Thursday, 21 June 2012

Aku Kembali [#15HariNgeblogFF2]

Aku Kembali
By : Nyi Penengah Dewanti

  http://15haringeblogff.wordpress.com/15-hari-ngeblog-ff-part-2/



    Ini bukan perjalanan yang kuinginkan, tapi takdir kembali membawaku ke tempat di mana rasa pernah tumbuh dan sukacita di dalamnya. Ini tentang waktu dan kesadaranku yang tak pernah bisa membunuh bayanganmu.

    Suatu malam aku pernah menuliskan namamu di lembar terakhir diaryku, berharap itu yang terakhir kalinya untuk mengingatmu. Pernah pula kubuka hatiku untuk kesekian kalinya demi melupakanmu, menggeser tempatmu dengan kehadirannya. Sayangnya tak semudah itu aku bisa.

    Genangan langit sepertinya telah bosan mendengar keluh hatiku. Dari bulan yang sempurna hingga retak separuh aku tetap berharap kamu masih di sini, bersamaku, menemaniku, meretas waktu hingga senja tiba. Lalu aku akan menenggelamkan wajahku pada dada bidangmu, kita melewati malam dengan tubuh saling mendekap erat. Tidak akan berpisah, saling menggenggam untuk menghabiskan usia.

    Kini aku harus menyerah pada pelukannya, di pundaknya aku bersandar dengan pasrah. Digenggaman tangannya aku melangkah menyusuri jalan Kembang Jepun. Di keremangan lampu-lampu yang menggantung, di jejak-jejak peninggalan kolonial rindu memasuki sesak dinding hati. Kita pernah duduk-duduk di terasnya, mengabadikan diri dengan baground kota tua, kita mencetak kenangan di sana. Aku melebur dengan malam untuk mengenang sekaligus mengucapkan selamat tinggal untuk kamu. Ya Tuhan… ini sakit, aku semakin erat menggenggam tangannya, ia tahu nyerinya piluku. Jari-jarinya mulai merekat pada celah-celah kosong dijariku.

    Kamu bukan lagi rumah di mana aku harus pulang merebahkan lelah. Tapi kamu kenangan yang sampai kapan pun tetap akan jadi kenangan yang tak terulang.

    “Beib, jangan menyerah. Aku akan selalu di sini, berusaha dan selalu mencintaimu. Aku akan terus menunggu, menanti hingga hatimu luluh untuk mencintaiku, meluruhkan setiap inci kenangan bersamanya di mulai dari titik pertemuanmu,” bisiknya disela-sela angin yang berhembus meniup anakan rambutku

    “Beib, aku nggak ingin kamu menapaki jalan hidup bersamaku dengan ragu. Besok kita bukan lagi sepasang muda-mudi yang sering mengumbar janji, tapi besok pertanggung jawabanku sama Tuhan untuk mengajakmu menyempurnakan separuh ibadahku dan kamu,” ia melepaskan genggaman tangannya.

    Ada yang hilang ketika dia melepaskan tangannya. Aku limbung, bingung mencari pegangan. Ia berjalan mulai menjauh, isakku semakin berat. Aku harus memilih, untuk tetap tinggal bersama kenangan, atau merajut kembali kepingan pecah demi sebuah harapan. Hatiku menuntun untuk mengejarnya, tapi sebagian hatiku yang lain menyuruh tetap tinggal. Aku lelah…

   
    “Jangan pergi…”aku memeluknya erat dari belakang, membuat ia berhenti melangkah.

    “Terkadang rindu hanya sebatas angan dan kenangan, dan kau selalu meyakinkan aku, dalam cinta tak ada penyesalan,” ia berbalik, menatap mataku yang basah. Tersenyum dan mengecup keningku.

    “Tiap sama kamu aku ngerasa utuh, beib. I love you,” diusapnya air mataku, kembali ia menggandeng tanganku. Ada rasa nyaman yang menghangat.

 Aku meraba tote bag milikku, membuka resletingnya. Mengambil satu lembar surat undangan. Gandi mengacak poni pagarku, lalu berkata, “Serius nih mau ngundang mantanmu beib?” mataku mengerling genit ke arah calon suamiku.

    “Iya.”

    “Udah yakin?”

    Aku mengangguk.

    “Ntar kalo ketemu kamu jatuh cinta lagi gimana beib?”

    “Hmm… Nggak akan!” kataku tegas.

    “Tapi kalau akunya yang jatuh cinta beib?” mataku melotot! Gandi tertawa lebar. Menarik tubuhku dalam pelukannya. Aku menghindar, masih tanda tanya dengan kalimat Gandi barusan. Ia mendekat lagi ke arahku, menarik kuat dan aku terbenam dalam tubuh chubynya.

    “I’m yours, beib.”

    Pelukanku mengerat.

(*)

  
  
  







*)520 words with tittle

   

   
   
   

1 comment:

  1. Like this banget, hahahaha.... Kreatif ideya ngalir terus, :-D

    ReplyDelete

Terima kasih sudah mampir ke blog sederhana saya, salam hangat