Monday, 18 June 2012

Fan Fiction : Feeling Fool

Fan Fiction : Feeling Fool

oleh Nyi Penengah Dewanti pada 13 Juni 2012 pukul 18:26 ·
Feeling Fool
By : Nyi Penengah Dewanti

cast : Citra, Key, Nesta, Aldi (Novel by Christian Simamora Cokelat Stroberry)

Kali ini aku harus beterima kasih pada hujan yang telah jatuh. Gara-gara dia Nesta batal balik ke rumahnya. Aku kembali menyusupkan mata mencuri pandang ke arah Nesta dari kamar. Beruntung banget aku punya kamar di depan, segala kejadian dan tamu siapapun yang datang bisa dengan mudah aku curi dengar dan lihat, dari udara-udara yang beterbangan melalui celah ventilasi pintu kamar. Aku bisa mendengar suara Nesta, tawa renyahnya dengan kakak ketika membahas materi kuliah, atau mereka sedang latihan menyanyi, aku mengintip dari lubang kunci pintu kamar.


Nesta, mahluk ciptaan Tuhan yang terindah. Alis matanya yang tebal, mata bulatnya yang berwarna cokelat, eksotik dan menarik. Hidungnya yang mancung, bibirnya yang merah padahal sering merokok, dan giginya yang gingsul. Oh iya rambut potongan mohawk terbarunya, selalu rapi dan tidak kusut. Penampilannya dengan kaos biasa dan celanan belel seadanya selalu indah untuk dinikmati.


“Kok gelap… mati lampu ya Cit?” tanyaku pada Citra yang tadi kulihat sedang asyik online dengan notebooknya.  Kemudian ia tertawa terbahak-bahak.


“Gue yang matiin lampunya, udah malem. Plis deh Key, nggak bosen-bosennya liat Nesta. Biasa aja napa?” Citra menyalakan kembali lampu berbentuk bintang di kamar kami.


“Gue sedang main feeling nih Cit,” Citra bangkit dari rebahnya.


“Main feeling?”


“Kalau hujannya reda dan Nesta jadi balik ke rumahnya, berati gue nggak beruntung buat dapetin Nesta. Tapi kalau hujannya nggak berhenti sampe pagi dan Nesta tetep stay di sini, itu artinya Tuhan ngasi jalan buat gue berjodoh sama Nesta,”Citra menepuk pundakku keras.


“Iiiih… Citra! Kebiasaan deh sakit!” bersamaan dengan teriakkanku pintu kamar diketuk. Aku bergegas turun dari ranjang, Citra kembali merebahan tubuhnya cuek.


“Kak Aldi, Ada apa?”


“Citra mana?”


“Udah tidur tuh, kenapa?”


“Key tolongin kakak sebentar bisa ngga?” gitu kek bilang dari tadi kak, capek nih ngintip dari lubang kunci, udah kecil banget kurang puas pula ngintip wajah Nesta, tentu saja aku merutuk hanya dalam hati. 


“Tolong apa Kak?” tanyaku pada Kak Aldi, Nesta tersenyum dan menyapa hai, gila!! Otak dan hatiku mendadak seperti tersengat aliran listrik. 


“Kita lagi nyari kata yang pas dan nada yang unik buat lagu yang baru kita ciptain. Kita udah oke sih, tapi kita butuh pendengar selain kita berdua, biar mantap, iya nggak Nes?” jelas kak Aldi padaku dan bertanya ke arah Nesta. Nesta hanya menjawab dengan kata sip! Nggak kurang nggak lebih, cool banget kan si Nesta? 


Nesta mulai memetik senar gitar, menyesuaikan nada yang pas dengan suara dia. Kakak menatap Nesta penuh pesona aku pun demikian. Nesta itu nggak cuma cakep, macho, cool, tapi kereeeeeeen banget. Bodynya juga nggak kalah oke, sixpack bo padahal jarang fitnes loh kata Kak Aldi. Jreng… gitar mulai digenjrang genjreng….


Hujan datang membawa cerita
Kisah tentang aku dan dia
Betapa bahagia awal berjumpa
Tiada terduga timbulah rasa
Nanana… nanana…. 

Nesta berhenti menggenjreng, menatapku penuh tanya.


“Gimana Key?” aku diam, beranjak. Masuk kamar.


“Key, kamu kenapa?”  pintu kamar aku kunci, tak menjawab atau menoleh sekali pun ke arah mereka. Hening.


Aku terduduk di depan cermin meja riasku. Membuka laci nomor dua, sekotak kardus kecil penuh foto Nesta kurobek perlahan-lahan. Aku tergugu pilu, terisak dengan sendu. Tatapan Nesta dan kak Aldi aneh, tangan kak Aldi yang terus menempel di pundak Nesta juga membuatku merasa membatu. Hatiku tak dapat lagi memaknai rasa yang selama ini berbunga-bunga setiap kali Nesta datang ke rumah.


Citra memelukku dari belakang.


“Key, maafin gue. Sebenernya gue tau udah lama, gue pernah ngeliat Nesta dan Kak Aldi suap-suapan eskrim di kamarnya. Gue nggak sengaja Key, waktu itu balik sekolah dan keadaan rumah sepi. Mama sama papa belum pulang kerja,” Citra memelukku erat.


“Kenapa lo nggak bilang?”


“Gue takut Key, gue masih nggak percaya ini beneran nyata. Gue kira cuma ada dalam film-film doang. Gue shock Keysama kayak lo, gue terus menyelidiki selama ini dan kenapa harus kakak kita?”


“Cit, mereka gay?” Citra tidak menjawab, hanya mengagguk. Kepalanya bergoyang ke bawah menyentuh bahuku.


Feelingku salah. Ternyata Nesta tercipta bukan buat aku. Nesta dengan segala kelebihannya menyimpan satu tetes takdir yang mungkin dia sendiri tidak menginginkan. Aku ingin kak Aldi sembuh, aku ingin Nesta kembali normal. Aku juga tidak bisa memaksakan mereka berubah, tapi mereka layak diberi kesempatan untuk merubah diri. Deras hujan yang turun terdengar seperti pisau yang tiap rintiknya menusuk dalam hati, aku seperti dikebiri perasaan sendiri.

======================================================================
*) 698 word with tittle
diikutkan dalam FF novel Kak Cristian Simamora :
 https://www.facebook.com/notes/christian-simamora/lomba-ff-christian-simamora/10150877641346448

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir ke blog sederhana saya, salam hangat