Thursday, 26 July 2012

Pohon Rubuh Karena Topan

^ Badai Topan di Hongkong ^


Heiii guys, gue mau share foto-foto yang sempat terabadikan di kamera hape gue, pohon-pohon rubuh karena badai topan nomer +10 kemarin di Hongkong. Lets we see...













Itu beberapa fotonya :D yang lain masih di hape, sama sih beda-beda tempat doang. Nah sekarang gue kasih liat mobil-mobil pengankut yang lagi narik-narik pohon yang rubuh...




Lokasinya di depan gerbang kompleks Valais daerah Sheung Shui, Kwu Tung Road. 




Badainya sih udah reda, tinggal ujannya ini yang masih berlanjut. Hongkong diguyur ujan terus menerus nih guys... Pas kejadian malam badai topannya dateng, rasanya menakutkan. Rumah kacanya diketuk-ketuk angin sama hujan wusss...wusss, gitu deh. Anginya jalannya nggak jatuh ke bawah tapi miring menyambar-nyambar, kan ditarik anginnya buat nyerang hehehe....


Doain kita yang di sini nggak kenapa-napa ya, semoga kita semua selalu dalam lindunganNya, amin. 


regards.

Wednesday, 25 July 2012

Batik Kubawa Terbang ke Hongkong

Giveaway Catatan Akhir Pekan : Aku Cinta Batik Indonesia 

 Judul : Batik  Kubawa Terbang ke Hongkong

 


 Meskipun aku tinggal di negeri seberang, tetep pakaian idolaku adalah Batik dong. Selain bila dipakai nyaman, anyes, dan adem di badan. Batik  juga kuperkenalkan kepada orang yang tinggal di sekitar kompleks villa. Temanku yang difoto itu juga sering menerima pesanan Batik loh dari teman-teman kami di sini. Tapi sekarang udah mudik dan menikah, foto ini jadi kenangan-kenangan indah buat aku. Semoga orang Indonesia yang tinggal negara orang, tetap mau mengenakan dan memperkenalkan Batik di manapun kalian berada. Aku cinta Batik Indonesia.

 

*)  Postingan ini diikutsertakan dalam "Give away Catatan Akhir Pekan"  dengan Tema Aku Cinta Batik Indonesia.


Tuesday, 24 July 2012

Badai Hujan-Angin

Suara hujan terus beradu dengan angin membentuk bebunyian yang mengerikan. Sudah 3 hari ini Hongkong di landa hujan badai. Suara pepohonan bersama angin mengetuk-ketuk kaca rumah, terus menderas. Terkadang 5 detik mati lampu, nyala kembali. Ini terjadi berulang kali, aku dengan siaga segera mencharger lepiku, buat jaga-jaga. Sinyal hape nggak ada sama sekali, Ya Allah lindungilah kami yang ada di sini.

Ingin memejamkan mata, tapi aku takut. Bebunyian dari luar membuatku terus terjaga. Semoga badai lekas berlalu, amin. Mood untuk nulis pun tiba-tiba raib. Semoga tidak terjadi apa-apa, jagalah kami Ya Rabb, dari marabahaya yang mengancam, amin.

Wednesday, 18 July 2012

Review Horkom : Setannya Kok Beneran - Gagas Media


Judul : Setannnya Kok Beneran
Penulis : Diyah Ratna
Terbitan : Gagas Media
Tahun terbit : Agustus 2008 
sinopsis : 

Di acara reality show Sang Penakluk, Ferdi, Yatno, dan Andi, adalah dukun sakti yang mampu menghadapi dan menangkapi hantu-hantu gentayangan. Namun, dalam kehidupan sebenarnya, mereka tak lebih dari orang kebanyakan.

Hingga suatu hari, mereka diundang ke sebuah desa yang seluruh warganya diteror oleh pocong. Tak mungkin mengaku sebagai dukun palsu, Ferdi dan teman-teman terpaksa menghadapi setan beneran itu. Terjadilah kehebohan-kehebohan akibat ulah mereka yang berusaha menipu warga desa. Di sisi lain, nyali mereka semakin ciut saat pocong sesungguhnya mulai bergerak mendekati mereka.

Review gue :  

Horor komedi ini membuat saya terpingkal-pingkal dengan ulah hansip budek dan hansip mata juling, saat mereka ronda malam. Dua orang pertama kali yang melihat pocong. Pocong sendiri adalah almarhumah Sari yang mati gantung diri di kontrakan pak Candra dan bu Candra. Kebawelan bu Candra yang meminta setoran uang kontrakan Sari membuka awal kisah. 

Bagian yang membuat saya terpingkal adalah ketika pak Rt meminta dua hansip itu menilik kamar Sari. Hansip mata juling tak mampu melihat dengan benar bahwa ada pocong di atas tempat tidur. Pocong itu menjadi hantu di desanya karena salah seorang pengubur lupa melepas tali ikatan kafan. 

Bu Candra selaku pemilik kontrakan demen banget nonton tayangan "Sang Penahkluk", acara penangkapan hantu yang diadakan di stasiun TV swasta. Dikarenakan ketiga pemainnya yang ganteng. Benang merah dari acara ini adalah ketika sudah dilakukan usaha penangkapan pocong, tetap saja tidak ada yang berani. Bu Candra inisiatif memanggil Sang Penakhluk untuk membawa pocong kembali ke kuburannya. Bukan menyelesaikan masalah, malah timbul masalah baru. Ketiga Sang Penakluk ini ternyata adalah hasil tipu-tipuan acara tivi. 

Bagaimana nasib pocong yang terluntang-lantung itu? Ferdi salah satu dukun dari Sang Penakhluk jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Novi anak bu Candra. Tapi nyalinya mengalahkan rasa cinta itu dan memilih kabur dari desa. Dilema pasti, antara menyelamatkan warga dan memilih kabur karena takut kedok terbongkar, atau memilih mati dikejar pocong hidup-hidup? silahkan baca novel Setannya Kok Beneran adaptasi dari film dengan judul yang sama. Happy reading guys. 

Kelemahan isi buku : Cerita yang biasa saja tidak ada bumbu-bumbu lain yang lebih waow dari kebyanyakan cerita horor komedi lainnya. 
Kelebihannya : lumayan hansip mata juling dan hansip budek bisa mengocok perut, tapi ketiga tokoh sentral malah tidak membekas sama sekali. 

*) 3 bintang saja.

Review Teenlit : Thalita - Stephanie Zen





Judul : Thalita
Penulis : Stephanie Zen
Terbitan : GPU
Tahun terbit : Oktober 2009 
Sinopsis : 
  Thalita baru saja masuk SMA, dan ortunya nggak mengizinkan dia masuk ke SMA tempat Andra, mantannya, bersekolah. Itu karena Andra junkie, dan ortu Thalita nggak mau ambil risiko anaknya ikut terjerumus ke dunia drugs. Sebenarnya Thalita masih sayang sama Andra, tapi ia kecewa lantaran Andra nggak mau menuruti permintaannya untuk ikut rehab. Ia akhirnya memutuskan Andra dan masuk SMA yang ditunjuk ortunya.

Sayang, Andra ternyata nggak begitu saja mau melepas Thalita. Ia terus memohon supaya mereka balikan. Thalita dilema, tapi ia tahu, demi kebaikannya sendiri, ia nggak boleh balikan lagi sama Andra.

Di sekolahnya yang baru, Thalita bertemu Darren, cowok yang dingin setengah mati sama cewek. Itu lantaran Darren pernah dikecewakan Cheryl, cewek yang dicintainya habis-habisan tapi lebih memilih hidup dalam dunia hedonis, termasuk berkubang dalam drugs.

Thalita dan Darren, yang terpaksa melepas dua orang yang mereka sayangi karena narkoba, akhirnya merasa cocok satu sama lain. Dan berkat Tatyana, adik Darren, yang menjodoh-jodohkan mereka, Thalita dan Darren akhirnya jadian.

Semua terasa sempurna saat ini. Tapi, bagaimana jika Cheryl kembali? (*)



Review gue : 


Kisah cinta anak SMA  antara Darren-Thalita-Cheryl- Andra. 

Thalita yang punya pacar Andra (pemakai narkoba) satu sekolahan harus pindah ke sekolah lain. Thalita meminta Andra untuk menjauh dari drugs karena berbahaya, bahkan hubungan mereka jadi taruhan. Pilih aku atau drugs? Andra memilih dua-duanya, dan Thalita memilih putus. Orang tua Andra broken home, jadilah Andra seperti sekarang ini. Setelah bercerai, papa Andra menikah lagi dan punya anak perempuan, sedangkan mama Andra jadi wanita nggak jelas suka mabuk dan berkencan dengan sembarang laki-laki. Jadilan Andra semakin terperosot ke dalam lubang hitam. Apalagi setelah putus dengan Thalita dan mendapati Thalita punya pacar baru Darren. Padahal itu akal-akalannya Thalita agar Andra lekas berhenti menggunakan Narkoba. 

Darren adalah cowok ganteng, tajir, kapten basket, dan banyak fansnya di sekolah. Darren memiliki adik yang namanya Tatyana. Tatyana begitu menyukai Thalita karena menurutnya Thalita unik, rame anaknya. Tatyana berharap Darren kakaknya bisa jadian dengan Thalita. Di susunlah rencana agar Thalita bisa dekat dengan Darren. Darren lelaki yang dingin dengan wanita, karena trauma pernah nembak cewek (Cheryl). Cheryl ini junkkies sama kayak Andra. Cheryl bau mau nerima Andra kalau dia make narkoba juga, akhirnya Darren mundur. 


Dari keisengan Thalita, Darren akhirnya jatuh cinta beneran dengan Thalita hanya karena Thalita gila bola, nggak jaim kayak cewek-cewek yang berusaha ngedeketin Darren. Andra setelah tahu mereka pacaran terguncang batinnya, memilih mengurung diri di kamar dengan drugs yang telah dibelinya. Pdahal drugs tersebut mau dipakai untuk menghancurkan anak dari hubungan papanya dengan istri barunya. Adik Andra cemas karena Andra tidak keluar kamar. Ibunya yang pulang dengan keadaan mabuk ketika dilaporin perihal mengurungnya Andra cuek bebek. Ketika Thalita dan Darren bahagia, datanglah Cheryl yang meminta maaf kepada Darren, dia bilang udah tobat nggak make demi Darren. Darren luluh dan menerima Cheryl kembali. 


Lalu bagaimana hubungan Darren dengan Thalita? apakah putus ataukah mendua? Andra yang mengurung diri di kamar apakah akan keluar kamar dan menerima kenyataan bahwa Thalita tidak lagi mencintainya? setelah berkali-kali ia memohon? Jawabannya ada di dalam novel ini. Happy reading guys. 

Kelemahan dari novel ini gaya bercerita yang bertele-tele. Dialognya lumayan sih. 
Kelebihannya sahabat Thalita yang bernama Jennie si miss analogi sering menyisipkan analaogi cerdas sebagai bahan pemberi nasehat untuk Thalita ketika terpuruk melewati masa-masa sulit. Sayang analogi tersebut sudah sering saya dengar dan pasaran. 


*) tiga bintang aja ya :)

 







Monday, 16 July 2012

Belajar Produktif Dengan Waktu Yang Terbatas

Hai guys... selamat berkunjung di lapak gue :D

Judul postingan gue hari ini adalah : Belajar Produktif Dengan Waktu Yang Terbatas #Jeder!
judulnya keren banget yaks sepertinya :p semoga judul dan isi seimbang.
Hari ini gue berhasil nulis 3 FTS (flash true story) dan 1 cerpen. Alhamdulillah ya :D dari pada nggak nulis sama sekali #lirik kanan-kiri :p ada yang kerasa nggak ya? :D

Gue cuma mau pesen sama elo-elo yang sempet mampir di lapak gue yang sederhana ini guys...
Jangan menunggu lo punya waktu baru nulis, tapi menulislah selalu dalam keadaaan kepepet sekalipun.
Mau percaya mau nggak, gue nulis saat majikan gue belum bangun. Jam tujuh gue udah ke basement nyuci dua mobil bos gue, (bmw + M.benz). After that, gue bawa anjing piaraan gue jalan pagi, than nyiram bunga. Nyiapin breakfast, beberes meja makan, ruang nonton tivi, ngepel, nyapu, ngelapin kaca, nyuci toilet. Ini kerjaan pagi gue sebelum mereka bangun, dan lo tau gue nulis di sela-sela gue ngerjain itu.

Gue pasang telinga gue, kalau majikan gue bangun. Gampang banget ditandainnnya, kalau ada bunyi kloset habis di guyur itu tandanya bos gue bangun, secepat kilat gue nutup lepi. Kalau sempet kadang gue cari tombol "sleep", biar file-file yang gue tulis tadi nggak ilang. How about you guys? lo pasti punya lebih banyak waktu kan dari pada gue ini yang ikut orang? jadi lo harus lebih produktif dari gue. Nulis nggak perlu nunggu ide dateng, tapi lo yang harus merangsang ide-ide lo dengan bacaan. Paham nggak maksud gue?

Jadi saat lo mentok banget dengan nggak ada ide. Lo coba cari celah lain dengan baca-baca. Kayak gue kalau lagi mentok ide, gue blog walking, baca notes temen, atau keliling group kepenulisan gue di facebook. Lo harus bisa ngerangsang otak lo sendiri untuk menciptakan sebuah ide.

Segini dulu Pesen dari gue ya guys...
Disambung lagi besok, punggung gue udah panas banget. Gue mau ngelanjutin teenlit yang belum gue baca abis, judulnya TALITHA. Ntar gue bikin reviewnya deh buat kalian guys...
Gue juga lagi nungguin bos dan anaknya nonton tivi, capek pasti tapi gue seneng ngejalanin ini guys.
Empat bulan lagi gue balik Indonesia, huwaaaaaaa happy banget guys. Ada yang mau kopdar sama gue? :D

Adios

^Upil^

Saturday, 14 July 2012

Satnite lonely...

Satnite lonely...

Hai guys sahabat blogger gue yang selalu setia nengokin nih lapak. Gue ucapin met menikmati malam minggu ya, yang berpasangan atau pun tanpa pasangan. Hidup ini indah guys walaupun lo nggak punya kekasih, sama kayak gue #miris. Kegiatan gue hari ini biasalah beberes rumah majikan :D tiada hari tanpa #ngosekwc T_T, demi apa guys? demi sebuah mimpi, mimpi gue untuk bisa kuliah dari hasil jerih payah ngebabu di luar negeri. Mimpi gue ngelulusin adik bungsu gue, yang alhamdulillah bulan kemarin sudah lulus dan langsung bisa kerja di koperasi. Mimpi gue punya pondokkan kecil buat bernaung dari panas matahari, dinginnya angin malam, dan derasnya hujan. Mimpi lo apa guys? jangan bilang lo nggak punya mimpi, bermimpilah karena langkah awal mencapai keberhasilan adalah dengan bermimpi.

Dan........ kebahagiaan hari ini adalah antologi (buku yang dikerjain rame-rame) hasil audisi @Nbc_bekasi dengan tema #andaikan terbitttt yeay! #give me a big hug guys. Menulis adalah terapi perasaan buat gue, menulis adalah nafas hidup, menulis adalah kunci saat gue rindu pelukan ibu gue di rumah.


*) Buku ini bercerita tentang mimpi-mimpi, Jangan pernah meremehkan kekuatan mimpi, karena kita tumbuh besar dengan mimpi. Semua orang besar adalah pemimpi. Tujuan adalah mimpi yang kita uraikan menjadi rencana dan kita bertindak untuk mencapainya/memenuhinya.



Antologi ke #71 ♥ Alhamdulillah

coming soon
Judul : #Andaikan
project pertama dari @nbc_bks yang dapat di beli via online di NulisBuku.com
harga cuma 35rb udah sama amal




Friday, 13 July 2012

Betapa Senangnya Ngeblog

Betapa Senangnya Ngeblog
By Nyi Penengah Dewanti


    Ngeblog itu seperti curhat tapi dalam bentuk online bagi saya. Kita menulis sesuka hati tanpa ada yang mengkritisi tulisan kita. Kita bebas menulis apa saja, ide, pemikiran, perasaan yang sedang kita alami.

    Makin ke sini saya makin melihat bahwa banya orang yang ngeblog mendapatkan uang tambahan, wow… keren saya juga mau. Setelah tanya ke sana-sini ternyata kita harus sering menulis yang lagi jadi headline. Dilarang copas selama beberapa hari, harus menulis artikel sebayak-banyaknya. Sayangnya saya bukan orang yang setiap hari kerjanya mantengin blog. Oleh karena itu blog saya jadikan ajang suka-suka posting apa saja.

    Kecintaan saya dengan dunia tulis membuat saya mengisi blog saya dengan info-info lomba yang saya tahu. Lalu berbagi tips menulis dengan mempostingny di blog. Dari seringnya update lomba, tiba-tiba follower saya menjadi banyak. Walaupun belum ada seratus tapi saya senang, ternyata blog sederhana saya dikunjungi orang. Dari situ saya mulai banyak mengenal beberapa teman, lalu menjadi akrab, dan saling berbagi ilmu dan kasih sayang. Blog juga salah satu sarana membuat talisilaturahmi baru.

    Fakta realnya banyak orang yang bisa menjadi blogstar. Raditnya Dika dengan blog ancurnya “kambing jantan” bisa mengeluarkan buku. Bukunya lalu diadaptasi menjadi sebuah film layar lebar, menjadikan dia seorang selebritis betulan.

    Blog juga bisa menjadi media promosi gratis. Buat pebisnis blog sangat penting apalagi dengan jaman yang serba tekhnologi. Kita bisa memasarkan dagangan kita misal : baju, aksesoris, kerajinan tangan, buku dll. Gara-gara blog pikiran sumpek di kepala, dongkolnya hati karena galau, dapat terealisasi dengan menuliskannya di entry blog. Finally, blog menjadi media terapi menulis buat saya, karena tidak ada hal yang sia-sia. Mari terus berkarya dalam media apapunn. Adios. (*)

    *) Tulisan ini diikutkan dalam  Cerita Asyiknya Ngeblog Berhadiah Buku Giveayay Azzet

Wednesday, 11 July 2012

Letter For Radin

Letter For Radin
By Nyi Penengah Dewanti


Radin…
Malam mencecah sepi  di sini
Membingkai usang perasaaan
Setapak kata ingin kurajut untukmu
Izinkan sebaris tabir terukir
Terima kasih untuk malam ini

Radin …
Dalam temaram aku berjalan sendirian
Entah apa yang kucari
Aku tetap tak menemukan

Sunyi melinukan tulang
Senyap menjadi begitu sempurna
Denganmu aku berbagi keheningan

Kebosanan yang melumut
Pecah karena keceriaanmu
Jika malam dan pagi bisa bertemu
Mungkin mereka akan berpelukan
Saling berdekapan, sayangnya mereka tak pernah bisa

Mereka cukup tau
Bahwa mereka saling membutuhkan



Valais- Sheung Shui, Hongkong
11/7/2012/ 2:16 AM
   

# Coretan Pagi Buta

# Coretan Pagi Buta

Gue tiba-tiba galau waktu denger lagu #Simpananku entah siapa yang nyanyi. Gue dengerin lewat @jogjastreamers di @Utymedari. 

Intinya itu lagu cerita bahwa dia lebih mencintai simpanannya dari pada pasangannya sendiri. 
Dunia udah kebalik kali ya? apa sebenarnya yang diinginkan dari hubungannya dengan pasangan? 
kalau udah nggak cocok ya bubarin aja, dari pada nambah sakit :D #tsahhhhhhh
Yang jadi simpanannya juga kenapa mau gitu? gue jadi mikir #jedotin kepala ke tembok :p
Kalau simpanan tabungan duit di Bank sih nggak masalah, lah ini jadi simpanan alias selingkuhannya :D #miris

Menurut teman gue, "Pacar orang adalah pacar yang tertunda," #ampunnnn deh ih --" 
kayak nggak laku ajah :D, nggak laku sih nggak papa tapi jangan sampai mau dijadiin selingkuh ya?

Pesen gue : Sekesepian apapun lo tanpa pasangan, jangan sampai mau dijadiin selingkuhan. Karena sekali awalnya nggak baik, endingnya juga bakal udah ketebak. 

Valais- Hongkong
11/7/2012/ 1:36 AM

Tuesday, 10 July 2012

Ramadhan Menjelang, Puisi tentangnya pun di Museumkan Halaman

Ramadhan Menjelang, Puisi tentangnya pun di Museumkan Halaman

oleh Muhammad Asqalani Eneste pada 9 Juli 2012 pukul 0:09 ·
 
JUDUL : AYAT-AYAT RAMADHAN
ISBN : 978-602-7692-12-2
Tebal : 260 Halaman
Harga : Rp. 49.500,-
Penulis : Yandigsa, dkk
...
Dapatkan harga khusus pre-order diskon sampai dengan 25% selama bulan Juli 2012
beli 1-5exp dapat diskon 10% (beli 5exp gratis ongkir indonesia)
beli 6-10exp diskon 20% (Free ongkir indonesia)
beli diatas 10exp diskon 25% (free ongkir indonesia)

Berlaku hanya di bulan JULI 2012

----------------------------------
Untuk Pemesanan Silakan ketik:
AAR#Nama Lengkap#Alamat Lengkap#Jumlah#Nomor HP Kirim ke 0878 260000 53
atau Silakan Inbox kami
-------------------------------

Telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah, pada bulan tersebut engkau diwajibkan berpuasa dan dibukalah pintu-pintu surga dan ditutuplah pintu-pintu neraka dan syaithan-syaithan di belenggu, dalam bulan tersebut ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barang siapa yang tidak mampu mendapatkan kebaikan bulan ramadhan tersebut maka haramlah baginya surga. (HR Ahmad, an Nasa'i, dan Baihaqi).


 Ramadhan adalah bulan yang selalu kita rindukan kedatangannya. Bulan pembelajaran penuh hikmah dan berkah yang begitu besar serta ampunan dari Allah SWT. Berawal dari kerinduan dan penantian dengan Ramadhan buku ini hadir sebagai bacaan penuh inspirasi. Penulis yang tergabung dalam buku ini menghadirkan Ramadhan dalam rajutan kata yang begitu syahdu, begitu indah, begitu rindu, begitu rasa, begitu cinta, begitu sayang.

Ramadhan juga jalinan kata yang mampu dirangkai indah dalam puisi
Setiap detik dalam Ramadhan adalah ayat-ayat yang begitu menggetarkan
Sambut Ramadhan
Yandigsa

Marilah kita sambut bulan Ramadhan
sebagai bulan penuh dengan hikmah
kita rayakan kebersamaan dalam menyambut bulan Ramadhan
kita rayakan kebersamaan dengan hati suci dan ikhlas diri

Marilah kita melihat sejarah
banyak terjadi di bulan Ramadhan
diturunkan-Nya kita suci Qur'an
sebagai pedoman hidup manusia

Marilah kita rayakan bersama
bulan Ramadhan dengan kemenangan
jalinan ukhuwah tetap dijaga
bersatu padu tegakkan agama

Marilah kita sambut bulan Ramadhan dengan kemenangan
marilah kita sambut dengan hati suci indah

Kembalilah fitrah manusia
setelah sebulan berpuasa
menahan lapar dan dahaga
untuk menjadi orang yang bertaqwa

Note : Puisi dengan judul "Sambut Ramadhan" di atas pernah di Nyanyikan oleh team nasyid Ashabul Kahfi asal Lampung dan tergabung dalam kompilasi nasyid Lampung. Lagu ini saya buat ketika hendak menyambut bulan Ramadhan. Selamat Menikmati.

Friday, 6 July 2012

Review "Shit Happens"




Judul : Shit Happens: Gue yang ogah kawin kok elo yang rese?!
By : Christian Simamora
Sinopsis :

Shit does happen in their life. But, still, life must goes on….Lula, Sebastian, dan Langit. Tiga orang lajang yang hidup di kota besar bernama Jakarta dengan profesi berbeda. Jurnalis, penulis, dan editor. Love their life much, so damn proud of themselves, boast their freedom of life as an individual.


‘till one question ruins their [un]perfect life.


Lula : I have a good job, I’m pretty, and, believe me, I’m not an airhead Paris-Hilton-like girl. I’m all what men need. Tapi, kenapa nggak ada cincin di jari manis gue?


Sebastian : Mangoli (nikah)… cuma itu yang ada di pikiran Mama akhir-akhir ini. Katanya, menikah itu sumber kebahagiaan. Talk to yourself, Mom. Your marriage isn’t a picture of a happy life. Kenapa sih terus-terusan maksa aku nyari calon parumaen (menantu) dan menikah secepatnya?


Langit : We were a perfect couple. ‘till, I found his affair. Then, he left me. He chose his latest partner, not me. This is my question. WHY ?


So, this is not a story about perfect life. They just try HARD to make it perfect.


***


‘Shit does happen, bahkan tidak hanya di kamar mandi. Buku ini membuat gue berdecak dari, ehm, kalimat pertama sampai terakhir. Lucu, cerdas, dan membuat berpikir. Membaca dua editor super ini akhirnya ‘kawin’ dan beranak novel membuat gue berkesimpulan: awesomeness happens!’ –Raditya Dika, penulis korban editan mereka berdua.




‘Buku ini punya dialog yang kocak dan cerdas! I think any smart, sophisticated, mid and late 20s urban people dengan segala quarter life crisis-nya could really relate to the story.You know, shitty crisis which only makes us feel so smart, so strong, so wise, so different, so damn proud and sooo alive for having it. And even though we might not get through it well in the end but just to think, feel, and living it, it’s just…wow! Happy reading!’ (www.icha.rahmanti.com
)


Review : 


Shit Happen adalah hasil kolaborasi dari Christian Simamora dan windy Ariestanty, dua editor gagas media. Menceritakan persahabatan tiga manusia urban, Lula, Sebastian, dan Langit yang betah melajang. Sama-sama ogah nikah, sama-sama dituntut untuk segera menikah, dan sama-sama bekerja dibidang yang saling berkaitan: Jurnalis, editor, dan penulis. 


Prolog dibuka dengan bahasa yang sarkas khusus orang dewasa. Lihat disampul cover tertulis bacaan khusus orang (sok) dewasa. Saya bacanya agak memekik kecil di dalam hati “waow” berani sekali. Kata J***** menjadi perdebatan panjang untuk sebuah nama anak Langit kelak. Jadi kata J***** dianalogikan sama dengan calon anak Langit yang bernama Ilalang. 


The next penceritaan novelnya ditulis dengan sudut pandang masing–masing dari sisi Lula, Langit, dan Sebastian. Mereka masing-masing memiliki kisah tersendiri tapi saling berkaitan.


Lula yang resah karena mendapat undangan dari mantan pacarnya untuk menghadiri pernikahan tapi dia tidak memiliki pasangan.  Harus berusaha dengan gencar dalam waktu dekat untuk memiliki pasangan yang lebih dari Rahmat si mantan pacar. Masalahnya yang jadi calon istri si Rahmat ini sahabat dari Rahmat waktu jaman kuliah. Lula tidak terima makanya ingin balas dendam di hari pernikahan tersebut dengan menggandeng pasangan untuk dipamerkan bahwa Rahmat nggak ada apa-apanya dibanding pasangannya yang sekarang. 


Langit. Pekerja keras, kelaminnya benar-benar cewek. Tapi dia belum ingin memutuskan untuk menjadi cewek atau cowok. Bahkan saat pembuatan KTP dia tidak memilih apapun jenis kelaminnya, dan petugas kelurahan dibuat bingung karenannya. Langit trauma atas masa lalunya dengan cowok bule yang bernama Dean. Dean lebih memilih berselingkuh dengan laki-laki daripada wanita. Sampai Langit benar terluka, luka itu masih dibawanya hingga beberapa tahun kedepan. Dia mendapatkan sebuah email undangan dari Dean untuk mengahadiri pernikahan sesama jenis. Langit dilema antara datang atau tidak, antara bisa ikhlas memaafkan atau masih tenggelam ke dalam luka yang dipeliharanya. 


Sebastian. Deskripsinya menurut saya persis seperti penulis sendiri. Berbadan gede, dan Chuby. Atas keceplosan Lula waktu makan siang bersama, menyebutkan Sebastian Gay. Ia mulai ragu dengan dirinya sendiri sehingga mengikuti test ketertarikan antara dia normal atau gay. Cerita di flash back masa lalu dia saat sekolah mandi bersama dengan teman lelakinya. Hingga dia jadian dengan adik kelasnya Agnes, dan ternyata perasaan itu semakin menunjukkan ketertarikkannya lebih besar pada seorang Pria. Sebastian juga berani jujur kepada Mamanya bahwa dia berpacaran dengan seorang laki-laki yang bernama Steve. Bisa dibayangkan bagaimana seorang ibu yang melahirkan  mendapati anaknya seperti itu, temukan jawabannya di dalam novel ini. 

Lalu ketiga sahabat itu saling mengisi dan mensuport sama lain menemukan cinta dan jati diri. Bahkan jika ketiganya hingga umur tiga puluh belum menemukan pasangan yang tepat. Sebastian memutuskan untuk meminang keduanya. Lula yang bagai anjing dengan kucing dengan Sebastian selalu dipisah oleh Langit jika mereka beradu mulut. Akankah ketiga mahluk ajaib ini menemukan pasangan cintanya? baca selengkapnya di novel Shit Happen. (*)

Tuesday, 3 July 2012

[#FFSpesial] ~ Lombok Flash Fiction



Payung Merah Jambu
By: Nyi Penengah Dewanti

Aku tak pernah mengayangka bisa singgah di Pantai Tangsi, Lombok Timur. Gara-gara iseng ikut mengisi quis sebuah majalah dengan hadiah jalan-jalan di Lombok. Ada sekitar tujuh orang yang beruntung mendapatkan tiket pulang-pergi gratis. sekaligus mengikuti beberapa rangkaian acara dari majalah tersebut. Pantai berpasir pink yang eksotis.

Guide yang membantu kami mengelilingi pantai Lombok menjelaskan warna pink itu berasal dari remahan bioata laut yang berwarna pink, yang bercampur dengan pasir. Jadilah pantai itu berpasir pink. Di sini pula aku berkenalan dengan Fauzi. Satu-satunya lelaki yang terpilih, yang lain adalah wanita. Aku jadi sedikit sangsi apakah Fauzi ini benar-benar lelaki normal. Sementara majalah yang mengadakan quis ini adalah majalah wanita muda.

“Matamu dari tadi mengamati apa yang aku lakukan,” Fauzi seperti dapat membaca pikiranku.

“Kamu saja yang GR tuh,” kataku santai. Padahal setengah mati aku sudah malu, ketauan mencuri pandang ke arahnya.

“Aku yakin kamu pasti menganggap aku bancikan?” matanya menghakimi bola mataku yang berwarna cokelat. Aku memundurkan langkahku satu depa.

“Hmm… bisa ya bisa tidak,” kataku beranjak pergi dari bibir pantai menuju tenda berpayung besar di pelataran pantai. Ia mengikutiku di belakang lalu duduk rebah di sisi kanan tempatku bersandar.

“Suer aku lelaki normal. Kenapa aku bisa ikut dalam rombongan ini karena ketidaksengajaanku mengisi majalah milik kakakku. Sayang kan ada quis gratis ke Lombok. Meski saingan banyak tapi rejeki toh tidak kemana,” aku melirik Fauzi sebentar lalu terkekeh.

“Kakakku sering ikut quis tetapi selalu gagal. Makanya iseng-iseng aku isi, siapa tahu beruntung. Benar kan seminggu kemudian orang dari majalah meneleponku. kakakku langsung meninju dadaku,” sekarang ganti Fauzi yang tertawa lebar.

“Coba kalau aku nggak ikut, pasti aku gagal ketemu bidadari secantik kamu,” aku langsung beranjak bangun menjitak kepalanya.

“Mulutmu harimaumu,” aku kembali membuka novel yang kubawa dari rumah.

“Kamu nggak percaya cinta pada pandangan pertama?” aku tetap fokus ke arah bacaan di depanku.

“Heh tukbal! Semua orang yang jatuh cinta itu tetap aja berawal dari mata, baru ke hati. Cinta pandangan pertama itu berlaku untuk semua kecuali orang yang emang aslinya buta,”kataku jumawa.

“Tukbal apaan?” teriaknya tak mengerti.
“Tukang gombal!”

Sebenarnya menyenangkan bisa ngobrol bersama dia, sayangnya aku takut terbawa arus terkena imbas gombalannya. Bisa-bisa aku jatuh cinta beneran sama tukbal kecil itu. Aku taksir paling umurnya masih 20 an. Keliatan betapa caranya berbicara dan tingkah lakunya masih childish. Pantai Tangsi mulai panas sekali, aku lupa membawa topi tadi. Pasirnya juga mulai menghangatkan kakiku, matahari juga mulai menanjak naik ke singgasananya. Balik ke arah semula aku pasti akan bertemu Fauzi lagi.

“Hei cantik mau ke mana?” gayanya berputar sambil berakting ala banci membuatku menyemburkan tawa. Apalagi dengan payung berwarna pink yang menaungi kepalanya dari panas.

“Disangka beneran banci tau rasa kamu! Awas ati-ati ketemu cowok gay, bisa jadi santapan nikamtnya,”kataku menakut-nakuti. Kontan dia membuang payung berwarna pink itu. Aku kembali menahan tawa, membebat perutku yang tak kuasa sakitnya terlalu banyak megumbar tawa.

Fauzi kembali mengambil payung berwarna merah jambunya, mendekat ke arahku. “Aku ke sini, bawa payung ini ya buat kamu. Biar kamu nggak kepanasan, sini!” tariknya mendekat ke tengah-tengah tiang payung. Tangannya melingkar ke pinggangku, mataku mendelik.

“Sekali ini, ya! Pandangan bule-bule itu menatap tajam ke arahku. Dikira aku beneran gay nanti,” wajahnya memelas. Akhirnya aku mengangguk dan kami berjalan pulang menuju hotel yang disediakan panitia. Entah kenapa aku merasa nyaman sekali waktu kami berjalan berdua, bagai sepasang sejoli. Sejenak pula aku bisa melupakan bayangan mantan pacarku yang memutuskan aku seminggu lalu. Ketika kami kembali ke kamar masing-masing, aku segera menepis tangan Fauzi.

“Aku suka sekali dengan bulu lentik di matamu,” katanya sebelum aku menutup pintu kamar.

“Kenapa memangnya?”

“Menambah cantik wajahmu yang alami tanpa riasan make up seperti rombongan yang lain,” aku melotot galak.

“Mulai deh si tukbal gelar lapak,” aku menatap matanya sekilas. Takut terlalu lama menatap malah akan membuatku ketergantungan.

“Sky, izinkan aku mengisi kekosongan hatimu,”parau suaranya membuatku terbelalak.

“Untuk apa?”

“Aku ingin menjadi orang terakhir yang kau sayangi Sky.

“Aku takut terluka lagi,” kataku melemah.

“Kalau begitu izinkan aku melamarmu Sky.”

“Kau yakin?” ia mengangguk.

Fauzi benar-benar melamarku. Keluarga Fauzi tak begitu mempermasalahkan perbedaan umur kami. Ibundanya yang sudah sakit stroke menginginkan melihat fauzi menikah segera. Sementara Fauzi sudah lama ditinggal ayahnya meninggal. Kakakknya sendiri seorang janda muda yang ditinggal selingkuh suaminya. Ia berharap padaku dan Fauzi agar bisa bertahan merajut perahu rumah tangga sepahit apapun badai itu menerpa. (*)

http://15haringeblogff.wordpress.com/






Monday, 2 July 2012

cerpenku di Tabloid Apakabar (Februari) judul "Gempa Kecil Di Hatiku"


Gempa Kecil di Hatiku
By: Nyi Penengah Dewanti


    Kalau tidak karena mama memohon padaku untuk menggantikannya mengajar sepekan. Aku pasti sudah bersama teman-temanku menikmati indahnya Danau Maninjau di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Sudah jauh-jauh hari kami merencanakannya, acara sahabatku Eliva melepas masa lajangnya. Dan permintaan mama mengacaukan segalanya.

    “Ayolah Mell, hanya sepekan saja. Mama harus menengok Bude kau yang sakit. Apa kau tega membiarkan Budemu sendirian di Rumah Sakit tanpa seorang pun yang menemaninya di sana?”

    “Tapi Mell nggak suka anak kecil, Mama taukan Mell alergi dengar mereka merengek, apalagi menangis. Mell nggak suka Ma!” aku memasang wajahku yang sebal di hadapan mama.

    “Bukannya kamu juga dulu pernah kecil? Dunia anak-anak itu menyenangkan Mell, kelak kau juga akan menjadi seorang ibu. Kau juga harus belajar memahami bagaimana menjadi seorang ibu yang baik. Dengan mengajar di tempat ibu akan banyak membantumu di kemudian hari.” Mata mama mengerling membujukku.

    “Baiklah kalo kau masih tidak mau. Bagaimana kalo mama ganti dengan tiket PP plus menginap di hotel berbintang ke Danau Maninjau sebagai ganti mengajarmu yang sepekan itu?” lalu mama berjalan ke meja telepon di sebelahku. “Mama langsung booking tiketnya, apa kau masih mengelak tidak ingin?”

    Tawaran menarik, secercah roman bahagiaku terlihat antusias dengan penawaran mama, “Mell setuju Ma.” Mama terkekeh melihat polah tingkahku yang materealistis.

***

    Otakku semakin lelah tak karuan. Aku bisa menghandel semuanya dengan baik. Kecuali anak didikku satu itu. Nakalnya nggak ketulungan. Aku jadi berfikir apakah sanggup juga orangtuanya mengurusi ia di rumah. Apa jangan-jangan dia di rumah berlagak jadi anak yang pendiam dan tidak banyak maunya. Tapi di sini , di kelasku semuanya menjadi berantakkan.

    Kadang aku berharap dia akan berhenti sekolah atau mogok masuk,  karena ketidaksukaanku. Nyatanya dia semakin aktif dan giat mengerjakan semua yang kuperintahkan.

    “Ini menantang Bu Guru,” katanya kemarin waktu kuberi tugas menulis kegiatannya sehari-hari dan mimpi apa yang menjadi cita-citanya. Tahu apa soal tantangan anak sekecil itu, tapi aku bangga padanya. Semua dikerjakan dengan baik, sungguh dia murid yang paling sulit kuatasi juga paling kurindukan.

    ***
    Ia berulah lagi, saat pelajaran mengunting membuat prakarya menempel gambar. Entah apa yang merasuki alam sadarnya, kertas gambar temannya digunting habis menjadi repihan kotak setengah tanggung, tidak juga kecil. Ia mengadu kepadaku, lalu ia mogok masuk kelas jika ada Kenzie. Nama murid biang keonaran itu Kenzie pratama. Nama yang bagus bukan? Tapi dengan ulah dan polahnya, aku sedikit miris juga.

    Dengan halus kucoba berbicara baik-baik dengannya di ruang guru. Tapi dia enggan menjawab, mengacuhkanku. Ia bermain-main dengan jari-jari tangannya.

    “Ohya Ken, apa pekerjaan rumah kemarin sudah dikerjakan?” tanyaku mengambil alih pembahasan soal kenakalannya. Ia menatapku, ada seulas senyum.

    “Aku mengerjakannya dengan baik Bu,” bola matanya mengerling kelihatan bahagia.

    “Apa saja yang kau tulis, boleh ibu membacanya sekarang?” ia meraih tas yang dikenakannya di punggung. Dia kupisah dengan teman-teman sekelasnya agar pelajaran mengajar tidak terganggu, hanya kurang 10 menit jam sekolah selesai.

    Untukk ibu guruku yang baik hati:

    Sepulang sekolah Ken menyusul nenek ke sawah. Kami akan makan siang di sana dengan bekal yang dibawa nenek dari rumah. Ken duduk di gubuk menulis tugas dari sekolah. Menunggui nenek mengusir burung yang hinggap di tanaman padi.

    Aku berhenti membaca sekilas, kuamati ia masih asyik bermain dengan gelang karet. Lalu kemana ibunya… itu yang jadi pertanyaanku kemudian.

    Menjelang matahari hilang, Ken pulang sama nenek. Mandi lalu bergegas mengaji ke surau. Pulangnya Ken makan malam dan belajar lagi ditemani nenek. Kadang kalo mamak menelpon dari jauh, Ken akan menanyakan peer yang sulit kepada mamak. Mamak membantu Ken mengerjakannya.

    Mimpi dan cita-cita Ken, ingin membahagiakan mamak. Pingin mamak pulang, biar Ken yang kerja kalo Ken sudah besar. Ken kangen sekali sama mamak. Ken pingin ketemu mamak. Mamak sama nenek nggak boleh capek-capek lagi.

    Hatiku berguncang, jadi ini masalah inti dari kenakalannya. Jauh dari ibu, hanya dirawat nenek. Aku bisa membayangkan betapa gigihnya perjuangan dua wanita itu. Sepenuh hatiku berontak merasa bersalah, karena selama ini telah banyak beburuk sangka kepada anak didikku. Aku terkesiap ketika di lembar terakhir ada sebuah coretan lagi, ditulis dengan tinta berbeda.

    Mak, maafin Ken tadi di sekolah. Mereka bilang Ken tak punya  orangtua. Ken masih punya mamak sama nenek. Mereka tak percaya, karena mamak tidak pernah mengantarkan Ken ke sekolah. Ken bilang mamak kerja, mereka jawab kerja kok nggak pernah pulang. Ken marah mak, Ken gunting-gunting bukunya. Mamak jangan marah ya mak, Ken janji itu kenakalan Ken yang terakhir. Ken harus jadi anak yang baik seperti kata mamak, kecuali mereka menghina mamak. Ken kangen mamak, juga sama bapak di syurga.

    Tubuhku meluruh lemas tertunduk di hadapannya. Ia bergegas pura-pura duduk tegap dan berhenti memainkan gelang karetnya. Kupeluk tubuh kecil dan ringkihnya, betapa berat cobaan yang harus ditanggungnya. Tumbuh tanpa kasih sayang orangtua, saat itu aku memutuskan untuk menjadi ibu angkatnya.
***
    Sekarang aku menyadari, aku terlalu serakah untuk menerima semua ini. Terlalu banyak nikmat Tuhan yang kudustakan. Aku punya segalanya. Tapi bocah ini, harus merela dengan pasrah ditinggalkan ibunya yang jauh merantau ke negri seberang. Neneknya? Wanita yang seharusnya menikmati masa tuanya dikelilingi dengan anak dan cucu membuat hari-harinya ceria. Harus padam karena tuntutan ekonomi dan masa depan lebih menjanjikan. Bersyukur atas apa yang kamu punya adalah salah satu ciri untuk menerima lebih banyak lagi.
    Kuraih blackberry dari dalam tas kesayanganku. Sebuah pesan singkat kuketik untuk seseorang yang telah mengajariku arti hidup.

    Ma, tiket perjalanan ke Danau Maninjau dicancel aja. Mell ingin menggantikan mama mengajar sepekan lagi. Mama jagain Bude aja di sana. Thanks ya Ma.

    Seulas senyum merekah diantara hati keduannya. (*)

Cerpenku di koran Klick 27/5/2012


Cerpenku di koran Klick 27/5/2012
judul "Titik Hitam Yang Kecil"


 Titik Hitam yang Kecil
By: Nyi Penengah Dewanti


    Barangkali, semua orang ingin hidupnya mewah, menilik para tetangga mereka yang memiliki harta lebih berlimpah. Bisa membeli ini-itu tinggal tunjuk jari, tanpa perlu bersusah payah menjual tenaga dan keringat, sekali gesek dengan kartu ATM barang-barang yang mereka butuh langsung dapat digenggam. Sedangkan aku? Meluruskan rata jariku saja aku tak bisa.

    Umurku belum genap lima belas tahun, tapi dalam biodata kelahiranku dirubah dengan dua puluh satu tahun, selisih tua enam tahun. Aku lulus dalam medikal, tubuhku dinyatakan sempurna sehat. Tapi jari-jari tanganku memang tidak rata sempurna, siapa sih yang mau mengamati sedetail itu? Ibu jari dan jari kelingkingku lebih kecil dari ukuran normal manusia lainnya, hanya terlihat menyembul saja. aku tidak minder pun malu. Aku tetap bersyukur akan karunia ini, Alhamdulillah Allah masih memberiku lima jari yang sempurna menemani telapak tangan untuk bekerja.

    Dari ditawari calo, masuk PT, hingga proses penerbangan termasuk cepat kata ibu asramaku, “Kau hebat Danik, hanya waktu sebulan visamu sudah turun,” senyumnya.

    Kubalas senyuman itu. Lalu menjawab, “Berkat doa dari Ibu juga kan?” binar matanya menjadi bercahaya ketika kutakan itu.

    “Kau sudah seperti anakku sendiri, kau terlalu kecil untuk bekerja ke luar negeri, tapi apa daya ekonomi menuntut lebih dari yang kita butuhkan,” katanya sembari beranjak menatap teras melihat teman-temanku di penampungan yang sedang berbaris melaksankan olah raga sore hari.

    “Jadi anak Ibu seumuran dengan saya?” aku bertanya, dan ia mengangguk.

    “Kutinggalkan dia di rumah bersama neneknya,” ada nada getar di balik kalimat barusan. Tentu saja aku penasaran kemana suaminya. Apakah juga bekerja ke jantung kota Indonesia, ataukah meninggal, tapi aku urung bertanya.

    “Ayahnya kabur meninggalkan tanggung jawab, setelah Ibu kirimi uang untuk membeli sepetak sawah ketika Ibu bekerja di luar negeri dulu,” ia kembali menatapku tersenyum.

    Satu hal yang paling aku suka, ibu asramaku begitu ramah, ternyata senyumnya menyembunyikan seribu kelukaan yang menganga. Siapa sangka, orang yang amat disiplin, tegas, memberi banyak pelatihan berguna pada kami calon-calon tenaga kerja Indonesia. Adalah wanita kuat yang berrtahan di atas kerapuhannya sendiri.

    “Masing-masing manusia selalu memiliki masalah dalah hidupnya ya Bu? Nggak ada seorang pun yang nggak terbelit masalah, iya kan Bu?” mataku mengerling manja, berusaha menghalau gundahnya. Bu Darmi mendekatiku dan menarik hidungku, “Auw… sakit Ibu,” aku pura-pura memasang tampang kucelku. Dan kami saling berbagi ruang hati yang tidak pernah benar-benar terisi.

***
    Aku lelah. Lelah dengan suara keras yang berkicau setiap hari. Saling membentak dan menyalahkan. Saling berargumen dan melempar sesuatu yang jika jatuh ke lantai menimbulkan bunyi “prang”. Aku capek. Capek dengan kelakuan orang tuaku yang setiap harinya bertengkar. Berkali-kali tetangga menggedor-gedor rumah kami agar tidak berisik malam-malam. Tapi bapak seperti tidak memedulikan kemarahan tetangga. Malah semakin mengumpat seakan rumah kami berada di tengah hutan belantara.

    Lalu mamak serta merta menyuruhku keluar dari rumah, tidak lupa menggendong adikku yang masih umur 4 tahun. Aku enggan, aku ingin di rumah menemani mamak, aku takut terjadi apa-apa dengan mamak. Karena aku tahu kalau bapak kalap apapun bisa terjadi.

    “Demi adikmu cepat menyingkir. Mamak janji akan baik-baik saja,” usapan tangan keriput mamak tak mampu mengurangi pias kekhawatiran dalam hatiku. Aku masih diam di samping mamak. Mamak melotot meyuruh bergegas. Bapak masih mengucapkan mantra sumpah serapahnya dan terus membanting apa saja yang bisa dibanting. Terakhir aku melihat asbak kaca siap melayang, dan aku sekelebat melihat asbak itu mengarah ke mamak yang berada di belakangku. Demi apapun selamatkanlah mamak ya Allah.

***
    “Kau tidak makan Nik? Lusa kau sudah berangkat ke negara tujuan. Usahakan jaga kesehatanmu sendiri!” aku hanya mengangguk.

    “Bu, bolehkah Danik bertanya sesuatu?” di sela istirahat makan siang aku sengaja menyempatkan diri mampir ke dapur bertemu Bu Darmi. Sendok kuahnya diletakkan kemudian, menilik manik mataku seolah bicara “katakan saja, Nak”.

    “Jika ada kesempatan sekali saja dalam hidup, apa yang ingin Ibu lakukan?”

    “Kesempatan itu datang setiap hari berganti, tapi tidak dengan waktu yang bisa diputar kembali. Kejadian apapun dalam hidup adalah fase pembelajaran, pahit maupun senang. Ibu ingin, keluarga ibu kembali utuh, dan itu hanya impian belaka, Nak.”

    “Kenapa Ibu pesimis, Allah pasti kasih yang terindah untuk kehidupan Ibu, walo jalannya ga segampang yang kita ucap, Danik tahu itu,” aku merasa amat menyesal telah mengajukkan pertanyaan tadi.

    “Anak ibu sudah tidak ada lagi di dunia. Sakau. Ini salah ibu, terlalu memanjakkannya. Sepeninggal neneknya. Ia tinggal sendirian di rumah, sementara ibu merantau.  Dia memakai narkoba. Hasil kiriman ibu ternyata di buat beli barang haram itu,” ia menunduk, menghapus bening di sudut matanya. Kutepuk pundak bu Darmi.

    “Ibu yang sabar ya bu, ujian dari Allah, kita nggak boleh menolaknya,” bu Darmi menatap ke atas, di langit-langit atap dapur. Menahan tangisnya agar tidak jatuh berderai. 


    Segala sesuatu tak harus jadi sempurna untuk menjadi bahagia. Ada banyak masalah dalam kehidupan yang menghimpit manusia. Jadikan masalah seperti titik hitam yang kecil, ia setia menemanimu kemanapun jauhnya kamu melangkah. Terkadang belum apa-apa kita mengaggap masalah seperti raksasa yang hendak menerkam kita. Pikiran kita telah terhipnotis dengan kata “masalah”, yang berimbas ke tubuh. Membuat emosional, pemarah, dan kesehatan terganggu. Anggap saja masalah seperti tangan yang layak digenggam, bersabar dalam menghadapi, mulai tanyakanlah dalam diri untuk apa kita hidup. Aku dan waktu menjalani takdirku, tanpa siapapun. Hanya ada aku dan Tuhan. (*)


  
   

Di Muat di Tabloit Apakabar (mei)


Cerpenku di Tabloid Apakabar dengan judul "Sumur Keramat"

 Sumur Keramat
By : Nyi Penengah Dewanti


Avinda memberi Muffi sebuah ide untuk mendatangi sumur keramat di daerah Kuncen, Pegandon. Katanya sudah terbukti kedahsyatannya hingga ke kota. Orang-orang berbondong-bondong datang mengunjungi sumur keramat tiap Jum’at kliwon. Dan itu artinya sumur keramat beroperasi setiap sebulan sekali.

“Ini kesempata Muff. Kamu masih cinta kan sama Ifan?” katanya di sela-sela tugas dari dosen psikologi. Muffi mengangguk dan matanya menatap bola mata Avinda penuh harap.

“Tapi aku takut, kamu kan tau aku paling anti sama hal-hal yang berbau mistis. Itu namanya mempersekutukan Allah dengan yang lain,” katanya Muffi keukeh.

“I know dear… demi ketakutan atau demi cinta agar bisa bertahan lama? the decision is in your hands!” Mata Avinda menyalak tegas.

“Tapi kita udah putus Vin, mau digimanain juga cinta Ifan buat aku udah ilang,” gurat wajah Muffi menampakan kekecewaan yang dalam.

“Makanya, aku sebagai sahabat kamu ngasih pilihankan?” mata Vinda seolah ikut bertanya.

“Ya tapi nggak ada cara lain apa?”

“Ada sih, pake pelet! Mau?” bulu kuduk Muffi seketika begidik ngeri.

“Sumpah ya Vin, aku nggak sekejam itu. Ntar kalo peletnya balik nyerang kita gimana?” tanya Muffi dengan rasa penasaran yang membuncah.

“RESIKO! Sumur keramat satu-satunya jalan paling aman, besok kamis setelah kelas kita langsung ke sana. Medannya agak jauh dari kota. Masalah pembayaran biar aku yang tanggung.” kata Avinda mantap.

***

Tepat pukul dua siang Avinda dan Muffi meninggalkan pelataran kampus salah satu universitas di Semarang itu. Tubuh-tubuh langsing mereka turut memenuhi macetnya lalu lintas di daerah Tugu. Cahaya matahari menerpa wajah-wajah cantik mereka. Muffi yang masih setengah tanggung, setengah ragu terlihat gelisah dari kaca spion motor yang dikendarai Avinda.

“Tenang aja Muff, temen-temenku udah sering ke sana kok buat minta air dari sumur keramat itu. Dan emang bener manjur kata mereka,” kata Avinda meyakinkan Muffi di pemberhentian lampu merah, saat mereka sedang menunggu lampu hijau menyala. Antara percaya dan tidak Muffi terlihat agak cerah wajahnya.

Jarak tempuh satu jam membuat pantat-pantat mereka pegal. Perut mereka bernyanyi keroncong, membuat Avinda berhenti di salah satu warung sate yang terletak di jalan Soekarno Hatta daerah Cepiring.

“Kita makan dulu ya Muff, bentar lagi juga sampai udah deket kok.”

“Aku lagi nggak nafsu banget nih Vind,” keluh Muffi.

“kamu harus makan! Putus cinta bukan berarti dunia berhenti. Masih banyak yang harus dikerjain dari pada menyesali yang udah terjadi. Dan sebentar lagi aku yakin Ifan bakalan balik lagi ke kamu kalau sudah meminum air dari sumur keramat itu,” diantara sendok dan piring yang berdentang-denting itu Avinda sahabat Muffi memberikan suntikan semangat.

Berbekal kertas alamat dari temannya Avinda. Avinda sedikit lupa dengan daerah Kuncen. Dia datang ke tempat ini kira-kira empat tahun lalu, kemungkinan hafal sangat riskan sekali. Tapi ia tidak menyerah dan terus bertanya-tanya.

Sawah-sawah menghampar luas, pohon asem berdiri di sepanjang jalan Pegandon. Banyak tikungan dan jalan berlobang yang harus dilewati tidak membuat Avinda menyerah. Demi sahabatnya apapun dilakukan, yah… demi senyum seorang sahabat yang cintanya kandas karena diselingkuhi. Untuk membuat Ifan mantan pacar Muffi jera, Avinda mengambil jalan pintas ini. Mendatangi sumur keramat, meminta air dari sumur itu untuk diminumkan nantinya.

Gerbang desa sudah terlihat, rumah pemilik sumur keramat mbah Sasmito sudah bisa ditebak paling misterius. Di depan rumah itu terpajang patung-patung jaman dahulu, ukiran kayu jati menghiasi tiang rumah yang besar namun tampak suram. Pohon-pohon besar tampak rindang, menjulang, dan menaungi atap rumah mbah Sasmito. Rumah itu ramai pengunjung, yang mengantri sampai melewati batas pagar. Avinda dan Muffi tampak kegerahan menunggu antrian yang mengular itu.

“Jadi bagaimana Mbah? Bisa ndak mantan pacarnya teman saya ini kembali,” tanya Avinda sopan.

“Oh bisa,” mbah Darmo mengelus jenggotnya yang tebal.

“Mau paket biasa apa special? Kalo special pelicinnya lebih besar,” mata mbah Darmo melotot.

“Special Mbah! Biar langsung manjur nggak perlu nuggu,” mbah Darmo mengambil air yang sudah diisi dalam ukuran gelas aqua.

“Suruh dia minum sampai habis, beberapa menit kemudian akan bereaksi. Ketika dia minum rapalkan jampi-jampi yang Mbah sudah tulis di kertas buram ini. Mengerti!” kata Mbah Darmo dengan sedikit menggelegar bicaranya. Membuat Muffi meringkuk ketakutan. Avinda pun demikian, tapi ditahannya rasa takut itu.
***
Karena si Ifan suka sekali futsal, dengan sengaja Muffi menunggu di lapangan atas saran Avinda. Jika sudah melihat Ifan mulai berkeringat dan lelah berlari, Muffi harus sigap memberikan air aqua dari mbah Darmo, agar efeknya juga bisa langsung dilihat. Ifan agak kaget, dengan kedatangan Muffi pasalnya mereka sudah putus. Dan pacar baru Ifan juga sedang dalam perjalanan untuk mensuportnya dalam pertandingan.

“Hei Fan, aku bawain minuman ini. Diminum ya, aku udah datang jauh-jauh lho ya,” Ifan keki tapi dia terima juga. Saat tutup botol itu sudah dibuka, mulutnya spontan terbuka air mineral itu hampir memerciki tenggorokannya yang kering. Tapi teriakan pacar baru Ifan menghentikan aksi itu. Ifan hanya menelan ludahnya sendiri.

“Beib, aku udah bawain minuman kamu dari rumah. Ini lebih bersih dan higenis,” kata pacar baru ifan yang bernama Tika itu. Ifan tak berkutik, ia bingung juga kasihan sama Muffi sudah datang dari jauh lantaran mereka beda kota. Muffi kesal dan meninggalkan lapangan itu, Avinda yang sudah menunggu di luar langsung menerjang Muffi dengan banyak pertanyaan. Tangan Avinda memberi isyarat “gimana”?

“Gagal Vind, balik yukk,” Avinda melongo.

“Ifan nggak minum, keburu selingkuhannya datang.”

“Trus?”

“Ya dia mending milih minum dari tuh cewek lah,” wajah Muffi jadi cemberut. Saat akan meninggalkan pelataran parkir. Seorang cowok berbadan gagah menghentikan laju motor mereka. Cara dia menatap memperlihatkan aura terpesona.

“Hei, boleh kenal nggak? Aku Surya,” ia mengulurkan tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang botol yang tak asing lagi. Avinda dan Muffi saling tatap dan mereka menyiapkan ancang-ancang menarik motor secepatnya. Cowok itu masih mengejar, Avinda menambah gigi motor dan wusss… motor melaju membelah jalan.

“Kyaaaaaa…. Dasar sumur keramat! “ keduanya berteriak diantara deru motor dan angin kencang yang bersaing dengan asap. (*)

Di Muat di Koran KLICK (july)


Cerpenku di koran Klick 1july 2012
judul Jindo, Modo, dan Aku

Permulaan sabar adalah pahit, tetapi manis akhirnya, karena sabar itu adalah berbagi hati antara amarah dan rasa ikhlas. Bersabarlah dengan keadaan yang menimpamu, karena itu cara Tuhan mencintaimu 
[quotes @Jindo, Modo, dan Aku]
 Jindo, Modo, dan Aku
By : Nyi Penengah Dewanti

    Aku terlalu takut untuk mengakui. Mengakui bahwa aku telah mengingkari sebagian dari janji suci kami. Aku memang salah, aku khilaf, tapi ini murni bukan sempurna kemauanku.  Istiku… maafkan aku.

    Aku menikahinya karena dia wanita yang sederhana. Meskipun memiliki harta yang kecukupan dari kedua orang tuanya. Ia tidak lupa pada orang yang kurang mampu di bawahnya. Ia mau membagi ilmunya dengan sekolah darurat kami. Sekolah yang kami dirikan di tengah-tengah tenaga dan keringat lebih berarti dari sekadar menuntun ilmu.

    Awalnya aku hanya sukarelawan di desa ini. Membantu para korban bencana alam dengan ilmu, harta yang kupunya, dan tenaga seadanya. Lalu aku bertemu istriku diantara tangan dan kaki yang saling berlomba menurunkan bantuan dari pemerintah pusat. Berkardus-kardus sembako diturunkan, baju, susu, sellimut yang masih layak pakai dari para selebritas pun turut memenuhi truk yang datang. Sekelebat mataku memalingkan diri pada seraut wajah yang tak pernah kutemui. Sejak saat itu aku mulai menaruh hati padanya. Kelak suatu saat aku ingin mempersuntingnya menjadikan bidadari dunia dan syurgaku, pintaku lirih pada Tuhan.

    Dua bulan kami dekat, dua bulan itu aku ingin melamarnya. Berbekal sekotak kesetiaan dan hati dengan niat tulus mencintai kuutarakan keinginanku pada ayahnya. Aku dan ayahnya cukup mengenal baik, beliau juga tau aku hana seorang sukarelawan yang singgah di desanya. Aku tidak punya sanak family lagi karena semua keluargaku terkena arus badai laut yang mengamuk saat aku masih berusia dua belas tahun. Sejak itu aku mengabdikan diriku kepada orang-orang yang senasib. Singgah ke desa-desa lain. Tinggal di barak-barak, menguatkan penduduk untuk tidak menyerah pada ujian.

     Ayahnya turut berbela sungkawa, turut merasakan penderitaan yang kurasakan. Karena istriku pernah bercerita bahwa ibunya meninggal karena kecelakaan. Kecelakaan yang disyukuri banyak orang. Kecelakaan yang diamini demi kebaikan anak-anaknya. Aku mengerutkan kening, miris kenapa bisa seperti itu. Lalu istriku berkata, “Ibuku perempuan liar, perempuan bayaran. Ayah menikahinya karena memergoki ibuku digebuki bodygard pelanggannya, ketauan mencuri cincin berlian yang harganya triliunan.” lalu aku mengusap punggung istriku, ingin berkata sabar. Tapi aku yakin ia lebih sabar dariku. Aku membenamkan kepalanya di dadaku ketika itu.

    Istriku memang wanita sholehah, penurut, suka menolong sesama, sederhana. Berbeda dengan adiknya yang suka dandan, memakai rok pendek-pendek dan pintar memainkan matanya yang ditambah dengan bulu mata pasangan. Beberapa kali aku melihat dia ganti-ganti pasangan. Lelaki mana yang akan tahan bila terus di goda, dirayu, didekati terus menerus. Aku… salah satunya. Yang masuk ke dalam perangkap jebakan adik istriku sendiri.

    ***
    Jindo adalah sebuah pulau yang termasuk salah satu pulau terbesar di korea selatan selain Jeju, Ganghwa, dan Geoje. Di pulau Jindo terjadi tradisi yang unik, fenomena alam yang luar biasa, mereka menyebutnya “Moses Miracle” (keajaiban nabi musa). Yaitu laut itu bisa membelah setiap dua tahun sekali. Daratan sepanjang 2,8 kilometer dan lebar 40 meter muncul ditengah lautan.

    Menurut legenda, penduduk di lembah Jindo di serang oleh macan berbulu api. Seluruh penduduk berjejalan lekas berlari menuju lautan, menaiki perahu menuju pulau di seberang. Sayangnya mereka melupakan seorang nenek tua, yang rapuh, renta tidak bisa berjalan normal harus memakai tongkat. Sementara orang-orang berlarian menyelamatkan dirinya. Tinggalah nenek sendirian, lalu ia berdoa. Memohon kepada dewa laut untuk memberinya jalan. Laut itu kemudian membelah, nenek itu berjalan ke pulau seberang. Setelah sampai laut itu kembali bersatu. Dewa laut menghukum penduduk karena telah melupakan nenek tersebut. Nenek itu bernama Modo, dan pulau seberang yang dituju para penduduk dan turis  ketika festival berlangsung adalah pulau Modo.

    Aku berandai seangdainya bisa aku ke sana. Menenggelammkan diriku setelah festival itu selesai. Pulau itu membelah dan akan bersatu beberapa jam kemudian. Aku ingin berlari ke sana. Menjadi bagian dari laut, berada pada masa macan berbulu api itu mengejar penduduk, tapi itu mungkin hanya dalam mimpiku saja. Aku begitu pengecut untuk mengakui pada istriku bahwa aku telah melakukan hal yang salah, mengkhianati kepercayaannya. Tapi ini sempurna bukan salahku semata.

***
    Dua hari setelah kejadian itu, Tania menarikku bicara empat mata. Ketika aku sedang merawat tanaman bonsai yang kukelola. Aku tidak enak tinggal berpangku tangan saat di rumah tidak mengerjakan apa-apa.

    “Mas Ali, aku positif,” kata Tania sambil berbisik dan tersenyum ganjil.

    “Maksudnya positif?” tanyaku penuh heran.

    “Aku positif hamil Mas, hamil anak kamu!” dengan tegas ia bicara. Petir di siang yang cerah itu membuatku limbung. Gemetar disekujur tubuhku. Bagai diiris belati hatiku. Aku dan dia hanya melakukan sekali dan itu tidak lebih dari tiga hari dia sudah positif hamil. Aku kurang percaya, dan menduga bahwa ia memang sengaja menjebakku.

    “Kamu yakin? Kita hanya sekali Tan, dan itu juga aku tidak sadar kenapa bisa tidur diranjangmu,” kataku mencoba tenang.

    “Jadi kamu tidak mau mengakui darah dagingmu sendiri Mas? Kamu hanya mau menikmati tubuhku saja begitu?” ia melotot, napasnya memburu.

    “Harusnya Mas bersyukur karena itu membuktikan bahwa Mas normal selama ini sudah setahun Mas menikah mana? Belum juga kan Yu Indar hamil? Ato jangan-jangan Yu Indar mandul!” katanya tanpa dosa dan darahku sudah naik diubun-ubun.

    “Kau jangan menghakimi istriku mandul Tan, dia juga mbakyumu. Kakak kandungmu, tidak bisa bicarakah kau lebih sopan sedikit? Selama ini siapa yang memberimu tempat tinggal kalau bukan Indar?” sengakku tanpa ampun.

    “Dan Mas juga di sini cuma nunut kan? Nunut hidup sama Yu Indar?” ketusnya lagi.

    “Saya memang numpang sama istri, dari awal saya melamar saya sudah jujur yatim piatu tidak punya siapa-siapa. Tapi saya tidak berpangku tangan agar Indar terus membiayai hidup saya kan?” hasrta kelelakianku sudah memuncak kalo saja dia bukan perempuan sudah kuajak adu jotos, meski pertarungan fisik bukan menyelesaikan masalah.

    “Ah sudah. Bilang saja Mas tidak mau bertanggung jawab,” ia melangkah menuju rumah tapi terhenti. Ia mememik pelan, “Yu Indar.” aku berbalik dan jantungku sudah berdebar kencang.

    “Benar kamu hamil Tan?”tanya Tania halus. Ia hanya mengagguk.

    “Benar Mas Ali yang mengahimili Tania?” masih dengan nada tenang ia bertanya. Aku tak tahu harus menjawab apa. Bodohnya aku yang mudah tergoda dengan Tania, lelaki macam apa aku ini baru ditinggal seminggu oleh istriku tugas aku sudah berani bermain api. Tapi ini bukan kesalahanku.

    “Nikahi Tania Mas. Aku ikhlas, dan aku meminta cerai detik ini,” kata-kata Indar menohokku bagai ratusan paku menghunjam tubuhku. Aku lemas, badanku kaku. Aku tak berani menatap matanya. Menunduk dalam.

***
    Jumat besok aku akan menikahi Tania sebagai bentuk tanggung jawabku meski tanpa cinta. Saat itu sungguh aku tidak tahu yang terjadi, Tania membuatkanku secangkir kopi, aku merasa mengantuk setelahnya. Setelah bangun, aku melihat Tania di sampingku tidur memelukku. Sebelum acara dimulai Tania tidak keluar-keluar dari kamar yang sedang ditunggui Indar. Aku menyusulnya, takut terjadi apa-apa, karena beberapa kali penghuu sudah mengingatkan masih banyak yang harus dinikahkan.

    Aku membuka pintu kamar, melihat Tania tersungkur di kaki Indar. Meminta maaf atas perbuatannya, ia tidak hamil karenaku. Ia sengaja menjebakku dengan obat tidur. Dia hamil dengan pacarnya, dia malu karena pacarnya tidak mau mengakui janin di rahimnya. Tapi Indar dengan bijak berkata, “Menikahlah dengan Mas Ali. Kasihan bayi itu jika tidak punya bapak.”

    Indar betapa mulianya hatimu, aku tak salah memilihmu. Indar tak benar-benar meminta cerai dariku. Saat itu juga ia memaafkanku. Mungkin sudah skenario dari Tuhan ujian ini menimpa keluarga kami. Indar tetap istriku yang pertama. Dan Tania, aku hanya ingin menyelamatkan janin tak berdosa yang ada di kandungannya. Dua minggu setelah Tania jadi istri keduaku, Indar hamil betapa bahagianya hatiku. Aku mencium perut Indar seketika, ia mengutarakan perihal pemeriksaannya ke dokter. Kulihat hasil test laporannya, terima kasih Tuhan. Tania salah kalau berkata Indar mandul, Indar normal dan lihatlah dia hamil betulan. Permulaan sabar adalah pahit, tetapi manis akhirnya, karena sabar itu adalah berbagi hati antara amarah dan rasa ikhlas. Bersabarlah dengan keadaan yang menimpamu, karena itu cara Tuhan mencintaimu.(*)