Thursday, 21 November 2013

Kado yang Mendewasakan

Percaya sama Allah apapun  pernah terjadi pada diri kita, baik dan buruk, senang atau sedih, itu adalah yang terbaik untuk kita

Nggak semua hal yang kita lewatin itu menyenangkan, ada kalanya kita dilimpahi kesedihan, tinggal bagaimana kita meramu kesedihan itu menjadi suatu sebab yang dapat kita petik sebuah pelajarannya.
Happy Bday Empieee dan blognya, semoga kesehatan, kelanggengan, kesuksesan selalu menaungi kamu, juga orang-orang yang mendoakanmu. Amiin.

Kebetulan bulan kita bday samaan, cuman beda tanggal :D aku enem kamu 28 :D
flash back ke tanggal enem kemarin itu, dapet ucapan ulang tahun dari temen-temen, ucapan ulang tahun dari mas pacar dan soulmate "matahari" dan yang paling berkesan adalah baliknya bapak ke rumah. Yah ... sedikit insiden kecil yang membuatku kembali trauma ke masa yang udah di lewatin dulu-dulu.

Masalah adek yang kehilangan uang setorannya di kantor, dan sedikit menuduh bapak yang mengambilnya, dengan sedikit umpatan. Adek yang sms ibu, lalu sms itu dibaca bapak karena bapak mengambil hape ibu tanpa sepengetahuan ibu saat beliau sholat. Aku melihat kejadian semuanya. Tiba-tiba bapak bawa sapu lidi lalu disabetkan ke tubuh adek, aku dan ibu segera memisah mereka.

Serangan umpatan dari bapak bertubi-tubi menyumpahi adik, ucapan yang tak sepatutnya diucapkan oleh seoarang bapak kepada anaknya, lalu semua benda melayang-layang dengan satu titik pusat menuju ke adek. Aku yang sekarang sudah besar dan berani melawan tidak seperti dahulu hanya bersembunyi di balik kolong tempat tidur, kini membela adekku.  Tidak seharusnya adek mengumpat dengan kata kasar mengatai bapaknya, namun ulah bapak memberitahu dengan ringan tangan menjadikan semuanya semakin berantakan. Aku yang membela pun terkena imbas lemparan-lemparan yang ada di sekitarnya.

Ibu mulai menangis memisah, kecewa dengan perlakuan bapak yang memborbardir kami dengan benda-benda mati. yang dilemparkan kepadaku dan adik. Adik segera mungkin kusuruh pergi kebetulan waktu itu akan berangkat pendidikan bahasa Korea, kini tinggal aku dan ibu jadi sasaran kemarahannya. Aku berlari keluar rumah menunggu suasana mereda, aku menangis di sudut depan rumah kontrakan orang, ibu di dalam menenangkan bapak.

Tuhan, ... bisakah hari ulang tahunku ini ada hal termanis yang bisa kuambil kenangannya? di tengah kalut yang mengigil, hanya doa-doa yang sanggup kuudarakan ke langit, sadarkanlah bapak ya Rabb, jangan biarkan lagi berlian-berlian itu jatuh dari mata ibu. Rumah kami menjelma sungai berlian, berlian yang dihasilkan dari mata ibu ... bapak kembali pergi dari rumah, dan ia bersumpah  tidak akan kembali sebelum anaknya mati. Semoga doa jelek yang diucapkannya tidak akan pernah terkabul.

Sumber: google.com

katakan bagaimana kami harus mencintaimu Dad, dengan cara bagaimana?

OnetNET, Bugangin
21 November 2013/9:20





3 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. T-T

    ikut sediih bacanya, Mbak PD..
    An memiliki Ayah Tiri, namun beliau menyayangi An seperti anak sendiri..

    Mbak PD, entah kenapa An menulis postingan ini: http://aniamaharani.blogspot.com/2013/11/money-cant-buy-happiness.html dan menemukan jejak tulisanmu di sini.

    Life must go on, ya, Mbak..
    Ada Allah di sisi kita.. Semoga Ayah Mbak PD kembali hangat menyayangi keluargaaa..

    ReplyDelete
  3. Tetep semangat ya darling.. tetep kuat.. tetep tabah..
    Berharga banget cerita yang kamu share.. Ibu tetap ibu.. dan Ayah tetap ayah apapun keadaannya..

    Makasih udah ikut Giveaway empieee.net
    Sukses terus buat kamuh ya :)

    ReplyDelete

Terima kasih sudah mampir ke blog sederhana saya, salam hangat