Monday, 2 July 2012

Di Muat di Koran KLICK (july)


Cerpenku di koran Klick 1july 2012
judul Jindo, Modo, dan Aku

Permulaan sabar adalah pahit, tetapi manis akhirnya, karena sabar itu adalah berbagi hati antara amarah dan rasa ikhlas. Bersabarlah dengan keadaan yang menimpamu, karena itu cara Tuhan mencintaimu 
[quotes @Jindo, Modo, dan Aku]
 Jindo, Modo, dan Aku
By : Nyi Penengah Dewanti

    Aku terlalu takut untuk mengakui. Mengakui bahwa aku telah mengingkari sebagian dari janji suci kami. Aku memang salah, aku khilaf, tapi ini murni bukan sempurna kemauanku.  Istiku… maafkan aku.

    Aku menikahinya karena dia wanita yang sederhana. Meskipun memiliki harta yang kecukupan dari kedua orang tuanya. Ia tidak lupa pada orang yang kurang mampu di bawahnya. Ia mau membagi ilmunya dengan sekolah darurat kami. Sekolah yang kami dirikan di tengah-tengah tenaga dan keringat lebih berarti dari sekadar menuntun ilmu.

    Awalnya aku hanya sukarelawan di desa ini. Membantu para korban bencana alam dengan ilmu, harta yang kupunya, dan tenaga seadanya. Lalu aku bertemu istriku diantara tangan dan kaki yang saling berlomba menurunkan bantuan dari pemerintah pusat. Berkardus-kardus sembako diturunkan, baju, susu, sellimut yang masih layak pakai dari para selebritas pun turut memenuhi truk yang datang. Sekelebat mataku memalingkan diri pada seraut wajah yang tak pernah kutemui. Sejak saat itu aku mulai menaruh hati padanya. Kelak suatu saat aku ingin mempersuntingnya menjadikan bidadari dunia dan syurgaku, pintaku lirih pada Tuhan.

    Dua bulan kami dekat, dua bulan itu aku ingin melamarnya. Berbekal sekotak kesetiaan dan hati dengan niat tulus mencintai kuutarakan keinginanku pada ayahnya. Aku dan ayahnya cukup mengenal baik, beliau juga tau aku hana seorang sukarelawan yang singgah di desanya. Aku tidak punya sanak family lagi karena semua keluargaku terkena arus badai laut yang mengamuk saat aku masih berusia dua belas tahun. Sejak itu aku mengabdikan diriku kepada orang-orang yang senasib. Singgah ke desa-desa lain. Tinggal di barak-barak, menguatkan penduduk untuk tidak menyerah pada ujian.

     Ayahnya turut berbela sungkawa, turut merasakan penderitaan yang kurasakan. Karena istriku pernah bercerita bahwa ibunya meninggal karena kecelakaan. Kecelakaan yang disyukuri banyak orang. Kecelakaan yang diamini demi kebaikan anak-anaknya. Aku mengerutkan kening, miris kenapa bisa seperti itu. Lalu istriku berkata, “Ibuku perempuan liar, perempuan bayaran. Ayah menikahinya karena memergoki ibuku digebuki bodygard pelanggannya, ketauan mencuri cincin berlian yang harganya triliunan.” lalu aku mengusap punggung istriku, ingin berkata sabar. Tapi aku yakin ia lebih sabar dariku. Aku membenamkan kepalanya di dadaku ketika itu.

    Istriku memang wanita sholehah, penurut, suka menolong sesama, sederhana. Berbeda dengan adiknya yang suka dandan, memakai rok pendek-pendek dan pintar memainkan matanya yang ditambah dengan bulu mata pasangan. Beberapa kali aku melihat dia ganti-ganti pasangan. Lelaki mana yang akan tahan bila terus di goda, dirayu, didekati terus menerus. Aku… salah satunya. Yang masuk ke dalam perangkap jebakan adik istriku sendiri.

    ***
    Jindo adalah sebuah pulau yang termasuk salah satu pulau terbesar di korea selatan selain Jeju, Ganghwa, dan Geoje. Di pulau Jindo terjadi tradisi yang unik, fenomena alam yang luar biasa, mereka menyebutnya “Moses Miracle” (keajaiban nabi musa). Yaitu laut itu bisa membelah setiap dua tahun sekali. Daratan sepanjang 2,8 kilometer dan lebar 40 meter muncul ditengah lautan.

    Menurut legenda, penduduk di lembah Jindo di serang oleh macan berbulu api. Seluruh penduduk berjejalan lekas berlari menuju lautan, menaiki perahu menuju pulau di seberang. Sayangnya mereka melupakan seorang nenek tua, yang rapuh, renta tidak bisa berjalan normal harus memakai tongkat. Sementara orang-orang berlarian menyelamatkan dirinya. Tinggalah nenek sendirian, lalu ia berdoa. Memohon kepada dewa laut untuk memberinya jalan. Laut itu kemudian membelah, nenek itu berjalan ke pulau seberang. Setelah sampai laut itu kembali bersatu. Dewa laut menghukum penduduk karena telah melupakan nenek tersebut. Nenek itu bernama Modo, dan pulau seberang yang dituju para penduduk dan turis  ketika festival berlangsung adalah pulau Modo.

    Aku berandai seangdainya bisa aku ke sana. Menenggelammkan diriku setelah festival itu selesai. Pulau itu membelah dan akan bersatu beberapa jam kemudian. Aku ingin berlari ke sana. Menjadi bagian dari laut, berada pada masa macan berbulu api itu mengejar penduduk, tapi itu mungkin hanya dalam mimpiku saja. Aku begitu pengecut untuk mengakui pada istriku bahwa aku telah melakukan hal yang salah, mengkhianati kepercayaannya. Tapi ini sempurna bukan salahku semata.

***
    Dua hari setelah kejadian itu, Tania menarikku bicara empat mata. Ketika aku sedang merawat tanaman bonsai yang kukelola. Aku tidak enak tinggal berpangku tangan saat di rumah tidak mengerjakan apa-apa.

    “Mas Ali, aku positif,” kata Tania sambil berbisik dan tersenyum ganjil.

    “Maksudnya positif?” tanyaku penuh heran.

    “Aku positif hamil Mas, hamil anak kamu!” dengan tegas ia bicara. Petir di siang yang cerah itu membuatku limbung. Gemetar disekujur tubuhku. Bagai diiris belati hatiku. Aku dan dia hanya melakukan sekali dan itu tidak lebih dari tiga hari dia sudah positif hamil. Aku kurang percaya, dan menduga bahwa ia memang sengaja menjebakku.

    “Kamu yakin? Kita hanya sekali Tan, dan itu juga aku tidak sadar kenapa bisa tidur diranjangmu,” kataku mencoba tenang.

    “Jadi kamu tidak mau mengakui darah dagingmu sendiri Mas? Kamu hanya mau menikmati tubuhku saja begitu?” ia melotot, napasnya memburu.

    “Harusnya Mas bersyukur karena itu membuktikan bahwa Mas normal selama ini sudah setahun Mas menikah mana? Belum juga kan Yu Indar hamil? Ato jangan-jangan Yu Indar mandul!” katanya tanpa dosa dan darahku sudah naik diubun-ubun.

    “Kau jangan menghakimi istriku mandul Tan, dia juga mbakyumu. Kakak kandungmu, tidak bisa bicarakah kau lebih sopan sedikit? Selama ini siapa yang memberimu tempat tinggal kalau bukan Indar?” sengakku tanpa ampun.

    “Dan Mas juga di sini cuma nunut kan? Nunut hidup sama Yu Indar?” ketusnya lagi.

    “Saya memang numpang sama istri, dari awal saya melamar saya sudah jujur yatim piatu tidak punya siapa-siapa. Tapi saya tidak berpangku tangan agar Indar terus membiayai hidup saya kan?” hasrta kelelakianku sudah memuncak kalo saja dia bukan perempuan sudah kuajak adu jotos, meski pertarungan fisik bukan menyelesaikan masalah.

    “Ah sudah. Bilang saja Mas tidak mau bertanggung jawab,” ia melangkah menuju rumah tapi terhenti. Ia mememik pelan, “Yu Indar.” aku berbalik dan jantungku sudah berdebar kencang.

    “Benar kamu hamil Tan?”tanya Tania halus. Ia hanya mengagguk.

    “Benar Mas Ali yang mengahimili Tania?” masih dengan nada tenang ia bertanya. Aku tak tahu harus menjawab apa. Bodohnya aku yang mudah tergoda dengan Tania, lelaki macam apa aku ini baru ditinggal seminggu oleh istriku tugas aku sudah berani bermain api. Tapi ini bukan kesalahanku.

    “Nikahi Tania Mas. Aku ikhlas, dan aku meminta cerai detik ini,” kata-kata Indar menohokku bagai ratusan paku menghunjam tubuhku. Aku lemas, badanku kaku. Aku tak berani menatap matanya. Menunduk dalam.

***
    Jumat besok aku akan menikahi Tania sebagai bentuk tanggung jawabku meski tanpa cinta. Saat itu sungguh aku tidak tahu yang terjadi, Tania membuatkanku secangkir kopi, aku merasa mengantuk setelahnya. Setelah bangun, aku melihat Tania di sampingku tidur memelukku. Sebelum acara dimulai Tania tidak keluar-keluar dari kamar yang sedang ditunggui Indar. Aku menyusulnya, takut terjadi apa-apa, karena beberapa kali penghuu sudah mengingatkan masih banyak yang harus dinikahkan.

    Aku membuka pintu kamar, melihat Tania tersungkur di kaki Indar. Meminta maaf atas perbuatannya, ia tidak hamil karenaku. Ia sengaja menjebakku dengan obat tidur. Dia hamil dengan pacarnya, dia malu karena pacarnya tidak mau mengakui janin di rahimnya. Tapi Indar dengan bijak berkata, “Menikahlah dengan Mas Ali. Kasihan bayi itu jika tidak punya bapak.”

    Indar betapa mulianya hatimu, aku tak salah memilihmu. Indar tak benar-benar meminta cerai dariku. Saat itu juga ia memaafkanku. Mungkin sudah skenario dari Tuhan ujian ini menimpa keluarga kami. Indar tetap istriku yang pertama. Dan Tania, aku hanya ingin menyelamatkan janin tak berdosa yang ada di kandungannya. Dua minggu setelah Tania jadi istri keduaku, Indar hamil betapa bahagianya hatiku. Aku mencium perut Indar seketika, ia mengutarakan perihal pemeriksaannya ke dokter. Kulihat hasil test laporannya, terima kasih Tuhan. Tania salah kalau berkata Indar mandul, Indar normal dan lihatlah dia hamil betulan. Permulaan sabar adalah pahit, tetapi manis akhirnya, karena sabar itu adalah berbagi hati antara amarah dan rasa ikhlas. Bersabarlah dengan keadaan yang menimpamu, karena itu cara Tuhan mencintaimu.(*)


   

1 comment:

Terima kasih sudah mampir ke blog sederhana saya, salam hangat