Monday, 18 June 2012

Merah Itu Cinta ( Flash Fiction)

Merah Itu Cinta ( Flash Fiction)

oleh Nyi Penengah Dewanti pada 26 Mei 2012 pukul 20:15 ·
               

    Pada sebuah bingkai photo di kamar Tasya, aku menemukan rindu di sana. Ada kamu mengumbar tawa bahagia diantara gambar-gambar teman-teman kita. Dan entah kenapa, mataku mengabut tiba-tiba, ada perasaan yang jungkir balik di dalamnya.

    Dedah rasa yang kusembunyikan menemukan radar dalam pandang, gambarmu seolah bicara pada diriku, “Cinta, tak perlu kau cari pembenarannya, cukup rasakan yang kau rasa. Pada suatu masa yang sudah ditakdirkan, ia akan menemukan arah  dengan sendirinya tanpa perlu peta.”

    Ya Tuhan, aku sudah berusaha melupakan dia pada tahun-tahun yang tlah berlalu. Menjalani hidupku sendiri dan mengelabui hati. Tapi kali ini pertahananku jebol di ambang batas tapal yang kusumpal.  Rasa itu tetap sama, tak berubah maupun sirna. Bilangan hari sudah kudaki, matahari berganti senja. Senja berganti malam, dan malam yang purba menguak segalanya.

    “Ada apa Dara?” seketika lamunanku membuyar. Mataku beralih segera dari bingkai penabur  duka.

    “Eh,” aku menunjuk pigura itu pada Tasya.

    “Itu photo bulan lalu, waktu acara workshop di Jogja. Salah siapa kamu nggak ikut," kata Tasya lalu beralih mendekati tempat tidurnya.

    Sungguh  Sya, aku ingin ikut. Tapi aku terlalu takut. Takut untuk melihat dia, jadi aku memberi Tasya banyak alasan. Meski tak masuk akal. Kubuat Tasya percaya pada kata-kataku. Dan aku mulai melihat Tasya rebah tiduran, menggelar selimut untuk aku dan dia. Aku tidur menginap di rumah Tasya, dengan satu tujuan, mendengar cerita-cerita acara itu. Dengan begitu aku mampu meredam jatuhan rindu yang menyayat pilu.

    Tasya memang sahabatku, tapi aku selalu menutupi gelembung-gelembung perasaan ini. Aku malu, aku gengsi. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, ini rahasiaku dan siapapun tak berhak tahu. Sekarang aku menyesali. Tasya dan kamu semakin dekat. Aku membaui ada sesuatu diantara kalian. Aku terlambat, terlambat untuk bercerita padanya, terlambat untuk jujur denganmu juga. Cinta ini melilit hatiku sendiri, bisanya meracuni setiap nadiku. Aku benci semua ini, benci kamu yang tak mengerti. Aku benci pada sosok yang terbaring seranjang denganku, ya… aku membenci sahabatku sendiri. Membenci Tasya dengan daya tariknya hingga mampu merebut hatimu.

    Tasya berbalik menatapku, ia mulai bercerita penuh ceria. Sedang aku menatapnya penuh dendam yang menggurita, sedekat ini aku dengan Tasya dan sedekat ini hidungku mampu menciumi tiap aroma tubuhmu yang masih menempel pada tubuh Tasya. Seandainya kita bisa bertukar hati Sya, seandainya aku memiliki keberanian seperti yang kaumiliki. Dan seandainya aku bisa meniadakan keberadaanmu selamanya. Suatu saat Sya, aku akan membawamu terbang menggapai pelangi. Seperti keinginanmu yang sudah-sudah, menjadi peri penjaga pelangi. Kan kuwujudkan mimpi-mimpimu Sya, kataku dalam hati.

***

    Tasya terlelap tanpa beban, senyumnya menyungging seperti barbie yang dijual di toko mainan. Aku memeluknya. Erat. Belati dalam tangan kananku menghunjam tepat di jantungnya, darah itu muncrat ke pelipisku, memerciki hidung, dan pipiku. Hatiku lega, seseorang di balik tirai jendela tertawa. Tanduk di atas kepalanya bergerak-gerak, lalu ia menghilang. Meninggalkan kepulan asap.

***

    Dear kamu…

    Kutawarkan hatiku untuk kau singgahi, tapi kau memberi upeti sebuah belati, kuhunuskan belati itu dalam keheningan yang menggantung malam, pada orang yang kau sayang. Belati itu penuh lumuran darah. Kubenamkan sekali lagi, bukan di jantung Tasya tapi di jantungku sendiri. (*)

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir ke blog sederhana saya, salam hangat