Wednesday, 6 March 2013

Saatnya Memakamkan Kenangan



Saatnya Memakamkan Kenangan
: Nyi Penengah Dewanti

                Suatu ketika sebelum bulan November, kekasihku memutuskan untuk meminangku. Buncah bahagia merajalela di sekujur tubuhku, rasa haru membendung perasaan tiada terkira. Dibalik kesukaran pasti ada kemudahan, tapi bagiku dibalik kemudahan itu tersembul  masalah baru yang harus dipecahkan. Ibu belum menyetujui pinangan itu sekarang dan tahun depan, karena keberadaanku di negeri orang. Meski kecewa aku tetap harus belajar sabar menerima keputusan Ibu, walaupun terluka aku tetap harus belajar tegar merelakan ketentuan Ibu, semua pasti telah diperhitungkan Ibu. lalu bagaimana dengan dia?
                Tak ada alasan lain yang lebih baik kecuali menanggalkan kesedihanku yang terapung, aku bersedia dengan patah melepaskannya. Jika ini memang takdir yang dipilihkan Allah untukku, aku hanya berharap satu hal: semoga ada takdir yang lebih indah dari hari di mana aku melepaskan segenap rasa cintaku untuknya. Berpilin-pilih perih kupendam sendiri ketika kami memutuskan ikatan itu secara baik-baik. Alasan keluarga besarnya yang ingin segera memilikki cucu jadi penguatku, kalau memang jodoh kelak akan bertemu jika tidak, biarkan garis kehidupan yang membimbingku menemukan cinta yang lain yang lebih baik dari ini, amin.
                Dan sekembaliku dari perantauan, bening air mata yang mengalir di pipi seperti tak pernah lelah menangisinya. Rumah, jalan, taman kota, pantai, dan berbagai kenangan terhuyung-huyung memabukkan isi kepalaku. Aku mencoba segala daya menggeser keberadaannya, namun keinginan bertemu menjerat-erat hati.
                Hujan deras yang mengguyur bumi tak menyurutkan langkahku demi pertemuan ini. Di tengah jalan, bensin motorku habis, dengan basah kuyup akhirnya kami bertemu. Dengan cinta yang tak pernah memadam untuknya, dia mengabarkan bahwa telah bertunangan dan akhir tahun akan menikah. Aku merasa nyawaku melayang ke udara, lemas, aku seolah ingin hari ini berakhir saja. Kelopak mata hatiku merasa baru terbuka, melihat lebar ke segala penjuru, bahwa cinta dari manusia bisa hilang kapan saja, tapi cinta dariNya akan berlangsung selamanya.
                Untuk apa aku bertahan menyetia, jika yang kusetiai sudah tak lagi ada di sisi, untuk apa aku terus mencintai jika yang kucintai telah memilih hati lain untuk bersanding nanti. Menangis, mengadu, berpasrah atas segala ujian, dan berusaha bangkit yang bisa aku lakukan sekarang. Bahkan au berusaha menjalin hubungan baru agar rasa sakit itu tertelan, tertutupi dengan sakit-sakit yang lain.
Dan akhirnya aku menyerah, mengembalikkan lagi semua kepadaNya. Biarlah, ini bukan akhir dari segala kisah. Aku harus mengambil hikmah dan pelajaran yang tertuang agar aku bersyukur lebih banyak atas apa yang diberikan Allah. Bersama lafaz astagfirullah, aku meluruskan tali temali yang masih mengikat hati, ya Allah gantilah hatiku dengan hati yang baru yang berseru selalu menujuMu, cintaMu, dan jalanMu, amin.


0 comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir ke blog sederhana saya, salam hangat