretakan di antara mereka. Meski sulit, tapi keputusan pun harus tetap dibuat oleh Vicha. Ya, Cinta itu memang seperti Kimchi, rasanya berbaur manis, asam, asin dan pedas.

Review
Hyung Jin pemuda blesteran, mamanya berasal dari Korea, papanya Indonesia. Pekerjaan papanya yang berpindah-pindah membuat Hyung Jin pun sering kali berpindah sekolah. Hyung Jin diceritakan tidak kerasan dari Negara satu ke Negara lainnya, tetapi mamanya merasa ada yang membuat Hyung kerasan tinggal di Indonesia.