Wednesday, 26 September 2012

Kontes Kenangan : Lebaran di Ranah Rantau



Lebaran tahun 2012 ini saya merasa lebih beruntung dari 3 tahun sebelumnya, karena 3 tahun yang terlewati membuat saya tidak bisa merasakan bagaimana rasanya sholat ID, bersalam-salaman, dan bertemu dengan orang-orang senasib seperjuangan, atau sekadar mengalunkan takbir berjamaa'ah.

Tahun ini tahun keberuntungan, karena tidak lama lagi saya akan menyandang status sebagai alumni sebuah lulusan universitas kehidupan. Dalam balutan jilbab dan gaun panjang, aku dan sahabatku Mei berangkat naik kereta menuju lapangan di distrik Shatin. Di Hong Kong tempat sholat ID dipisah menjadi beberapa tempat, karena waktu dan keadaan yang tidak mendukung untuk bisa sampai di Causeway Bay pada jam yang sudah disepakati pukul 9:00 pagi berlangsungnya sholat, apalagi yang siang baru bisa keluar libur otomatis mereka meniadakan untuk ikut sholat, apadaya namanya juga ikut orang. Maka saya memilih tempat terdekat Shatin, juga sebagai sarana berkumpulnya temu silaturahmi dengan teman-teman.

30 menit kami sampai, lalu mencari tempat, panitia-panitia membantu kami meratakan shaf. Gema takbir mulai mengudara membelah padang yang luasnya tak seberapa besar ini, awan-awan terlihat cerah menanungi kami, sejuk, tanpa panas. Aku dan Mei dan ratusan perantau melafal takbir, dada berdebar, hati bergetar, mata mulai nanar, dan bibir gemetar. Mei sudah mengusap matanya dengan sebuah tisu. Aku tersenyum, dan menatapnya hangat.

"Aku nggak kuat, Nduk," katanya di sela isak tangis. Aku menatap ke arah imam dan ratusan orang yang masih terus datang berlalu lalang mencari tempat untuk sholat.

"Aku seperti udah kebal Ce," kataku membalas, "tahunan di rantau membuat semuanya seperti terbiasa."

Yup! tidak pernah ada yang spesial di hari lebaran. Ibuku menerima tawaran bosnya untuk ikut ke Jogja, karena dua rewang bosnya mudik. Kakak tertuaku laki-laki juga ke Jogja melewati malam takbiran dan lebaran bersama temannya, adik kecilku yang juga cowok memilih pergi ke Solo menginap di rumah sahabat, yang juga tetangga dekat kami. Ayah ...? no body's know where are you now? but we trust,  God will save you Dad ... tahun-tahun lebaran tanpa keluarga yang utuh, pagi sekali aku sudah menelepon ibuku meminta maaf atas kesalahan-kesalahan yang pernah kulakukan sengaja atau pun tidak. Suara ibu tertahan berganti isak halus, nadanya menjadi bindeng, dan terlihat sesekali menarik sesak hidungnya yang penuh lendir bening penyebab tangisan. Aku masih bergeming tidak bisa menangis, entah terbuat apa hatiku ini, aku berpamitan pada ibuku, daripada lama-lama membuatnya lebih meneteskan air mata.

Sholat ID selesai, kami mencari tempat untuk berteduh menggelar plastik yang telah dibeli di warung dekat rumah untuk digelar. Kami menemukan tempat yang pas di bawah jembatan, masing-masing dari kami membawa masakan sendiri-sendiri lalu menyantapnya bersama. Aku memasak kupat dan bakwan, temanku yang lain membawa pecel, berkedel, opor, sambel goreng, kare ayam, dan beberapa menu lain yang kami nikmati bersama-sama. Setidaknya kebersamaan ini menjadikan kami lebih bisa saling melengkapi tanpa keluarga yang sebenarnya ada di sisi. Setelah perut kenyang, satu per satu temanku menelepon ke kampung halamannya, dari wajah yang sumringah, bercampur tangis, dan sembab mewarnai raut muka mereka. Aku menatap tersenyum,  berilah kekuatan untuk jiwa-jiwa yang tabah Tuhan, kuatkanlah dinding pertahanan rindu yang bersemayam dalam-dalam, desisku dalam hati.

Sejauh apa pun perjalanan, berapapun mil jarak yang membentang, kita selalu butuh rumah untuk berpulang. Dalam dadanya, setiap lembut belainya, kepala ini sering kali ingin melesak seterusnya, karena di sanalah tempat ternyaman yang paling sempurna; pelukmu Bunda, kasih sayang, dan cintamu tak pernah tertandingi oleh sesuatu apa pun di dunia.

Gaung takbir melafal dari bibir, semoga Engkau mengampuni dosa-dosa yang pernah kami ukir, Ya Rabbku ...

Ketupat bikinanku, yeeaaa .... 

Sholat ID belum mulai jadi bisa jepra-jepret dulu :D

Panitia masih ngelurusin shaf-shaf 

Shatin Park, tempat berlangsungnya sholat ID

Jembatan itu yang aku tuju untuk duduk-duduk bersama teman-temanku

View belakang jembatan

Agak sorean mendung datang, untung kita di bawah jembatan  jaga-jaga kalau hujan datang

Ada kakek-kakek mancing setelah hujan, tuh kan tanahnya basah :D iseng motret abis viewnya cakep

Kalo diedit diterangin bagus banget ini :D belum sempet jadi seadanya, normal but sempurna kan? Inilah beberapa kenangan pada saat lebaran ID yang sempat terekam dengan tulisan dan gambaran, happy idul fitri, mohon maaf lahir dan batin :)

Tulisan ini dikutkan dalam rangka "Kontes Kenangan"
Blog Sumiyati-Raditcelluler
Wish me luck, bismillah 




5 comments:

  1. Ketupatnya gak pakai janur ya Mbak?

    membaca cerita berlebaran di rantau...rasanya jadi ikut teraduk. Meski saya sdh merantau [gak jauh-jauh sey] sejak lama..tapi saya belum pernah menjalani moment idhul fitri jauh dari keluarga. Jd salut buatmu yg sdh bisa memmaknai momentum lebaran diamnapun berada dengan segenap kebesaran hati:)

    ReplyDelete
  2. janurnya di HK ga ada kak hahhaha ya make plastik seadanya saja :P
    terima kasih telah membaca :D

    ReplyDelete
  3. Jadi ikut sedih bacanya, terima kasih mbak Nyi sudah tercatat sebagai peserta kontes kenangan :)

    ReplyDelete
  4. Hureeem terima kasih bunda
    sudah mau membaca, :D

    ReplyDelete
  5. sdikit terharu jg mbak..


    oh ya mbak,
    saya ngadain kontes menulis berhadiah kecil2an nih, infonya bisa dilihat diblog saya.
    Ditunggu partisipasinya ya. :)

    thanks
    Jun_P.M
    carameninggikanbadancepatalami.blogspot.com

    ReplyDelete

Terima kasih sudah mampir ke blog sederhana saya, salam hangat