Tuesday, 3 July 2012

[#FFSpesial] ~ Lombok Flash Fiction



Payung Merah Jambu
By: Nyi Penengah Dewanti

Aku tak pernah mengayangka bisa singgah di Pantai Tangsi, Lombok Timur. Gara-gara iseng ikut mengisi quis sebuah majalah dengan hadiah jalan-jalan di Lombok. Ada sekitar tujuh orang yang beruntung mendapatkan tiket pulang-pergi gratis. sekaligus mengikuti beberapa rangkaian acara dari majalah tersebut. Pantai berpasir pink yang eksotis.

Guide yang membantu kami mengelilingi pantai Lombok menjelaskan warna pink itu berasal dari remahan bioata laut yang berwarna pink, yang bercampur dengan pasir. Jadilah pantai itu berpasir pink. Di sini pula aku berkenalan dengan Fauzi. Satu-satunya lelaki yang terpilih, yang lain adalah wanita. Aku jadi sedikit sangsi apakah Fauzi ini benar-benar lelaki normal. Sementara majalah yang mengadakan quis ini adalah majalah wanita muda.

“Matamu dari tadi mengamati apa yang aku lakukan,” Fauzi seperti dapat membaca pikiranku.

“Kamu saja yang GR tuh,” kataku santai. Padahal setengah mati aku sudah malu, ketauan mencuri pandang ke arahnya.

“Aku yakin kamu pasti menganggap aku bancikan?” matanya menghakimi bola mataku yang berwarna cokelat. Aku memundurkan langkahku satu depa.

“Hmm… bisa ya bisa tidak,” kataku beranjak pergi dari bibir pantai menuju tenda berpayung besar di pelataran pantai. Ia mengikutiku di belakang lalu duduk rebah di sisi kanan tempatku bersandar.

“Suer aku lelaki normal. Kenapa aku bisa ikut dalam rombongan ini karena ketidaksengajaanku mengisi majalah milik kakakku. Sayang kan ada quis gratis ke Lombok. Meski saingan banyak tapi rejeki toh tidak kemana,” aku melirik Fauzi sebentar lalu terkekeh.

“Kakakku sering ikut quis tetapi selalu gagal. Makanya iseng-iseng aku isi, siapa tahu beruntung. Benar kan seminggu kemudian orang dari majalah meneleponku. kakakku langsung meninju dadaku,” sekarang ganti Fauzi yang tertawa lebar.

“Coba kalau aku nggak ikut, pasti aku gagal ketemu bidadari secantik kamu,” aku langsung beranjak bangun menjitak kepalanya.

“Mulutmu harimaumu,” aku kembali membuka novel yang kubawa dari rumah.

“Kamu nggak percaya cinta pada pandangan pertama?” aku tetap fokus ke arah bacaan di depanku.

“Heh tukbal! Semua orang yang jatuh cinta itu tetap aja berawal dari mata, baru ke hati. Cinta pandangan pertama itu berlaku untuk semua kecuali orang yang emang aslinya buta,”kataku jumawa.

“Tukbal apaan?” teriaknya tak mengerti.
“Tukang gombal!”

Sebenarnya menyenangkan bisa ngobrol bersama dia, sayangnya aku takut terbawa arus terkena imbas gombalannya. Bisa-bisa aku jatuh cinta beneran sama tukbal kecil itu. Aku taksir paling umurnya masih 20 an. Keliatan betapa caranya berbicara dan tingkah lakunya masih childish. Pantai Tangsi mulai panas sekali, aku lupa membawa topi tadi. Pasirnya juga mulai menghangatkan kakiku, matahari juga mulai menanjak naik ke singgasananya. Balik ke arah semula aku pasti akan bertemu Fauzi lagi.

“Hei cantik mau ke mana?” gayanya berputar sambil berakting ala banci membuatku menyemburkan tawa. Apalagi dengan payung berwarna pink yang menaungi kepalanya dari panas.

“Disangka beneran banci tau rasa kamu! Awas ati-ati ketemu cowok gay, bisa jadi santapan nikamtnya,”kataku menakut-nakuti. Kontan dia membuang payung berwarna pink itu. Aku kembali menahan tawa, membebat perutku yang tak kuasa sakitnya terlalu banyak megumbar tawa.

Fauzi kembali mengambil payung berwarna merah jambunya, mendekat ke arahku. “Aku ke sini, bawa payung ini ya buat kamu. Biar kamu nggak kepanasan, sini!” tariknya mendekat ke tengah-tengah tiang payung. Tangannya melingkar ke pinggangku, mataku mendelik.

“Sekali ini, ya! Pandangan bule-bule itu menatap tajam ke arahku. Dikira aku beneran gay nanti,” wajahnya memelas. Akhirnya aku mengangguk dan kami berjalan pulang menuju hotel yang disediakan panitia. Entah kenapa aku merasa nyaman sekali waktu kami berjalan berdua, bagai sepasang sejoli. Sejenak pula aku bisa melupakan bayangan mantan pacarku yang memutuskan aku seminggu lalu. Ketika kami kembali ke kamar masing-masing, aku segera menepis tangan Fauzi.

“Aku suka sekali dengan bulu lentik di matamu,” katanya sebelum aku menutup pintu kamar.

“Kenapa memangnya?”

“Menambah cantik wajahmu yang alami tanpa riasan make up seperti rombongan yang lain,” aku melotot galak.

“Mulai deh si tukbal gelar lapak,” aku menatap matanya sekilas. Takut terlalu lama menatap malah akan membuatku ketergantungan.

“Sky, izinkan aku mengisi kekosongan hatimu,”parau suaranya membuatku terbelalak.

“Untuk apa?”

“Aku ingin menjadi orang terakhir yang kau sayangi Sky.

“Aku takut terluka lagi,” kataku melemah.

“Kalau begitu izinkan aku melamarmu Sky.”

“Kau yakin?” ia mengangguk.

Fauzi benar-benar melamarku. Keluarga Fauzi tak begitu mempermasalahkan perbedaan umur kami. Ibundanya yang sudah sakit stroke menginginkan melihat fauzi menikah segera. Sementara Fauzi sudah lama ditinggal ayahnya meninggal. Kakakknya sendiri seorang janda muda yang ditinggal selingkuh suaminya. Ia berharap padaku dan Fauzi agar bisa bertahan merajut perahu rumah tangga sepahit apapun badai itu menerpa. (*)

http://15haringeblogff.wordpress.com/






1 comment:

Terima kasih sudah mampir ke blog sederhana saya, salam hangat