Thursday, 5 July 2012

PENGENALAN CERPEN

Materi Membuat Cerpen Konvensional

PENGENALAN CERPEN


I. PENGERTIAN CERPEN

Cerpen adalah cerita pendek yang memiliki satu cerita atau peristiwa yang diungkapkan di dalamnya, atau mengandung satu persoalan dan satu kesan, yang keseluruhannya dibaca secara singkat atau sekali duduk yang biasanya menghabiskan waktu 10-15 menit.

II. KARAKTERISTIK CERPEN

Cerpen memiliki karakteristik (ciri khas) utama sebagai berikut
:
1. Konflik : tunggal

Sebagaimana pengertiannya, konflik tunggal identik dengan “satu persoalan dan satu kesan”. Konflik / persoalan terdiri atas:

a. Konflik personal, semisal konflik psikologis
b. Konflik antarpersonal, misalnya konflik dengan orang lain
c. Konflik situasi, misalnya konflik diri dengan situasi sekitar, entah dengan situasi sosial, politik, ekonomi, bencana alam, dll.

2. Tokoh utama : tunggal

Ada satu tokoh utama dalam cerpen, dan tokoh tersebut bisa tunggal (aku, saya, kamu, dia, si A), bisa pula dalam jumlah tertentu.
Tokoh utama pun tergolong dua jenis :
a. tokoh manusia
b. tokoh yang dipersonifikasikan, misalnya hewan, tumbuhan, benda-benda, dll.
Penempatan tokoh utama dalam cerpen sebaiknya pada permulaan (bagian awal) cerpen.

3. Waktu : Peristiwa / cerita berdurasi maksimal 2 tahun.

Penulisan Fiksi Josip Novakovich (2003) mengatakan, cerpen meliputi waktu dari beberapa menit, hari sampai satu atau dua tahun; umumnya tidak lebih dari dua tahun. Senada dengan yang pernah dikatakan Sastrawan Raudal Tanjung Banua ketika beliau menjadi Juri dalam Lomba Menulis Cerpen tingkat Pelajar se-D.I. Yogyakarta (2004), cerpen meliputi kurun waktu hingga dua tahun.
Apabila pengarang hendak memasukkan masa silam, biasanya bisa berupa “cerita flashback” atau disusupkan dalam sepenggal ingatan tokoh.

4. Karakter kata : 500 -5.000 kata, bahkan ada juga cerpen yang berisi 30.000 kata (ratusan halaman!).

III. PETA CERPEN

A. PERMULAAN (5-10%)
1. Perkenalan
2. Perkembangan Konflik

B. BAGIAN TENGAH (80-90%)
1. Masuk ke Konflik
2. Ketegangan (Suspense)
3. Klimaks

C. BAGIAN AKHIR (5-10%)
1. Penyelesaian konflik
2. Antiklimaks
3. Kejutan (Surprise)

PERMULAAN / PENGENALAN / INTRODUCTION / PROLOG (5-10 %)
1. Perkenalan
Perkenalan atau pembukaan cerpen ini menuturkan perihal apa, siapa, di mana, kapan dan mulai masuknya konflik. Perkenalan tidak usah diceritakan bertele-tele. Lebih cepat, tepat dan ringkas bagian ini lebih baik.

2. Masuk ke Konflik
Konflik secepatnya dimunculkan. Konflik merupakan unsur yang menimbulkan persoalan dalam cerita. Ada sesuatu hal yang menarik sehingga pengarang merasa perlu menuliskannya. Menulis cerita adalah menemukan masalah, menemukan persoalan, menemukan konflik. Seorang penulis adalah seorang pencari masalah!

PERKEMBANGAN / PENGURAIAN KONFLIK (80-90 %)
1. Perkembangan Konflik
Konflik ini dapat terjadi dalam diri manusia atau hubungan manusia dengan lingkungannya. Konflik dalam diri manusia itu sendiri, antara lain kejiwaan, spiritual, falsafah dan seterusnya. Konflik manusia dengan lingkungannya, antara lain konflik sosial, konflik fisik, dan seterusnya. Pengolahannya harus tetap terfokus pada satu konflik atau satu persoalan.

2. Ketegangan (Suspense)
Pengarang harus mahir dalam menyusun serentetan ketegangan (suspense) yang menarik pembaca sehingga dalam benak pembaca akan muncul pertanyaan : “Apa yang akan terjadi kemudian?”

3. Klimaks
Bagian ini menantang pengarang untuk unjuk keterampilannya. Pada bagian ini pengarang menggiring semua bahan cerita menuju suatu klimaks cerita.
Di sini pun akan muncul konflik/masalah lainnya (yang masih berhubungan dengan cerita), sehingga dari kalimat dan paragraf itu akan memancing pertanyaan: “Apa lagi yang akan terjadi? Apa lagi? Apa lagi?”

PENGAKHIRAN / ENDING / EPILOG (5-10 %)
1. Pemecahan / Penyelesaian Klimaks Konflik
Setelah cerpen diisi dengan konflik dan ketegangan mencapai suatu klimaks, pengarang melakukan pemecahan / penyelesaian terhadap klimaks konflik. Apakah konflik yang memunculkan suspense dan klimaks dapat diantisipasi? Atau pembaca berpikir, “Bagaimana penyelesaiannya? Akan beginikah? Akan begitukah?”
Misalnya, apakah murid bandel itu akan bertobat? Apakah guru yang baik itu bisa sembuh dari penyakit? Apakah penjaga sekolah itu akan sanggup membuktikan bahwa hantu itu ternyata adalah permainan iseng murid-murid?

2. Antiklimaks
Alur cerita menggiring pembaca dari sajian pemecahan klimaks menuju akhir dari cerpen, “Bagaimana akhirnya?”

3. Kejutan (Surprise)
Kejutan (surprise) di akhir cerita juga dapat membuat cerita menjadi menarik, memberi kesan tersendiri bagi pembaca. Pengarang harus mengolah akhir cerpennya agar alur berpikir pembaca mengenai keseluruhan cerpen pada akhirnya menemukan suatu surprise. Ketika pembaca menebak-nebak (mungkin membuat suatu kesimpulan) akhir cerita “akan begini-begitu”, surprise bisa mengecoh tebakan itu sehingga memberi kesan tersendiri bagi pembaca. Surprise bisa saja berupa perkembangan suspense yang tak diduga-duga oleh pembaca.

Contoh
Konon ada seorang raja yang sangat mencintai isterinya. Mereka saling mencintai dan amat bahagia. Rakyat ikut bahagia. [Pengenalan]
Pada suatu hari sang permaisuri jatuh dari kuda tunggangannya ketika mereka berdua sedang meninjau kebun anggur. Sang permaisuri menderita luka yang sangat parah, sehingga ia meninggal dunia. Raja amat sedih. Ia merasa telah kehilangan segalanya. [timbulnya konflik]
Hari-hari berikutnya sang raja tak sanggup menanggulangi kesedihannya. Lantas ia mengurung diri dan tidak mau makan. Kondisi kesehatannya mulai menurun. Tubuhnya lemas dan jatuh sakit. Dalam sakitnya ia terus mengigau, memanggil istrinya. [klimaks]
Raja tak kuat mengatasi sakit dan rasa kehilangannya. Akhirnya sang raja wafat karena duka-lara. [pengakhiran]

Konflik utama cerita adalah konflik batin dalam diri sang raja, dan konflik itu menimbulkan suspense: bagaimana akhir hidup sang raja?


IV. UNSUR-UNSUR CERPEN

A. Unsur Intrinsik
Unsur Intrinsik disebut juga unsur-unsur dalam cerpen, atau juga struktur cerpen. Unsur-unsur ini terdiri dari: 1) alur, 2) tokoh, 3) lokasi, 4) waktu, 5) suasana.
1) Alur / Plot
Alur/plot adalah perjalanan cerita dari awal sampat akhir, yang terdiri dari :
a. Plot Terbuka
Alur/Plot yang memberi kesan “tidak tamat”, “bersambung”, yang biasanya disengaja oleh pengarang untuk memberi kesempatan pembaca mengisinya sendiri dengan imajinasi pembaca.
b. Plot Tertutup
Alur/plot ini umumnya pada cerita untuk anak-anak, baik itu berakhir dengan bahagia ataupun sedih.

2) Tokoh / Penokohan
Cerita memiliki tokoh atau dibalik, tokoh memiliki cerita. Dalam cerpen, tokoh / penokohan berupa :
a. Manusia (aku, kamu, dia, mereka, si A, si B, dst), baik sebagai protagonis, antagonis, maupun peserta tokoh dan lain-lain, mempunyai latar belakang : usia, status sosial, ekonomi, budaya, karakter, psikologis, dll.
b. Personifikasi (hewan, tumbuhan, benda-benda, dst yang “dimanusiakan”)

3) Lokasi / Tempat
Setiap cerita memiliki lokasi / tempat (di mana). Di mana cerita itu terjadi? Maka seorang pengarang sebaiknya benar-benar mengolah lokasi/tempat sedemikian rupa, yang bertujuan :
a. Lokasi untuk memperkuat kesan cerita (tokoh, konflik, suasana, aliran/gaya, dst)
b. Lokasi sekadar tempat terjadinya cerita

4) Waktu
Setiap cerita memiliki waktu (kapan). Kapan cerita itu terjadi? Maka seorang pengarang sebaiknya benar-benar mengolah waktu sedemikian rupa, yang bertujuan :
a. Waktu untuk memperkuat kesan cerita (tokoh, konflik, suasana, aliran/gaya, dst)
b. Waktu sekadar petunjuk kapan terjadinya cerita

5) Suasana
Suasana merupakan bagian dari cerpen yang memberi gambaran :
a. Kondisi atau situasi tertentu dalam cerpen, misalnya ramai, sepi, bau, semrawut, gelap, penuh cahaya, dan lain-lain.
b. Perilaku dan interaksi tokoh-tokoh yang menimbulkan suatu keadaan, misalnya mencekam, penuh tawa, bermusik, menjengkelkan, ramai, sepi, dan lain-lain.

B. Unsur Ekstrinsik atau unsur di luar cerpen, misalnya siapa pengarangnya, kapan cerpennya dibuat, bagaimana proses kreatifnya, dan lain-lain.


V. RUANG CERPEN
Ruang cerpen terbagi dua :
1. Ruang cerpen di halaman media massa
Umumnya media massa (koran, majalah) menetapkan ukuran cerpen yang akan mereka terima adalah berkisar 4-6 halaman kuarto, ukuran font 12, diketik spasi rangkap/ganda. Ada juga yang bisa sampai 8 halaman (Harian KOMPAS).
Media massa lainnya mematok 6 halaman kuarto, ukuran font 12, dan diketik dengan spasi 1 ½. (Harian Pagi Sinar Harapan).
Namun sebaiknya perhatikan dulu ukuran cerpen yang ditetapkan oleh suatu penerbitan media.

2. Ruang cerpen di halaman buku atau juga situs pribadi di internet
Wilson Nadeak pernah mengatakan (1989), ada cerpen yang panjangnya sampai 30.000 kata atau ratusan halaman.

Namun demikian, ada seorang pengarang membuat cerpen yang sama sekali tidak memperhitungkan lagi berapa kata dan lembar halaman. Kemudian medianya berupa buku atau internet. Persoalannya bukan pada panjang-pendeknya, melainkan esensi cerpen (konflik tunggal, cerita tunggal, durasi 2 tahun, dst) yang sudah tidak perlu dipertanyakan lagi.

--oo000oo--

DAFTAR PUSTAKA:
Atmowiloto, Arswendo. Menulis itu Gampang. Jakarta: PT Gramedia, 2001
Cerpen Pilihan KOMPAS. Kado Istimewa. Jakarta: Harian KOMPAS, 1992.
Nadeak, Wilson, Drs. Bagaimana Menulis Cerita Pendek. Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1989.
Poerwadarminta, W.J.S. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1986.
Sumardjo, Jakob. Catatan Singkat Tentang Menulis Cerpen. Cet. 2. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001

Sumber: Gus Noy

2 comments:

Terima kasih sudah mampir ke blog sederhana saya, salam hangat