Thursday, 2 August 2012

Belajar : DESKRIPSI YANG SEKSI


DESKRIPSI YANG SEKSI



Teman-teman sekalian yang masih memiliki semangat berkarya di dadanya, berikut saya akan coba memberikan sebuah pengalaman yang penting namun terkadang kurang disadari oleh kita NAMUN HARUS DIRESAPI OLEH TEMAN YANG SEDANG MENGAWALI LANGKAH DI DUNIA TULIS MENULIS. Materi yang akan saya berikan ini merupakan pondasi atau landasan penting yang bisa menjadi modal teman-teman sekalian untuk membuat aneka tulisan: puisi, tulisan ringan, cerpen, resensi, artikel, novel. Tulisan-tulisan itu akan terasa lebih mudah jika teman menyadari pentingnya materi ini.
Lalu apakah materi penting itu?
Ya, tak lain tak bukan adalah DESKRIPSI. Pendek kata saya memaknai deskripsi sebagai Potret dari sebuah subyek dengan mengandalkan kuas kata-kata. Lalu bagaimana cara mengawalinya?

1.Mendekati deskripsi dengan cara melatihnya.
Bagaimana cara melatihnya? Tentu dengan cara rajin menuliskan hal sekecil apapun yang engkau jumpai dengan bahasa yang hidup untuk menggambarkannya. Untuk kemudian dituliskan.
Pemandangan misalnya, maka kita deskripsikan tentang pemandangan itu secara terperinci. Terperinci? Betul ini lagi-lagi masalah kebiasaan dan latihan. Lukis pemandangan itu dengan kata-kata yang hidup-hijau pepohonannya, bentuk ranting dan dahannya, rumput-rumput yang bergoyang, bunga yang bermekaran dan nun lanskap gunung-gunung kukuh menjulang.

2. Apa modal deskripsi?
Pengindraan (ini modal yang kuat untuk membuat puisi). Apa sajakah itu? Pengelihatan, pendengaran, perabaan, penciuman—kerahkan penginderaan ini sebagai modal membuat deskripsi yang oke.

3. Apa yang harus dideskripsikan?
Apa saja yang menarik buat kamu: SEPATU YANG JEBOL, SEMUT YANG BERBARIS DIANTARA REMAH-REMAH ROTI, ASBAK, ORANG MEROKOK, LEMARI BAJU, KURSI, LACI, ATAP, SEMPRONG, LILIN, BINGKAI, RAMBUT BARU, MATA YANG MERAH....WAH BANYAK SEKALI.

4. Dimana menuliskan deskripsi?
Sesuai seleramu: apakah di buku harianmu, di handphonmu, di kertas kosong.

5. Gimana membuat deskripsi yang unik untuk kita deskripsikan?
TITIK TOLAKNYA ADALAH SAAT ORANG2 FOKUS PADA JENDELA, KITA MENCARI SUDUT SUDUT JENDELA, KOLONG-KOLONG TEMPAT TIDUR. POKONYA HAL YANG KURANG MENDAPAT PERHATIAN UMUM.

6. Gimana cara menuangkannya?
Rutin setiap malam di lembar buku harian atau kertas. Saat ini yang praktis dan efisien mengunakan HANDPHONE. SIMPAN DALAM DRAF MESKIPUN PADA AKHIRNYA TAK TERPAKAI DAN DIHAPUS TAPI ITU SECARA TIDAK LANGSUNG MELATIH MENGENDALIKAN IRAMA TULISAN, MELATIH PENGINDERAAN DAN MEMBUAT PEKA PERASAAN...

Berikut ini saya berikan contoh tulisan yang mengandalkan deskripsi;

1. TULISAN BEBAS
Wajanku telah mendidih. Berbuih dengan aroma asap. Setelah mentega mencair dalam panas wajan, kutumis bawang bombay sampai aromanya mencucuk hidung lalu daging cincang beradu hingga berubah warna, susu tawar cair, saus tomat dan rebusan tomat lalu fettucine...bergumul dalam wajan. Tambahan minyak sayur, minyak zaitun Wajan berdesis-desis. Aku hanya perlu menggoyang wajan agar tercampur merata di atas api biru. Sedikit beratraksi: membalik pasta dengan sedikit menyentakkan wajan ke atas agar pasta teraduk rata. Perfecto...sempurna!

Tapi kau tentu tak diam saja di depan kami, Chef...kau mengontrol mengelilingi meja persegi berkompor dimana kami meramu aroma dan rasa. Kau menegur dengan kejam, sesekali mengambil alih bila kami bekerja terlalu lamban. Kau yang telah terlatih mengambil dua wajan, di kedua tanganmu wajan bergoyang dengan dua tangan bagai aksi akrobatik di atas api hingga teraduk rata.

Pasta buatanku telah selesai. Setelah kutata dengan manis di atas piring porselen kutambahkan saus bolognese dan menaburi cabikan kecil keju parmesan di atasnya, selembar daun mint, ditambah garnis lalu kau mengontrol rasa. Dan kau terlalu kejam bila rasa pasta itu kurang menggigit di ujung lidahmu maka aku harus mengulanginya lagi. Bila pas kau akan membawanya ke meja persegi tak jauh kau berdiri setelah sebelumnya mengelap pinggiran piring yang masih menyisakan sisa bumbu. Kau membawanya ke atas meja saji, membunyikan lonceng kemudian pelayan dari ruang makan dengan tubuh kaku berompi, berdasi kupu-kupu datang menghidangkannya kepada tamu.

2. PUISI
BERI DAKU SUMBA

di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu
aneh, aku jadi ingat pada Umbu

rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
di mana matahari membusur api di atas sana
rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
bila mana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga

tanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput
kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala
berdirilah di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut
dan angin zat asam panas mulai dikipas dari sana

beri daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau
dan sapi malam hari
beri daku sepucuk gitar, bossa-nova dan tiga ekor kuda
beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari
beri daku ranah tanpa pagar, luas tak terkata, namanya Sumba

rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap cokelat tua
dan bola api, merah padam, membenam di ufuk yang teduh

rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
di mana matahari membusur api, cuaca kering dan ternak
melenguh
rinduku pada Sumba adalah rindu seibu ekor kuda
yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh

(Taufik Ismail, Beri Daku Sumba)


3. NOVEL:
LARUNG


Tahun 1985

Pukul 5:12
Siapakah yang menentukan jam kematian seseorang? Selalu ada aroma perjalanan pada rel dan subuh. Lampu sisa malam pada tembok muram dan tepi jalan. Kuning, semakin padam oleh langit yang bangkit.

Dan inilah yang terjadi setiap dini sebagaimana terjadi jam lima ini:

Ketika bau hangat matahari telah tercium di timur laur, sebelum warna terangnya terpantul pada atmosfir, burung bence segera menghentikan tur malamnya lalu menyusup ke sebuah ceruk yang tak diketahui cahaya. Dengarlah, kita hanya menangkap sisa-sisa gema triolnya, tinggi dan jauh, lalu hilang dalam warna hitam di balik gedung dan pepohonan. Ada makhluk-makhluk, seperti kelelawar, yang tak menyukai terang.

Tetapi burung dandang-haus tetap berkitar-kitar meski fajar akan segera menelanjangi segala yang muncul dari permukaan bumi ke dalam cahayanya yang congkak. Orang menyebut kehadirannya tanda buruk. Dan kita tahu, jika bunyinya masih terdengar, getir yang tinggi namun tidak jauh, kita tahu bahwa ia telah mencium bau kematian di dekatnya (di dekat kau dan aku, yang mendengar nyanyiannya). Maka ia tidak pergi ke dalam gelap sebab ia tahu matahari tak mampu mengusir maut. Terang tidak mengalahkan kematian.

Dan inilah yang terjadi pada setiap subuh yang tak diketahui orang:

Ketika burung dandang hinggap pada nok di bubungan, dan di rumah itu seseorang mati dini hari dengan dada membiru, maka kita tahu bahwa sebelumnya telah terjadi pertempuran roh-roh malam, dan badan halusnya meninggalkan raganya untuk ikut berlaga, tetapi ia telah kalah dalam perang itu dan tak bisa kembali. Maka raga itu tetap kosong ketika pertempuran selesai dan arwah yang menang melayang-layang, pulang sebelum fajar. Tetapi ia kalah dan mati dalam siat wengi. Duh, jasad yang kasat, beruntunglah mata yang masih bisa menyaksikan cahaya-cahaya roh berlesatan di bawah langit ketika pertarungan itu sedang terjadi sebab mereka yang eling akan melafaskan ayat-ayat kursi dengan khusyu pada lantai yanga anyep agar jangan ada kekuatan halus menghirupnya ke dalam senyap. Ada makhluk-makhluk, seperti kelewar, yang hidup dalam gelap dan tak menyukai terang.

Tetapi subuh adalah saat menjelang cahaya lewat dan gelap lari ke barat. Di sana ada aroma keberangkatan, aroma perhentian, dan bau asap pertama: pada subuh ada perjalanan yang tak habis-habis.

(Ayu Utami, Larung)


*

Bagaimana? Yuk kita buat deskripsi yang seksi DIMULAI DARI SEKARANG JUGA!

Semoga bermanfaat :)

Yuda apriansyah
Lampung, 2012

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir ke blog sederhana saya, salam hangat