Wednesday, 27 February 2013

Book Review : Gara-Gara Benci

Judul : Gara-Gara Benci
Penulis : Yurita Sari
Harga : Rp 23.500
Penerbit : Media Pressindo
Tahun Terbit : November 2012



Sinopsis Buku:
Rasanya duduk sebangku dengan musuh bebuyutan tuh kayak marathon dikejar anjing pittbull, lalu dipaksa naik Tornado Dufan kemudian mendarat sempurna di kandang harimau kelaparan. Simpelnya, sangat sangat sangat menyiksa.
Tom and Jerry. Seperti itulah Ristha dan Dion. Dua remaja putih abu-abu yang terlahir tak pernah akur. Selalu saja ada keributan yang mewarnai hari mereka. Sejak pelajaran pertama dimulai hingga bel pulang terdengar, genderang perang terus ditabuh. Bagi mereka, hidup tanpa keributan itu bagai sayur tanpa garam.

Kini mereka dihadapkan pada situasi yang mengharuskan keduanya untuk kompak serta menjadi tim yang solid demi tugas kelompok Biologi.

“Diooon! gue phobia banget sama kodok, please jangan paksa gue buat memvisum si kodok kupret itu,”  teriak Ristha di suatu sore yang mendung, di tengah hamparan sawah.

Kata orang, Tuhan selalu punya rencana indah untuk setiap makhluk-Nya. Entah, rencana indah macam apa yang Dia siapkan untuk dua remaja tengil itu.
 
Book Review :
 
Tresno jalaran soko kunlino (cinta datang karena terbiasa) terbiasa bertengkar antara Ristha dan Dion. Tidak pernah akur, saling gencet, yang akhirnya harus duduk semeja dan mengerjakan praktikum memvisum kodok. Ristha yang phobia kodok harus menelan bulat-bulat kengeriannya, mau nggak mau ia harus berdamai dengan Dion, untuk mencari kodok di sawah bersama. Ada saja hal yang membuat mereka bertengkar, hingga Dion meninggalkan Ristha sendirian, kehujanan, dan keesokan paginya limbung; pingsan.

Dion yang sok cuek, Ristha yang sok nggak perhatian, mereka memendam benih-benih yang menumbuhkan cinta. Tapi Ristha tidak ingin memulai cinta baru, karena di hatinya masih ada Erwin. Sahabat, teman, keluarga, yang akhirnya menjadi kekasihnya setelah bertahun-tahun bersama dari kecil. Mereka sering menghabiskan waktu di taman, rebahan di rumput menatap langit. Walaupun Erwin tak ada lagi di sisi Ristha, tapi kebiasaan itu masih sering Ristha lakukan dan sering diketahui oleh Dion. Setiap ditanya Ristha selalu menghindarinya. 

Papa-Mama Ristha yang mengetahui Ristha dekat dengan Dion merasa bahagia, setelah kepergian Erwin akhirnya Ristha telah membuka hati baru. Dari Ortu Ristha juga akhirnya Dion mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan Ristha yang cenderung menutup diri dari hal-hal yang berkaitan dengan perasaan hati. Kalau ingin tahu jawabannya Erwin sebenarnya berada di mana, capcus ke tokbuk terdekat :D akhrinya si Dion sama Ristha jadian enggak ya :D hihihi *sengaja biar penasaran. 

Menurut aku novel ini cukup menarik, disertai kekonyolan-kekonyolan kecil. Tapi jalan cerita mudah ditebak :D tapi aku suka apa pun novel yang kubaca, karena setiap cerita mengandung cinta di dalamnya <3

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir ke blog sederhana saya, salam hangat