Thursday, 16 August 2012

#WriterChallenge [1]

Divorce
    Apa yang dipikirkan orang tua ketika memutuskan berpisah setelah hidup bersama dengan dua orang anak yang sudah menginjak dewasa. Apakah keegoisan masih memeluk usia mereka yang sudah kepala empat. Di mana hal-hal terindah yang pernah dilalui bersama? Menghanguskah begitu saja? Aku benci perpisahan, aku benci harus melepas ke dua orang tuaku hidup sendiri-sendiri, dan mungkin saja mereka bisa mencintai hati yang lainnya. Aku nggak rela sampai kapanpun.

    Aku memutuskan untuk kabur dari rumah. Aku mengecam perpisahan mereka. Aku lebih memilih menjauh pergi dari Jakarta. Sejauh mungkin agar perpisahan itu tidak pernah terjadi. Aku meninggalkan Havid, adikku di rumah untuk memantau perkembangan orang tuaku. Kami hanya selisih satu tahun, dan aku yakin seburuk apapun keadaan dia bisa menjaga dirinya.

    Aku meraih ponsel bb dari saku celana jins Hurleyku, mencari nama Haris di layar dengan lebar 62 mmnya. Aku yakin Haris dapat diandalkan untuk soal ini. Warna hijau bergambar gagang telepon kupencet segera, nada sambung lagu kesukaan Haris terdengar kencang; Arkarna.

    “Ris tolongin gue dong, beliin tiket tujuan Bandung buat malam ini, rumah lo kan deket sama stasiun Jatinegara,” kataku meminta bantuan

    “Lo mau ngapain ke Bandung?”

    “Udah ntar gue jelasin. Sejam lagi gue ke rumah lo, harus dapet tuh tiket ya!”

    “Oke bro! Bye.”

    Aku tak perlu membawa baju banyak. Cukup dua polo tshirt, jins pendek hurley. Nike Air Force black-Voltku, bakal menemani perjalanan panjangku sebulan dan entah beberapa bulan lagi untuk menghambat perceraian itu terjadi.

    “Bang, abang yakin cara ini berhasil?” suara Havid mengagetkanku dari belakang. Kutepuk bahunya mencoba meredam pias di wajahnya.

    “Gue yakin. Papa sama mama akan mempertimbangkan niatnya untuk cerai tanpa gue. Ada baiknya juga, mereka biar berpikir, bahwa kita nggak ingin mereka pisah. Dengan cara yang kita bisa, mungkin… seperti ini.”

    “Bang kalo ada apa-apa hubungin Havid ya,” aku mengagguk dan mengusap pelan rambut adikku.

    “Cara papa-mama salah. Uang nggak bisa membeli kebahagiaan,” aku memeluk adikku sebagai salam perpisahan sementara. Dengan kekhawatirannya ia mengantarkan aku sampai ke rumah Haris di dekat Jatinegara.
    “Dapet nih, Argo Pharayangan. Tapi berangkat besok pagi jam 6, yang malam ini habis Lent. Lo nginep aja di rumah gue,” kata Haris sambil mengangsurkan tiket itu ke tanganku.

    “Kalo gitu lo balik aja Vid. Besok kalo udah sampe Bandung gue kabarin. Kan ada tante Ila di sana, jadi lo nggak usah khawatir!”

    Havid mungkin memang cowok yang kelihatan cool di sekolah. Tapi dia lebih manja ke aku yang kakakknya. Mama sama papa sibuk kerja, kita cuma di temani pembantu setiap hari. Havid yang sering melihat pertengkaran orang tua kami jadi sering meminta perlindungan ke aku. Badungnya memang nggak ketulungan, tapi dia selalu nurut dengan aturan yang kuberikan. Boleh sebadung apapun kelakuan kita, tapi jangan sampai bikin malu keluarga. Aku seolah menjadi single parent buat Havid.

    “Jadi lo ke Bandung buat kabur?” tanya Haris kaget.

    “Ini cara yang terbaik menurut gue.”

    “Harusnya lo bicarain baik-baik Lent.”

    “Udah Ris. Tapi bokap malah ngebentak gue.”

    “Perpisahan itu adalah perbedaan hidup. Perbedaan cara pandang yang mungkin udah nggak sama lagi,” kata Haris tiba-tiba bijak, “lo boleh nentang Lent. Tapi kalo cara lo nentang malah nyakitin kedua belah pihak? Apa lo tega setiap hari ngeliat nyokap lo berantem, papa lo ngasarin nyokap?” aku menggeleng cepat.

    “Gue cuma nggak mau kehilangan keduannya Ris,” aku memukul tembok yang ada di kamar Haris. Sakit, tapi sakitnya nggak sebesar yang ada di hati gue. Kenapa mama-papa mesti cerai.

    “Papamu sudah tidak mencintai mama, Nak” kata mama sebulan lalu ketika aku mempertanyakan mengapa mereka bertengkar.

    “Dulu bisa kenapa sekarang enggak Ma?”

    “Mungkin mama tidak secantik sekertaris papamu di kantor,” kata mama mengakhiri perbincangan kami dan lebih memilih menyendiri di kamar.

    Jadi papa sudah mulai tidak jujur dengan pernikahannya. Aku rela bolos sekolah untuk membuktikan omongan mama. Benar mama, sekertaris papa itu memang cantik, tapi juga licik. Aku yakin dia ngedeketin papa cuma mau memanfaatkan posisi papa saja. Sampai kapanpun aku nggak akan pernah menerima wanita itu hadir dalam kehidupan kami. Akan aku hancurin kehidupan keluarganya jika ia berani mengambil alih posisi kami, rutukku dalam hati. (*)

WriterCallenge#1




0 comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir ke blog sederhana saya, salam hangat