Sunday, 24 June 2012

lLmu #PROLOG dari twitter Clara_ng

lLmu #PROLOG dari twitter Clara_ng (semoga bermanfaat)

oleh Nyi Penengah Dewanti pada 8 Mei 2012 pukul 9:57 ·
#prolog adlh pertaruhan. Bgt masuk ke
meja redaksi, satu naskah brgabung dgn
ribuan naskah. Prolog adlh halaman2
pertama yg dibaca editor.

Dr ratusan halaman naskah, editor
membaca halaman2 awal#prolog yg
sedikit itu, lalu mulai membuat penilai2an
dan kesimpulan awal.

Kl naskah novel dilihat pd bbrp halaman
pertama#prolog -nya, kl cerpen mnrt
teman saya yg duduk di redaktur
cerpen, hny bbrp alinea awal.

Bayangkan, dr begitu bnyk yg tertulis,
editor sdh mengambil penilaian dr seiprit
#prolog utk mengenali naskah di
depannya. Tegang kan?

Bgt #prolog dianggap gagal, maka
habislah ratusan naskah itu. Ditolak! Krn
itu, buatlah prolog yg memesona.
Bukalah cerita dgn sgt menarik.

Jgn suka menyimpan ketegangan hny
utk di akhir cerita sbgai surprise ending.
Keluarkan yg besar di luar, sedikit2 di
pertengahan.#prolog

Utk mudahnya, bayangkan gini, #prolog
yg hebat adalah adlh mantra sihir buat
mengguna2 pembaca agar tdk
melakukan hal2 lain, tp baca terus.

Tips menulis #prolog yg paling umum
dan taktis, buka dgn aksi. Buka dgn
perihal penting. Buka tanpa bertele2.

Menulis #prolog bkn artinya kesempatan
utk melukis karnaval kata2 yg sifatnya
stagnan. Blh mulai dgn lukisan kata2
indah, tp bergeraklah!

"Bergerak" di sni artinya bukan mewakili
kata2 kerja, tp sepenggal cerita yg
bergerak. Naskah yg ditolak biasanya#
prolog nya mati angin.

Seorg pencerita hrs bs buat audiencenya
mncetuskn pertanyaan di awal, "Lalu?
Lalu?" Jk audience tdk mau bertanya spt
itu, matilah si#prolog

Stp halaman, hrs ada kemajuan
penceritaan. Jika halaman 1 smp
(contohnya) hlmn 4 trnyt msh muter di
bagian itu2 saja, matilah si#prolog

Bnyk skl #prolog memorable yg buat
lngsng pembc terseret ke cerita.
Misalnya dibuka dgn penemuan mayat,
aksi pertengkaran, perpindahn, dll.

#Prolog bs jg cermin dari #epilog. #
prolog jg bs menjd mozaik sebuah
adegan yg nyempil di tulang cerita. #
prolog jg bs sbg gerbang agung.

Kl mau belajar bkn
prolog yg seru tuh dr novel2nya Sydney
Sheldon, Dan Brown. Ayu Utami jg
bagus, to the point.

Friday, 22 June 2012

Panduan Mengirimkan Naskah ke Penerbit Gradien Mediatama


Panduan Mengirimkan Naskah ke Penerbit Gradien Mediatama
Gradien Mediatama adalah penerbit buku populer dalam berbagai kategorial yang menjadi kebutuhan luas pembaca. Untuk memenuhi kebutuhan penerbitan ini, kami membuka kesempatan yang sama kepada siapa saja untuk menulis dan mengirimkannya kepada kami. Agar memudahkan Anda dalam menyiapkan dan mengirimkan naskah, berikut ini kami informasikan panduan umum:
1. Setiap naskah yang dikirimkan kepada kami haruslah berbentuk soft copy, dikirimkan via email ke:gradienmediatama@gmail.com atau kumpulnaskahgradien@gmail.com
2. Setiap naskah haruslah dilengkapi 1 halaman sinopsis + keterangan tema/genre naskah dan data penulis.
3. Panjang naskah untuk Nonfiksi fleksibel sesuai dengan tema. Untuk Fiksi,100-150 halaman untuk novel remaja dan 150-200 halaman untuk novel dewasa muda/dewasa. Naskah diketik dengan format A4, huruf Times New Roman 12, spasi 1,5.
4. Naskah Anda akan diproses dalam rentang waktu 3 minggu hingga 3 bulan. Apabila Anda belum mendapatkan respons setelah lewat dari 3 bulan, silakan mengontak kami melalui email tersebut di atas.

Thursday, 21 June 2012

Aku Kembali [#15HariNgeblogFF2]

Aku Kembali
By : Nyi Penengah Dewanti

  http://15haringeblogff.wordpress.com/15-hari-ngeblog-ff-part-2/



    Ini bukan perjalanan yang kuinginkan, tapi takdir kembali membawaku ke tempat di mana rasa pernah tumbuh dan sukacita di dalamnya. Ini tentang waktu dan kesadaranku yang tak pernah bisa membunuh bayanganmu.

    Suatu malam aku pernah menuliskan namamu di lembar terakhir diaryku, berharap itu yang terakhir kalinya untuk mengingatmu. Pernah pula kubuka hatiku untuk kesekian kalinya demi melupakanmu, menggeser tempatmu dengan kehadirannya. Sayangnya tak semudah itu aku bisa.

    Genangan langit sepertinya telah bosan mendengar keluh hatiku. Dari bulan yang sempurna hingga retak separuh aku tetap berharap kamu masih di sini, bersamaku, menemaniku, meretas waktu hingga senja tiba. Lalu aku akan menenggelamkan wajahku pada dada bidangmu, kita melewati malam dengan tubuh saling mendekap erat. Tidak akan berpisah, saling menggenggam untuk menghabiskan usia.

    Kini aku harus menyerah pada pelukannya, di pundaknya aku bersandar dengan pasrah. Digenggaman tangannya aku melangkah menyusuri jalan Kembang Jepun. Di keremangan lampu-lampu yang menggantung, di jejak-jejak peninggalan kolonial rindu memasuki sesak dinding hati. Kita pernah duduk-duduk di terasnya, mengabadikan diri dengan baground kota tua, kita mencetak kenangan di sana. Aku melebur dengan malam untuk mengenang sekaligus mengucapkan selamat tinggal untuk kamu. Ya Tuhan… ini sakit, aku semakin erat menggenggam tangannya, ia tahu nyerinya piluku. Jari-jarinya mulai merekat pada celah-celah kosong dijariku.

    Kamu bukan lagi rumah di mana aku harus pulang merebahkan lelah. Tapi kamu kenangan yang sampai kapan pun tetap akan jadi kenangan yang tak terulang.

    “Beib, jangan menyerah. Aku akan selalu di sini, berusaha dan selalu mencintaimu. Aku akan terus menunggu, menanti hingga hatimu luluh untuk mencintaiku, meluruhkan setiap inci kenangan bersamanya di mulai dari titik pertemuanmu,” bisiknya disela-sela angin yang berhembus meniup anakan rambutku

    “Beib, aku nggak ingin kamu menapaki jalan hidup bersamaku dengan ragu. Besok kita bukan lagi sepasang muda-mudi yang sering mengumbar janji, tapi besok pertanggung jawabanku sama Tuhan untuk mengajakmu menyempurnakan separuh ibadahku dan kamu,” ia melepaskan genggaman tangannya.

    Ada yang hilang ketika dia melepaskan tangannya. Aku limbung, bingung mencari pegangan. Ia berjalan mulai menjauh, isakku semakin berat. Aku harus memilih, untuk tetap tinggal bersama kenangan, atau merajut kembali kepingan pecah demi sebuah harapan. Hatiku menuntun untuk mengejarnya, tapi sebagian hatiku yang lain menyuruh tetap tinggal. Aku lelah…

   
    “Jangan pergi…”aku memeluknya erat dari belakang, membuat ia berhenti melangkah.

    “Terkadang rindu hanya sebatas angan dan kenangan, dan kau selalu meyakinkan aku, dalam cinta tak ada penyesalan,” ia berbalik, menatap mataku yang basah. Tersenyum dan mengecup keningku.

    “Tiap sama kamu aku ngerasa utuh, beib. I love you,” diusapnya air mataku, kembali ia menggandeng tanganku. Ada rasa nyaman yang menghangat.

 Aku meraba tote bag milikku, membuka resletingnya. Mengambil satu lembar surat undangan. Gandi mengacak poni pagarku, lalu berkata, “Serius nih mau ngundang mantanmu beib?” mataku mengerling genit ke arah calon suamiku.

    “Iya.”

    “Udah yakin?”

    Aku mengangguk.

    “Ntar kalo ketemu kamu jatuh cinta lagi gimana beib?”

    “Hmm… Nggak akan!” kataku tegas.

    “Tapi kalau akunya yang jatuh cinta beib?” mataku melotot! Gandi tertawa lebar. Menarik tubuhku dalam pelukannya. Aku menghindar, masih tanda tanya dengan kalimat Gandi barusan. Ia mendekat lagi ke arahku, menarik kuat dan aku terbenam dalam tubuh chubynya.

    “I’m yours, beib.”

    Pelukanku mengerat.

(*)

  
  
  







*)520 words with tittle

   

   
   
   

Wednesday, 20 June 2012

Genggaman Tangan [#15HariNgeblogFF2]


Genggaman Tangan
By: Nyi Penengah Dewanti


http://15haringeblogff.wordpress.com/15-hari-ngeblog-ff-part-2/



Dulu buat gue menunggu itu hal yang sia-sia. Menunggu itu ngebuang waktu buat sesuatu yang nggak guna. Ada berapa banyak waktu yang terbuang buat menunggu? Menunggu yang benar-benar nggak tepat untuk ditunggu, kecuali kita lagi menunggu menang undian sepuluh juta, itu baru menunggu yang menyenangkan. Tapi kali ini gue harus ngejilat lidah gue sendiri buat nunggu seseorang yang entah dia masih ngarepin gue atau nggak, yang jelas hati gue nuntut buat nunggu dia balik.

“Pil tadi Fanz sms gue loh, dia lagi sama Gandi,” kata Ila sambil mengunyah kerupuk sisa makan bakso tadi. Tubuh gue bergetar hebat ketika nama itu disebut Ila.

“Temuin gih, lo nggak kangen apa?” gue bergeming. Tiba-tiba gue ngerasa tubuh gue ngegigil panas dingin.

“Ketemu untuk? Gue kan udah gak ada hubungan apa-apa lagi sama dia,” kata gue lemah.

“Say hello, tanya kabar dia atau nodong oleh-oleh,” Ila mengibaskan kedua tangan setelah kerupuknya sukses masuk dalam perutnya.

“Bukannya dua tahun beasiswanya ke Jepang?” gue mengerling penasaran ke arah Ila.

“Dunno. Makanya entar malam kita kumpul yuk, udah lama banget kita nggak double date,” kata Ila tanpa dosa.

“Jadi kan kita ke air terjunnya?”

“Jadi dong, lo jemput ke kosan gue ya? Sekarang gue balikin motor, dan lo ngambil baju ganti buat kita basah-basahan di sana. Oke?!”

Gue bawa motor dengan pandangan kosong. Pikiran dan hati gue masih tertinggal di kantin waktu Ila bilang Gandi udah balik ke Solo. Seingat gue beasiswa pertukaran pelajar itu dua tahun. Shit! Kenapa gue jadi ingat banget ya, dia pergi tanggal berapa, bulan apa, dan tahunnya gue hafal mati. Karena itu juga gue mutusin dia. Buat gue itu hal yang paling bodoh yang pernah gue lakuin selama hidup. Mutusin orang yang paling gue cintain gara-gara gue nggak siap LDR. Gue dapet ganti Gandi, tapi gue nggak bisa ngasih hati ini buat pasangan baru gue. Alhasil gantian gue yang diputusin gara-gara sering nggak respect sama perhatian-perhatian dia, karma kali ya? Akhirnya gue bener-bener ngejilat ludah gue, I still love you Gandi, more and more. 

“Nduk tadi ada Gandi ke sini lho,” ibu menyembul dari balik pintu ketika gue lagi beres-beres baju.

“Ngapain?” gue pura-pura sok nggak peduli dengan apa yang dibilang ibu.

“Nganterin oleh-oleh Nduk,” kata ibu sambil mengusap punggung gue.

“Nggak ah Bu, itu kan buat ibu bukan buat aku,” kata gue sok cuek, sumpah! Padahal gue pengen liat Gandi ngebawain oleh-oleh apa buat gue. Nggak! Gue nggak boleh liat pokoknya. Gue mencium punggung tangan ibu langsung cabs ke kosan Ila. Diperjalanan henpon gue bergetar, gue abaikan tapi getarnya semakin kenceng, gue pilih menepi, paling dari Ila.

“Upil, lo cepetan nyusul ya. Gue udah jalan nih ke air terjun, nungguin lo lama.”

Ila itu selalu gitu. Memutuskan sendiri dan merubah jadwal sendiri, sepertinya dia ada bakat jadi leader sejati. Gue merutuk dalam hati, tapi apa boleh buat gue banting setir segera meluncur ke sana. Hape gue getar lagi setelah ngebayar parkir.

IlaChub
Gue udah main basah-basahan

Suer ini anak pengen gue telen idup-idup. Gue ngejalanin perintah Ila dari tadi, biasannya gue udah murka. Tapi kali ini gue sengaja, karena gue butuh hiburan buat ngenyahin Gandi dari otak gue. Ila melambai-lambai dari jauh di bawah air terjun. Gue udah yakin nggak mungkin banget Ila sendirian ke sini, pasti dianterin Fanz, see there are playing in the water. Gue urung gabung, gue lebih milih duduk di atas batu gede ini sambil mainin gadget gue. Motret-motret tingkah gaje mereka.

“Mbak punya korek api nggak?” di bawah jatuhan air samar-samar gue mendengar suara cowok.

“Nggak pun…” yep! Hati gue tiba-tiba berubah jadi beduk yang lagi ditabuh.
“Apa kabar Beib?” glek! Itu panggilan buat gue jaman kita masih bareng. Gue mau buka mulut tapi seret banget. Bibir gue kayak karaten. Gue ngangguk, balik badan duduk lagi di atas batu. Dia ikut duduk, ngeraih tangan gue, megang erat banget, gue tetep diem.

“Beib, aku nggak pernah ngerasa kamu mutusin aku. kamu tetep pacar dan akan jadi calon istri aku,” mata gue basah tangan gue ngebales genggaman tangan dia lebih erat, cuma itu yang bisa gue lakuin. (*)

*) 695 words with titlle. 






Tuesday, 19 June 2012

Ramai [#15HariNgeblogFF2]

Ramai
By : Nyi Penengah Dewanti

http://15haringeblogff.wordpress.com/15-hari-ngeblog-ff-part-2/



    Gosh! Jalan Malioboro sudah berubah total. Terakhir kali gue ke sini pas SD kalo nggak salah. Waktu itu gue masih kecil banget, sama kakak gue merengek minta dibeliin miniatur kendaraan tradisional. Gue minta becak, kakak gue minta andong. Bokap nggak nurutin kita, padahal kita berharap banget. Sesuai perjanjian awal kita ke Jogja cuman jalan-jalan nggak beli apa pun. Kebayang kan betapa hornynya gue ketika ngeliat surga cinderamata di sepanjang jalan Karangan Bunga.

    Dulu masih belum serame ini, masih banyak pohon asam di kanan-kiri jalan. Sekarang busyet dah, udah jadi kembang desa aja nih Malioboro. Gue celingak-celinguk nyari temen kencan gue. Bukan ding, dia temen ngeblog gue, namanya Ila. Doi mau dateng sama bokinnya katanya sih, trus gue mau dikenalin gitu.

    “Pokoknya surprise deh Pil, ntar gue ajak lo muter-muter Jogja sampe klenger,” itu kata dia ditelepon tempo hari.

     Akhirnya setelah melalui perdebatan panjang, gue bolos kerja demi sebuah kencan sama sahabat blog gue. Hubungan yang udah kita bina hm… hampir lima tahun dan hari ini baru mau ketemuan, Ngefek nggak sih? Bayangin dech, pasti rempong banget. Gue bakal jambak-jambakin dia sampe puas, secara gue udah kangen banget nunggu momen-momen ini. Bahasa gue sarkas banget yah hehehe… nggak mungkin bangetlah. Yang jelas gue bakal peluk dia.

    Dung…tingtang Dung…tangtingtang Dung….

    Waaa! Itu suara gamelan yang ditabuh. Gue lihat jam tangan merek citizen gue masih aman, kurang sepuluh menit seperti waktu yang dijadwalkan buat ketemu soulmate gue. Dari pada keilangan momen ini gue ikut gabung deh sama manusia-manusia yang meringkuk mendekat ke sepanjang jalan. Gila… keren banget stlye baju keratonnya. Banyak kilat lampu blizt yang mengabadikan moment itu, termasuk gue. Moncong kamera gue kebentur sama moncong kamera orang lain, damn! Ini kamera mahal tahu, gue dua tahun nabung buat beli kamera ini. Kalo sampe lecet pokoknya gue minta ganti rugi!

    “Sorry Mbak saya ndak sengaja,” dan gue mulai menurunkan kamera dari pandangan mata gue. Yah… keilangan momen kirab deh gue, rintih gue kecewa.

    “Fokus sih fokus Mas, tapi ngeliat kanan-kiri juga dong!” kata gue sinis. Lalu gue ngakak demi ngelihat wajah culun dia.

    “Kok Mbaknya ketawa?” tanya doi lugu.

    “Blankonnya miring Mas, itu kaca mata benerin dong udah melorot gitu masih dipaksa ngejepret, ya pantes aja nebrak moncong kamera saya. Untungnya nggak lecet!” kalo ditilik penampilannya kacau banget, masak preppy sytle gitu make blankon, aneh bangetkan?

    Dia masih ngebenerin kacamatanya. Gue kembali menatap jalan, rombongan kirab udah lewat. Hape bapuk gue berbunyi, layar kuningnya muncul tulisan “IlaChub”. Secepat kilat gue lari kembali ke pintu utama jalan dan Ila pun nyerocos sebel nunggu gue lama.

    “Dari mana aja sih kamu Pil?”

    “Liat kirab tadi di sana, seruu! Ohya mana pasangan lo?” tanya gue penasaran

    “Tuh lagi beli es dawet, yang baju putih.”

    Cowok Ila mulai berbalik dari tukang dawet itu. Dia berjalan mendekat dan tubuh gue mulai lemes, bukannya itu Fanz ya? Batin gue.

    “SURPRISE!” kata Ila ceria banget. Seolah doi baru menang undian 10 Milyar.

    “Jadi kalian ini pacaran?” tanya gue dengan ekspresi muka bego. Fanz tersenyum lebar, tangannya mulai memeluk pinggang Ila. Gue nggak nyangka Fanz sama Ila pacaran, ini nggak adil. Yang kenal Fanz duluan kan gue, kenapa jadi Ila yang ngedapetin duluan. Gue pengen banget menjerit kencang, gue pengen marah, tapi bibir gue mendadak bisu.

    “Gue jepret matahari bentar, bagus banget lingkarnya,” kata Gue mendongak ke atas ngeliat matahari yang bersinar terik, berharap air mata gue nggak jatuh netes.

    “UPIL! Udahan dong jepretnya kenalin ini sahabat Fanz,” kata Ila membuat wajah gue langsung turun dan berubah sok bahagia. Doi tersenyum.

    “Blankon sama kaca mata lo mana?” kata gue, dia terkekeh.
   
    Fanz sama Ila bebarengan bilang,”Kalian kenal? Kita bakal seharian sama Gandi loh Pil. Kalian kenal di mana?" Gue langsung narik tangan cowok yang bernamanya Gandi itu menjauh dari Ila sama Fanz.

    “Kok bengong? ayo jalan!” kata gue lantang menoleh ke belakang.

    “Udah nggak usah cengeng!” kata Gandi yang membuat gue shock. Aku menatap penuh selidik.

    “Ujung mata lo basah!” gue buru-buru menghapusnya tapi dicegah Gandi.

    “Biar gue yang ngusapin,” gue mematung, mencium aroma tubuh gandi sedekat ini.

    “First I meet you, first I love you,” bisiknya lirih. (*)
   
   
*) 695 words with titlle.

Monday, 18 June 2012

Event Cernak, Tema "Khayalan Tingkat Tinggi" (DL : 10 JULI 2012)

Event Cernak, Tema "Khayalan Tingkat Tinggi" (DL : 10 JULI 2012)

oleh Sang Penulis Amatir pada 18 Juni 2012 pukul 19:35 ·
Demi menyambut “Hari Anak Nasional” yang jatuh pada tanggal 23 Juli 2011, Kerabat Sang Penulis Amatir dan DeKa Publisher akan mengadakan event tentang cerita anak.

Tema : Khayalan Tingkat Tinggi

Setiap anak mempunyai khayalan yang masih bisa dirasa maklum. Imajinasi anak-anak tergolong tinggi. Dan berharap imajinasinya dapat terwujud di kemudian hari. Memang sulit rasanya jika anak-anak yang masih kecil, dituntut berfikir sampai-sampai berkhayal terlalu tinggi.
Dengan adanya "Hari Anak Nasional", mari kita kembalikan khayalan dan imajinasi anak setingkat usianya.

Syarat dan ketentuan :
  1. Lomba ini terbuka untuk umum.
  2. Naskah berupa cerita fiktif, diperuntukkan anak-anak usia 4-12 tahun.
  3. Setiap peserta hanya diperbolehkan mengirimkan satu naskah terbaiknya ditulis di Microsoft Word maksimal 2 halaman A4, dengan keseluruhan margin = 3 cm. Dengan font Times New Roman 12 pt, spasi 1,5. File Ms. Word disimpan dengan format : Nama Penulis - Judul Naskah.
  4. Di bawah naskah, sertakan biodata singkat kamu berupa nama pena, nama asli, tempat tinggal, akun facebook, twitter, dan prestasi (jika ada) maksimal 50 kata dalam bentuk narasi.
  5. Kirimkan naskah berupa lampiran ke email deka_publishing@yahoo.co.id, cc : dekapublishing@gmail.com, dengan subject email: CERNAK : Nama Penulis - Judul Naskah.
  6. Tulisan adalah karya sendiri bukan plagiat! dan belum pernah dipublikasikan di media mana pun dan tidak sedang diikutsertakan dalam sayembara lain.
  7. Sangat disukai naskah yang namun mendidik (disisipkan tips dan cara penyelesaian).
  8. Lomba ini ditutup pada tanggal 10 Juli 2012 (Jam 18:00 WIB).
  9. Naskah terbaik akan dibukukan di deKa Publishing.
  10. Berteman dengan Kerabat Sang Penulis Amatir (http://www.facebook.com/Kerabat.SPA) dan DeKa Publisher (http://www.facebook.com/deka.publishing).
  11. Memposting info lomba ini di catatan FB masing-masing dengan mengetag teman minimal 30 teman, termasuk Kerabat Sang Penulis Amatir dan DeKa Publisher.
  12. Pengumuman pemenang adan diumumkan pada tanggal 20 Juli 2012.
  13. Seluruh royalti akan disumbangkan kepada Yayasan Anak Yatim yang berhak menerima.

Demikian info dari kami, selamat berbagi pengalaman, berbagi inspirasi, dan berbagi hikmah.
Selamat Berlomba!

Di sudut layar, 18 Juni 2012

Biru, Jatuh Hati [#15HariNgeblogFF2]

Biru, Jatuh Hati
By: Nyi Penengah Dewanti


http://15haringeblogff.wordpress.com/15-hari-ngeblog-ff-part-2/


    Gandi dan gadisnya menghirup napas ombak dengan beberapa tarikan. Aroma pantai menyesap ke dalam sel-sel otaknya. Membuka sedikit memori tentang masa lalu yang beranak-pinak dalam hatinya. Gadisnya tentu saja tidak mungkin mengetahui apa yang dipikirkan Gandi saat ini. Yang ia rasakan adalah Gandi memegang erat tangannya sepanjang pesisir pantai, Gandi miliknya saat ini, entah besok, dan kelak. Gadisnya berjanji akan mempertahankan hubungannya dengan Gandi seberat dan sesulit apa pun.

    Ombak laut terus menderu, kaki-kaki telanjang mereka berdua terus digerus kawanan air. Berganti dengan gulungan ombak yang baru lagi, begitu seterusnya. Langit dan laut seakan bersatu memutar lingkar pemandangan. Matahari yang semakin meninggi tak menyurutkan sepasang muda-mudi itu menghabiskan waktu.

    “Sayang ntar malam jadikan kamu ke rumahku, ketemu sama papaku?” tanya gadisnya menoleh ke arah mata Gandi yang masih kosong.

    Gadis itu lalu menyandarkan kepalanya di bahu Gandi, tanpa melepaskan genggaman tangannya, malah semakin erat dan erat lagi.

    Sementara dari kejauhan ada perahu nelayan yang akan menepi. Perahu yang tidak begitu besar. Tapi biasa disewakan untuk para pengunjung yang ingin berwisata ke tengah-tengah pantai. Melihat geriap laut, menatap ikan-ikan kecil yang bergerombol membentuk formasi. Gandi dan gadisnya sedikit menepi, tapi tidak beranjak dari tempat semula. Nelayan itu memasang jangkarnya pada pasir putih tempatnya biasa mangkal.

    “Mau naik Mas-Mbak?” nelayan itu langsung bertanya kepada mereka setelah menancapkan jangkarnya dengan mulus.

    Wajah gadis Gandi berbinar menampakkan antusias ajakan nelayan itu, “Sayang, sekali-sekali temani aku yuk naik perahu. Masak aku sendirian terus,” rajuk gadisnya kepada Gandi.

    “Kamukan tahu aku mabuk laut. Aku temenin dari sini aja ya,” kata Gandi tanpa rasa bersalah.
   
    “Oke, yaudah nggak apa-apa.”

    Bersamaan dengan naiknya gadis Gandi, beberapa pasangan mulai turun dari perahu digantikan dengan penumpang yang baru. Penumpang terakhir turun, seorang wanita dengan rambut tergerai panjang, berponi rapi dengan bandana pita menghias rambutnya. Gandi menatap tanpa berkedip. Ia hafal mati bandana itu, bandana itu dibuatnya tulus dengan rasa cinta. Bandana yang tidak dijual ditoko mana pun. Ia membuatnya sendiri malam-malam sebelum pertemuan dengan seseorang di masa lalunya. Gadis Gandi melambai, Gandi tidak melihatnya. Kini Gandi malah mengikuti wanita itu di belakangnya.

    “Maaf Mbak, boleh saya tahu Mbaknya beli bando itu di mana ya?”

    “Di dekat pintu keluar sebelah sana Mas,” tunjuk wanita itu ke toko yang dimaksud.

    Mata Gandi nyalang. Kakinya berlari sekuat kemampuan, terik matahari terus menyengat ubun-ubun kepalanya. Gemuruh hatinya mengalahkan teriakan ombak di laut. Akal dan hatinya bersipompa menebak-nebak siapakah yang membuat bandana itu, bandana yang pernah dibuatnya seperti dua tahun lalu.

    OPEN. Tulisan itu tertempel pada pintu ruko yang paling kecil. Penuh hiasan kerang-kerangan. Berbagai pernak-pernik dipajang di sana. Ada beberapa lukisan laut pun ikut menyemarakkan ruko yang menyempil di antara deretan ruko-ruko besar. Dengan tangan gemetar Gandi membuka daun pintu.

    Tring…tring… hiasan seperti bambu di atas pintu berbunyi dan bergoyang. Seorang laki-laki menyambut Gandi dengan senyuman, “Silahkan Mas dilihat-lihat kalau ada yang cocok.” Gandi mengangguk, dentuman lagu The All American Rejects– I wanna di dalam ruko kecil itu menambah kalut hati Gandi.

    Gandi berjalan memutari beberapa estalase. Ia menemukan bandana berbagai warna dengan model sama yang pernah dibuatnya terpajang manis di sana. Jahitannya lebih rapi, lebih bagus dari buatannya. Modelnya juga dibuat berbeda-beda, ada yang berenda, bermute, berhias kerang.

    “Boleh saya tahu siapa pembuat bandana ini Mas?” tanya Gandi sopan.

    “Oh, adik saya Mas. Sebentar ya?”

    “Senja! Ke depan sebentar dong. Ada yang mau ketemu,” teriak penjaga ruko lantang.

    Rok tulip berwarna orange itu membalut tubuh gadis yang sedang berjalan ke depan ruko. Vest dari brokat yang tampak pas ditubuhnya memberikan padu padanan yang apik, kalung kerang terjuntai di dadanya, manis.

    “Ada apa Bang?” tanya Senja penasaran.

    “Mas ini mau ketemu kamu,” Gandi menatap nanar.

    “Beib…” desis Gandi pelan.

    “Nama saya Senja,” gadis itu menawarkan tangannya. Gandi tak membalas. Senja bingung.

    “Maaf, Mas mengenal Senja? Dia kecelakaan bersama tukang ojek yang membawanya ke pantai Pangandaran ini, terpental jatuh dengan kepala berlumuran darah. Dokter bilang amnesia, dia tak membawa apa-apa selain uang seratus ribu disaku celananya.”

    Senja tersenyum mengagguk, Gandi tak tahan, secepat kilat ia tarik tubuh Senja ke dalam pelukannya,“Beib ini aku… Gandi.”

***
    *)697 words with titlle
   

Merah Itu Cinta ( Flash Fiction)

Merah Itu Cinta ( Flash Fiction)

oleh Nyi Penengah Dewanti pada 26 Mei 2012 pukul 20:15 ·
               

    Pada sebuah bingkai photo di kamar Tasya, aku menemukan rindu di sana. Ada kamu mengumbar tawa bahagia diantara gambar-gambar teman-teman kita. Dan entah kenapa, mataku mengabut tiba-tiba, ada perasaan yang jungkir balik di dalamnya.

    Dedah rasa yang kusembunyikan menemukan radar dalam pandang, gambarmu seolah bicara pada diriku, “Cinta, tak perlu kau cari pembenarannya, cukup rasakan yang kau rasa. Pada suatu masa yang sudah ditakdirkan, ia akan menemukan arah  dengan sendirinya tanpa perlu peta.”

    Ya Tuhan, aku sudah berusaha melupakan dia pada tahun-tahun yang tlah berlalu. Menjalani hidupku sendiri dan mengelabui hati. Tapi kali ini pertahananku jebol di ambang batas tapal yang kusumpal.  Rasa itu tetap sama, tak berubah maupun sirna. Bilangan hari sudah kudaki, matahari berganti senja. Senja berganti malam, dan malam yang purba menguak segalanya.

    “Ada apa Dara?” seketika lamunanku membuyar. Mataku beralih segera dari bingkai penabur  duka.

    “Eh,” aku menunjuk pigura itu pada Tasya.

    “Itu photo bulan lalu, waktu acara workshop di Jogja. Salah siapa kamu nggak ikut," kata Tasya lalu beralih mendekati tempat tidurnya.

    Sungguh  Sya, aku ingin ikut. Tapi aku terlalu takut. Takut untuk melihat dia, jadi aku memberi Tasya banyak alasan. Meski tak masuk akal. Kubuat Tasya percaya pada kata-kataku. Dan aku mulai melihat Tasya rebah tiduran, menggelar selimut untuk aku dan dia. Aku tidur menginap di rumah Tasya, dengan satu tujuan, mendengar cerita-cerita acara itu. Dengan begitu aku mampu meredam jatuhan rindu yang menyayat pilu.

    Tasya memang sahabatku, tapi aku selalu menutupi gelembung-gelembung perasaan ini. Aku malu, aku gengsi. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, ini rahasiaku dan siapapun tak berhak tahu. Sekarang aku menyesali. Tasya dan kamu semakin dekat. Aku membaui ada sesuatu diantara kalian. Aku terlambat, terlambat untuk bercerita padanya, terlambat untuk jujur denganmu juga. Cinta ini melilit hatiku sendiri, bisanya meracuni setiap nadiku. Aku benci semua ini, benci kamu yang tak mengerti. Aku benci pada sosok yang terbaring seranjang denganku, ya… aku membenci sahabatku sendiri. Membenci Tasya dengan daya tariknya hingga mampu merebut hatimu.

    Tasya berbalik menatapku, ia mulai bercerita penuh ceria. Sedang aku menatapnya penuh dendam yang menggurita, sedekat ini aku dengan Tasya dan sedekat ini hidungku mampu menciumi tiap aroma tubuhmu yang masih menempel pada tubuh Tasya. Seandainya kita bisa bertukar hati Sya, seandainya aku memiliki keberanian seperti yang kaumiliki. Dan seandainya aku bisa meniadakan keberadaanmu selamanya. Suatu saat Sya, aku akan membawamu terbang menggapai pelangi. Seperti keinginanmu yang sudah-sudah, menjadi peri penjaga pelangi. Kan kuwujudkan mimpi-mimpimu Sya, kataku dalam hati.

***

    Tasya terlelap tanpa beban, senyumnya menyungging seperti barbie yang dijual di toko mainan. Aku memeluknya. Erat. Belati dalam tangan kananku menghunjam tepat di jantungnya, darah itu muncrat ke pelipisku, memerciki hidung, dan pipiku. Hatiku lega, seseorang di balik tirai jendela tertawa. Tanduk di atas kepalanya bergerak-gerak, lalu ia menghilang. Meninggalkan kepulan asap.

***

    Dear kamu…

    Kutawarkan hatiku untuk kau singgahi, tapi kau memberi upeti sebuah belati, kuhunuskan belati itu dalam keheningan yang menggantung malam, pada orang yang kau sayang. Belati itu penuh lumuran darah. Kubenamkan sekali lagi, bukan di jantung Tasya tapi di jantungku sendiri. (*)

Fan Fiction : Feeling Fool

Fan Fiction : Feeling Fool

oleh Nyi Penengah Dewanti pada 13 Juni 2012 pukul 18:26 ·
Feeling Fool
By : Nyi Penengah Dewanti

cast : Citra, Key, Nesta, Aldi (Novel by Christian Simamora Cokelat Stroberry)

Kali ini aku harus beterima kasih pada hujan yang telah jatuh. Gara-gara dia Nesta batal balik ke rumahnya. Aku kembali menyusupkan mata mencuri pandang ke arah Nesta dari kamar. Beruntung banget aku punya kamar di depan, segala kejadian dan tamu siapapun yang datang bisa dengan mudah aku curi dengar dan lihat, dari udara-udara yang beterbangan melalui celah ventilasi pintu kamar. Aku bisa mendengar suara Nesta, tawa renyahnya dengan kakak ketika membahas materi kuliah, atau mereka sedang latihan menyanyi, aku mengintip dari lubang kunci pintu kamar.


Nesta, mahluk ciptaan Tuhan yang terindah. Alis matanya yang tebal, mata bulatnya yang berwarna cokelat, eksotik dan menarik. Hidungnya yang mancung, bibirnya yang merah padahal sering merokok, dan giginya yang gingsul. Oh iya rambut potongan mohawk terbarunya, selalu rapi dan tidak kusut. Penampilannya dengan kaos biasa dan celanan belel seadanya selalu indah untuk dinikmati.


“Kok gelap… mati lampu ya Cit?” tanyaku pada Citra yang tadi kulihat sedang asyik online dengan notebooknya.  Kemudian ia tertawa terbahak-bahak.


“Gue yang matiin lampunya, udah malem. Plis deh Key, nggak bosen-bosennya liat Nesta. Biasa aja napa?” Citra menyalakan kembali lampu berbentuk bintang di kamar kami.


“Gue sedang main feeling nih Cit,” Citra bangkit dari rebahnya.


“Main feeling?”


“Kalau hujannya reda dan Nesta jadi balik ke rumahnya, berati gue nggak beruntung buat dapetin Nesta. Tapi kalau hujannya nggak berhenti sampe pagi dan Nesta tetep stay di sini, itu artinya Tuhan ngasi jalan buat gue berjodoh sama Nesta,”Citra menepuk pundakku keras.


“Iiiih… Citra! Kebiasaan deh sakit!” bersamaan dengan teriakkanku pintu kamar diketuk. Aku bergegas turun dari ranjang, Citra kembali merebahan tubuhnya cuek.


“Kak Aldi, Ada apa?”


“Citra mana?”


“Udah tidur tuh, kenapa?”


“Key tolongin kakak sebentar bisa ngga?” gitu kek bilang dari tadi kak, capek nih ngintip dari lubang kunci, udah kecil banget kurang puas pula ngintip wajah Nesta, tentu saja aku merutuk hanya dalam hati. 


“Tolong apa Kak?” tanyaku pada Kak Aldi, Nesta tersenyum dan menyapa hai, gila!! Otak dan hatiku mendadak seperti tersengat aliran listrik. 


“Kita lagi nyari kata yang pas dan nada yang unik buat lagu yang baru kita ciptain. Kita udah oke sih, tapi kita butuh pendengar selain kita berdua, biar mantap, iya nggak Nes?” jelas kak Aldi padaku dan bertanya ke arah Nesta. Nesta hanya menjawab dengan kata sip! Nggak kurang nggak lebih, cool banget kan si Nesta? 


Nesta mulai memetik senar gitar, menyesuaikan nada yang pas dengan suara dia. Kakak menatap Nesta penuh pesona aku pun demikian. Nesta itu nggak cuma cakep, macho, cool, tapi kereeeeeeen banget. Bodynya juga nggak kalah oke, sixpack bo padahal jarang fitnes loh kata Kak Aldi. Jreng… gitar mulai digenjrang genjreng….


Hujan datang membawa cerita
Kisah tentang aku dan dia
Betapa bahagia awal berjumpa
Tiada terduga timbulah rasa
Nanana… nanana…. 

Nesta berhenti menggenjreng, menatapku penuh tanya.


“Gimana Key?” aku diam, beranjak. Masuk kamar.


“Key, kamu kenapa?”  pintu kamar aku kunci, tak menjawab atau menoleh sekali pun ke arah mereka. Hening.


Aku terduduk di depan cermin meja riasku. Membuka laci nomor dua, sekotak kardus kecil penuh foto Nesta kurobek perlahan-lahan. Aku tergugu pilu, terisak dengan sendu. Tatapan Nesta dan kak Aldi aneh, tangan kak Aldi yang terus menempel di pundak Nesta juga membuatku merasa membatu. Hatiku tak dapat lagi memaknai rasa yang selama ini berbunga-bunga setiap kali Nesta datang ke rumah.


Citra memelukku dari belakang.


“Key, maafin gue. Sebenernya gue tau udah lama, gue pernah ngeliat Nesta dan Kak Aldi suap-suapan eskrim di kamarnya. Gue nggak sengaja Key, waktu itu balik sekolah dan keadaan rumah sepi. Mama sama papa belum pulang kerja,” Citra memelukku erat.


“Kenapa lo nggak bilang?”


“Gue takut Key, gue masih nggak percaya ini beneran nyata. Gue kira cuma ada dalam film-film doang. Gue shock Keysama kayak lo, gue terus menyelidiki selama ini dan kenapa harus kakak kita?”


“Cit, mereka gay?” Citra tidak menjawab, hanya mengagguk. Kepalanya bergoyang ke bawah menyentuh bahuku.


Feelingku salah. Ternyata Nesta tercipta bukan buat aku. Nesta dengan segala kelebihannya menyimpan satu tetes takdir yang mungkin dia sendiri tidak menginginkan. Aku ingin kak Aldi sembuh, aku ingin Nesta kembali normal. Aku juga tidak bisa memaksakan mereka berubah, tapi mereka layak diberi kesempatan untuk merubah diri. Deras hujan yang turun terdengar seperti pisau yang tiap rintiknya menusuk dalam hati, aku seperti dikebiri perasaan sendiri.

======================================================================
*) 698 word with tittle
diikutkan dalam FF novel Kak Cristian Simamora :
 https://www.facebook.com/notes/christian-simamora/lomba-ff-christian-simamora/10150877641346448

KULTWIT dari Sefryana Khairil ‏#BeAWriter

  •  Selain pembuka cerita, yang menarik perhatian pembaca adalah klimaks dan ending.  
  •  Banyak yang ingin ending tidak terduga atau tidak biasa, namun akhirnya jadi dipaksakan.  
  •  Klimaks dan ending tentunya harus emotional, logical sense, tidak keluar dari plot.
  • Apa sih klimaks? Pencapaian dari plot yang kamu bangun. Untuk bisa mencapai, tentu perlu persiapan.
  • Pertama-tama, kamu harus tahu ending ceritamu. Mau happy ending, sad ending, tragi-comedy, atau comi-tragedy.
  • Sejak awal membuat plot, kamu sdh harus punya story goal atau point of the story.
  • Setiap novel punya konflik, nah konflik ini menimbulkan pertanyaan. Misalnya saja dalam .
  • Setelah bercerai karena perselingkuhan, lalu dua orang itu bertemu kembali, apa yang akan terjadi?
  • Apakah kedua orang itu akan bertengkar? Dan kalau mereka kembali, apa motivasinya?
  • ( 1) Saat membuat klimaks dan ending apa yang akan terjadi pada tokoh-tokohmu.
  •  Misalnya dua pasangan memutuskan kembali bersama, apa yang menyebabkannya.
  •  Misalnya di , si tokoh perempuan merenungi masa lalunya dan mencoba memaafkan. Berarti ini motivasi ke happy end.
  •  Berbeda dengan sad ending, tokoh akan cenderung bertahan dengan prinsip buruknya, mengorbankan pilihan baik. Cth Sweeney Todd.
  •  Tragi-Comedy si tokoh gagal mencapai kesuksesannya, tapi dia tahu itu ternyata membawa hal yang baik bagi dirinya.
  •  Contohnya novel Ritual Gunung Kemukus karya F. Rahardi. Tokohnya sadar dan tidak mau kembali ke Gunung Kemukus.
  •  Comi-Tragedy, di klimaks cerita berhasil mencapai kesuksesannya, yang harus dibayarnya dengan pengorbanan besar.
  •  Contohnya Romeo-Juliet yang mati untuk kembali bersama kekasihnya.
  •  (2) Membuat sesuatu yang emosional. Emosional dan dramatis tidak harus marah-marah. Coba deh lihat klimaks film The Vow.
  •  Paige blg "I hope one day I can love the way that you love me." Leo jwb "You figured it out once — you’ll do it again."
  •  Leo pergi saat itu, membiarkan Paige dengan keputusannya. Emosional, dramatis, tanpa harus marah-marah.
  •  (3) Jangan buat konflik baru. Konflikmu adl konflik yg km pecahkan dr awal. Jgn hadirkan konflik br yg bikin rumit.
  •  Jangan pecahkan masalah dengan membuat masalah baru. Sama saja dengan gali lobang, tutup lobang.
  •  (4) Jangan ubah sikap dan sifat tokohmu tiba-tiba. Misalnya orng yg kekeuh nggak setuju tiba-tiba setuju, hrs ada motivasinya.
  •  Sisakan rasa puas ketika pembacamu selesai membaca novelmu.
 Semoga bermanfaat kali ini. Selamat menulis.

Sunday, 17 June 2012

9 Langkah singkat untuk penulisan buku

9 Langkah singkat untuk penulisan buku: (sekadar sharing pengalaman saja)

link asli
  1. Eksplorasi tema yang akan diangkat. Biasanya kita harus ‘hunting’ fenomena yang sedang hangat dibicarakan. Atau, bisa juga tema ‘abadi’ seperti masalah cinta. Tapi, kita coba bahas dari sudut pandang lain. Meski nilainya Islam, tetapi ‘rasanya’ khas: bahasa, metode penyampaian, segmentasi pembaca, dan solusi praktis/sistemik.
  2. Setelah tema kita genggam. Langkah kedua adalah menentukan judul yang kira-kira menarik. Usahakan judul untuk buku nonfiksi, ‘cuma’ terdiri dari 3 kata. Maksimal boleh 4 kata. Selain menarik, juga hemat kata. Simple deh. :-)
  3. Membuat outline. Ini diperlukan supaya pembahasan tidak melebar ke mana-mana. Pagari dengan beberapa bab yang mungkin untuk dibuatkan tulisannya. Jumlah bab bergantung kepada berapa banyak materi yang akan kita kupas habis dalam satu buku tersebut. Contohnya bisa lihat buku-buku yang sudah ada. Simak bagaimana para penulis itu menuangkan gagasannya dalam sebuah buku. Khusus untuk buku JNC, saya dan Iwan cuma butuh 4 bab. Itu pun terdiri dari 4 ide pokok; filosofi cinta, fakta perwujudan cinta, bagaimana mengendalikan cinta, dan solusi akhir dari ‘masalah’ cinta. Dan dengan catatan, cinta di sini adalah yang langsung berhubungan dengan perwujudan dari naluri mempertahankan jenis. Masing-masing bab terdiri dari beberapa tulisan yang memungkinkan untuk dibahas. Dikelompokkan dengan amat rapi, dan sedetil mungkin sehingga tidak ada pembahasan yang terlewat. Ini memang relatif, bergantung kepada faktor si penulis sebagai manusia dan sudut pandang yang dimilikinya selama ini (ideologis atau tidak).
  4. Pastikan dalam pembuatan outline itu terdiri dari formula standar: pemaparan fakta, pembahasan terhadap fakta, dan solusi Islam (baik praktis maupun sistemik). Arahnya harus sudah jelas. Jika keroyokan, maka ini kudu sering didiskusikan supaya terjaga alurnya. Alurnya boleh detil boleh secara global saja. Tapi untuk kedua buku kami (JJS dan JNC) yang ditulis berdua itu tidak dilakukan karena kebetulan sudah bisa dipahami alur penulisannya. Bahkan outline yang dibuat pun langsung fixed jadi daftar isi. Pengalaman yang agak melelahkan sewaktu membuat buku Yes! I am MUSLIM. Itu buku tebel banget karena saya ingin jadikan buku itu sebagai masterpiece dari semua karya saya. Buku itu saya buat dalam waktu setahun. Lambat banget, tapi waktu setahun itu habis untuk nyari data dan editing. Sementara nulis mentahnya sendiri selama 1 bulan. Itu pun saya nulis nggak tiap hari, seminggu paling 3 atau 4 hari dengan durasi maksimal 3 jam.
  5. Langkah selanjutnya adalah penelusuran fakta yang akan dijadikan sebagai bahan/data penulisan. Ini amat penting bagi sebuah buku nonfiksi. Jangankan nonfiksi, buku fiksi saja harus jelas datanya yang akan digunakan sebagai latar cerita tersebut. Seakurat mungkin. Sebab, kalo salah ambil fakta atau sekadar cuap-cuap aja kan nggak mutu istilahnya. Jadi tahapan ini amat penting dilakukan. Data-data itu bisa didapat dari berbagai sumber; digital dan nondigital. Saya dan Iwan sejauh ini mengandalkan sourcing data di internet. Untuk menghemat waktu, pencarian data biasanya saya dan Iwan mempercayakan kepada seorang kawan yang memang ‘tekun’ banget dalam penelusuran datanya. Asal diberi batasan dan spesifikasinya insya Allah bisa berjalan. Kalo pun ada kekurangan di sana-sini, biasanya kami langsung hunting lagi sebagai pelengkap. Tapi untuk buku JNC, saya dan Iwan langsung memburu data sendiri. Beda dengan Jangan Jadi Seleb, karena harus kuat di data, kami menyerahkannya kepada seorang kawan untuk mengumpulkan bahan-bahan yang kami inginkan. Enaknya lagi, ‘perpustakaan digital’ yang dimiliki media tempat kami bekerja (sekarang udah ‘almarhum’, yakni Majalah Permata) udah cukup memberi kesegaran untuk membuat tulisan lebih berbobot. Catatan: datanya terdiri dari ‘dalil aqli’ dan ‘dalil naqli’. Jadi, selain data dari fakta di lapangan, juga data yang sifatnya untuk menguatkan argumentasi, yakni dari al-Quran, hadits, ijma sahabat, dan juga qiyas. Tapi yang pasti, tulisan itu kudu ideologis!
  6. Setelah data terkumpul, jika sendiri menulisnya, maka saya biasanya langsung saja menyusun tulisan (seperti pada buku Jangan Jadi Bebek). Tapi untuk Jangan Jadi Seleb dan Jangan Nodai Cinta, saya membagi tanggung jawab penulisan dengan Iwan. Untuk JNC, masing-masing dua bab. Terserah aja mau pilih yang mana. Tapi karena saya dan Iwan udah tahu karakter tulisan masing-masing (maklum, sejak tahun 1989 bareng terus dan punya keterampilan menulis untuk segmen remaja), maka posisi penanggung jawab utama untuk bab-bab yang sudah dibuatkan outlinenya langsung saya tentukan; bab 1 dan bab 3 bagian Iwan, sementara bab 2 dan bab 4 saya yang pegang. Setelah kelar, tukar posisi dalam mengedit. Terakhir, saya yang edit total dari semua tulisan. Termasuk pengaturan font, footnote dan kroscek data. Melelahkan memang. Tapi alhamdulillah, hasilnya juga lumayan. :-)
  7. Selama penulisan, update data terbaru tetap dilakukan. Supaya terasa hangat terus. Itu dilakukan sampe editing akhir. Sangat boleh jadi fakta-fakta terbaru akan menggeser data yang sudah kita buat. Tak masalah, selama memang itu memiliki nilai jual tinggi sebagai sebuah ide.
  8. Jangan lupa, tentukan deadline penulisan. Kalo nggak, bisa jadi akan molor terus. Bukankah kita perlu target dan itu harus terukur? Buku JJS kami patok maksimal 3 bulan (karena sourcing datanya yang agak lama, yakni hampir 2 bulan. Sementara untuk penulisan kami membutuhkan 1 bulan). Untuk JNC kurang lebih sama. 3 bulan adalah patokan standar kami untuk buku nonfiksi. Bahkan kalo keroyokan lebih enak lagi. Karena kadang muncul ide-ide segar dari teman nulis kita. Jadi lengkap kan? Meski tentunya bukan berarti menulis sendiri tidak bagus, lho. Itu mah bergantung kepada kreativitas penulisnya.
  9. Menerbitkan buku kita. Nah, kalo udah semua dilakukan, langkah berikutnya adalah ‘mencari’ penerbit. Modal nekat aja. Kirim ke berbagai penerbit secara berurutan print out dari buku kita. Pokoknya pede. Harus tahu diri juga kalo kita belum dikenal siapa pun. Ini yang lumayan lama euy. Karena biasanya naskah ngendon di sana minimal 1 bulan. Maksimal 3 bulan. Bayangkan, jika satu penerbit menolak, maka mulai lagi dari nol. Di penerbit kedua, dengan waktu yang kira-kira sama. Wuih, jenuh juga kan nunggunya? Daripada manyun, akhirnya saya suka ‘iseng’ nyari tema lain dan siap-siap bikin buku baru. Sekadar tahu saja, buku JJB sudah mampir di tiga penerbit. Tapi semuanya mengembalikan draft buku tersebut. Tapi alhamdulillah semangat saya yang menggebu disambut penerbit GIP, sekarang alhamdulillah jadi buku best seller. Tapi berbeda jika kita kebetulan udah ‘ngetop’ prosesnya jadi lebih mudah. Menyenangkan sekali bukan? Bahkan sangat boleh jadi kita akan diuber beberapa penerbit yang minta naskah ke kita.
Moga-moga tips singkat ini membuka wawasan dalam menulis buku. Tapi semua yang saya paparkan tersebut, hanya satu yang harus tetep dijaga agar jangan sampe padam: MOTIVASI. Tanpa itu, saya kira keinginan hanya sebatas lamunan saja. Oke deh, jangan berhenti nulis dan tetep semangat!

Salam,
Oleh Solihin

PS: Islam masih membutuhkan banyak tenaga kita untuk memperjuangkan dan membelanya. Ya, siapa tahu, perjuangan lewat tulisan ini menjadi bagian yang melengkapi uslub dakwah kita. Allahu Akbar!

Pengertian Genre CLIQUE*LIIT

CLIQUE*LIT 

link asli 

 

Pergaulan dan pertemanan merupakan inti dari genre ini. Persaingan antargeng atau kelompok menjadi fokus tersendiri. Berikut kriteria pengiriman naskah CLIQUE*LIT:
  • Panjang naskah 70-150 halaman A4, spasi 1, Times News Roman 12
  • Kirimkan dalam bentuk print out (yang sudah dijilid rapi, tentunya), sertakan sinopsis lengkap novelmu, plus form pengiriman naskah ke:
REDAKSI GAGASMEDIA
Jl. Haji Montong No. 57, Ciganjur
Jagakarsa, Jakarta Selatan 12630
(KODE NASKAH: CLIQUE*LIT—tulis di amplop naskahmu)
  • Setiap naskah akan diproses langsung oleh redaksi. Waktu yang diperlukan 3-4 bulan, mengingat banyaknya naskah masuk setiap harinya. Harap maklum ya.
  • Contoh novel Clique*Lit:
  1. Glam Girls The Series
  2. Princess of Gossip (Sabrina Bryan & Julia DeVillers)
  • Jangan lupa untuk mengirimkan pula form pengiriman naskah yang bisa kamu download di sini!
PLOTTema besar Clique*Lit adalah pergaulan dan pertemanan. Jadi, plot yang kamu temukan di serial Glam Girls hanyalah sebagian kecil dari banyak sekali kemungkinan tema. Bisa jadi, novel Clique*Lit-mu bercerita tentang pergaulan anak-anak di asrama atau tempat kos. Atau, novelmu bercerita tentang sekelompok remaja yang melakukan study trip bersama. Atau, tentang perseteruan di antara anak-anak Klub Ilmiah Remaja (KIR). Have fun. Pikirkan cerita-cerita yang out of box.
Sumber konflik di genre Clique*Lit berasal dari: ambisi, skandal, kebencian, dendam, kekecewaan, persaingan, dan pengkhianatan.
Isu popularitas paling cocok untuk clique cewek (Glam Girls). Isu siapa yang lebih jago, lebih berani paling cocok untuk clique cowok (The Outsider, S.E. Hinton).
Kunci memilih konflik apa yang muncul di novel kamu terletak di background tokoh utamamu. Semakin high class statusnya, konflik tokoh nggak jauh-jauh dari sesuatu yang scandalous—gosip, rahasia, aib, dsb.

KARAKTER

Anggota clique atau geng bisa dibeda-bedakan menjadi empat karakter menonjol:
  • Karakter Alpha digambarkan sebagai sosok pemimpin clique. Tokoh yang seperti ini biasanya memiliki kelebihan yang sangat menonjol (misalnya: sangat pintar atau sangat kaya), goal-oriented, keras kepala, dan nggak mau kalah. Tokoh yang seperti ini bisa jadi adalah anak tunggal di keluarganya.
  • Karakter Beta digambarkan sebagai sosok yang nggak selalu seide dengan Alpha, tapi nggak bisa berbuat apa-apa kecuali menuruti kemauan Alpha. Beta biasanya menghormati pendidikan, jadi tokoh ini dihormati karena intelegensianya. Tokoh Beta membuat banyak pertimbangan sebelum memutuskan sesuatu, paling mungkin terjebak rutinitas (karena melakukan segala sesuatunya secara sistematis). Tokoh Beta punya insekuritas tersendiri; misalnya nggak suka berada di tempat ramai, nggak percaya diri dengan tubuhnya, dsb.
  • Karakter Theta adalah sosok follower sejati. Punya ambisi ingin seperti Alpha tapi nggak cukup berani untuk bersikap tegas. Biang gosip. Berpotensi sebagai backstabber.
  • Karakter Floater adalah sosok yang gampang masuk ke clique manapun. Tokoh ini biasanya memiliki daya tariknya sendiri. Berasal dari keluarga public figure. Paling nyantai di antara semua karakter. Punya agenda sendiri, jadi nggak melulu merasa harus mengikuti maunya si Alpha.
Masing-masing clique punya identitas sendiri. Entah itu gaya berpakaian, slang, bahkan tempat nongkrong. Pastikan clique di novelmu memiliki identitas.

SETTING

Selain karakter, setting adalah faktor yang penting kamu perhatikan. Sebelum memutuskan menggunakan setting (waktu & tempat) tertentu, pertimbangkan hal-hal berikut:
  • Seberapa berpengaruh setting ceritamu dengan plot? (cara mengetes: ‘pindahkan’ ceritamu ke setting yang sama sekali berbeda. Misalnya, novel Glam Girls. Kalau Rashi and the clique dipindahkan ke sekolah negeri, apakah ceritanya akan berubah total? Novel ini bercerita tentang pergaulan dengan teman-teman dari negara berbeda dan juga gaya hidup remaja high class. Jadi, ya. Setting sekolah internasional terbukti berpengaruh sekali dengan plot.
  • Seberapa banyak interaksi tokoh dengan setting yang kamu buat?
  • Apakah setting-mu meyakinkan atau berkesan ‘tempelan’ saja? (solusi: kamu harus riset lagi supaya bisa menciptakan setting yang lebih baik)
LAIN-LAIN

Pastikan bahanmu cukup sebelum memutuskan untuk menulis novel Clique*Lit-mu. Kamu bisa belajar membuat plot Clique*Lit dari karya-karya sastra klasik seperti Shakespeare. Cari tahu lebih banyak tentang peer pressure di internet dan buku-buku di perpustakaan.
 

Pengertian Genre CLASSIC ROMANCE

CLASSIC ROMANCE 

 Link asli

 

Classic Romance identik dengan kehidupan cinta konvensional ber-setting masa lalu. Biasanya novel ini memiliki unsur budaya dan tradisi yang cukup kental. Berikut adalah kriteria pengiriman naskah Classic Romance:
  • Panjang naskah 70-150 halaman A4, spasi 1, Times News Roman 12
  • Kirimkan dalam bentuk print out (yang sudah dijilid rapi, tuntunya), sertakan sinopsis lengkap novelmu, plus form pengiriman naskah ke:
REDAKSI GAGASMEDIA
Jl. Haji Montong No. 57, Ciganjur
Jagakarsa, Jakarta Selatan 12630
(KODE NASKAH: CLASSIC ROMANCE—tulis di amplop naskahmu)
  • Setiap naskah akan diproses langsung oleh redaksi. Waktu yang diperlukan 3-4 bulan, mengingat banyaknya naskah masuk setiap harinya. Harap maklum ya. 
  • Contoh novel Classic Romance:
  1. From Batavia with Love (Karla M. Nashar)
  • Jangan lupa untuk mengirimkan pula form pengiriman naskah yang bisa kamu download di sini!
PLOT

Ada dua jenis romance yang masuk kategori Classic Romance: romance sejarah dan romance konvensional. Seperti namanya, romance sejarah mengambil setting waktu berabad-abad lampau. Romance konvensional ber-setting lampau dan tahun sekarang, tapi temanya sangat dekat dengan budaya dan tradisi Indonesia. Bayangkan kisah cinta terlarang keturunan kraton dan orang biasa, atau hubungan yang ditentang orangtua karena masalah marga.
Saat mengerjakan novel Classic Romance, kamu tetap harus ingat: ini novel romance. Tetap perhatikan chemistry pasangan yang menjadi tokoh utama dan awasi baik-baik perkembangan cinta mereka.
SETTING

Konflik adat dan keluarga sangat kental di Classic Romance. Mainkan kreativitasmu untuk menciptakan setting yang memancing konflik kuat dan nggak mengada-ada, misalnya: acara keluarga besar yang memungkinkan clash antara cara pikir generasi muda dan generasi tua.
Kekuatan di novel-novel seperti ini terletak di setting waktu dan tempat. Kamu harus bisa meyakinkan pembaca bahwa semua kejadian di novelmu terjadi di waktu dan tempat yang kamu tetapkan. Karenanya, kamu sebaiknya melakukan riset yang cukup dulu sebelum mengerjakan novel ini.

DESKRIPSI

Hati-hati saat mencecerkan fakta di novel Classic Romance-mu. Menyelipkannya sebagai deskripsi—apalagi sampai kebanyakan—bisa membuat novelmu berubah jadi semi non-fiksi dan, lebih buruknya lagi, kayak brosur! Menjadikannya sebagai bagian dialog kadang-kadang malah membuat si tokoh seperti tukang obat yang cerewet. Sekali lagi, hati-hati. Nggak sedikit penulis yang terpeleset di kecenderungan ini.

LAIN-LAIN

Hati-hati dengan penggunaan bahasa slang. Noni-noni di Batavia belum kenal istilah ‘sumpe lo’ atau ‘kepo banget sih lo’. Oke, emang lucu sih... tapi nggak bakal lucu kalo novelmu terbit dan ada pembaca yang menemukan kesalahanmu itu.
Sepanas apa sih baiknya adegan seksi di Classic Romance? Bayangkan adegan-adegan romantis yang kamu temukan di kartun-kartun Disney (Cinderella, Snow White, you name it!).
Untuk mempermudah bayangan level sensualitas di novel romance, GagasMedia memakai teori 12 Steps to Intimacy-nya Desmond Morris sebagai panduan. Ingat, untuk Classic Romance ini, tingkat keintiman yang digunakan hanya sampai nomor 7.
  1. Eye to body (deskripsi kekaguman saat pertama kali melihat pasangan)
    Dari mata turun ke hati—begitulah cara paling simpel untuk menjelaskan level terendah dari sensualitas Desmond Morris ini. Contoh:
    “Daniel?” panggilnya lembut.
    Tapi laki-laki itu tak kunjung menoleh. Bahkan ketika Nadia berjalan pelan ke sofa empuk, tak jauh dari tempat laki-laki itu berdiri. Sosok tinggi dan atletis itu tetap di sana, bergeming seperti patung Yunani, dan membisu seperti batu. Sesuatu dari dalam diri Daniel membuat Nadia mendadak canggung. Dia lalu berdehem, sambil berusaha menawarkan perasaannya yang berdebar-debar.
    “Daniel?” Dia memanggilnya lagi.
  2. Eye to eye (saling bertatap mata)
    Momen indah saat kedua orang yang jatuh cinta itu saling menatap. Contoh:
    “Aku senang kamu ada di sini,” kata Devon sungguh-sungguh. Sesaat, mata mereka bertemu di udara. Waktu berhenti untuk mereka berdua.
    “Aku juga,” aku Aria, tak berani berkedip barang sedetik pun. Dia tak ingin melewatkan saat-saat indah ini... sebelum Daniel meninggalkan Indonesia.
  3. Voice to voice (percakapan romantis dengan pasangan)
    Obrolan romantis, dari hati ke hati, adalah favorit sebagian besar pembaca romance. Bahkan, beberapa mengenangnya sebagai quote yang tak terlupakan. Contoh:
    Alvin menarik napas panjang sebelum berkata, “Aku mencintaimu.”
    Sebelum Dewi bereaksi atas ucapannya barusan, laki-laki itu buru-buru menempelkan telunjuknya di bibir perempuan itu. Setelah jeda beberapa saat, Alvin baru melanjutkan, “Aku tak bisa menjamin akulah yang kau inginkan. Tapi aku berjanji menjadi laki-laki yang kau butuhkan.
    Dewi tak mampu berkata-kata. Matanya berkaca-kaca.
  4. Hand to hand (berpegangan tangan dengan pasangan)
    Sentuhan skin-to-skin (kulit bertemu kulit) dimulai sejak tahap ini. Dan cukup banyak juga cerita romantis dimulai dengan jabatan tangan. Contoh:
    Untuk pertama kalinya, sejak sisa siang itu, Kania merasa tenang. Dia membiarkan Hadi memanjakannya di tempat tidur; memperbaiki letak bantal sehingga dia bisa menyandarkan tubuh dengan nyaman, membuatkan segelas teh melati. Setelah meletakkan cangkir berisi cairan hangat itu di bawah lampu meja, Hadi menggenggam tangannya dengan lembut. Jari-jari panjang laki-laki itu merangkul jari-jarinya seolah menjanjikan perlindungan—sesuatu yang bisa dia percayakan pada Hadi.
    “Jangan mikir yang berat-berat dulu,” katanya, membelai punggung tangan Kania dan mengalirkan gejolak aneh di dalam dirinya. “Aku pengen kamu istirahat sepuasnya, biar pusingnya cepat sembuh.”
  5. Arm to shoulder (menyentuh bahu pasangan)
    Gestur romantis skin-to-skin masih berlanjut di tahap ini. Contoh:
    Christopher menyentuh bahu Rachel dan gelenyar panas dengan cepat menjalari lengan sampai ke kuku-kuku tangannya. Padahal katanya kuku jari tak bisa merasakan apa-apa.
    Rachel menggumam dalam hati, hanya karena Christopher tunangan kakaknya, bukan berarti dia kebal terhadap pesona laki-laki itu.
    “Sudah malam,” ujarnya lembut.
  6. Arm to waist (meletakkan tangan di pinggang)
    Bayangkan adegan dansa, pelukan mesra dari belakang, atau momen ‘kecelakaan’ yang membawa pembaca ke suasana intens antar tokoh utama. Contoh:
    Sejurus kemudian, Juliet menyesali kekeraskepalaannya. Menepis uluran tangan Romeo justru membuatnya terjerumus ke masalah yang lebih besar. Dia tergelincir di atas lantai marmer yang baru dipel itu dan laki-laki itu langsung sigap menangkap tubuhnya. Sesaat, Juliet merasa beruntung karena tak sampai mempermalukan diri di depan Romeo. Tapi merasakan lengan berotot laki-laki itu di pinggulnya adalah masalah besar.
    “Lepaskan!” perintahnya dengan suara gemetar. Menatap langsung mata cokelat Romeo mengisi daftar panjang kesalahannya sepanjang hati itu.
    “Tapi kamu nanti bakal jatuh.” Brengsek, dia tersenyum!
  7. Mouth to mouth (berciuman)
    Apa ini masih perlu dijelaskan? Semua yang berjiwa romantis tahu, berciuman dengan orang yang disayang akan menjadi kenangan terindah selamanya.... Contoh:
    Tora mencondongkan tubuhnya dan menekan bibirnya ke bibir Lidya. Tuhan, bibirnya lembut dan mengingatkannya pada es krim. Lembut dan adiktif. Dia menemukan sensasi dingin mint dari permen karet yang tadi dikunyah cewek itu. Pikiran warasnya hilang sesaat, terbius pengalaman baru yang ditemukannya bersama Nadia.
    “Apa kamu mikirin Gita saat nyium aku?” tanya Nadia setelah mereka menghentikan ciuman itu.
    Tora nggak menjawab. Dan, seperti bisa membaca pikirannya, Lidya menampar cowok itu.

Pengertian Genre MAINSTREAM ROMANCE

MAINSTREAM ROMANCE 

link asli 

Mainstream Romance merupakan kategori novel romance yang tokoh utama wanitanya sudah di-set sejak awal untuk berjodoh dengan tokoh utama laki-lakinya. Berikut adalah kriteria Mainstream Romance:
  • Panjang naskah 70-150 halaman A4, spasi 1, Times News Roman 12
  • Kirimkan dalam bentuk print out (yang sudah dijilid rapi, tentunya), sertakan sinopsis lengkap novelmu, plus form pengiriman naskah ke:
REDAKSI GAGASMEDIA
Jl. Haji Montong No. 57, Ciganjur
Jagakarsa, Jakarta Selatan 12630
(KODE NASKAH: MAINSTREAM ROMANCE—tulis di amplop naskahmu)
  • Setiap naskah akan diproses langsung oleh redaksi. Waktu yang diperlukan 3-4 bulan, mengingat banyaknya naskah masuk setiap harinya. Harap maklum ya. 
  • Contoh novel Mainstream Romance:
  1. Gurun Bercerita Cinta (Diyah Ratna)
  2. Orange (Windry Ramadhina)
  3. Baby Proposal (Dahlian dan Gielda Lafita)
  • Jangan lupa untuk mengirimkan pula form pengiriman naskah yang bisa kamu download di sini!
Seperti roller coaster, novel-novel Mainstream Romance membawa emosi pembaca naik-turun. Pokoknya, semuanya tentang cinta, cinta, dan CINTA!
PLOTCiri lain Mainstream Romance adalah pakem Star Cross-nya; artinya sejak awal tokoh utama perempuannya sudah di-set akan berjodoh dengan tokoh utama laki-lakinya. Tapi bagaimana kedua orang itu saling tertarik, jatuh cinta, dan memutuskan bersama... itu dia yang pembaca ingin tahu dari novelmu!
Sebisa mungkin, hindari terlalu banyak kebetulan. Dan adegan tabrakan pas jalan berpapasan. C’mon... ada segudang cara lain yang bisa kamu pakai untuk mempertemukan pasangan di novel Mainstream Romance-mu ini.

SETTINGOptimalkan kekuatan cerita di chemistry antara dua tokoh. Ciptakan suasana yang intens dan romantis dengan deskripsi yang baik, dan jangan lupa: location, location, location. Setting tempat yang mendukung cerita akan menjadi nilai plus buat naskah kamu.
Untuk nuansa romantis yang lembut pilih tempat-tempat ber-space luas, daerah pinggir kota misalnya. Sementara untuk Mainstream Romance bertema urban, pilih daerah perkotaan atau ciptakan lingkungan fiktif yang bisa mewakili lifestyle kehidupan perkotaan. Misalnya, perkantoran elite, kantor majalah high fashion, dsb.

KARAKTERBiarpun ini kedengarannya sepele, pilihlah nama yang menggambarkan kepribadian karaktermu. Nama-nama ‘maskulin’ (misalnya: Bobby, Andres, Tora) mempermudah pembaca membayangkan se-macho apa karakter cowokmu. Sebaliknya, nama-nama ‘uniseks’ (misalnya: Andri, Dian, Alex, Kurnia, Aulia) akan jadi sangat membingungkan.
Seperti halnya nama, pilih baik-baik profesi dan hobi karaktermu.

LAIN-LAINTeknik ini udah bukan rahasia lagi—saking seringnya dipakai di film-film romantis Hollywood. Pastikan semua konflik (utama, sub konflik) sudah selesai di bab kedua sebelum ending. Tutup cerita dengan satu bab yang menggambarkan seperti apa pasangan novelmu menjalani hari-hari penuh cinta mereka. Misal: kalo fokus cerita kamu tutup dengan lamaran, mungkin di bab terakhir (+ 5 halaman) kamu menhadiahkan pembaca cerita tentang momen romantis yang terjadi saat pernikahan. Quote-quote manis akan sangat membantu di bagian ini.
Sepanas apa sih baiknya adegan seksi di Mainstream Romance?

Untuk mempermudah bayangan level sensualitas di novel romance, GagasMedia memakai teori 12 Steps to Intimacy-nya Desmond Morris sebagai panduan. Ingat, untuk Mainstream Romance ini, tingkat keintiman yang digunakan hanya sampai nomor 9.
  1. Eye to body (deskripsi kekaguman saat pertama kali melihat pasangan)
    Dari mata turun ke hati—begitulah cara paling simpel untuk menjelaskan level terendah dari sensualitas Desmond Morris ini. Contoh:
    “Daniel?” panggilnya lembut.
    Tapi laki-laki itu tak kunjung menoleh. Bahkan ketika Nadia berjalan pelan ke sofa empuk, tak jauh dari tempat laki-laki itu berdiri. Sosok tinggi dan atletis itu tetap di sana, bergeming seperti patung Yunani, dan membisu seperti batu. Sesuatu dari dalam diri Daniel membuat Nadia mendadak canggung. Dia lalu berdehem, sambil berusaha menawarkan perasaannya yang berdebar-debar.
    “Daniel?” Dia memanggilnya lagi.
  2. Eye to eye (saling bertatap mata)
    Momen indah saat kedua orang yang jatuh cinta itu saling menatap. Contoh:
    “Aku senang kamu ada di sini,” kata Devon sungguh-sungguh. Sesaat, mata mereka bertemu di udara. Waktu berhenti untuk mereka berdua.
    “Aku juga,” aku Aria, tak berani berkedip barang sedetik pun. Dia tak ingin melewatkan saat-saat indah ini... sebelum Daniel meninggalkan Indonesia.
  3. Voice to voice (percakapan romantis dengan pasangan)
    Obrolan romantis, dari hati ke hati, adalah favorit sebagian besar pembaca romance. Bahkan, beberapa mengenangnya sebagai quote yang tak terlupakan. Contoh:
    Alvin menarik napas panjang sebelum berkata, “Aku mencintaimu.”
    Sebelum Dewi bereaksi atas ucapannya barusan, laki-laki itu buru-buru menempelkan telunjuknya di bibir perempuan itu. Setelah jeda beberapa saat, Alvin baru melanjutkan, “Aku tak bisa menjamin akulah yang kau inginkan. Tapi aku berjanji menjadi laki-laki yang kau butuhkan.
    Dewi tak mampu berkata-kata. Matanya berkaca-kaca.
  4. Hand to hand (berpegangan tangan dengan pasangan)
    Sentuhan skin-to-skin (kulit bertemu kulit) dimulai sejak tahap ini. Dan cukup banyak juga cerita romantis dimulai dengan jabatan tangan. Contoh:
    Untuk pertama kalinya, sejak sisa siang itu, Kania merasa tenang. Dia membiarkan Hadi memanjakannya di tempat tidur; memperbaiki letak bantal sehingga dia bisa menyandarkan tubuh dengan nyaman, membuatkan segelas teh melati. Setelah meletakkan cangkir berisi cairan hangat itu di bawah lampu meja, Hadi menggenggam tangannya dengan lembut. Jari-jari panjang laki-laki itu merangkul jari-jarinya seolah menjanjikan perlindungan—sesuatu yang bisa dia percayakan pada Hadi.
    “Jangan mikir yang berat-berat dulu,” katanya, membelai punggung tangan Kania dan mengalirkan gejolak aneh di dalam dirinya. “Aku pengen kamu istirahat sepuasnya, biar pusingnya cepat sembuh.”
  5. Arm to shoulder (menyentuh bahu pasangan)
    Gestur romantis skin-to-skin masih berlanjut di tahap ini. Contoh:
    Christopher menyentuh bahu Rachel dan gelenyar panas dengan cepat menjalari lengan sampai ke kuku-kuku tangannya. Padahal katanya kuku jari tak bisa merasakan apa-apa.
    Rachel menggumam dalam hati, hanya karena Christopher tunangan kakaknya, bukan berarti dia kebal terhadap pesona laki-laki itu.
    “Sudah malam,” ujarnya lembut.
  6. Arm to waist (meletakkan tangan di pinggang)
    Bayangkan adegan dansa, pelukan mesra dari belakang, atau momen ‘kecelakaan’ yang membawa pembaca ke suasana intens antar tokoh utama. Contoh:
    Sejurus kemudian, Juliet menyesali kekeraskepalaannya. Menepis uluran tangan Romeo justru membuatnya terjerumus ke masalah yang lebih besar. Dia tergelincir di atas lantai marmer yang baru dipel itu dan laki-laki itu langsung sigap menangkap tubuhnya. Sesaat, Juliet merasa beruntung karena tak sampai mempermalukan diri di depan Romeo. Tapi merasakan lengan berotot laki-laki itu di pinggulnya adalah masalah besar.
    “Lepaskan!” perintahnya dengan suara gemetar. Menatap langsung mata cokelat Romeo mengisi daftar panjang kesalahannya sepanjang hati itu.
    “Tapi kamu nanti bakal jatuh.” Brengsek, dia tersenyum!
  7. Mouth to mouth (berciuman)
    Apa ini masih perlu dijelaskan? Semua yang berjiwa romantis tahu, berciuman dengan orang yang disayang akan menjadi kenangan terindah selamanya.... Contoh:
    Tora mencondongkan tubuhnya dan menekan bibirnya ke bibir Lidya. Tuhan, bibirnya lembut dan mengingatkannya pada es krim. Lembut dan adiktif. Dia menemukan sensasi dingin mint dari permen karet yang tadi dikunyah cewek itu. Pikiran warasnya hilang sesaat, terbius pengalaman baru yang ditemukannya bersama Nadia.
    “Apa kamu mikirin Gita saat nyium aku?” tanya Nadia setelah mereka menghentikan ciuman itu.
    Tora nggak menjawab. Dan, seperti bisa membaca pikirannya, Lidya menampar cowok itu.
  8. Hand to head (menyentuh kepala pasangan)
    Belaian lembut di kepala terbukti bisa membuat nyaman pasangan lho! Contoh:
    Dua belas tahun harusnya cukup untuk melupakan Andi.
    Tapi saat laki-laki itu membelai lembut kepalanya, menelusuri riak rambutnya, Rania tiba-tiba merasa masa-masa penghukuman diri itu tak ada gunanya. Laki-laki itu akan terus menghantuinya, tinggal di dalam dirinya seperti jiwa kedua.
    Menyadari itu, air mata Rania menetes.
    “Kasih aku satu kesempatan lagi, Ran,” pintanya dengan nada memelas.
    Rania menggeleng pelan. “Aku bisa saja memaafkanmu, Di. Tapi membayangkanmu mengecewakanku lagi kedua kalinya... jujur, Di, aku nggak kuat.”
  9. Hand to body (menjelajahi tubuh pasangan)
    Kalau kamu pintar memainkan kartumu, kamu bisa membuat adegan biasa jadi sesuatu yang romantis. Contoh:
    Denyut nadi Ardian semakin cepat. Pakaian basah mereka tak mampu menghentikan gejolak di antara keduanya. Ardian menatap Risa, dan perempuan itu membalasnya dengan senyum tipis di bibir gemetarnya.
    “Semuanya bakal baik-baik saja,” kata Ardian, mencoba berpikiran positif. “Begitu tim SAR menemukan bangkai pesawat itu, mereka akan melakukan pencarian intensif, menyisir daerah ini. Kita akan selamat.”
    Risa meletakkan kepalanya di dada laki-laki itu sembari mempererat dekapannya. “Aku lebih takut dengan pertanyaan yang akan kita hadapi begitu mereka menyelamatkan kita nanti.”
    Sebelum Ardian mengatakan sesuatu, Risa melanjutkan, “Kamu pikir mereka nggak bakal bertanya-tanya, sedang apa perempuan bersuami berduaan saja dengan laki-laki muda ke pulau terpencil?”

Pengertian Genre TEEN ROMANCE

TEEN ROMANCE 

link asli 

Teen Romance merupakan kategori novel romantis yang ceritanya ringan. Seperti halnya kisah cinta masa remaja kebanyakan. Berikut ini adalah kriteria Teen Romance:
  • Panjang naskah 70-150 halaman A4, spasi 1, Times News Roman 12
  • Kirimkan dalam bentuk print out (yang sudah dijilid rapi, tentunya), sertakan sinopsis lengkap novelmu, plus form pengiriman naskah ke:
REDAKSI GAGASMEDIA
Jl. Haji Montong No. 57, Ciganjur
Jagakarsa, Jakarta Selatan 12630
(KODE NASKAH: TEEN ROMANCE—tulis di amplop naskahmu)
  • Setiap naskah akan diproses langsung oleh redaksi. Waktu yang diperlukan 3-4 bulan, mengingat banyaknya naskah masuk setiap harinya. Harap maklum ya. 
  • Contoh novel Teen Romance:
  1. Ai (Winna Efendi)
  2. Refrain (Winna Efendi)
  3. Moonlight Waltz (Fenny Wong)
  • Jangan lupa untuk mengirimkan pula form pengiriman naskah yang bisa kamu download di sini!
PLOT
Mulailah novelmu dengan hal-hal ringan. Bisa jadi tokoh cewek dan tokoh cowokmu baru bertemu. Bisa jadi juga mereka berantem dan saling benci sebelum mengenal satu sama lain lebih jauh. Terserah.
Buat pembaca bersenang-senang dengan plot novelmu. Jangan terlalu terburu-buru membuat tokoh-tokoh utamamu jatuh cinta, biaskan mereka menikmati perasaannya. Buai pembaca dengan pertemuan-pertemuan yang megesankan, kencan pertama yang canggung tapi berakhir menyenangkan, ciuman malu-malu... biarkan pembaca terbawa jauh ke dalam cerita cinta buatanmu.
‘Jadian’ memang ending Teen Romance pada umumnya, tapi bukan berarti kamu nggak bisa bermain-main dengan pakem ini. Ciptakan sub plot yang bikin penasaran atau tokoh-tokoh lain yang mendukung/menghalangi cinta mereka. Jadi, biarpun sudah kebayang ceritanya bakal berakhir bahagia, buat pembacamu ketagihan untuk terus membaca sampai halaman terakhir.

KARAKTERDunia sekolah dan kuliah adalah fokus utama Teen Romance. Usia tokoh utama di novel ini biasanya berkisar antara 18-24 tahun. Sedangkan untuk tokoh pendukung, pilih yang mewakili dunia di sekitar tokoh utama. Bisa jadi kepala sekolah, mantan, tetangga, orangtua, teman-teman, atau malah musuh bebuyutannya.
Tokoh cowok di Teen Romance biasanya ganteng... tapi jangan buat dia jadi sempurna. Ciptakan karakter yang punya kelemahan, entah itu ketakutan pada hal tertentu, trauma, kebencian, dan dendam. Kekurangan membuat si tokoh terasa nyata.
Meskipun Teen Romance pada dasarnya adalah cerita cinta, pembaca ternyata lebih fokus pada bagaimana akhirnya si tokoh cewek mendapatkan cinta cowok idamannya. Jadi, pikirkan baik-baik tokoh utama cewek di novelmu. Lakukan riset kalau perlu.
Jangan terjebak di klise ‘cewek tomboy’ dan ‘cewek feminin’.
Tokoh cewek yang sempurna akan membuat pembaca sulit bersimpati karena cewek seperti ini biasanya dianggap mudah mendapatkan segalanya.
Dalam fiksi, baik tema maupun karakter memiliki fokus perhatian yang sama besarnya. Tapi, di Teen Romance, daya tarik sesungguhnya terletak di seberapa meyakinkannya tokohmu mewakili dunia remaja saat ini. Jadi, sebelum menulis, pastikan kamu sudah memiliki bayangan jelas tentang gaya hidup remaja, apa yang sedang mereka gandrungi, tontonan dan game favorit, hobi, dsb. Pelajari cara mereka bicara dan masalah yang sedang mereka hadapi.

LAIN-LAIN
Hati-hati dengan klise. Pacaran dengan anak band dan anak basket bukan hanya ‘biasa’ banget di Teen Romance, tapi juga kemungkinan sudah banyak dipakai penulis lain sebelumnya. Mulailah riset dan temukan ide-ide menarik untuk novelmu. Majalah remaja adalah salah satu sumber yang bagus untuk menggali ide.
Teen Romance biasanya ditulis dari sudut pandang orang pertama atau orang ketiga, tapi beberapa novel bagus malah menggunakan sudut pandang orang kedua. Pilihlah yang menurut kamu paling cocok dengan gaya berceritamu.
Adegan romantis di Teen Romance cenderung lembut dan manis. Hindari adegan-adegan vulgar yang nggak cocok dibaca anak sekolah.

Pengertian Genre DOMESTIC DRAMA

DOMESTIC DRAMA 

link asli 

Mengungkap kehidupan rumah tangga, terutama bagi yang baru mulai berumahtangga, memang memiliki keunikan tersendiri. Saat ini, tidak jarang penulis yang membuat novel dengan latar belakang keluarga. Kamu juga bisa menulis kehidupan seperti itu. Berikut adalah ketentuan pengiriman naskah yang masuk dalam kategori domestic drama ini.
  • Panjang naskah 70-150 halaman A4, spasi 1, Times News Roman 12
  • Kirimkan dalam bentuk print out (yang sudah dijilid rapi, tentunya), sertakan sinopsis lengkap novelmu, plus form pengiriman naskah ke:
REDAKSI GAGASMEDIA
Jl. Haji Montong No. 57, Ciganjur
Jagakarsa, Jakarta Selatan 12630
(KODE NASKAH: DOMESTIC DRAMA—tulis di amplop naskahmu)
  • Setiap naskah akan diproses langsung oleh redaksi. Waktu yang diperlukan 3-4 bulan, mengingat banyaknya naskah masuk setiap harinya. Harap maklum ya.
  • Contoh novel Domestic Drama:
  1. After the Honeymoon (Ollie)
  2. Alpha Wife (Ollie) 
  3. Dongeng Semusim (Sefryana Khairil)
  • Jangan lupa untuk mengirimkan pula form pengiriman naskah yang bisa kamu download di sini!
PLOT
Sesuai namanya, novel-novel Domestic Drama bercerita tentang pasang surut dalam kehidupan pernikahan. Masalah-masalah yang dialami tokoh utama (suami-istri) tak jauh-jauh dari kehidupan rumah tangga lainnya: uang, karier, anak, kehidupan bermertua, tetangga, pendidikan anak, dsb. Pilih konflik yang membumi dan tidak mengada-ada.
Sebaiknya mengambil latar belakang keluarga menengah ke atas. Konflik keluarga kelas atas biasanya berkutat di masalah skandal, which is bukan pilihan konflik yang sedang kita cari.
What happens in family, stays in family. Jangan biarkan konflik dalam novel Domestic Drama-mu diselesaikan/dibantu orang yang bukan keluarga. Lebih baik lagi, jika tokoh utamanya sendiri yang menyelesaikan masalah rumah tangganya—yang, tentu saja, dengan segala pergumulan dan kesadaran diri.
Konflik atau sub-konflik orang ketiga sebaiknya dihindari. Bukan saja klise, tapi outdated—alias kuno banget.
KARAKTER
Karakter-karakter pendukung Domestic Drama tak jauh-jauh dari lingkungan keluarga: anak, mertua, kakek, nenek, cucu, paman, bibi—bahkan mungkin, tetangga. Semua tokoh yang dilibatkan dalam Domestic Drama sebaiknya dipilih yang benar-benar membantu tokoh utama dalam menyelesaikan masalah pernikahannya.
Newlyweds (pengantin baru) adalah topik favorit Domestic Drama. Bukan saja karena di fase inilah banyak sekali kemungkinan konflik yang bisa terjadi, tapi juga fakta bahwa pembaca romans GagasMedia yang mayoritas dewasa muda bisa dengan gampang ‘terlibat’ ke isi cerita. After the Honeymoon (Ollie) adalah contoh baik novel Domestic Drama bertema newlyweds.
LAIN-LAINButuh inspirasi? Tonton serial-serial TV seperti Home and Away, Neighbours, Growing Pains, Family Ties, Six Feet Unders, dan Brothers and Sisters untuk mencari inspirasi.
Sepanas apa sih baiknya adegan seksi di Domestic Romance?
Untuk mempermudah bayangan level sensualitas di novel romance, GagasMedia memakai teori 12 Steps to Intimacy-nya Desmond Morris sebagai panduan. Fokus pembaca Domestic Drama bukan di adegan seks, Dahling. Ingat, untuk Domestic Drama ini, tingkat keintiman yang digunakan hanya sampai nomor 7.
  1. Eye to body (deskripsi kekaguman saat pertama kali melihat pasangan)
    Dari mata turun ke hati—begitulah cara paling simpel untuk menjelaskan level terendah dari sensualitas Desmond Morris ini. Contoh:
    “Daniel?” panggilnya lembut.
    Tapi laki-laki itu tak kunjung menoleh. Bahkan ketika Nadia berjalan pelan ke sofa empuk, tak jauh dari tempat laki-laki itu berdiri. Sosok tinggi dan atletis itu tetap di sana, bergeming seperti patung Yunani, dan membisu seperti batu. Sesuatu dari dalam diri Daniel membuat Nadia mendadak canggung. Dia lalu berdehem, sambil berusaha menawarkan perasaannya yang berdebar-debar.
    “Daniel?” Dia memanggilnya lagi.
  2. Eye to eye (saling bertatap mata)
    Momen indah saat kedua orang yang jatuh cinta itu saling menatap.
    “Aku senang kamu ada di sini,” kata Devon sungguh-sungguh. Sesaat, mata mereka bertemu di udara. Waktu berhenti untuk mereka berdua. Contoh:
    “Aku juga,” aku Aria, tak berani berkedip barang sedetik pun. Dia tak ingin melewatkan saat-saat indah ini... sebelum Daniel meninggalkan Indonesia.
  3. Voice to voice (percakapan romantis dengan pasangan)
    Obrolan romantis, dari hati ke hati, adalah favorit sebagian besar pembaca romance. Bahkan, beberapa mengenangnya sebagai quote yang tak terlupakan. Contoh:
    Alvin menarik napas panjang sebelum berkata, “Aku mencintaimu.”
    Sebelum Dewi bereaksi atas ucapannya barusan, laki-laki itu buru-buru menempelkan telunjuknya di bibir perempuan itu. Setelah jeda beberapa saat, Alvin baru melanjutkan, “Aku tak bisa menjamin akulah yang kau inginkan. Tapi aku berjanji menjadi laki-laki yang kau butuhkan.
    Dewi tak mampu berkata-kata. Matanya berkaca-kaca.
  4. Hand to hand (berpegangan tangan dengan pasangan)
    Sentuhan skin-to-skin (kulit bertemu kulit) dimulai sejak tahap ini. Dan cukup banyak juga cerita romantis dimulai dengan jabatan tangan. Contoh:
    Untuk pertama kalinya, sejak sisa siang itu, Kania merasa tenang. Dia membiarkan Hadi memanjakannya di tempat tidur; memperbaiki letak bantal sehingga dia bisa menyandarkan tubuh dengan nyaman, membuatkan segelas teh melati. Setelah meletakkan cangkir berisi cairan hangat itu di bawah lampu meja, Hadi menggenggam tangannya dengan lembut. Jari-jari panjang laki-laki itu merangkul jari-jarinya seolah menjanjikan perlindungan—sesuatu yang bisa dia percayakan pada Hadi.
    “Jangan mikir yang berat-berat dulu,” katanya, membelai punggung tangan Kania dan mengalirkan gejolak aneh di dalam dirinya. “Aku pengen kamu istirahat sepuasnya, biar pusingnya cepat sembuh.”
  5. Arm to shoulder (menyentuh bahu pasangan)
    Gestur romantis skin-to-skin masih berlanjut di tahap ini. Contoh:
    Christopher menyentuh bahu Rachel dan gelenyar panas dengan cepat menjalari lengan sampai ke kuku-kuku tangannya. Padahal katanya kuku jari tak bisa merasakan apa-apa.
    Rachel menggumam dalam hati, hanya karena Christopher tunangan kakaknya, bukan berarti dia kebal terhadap pesona laki-laki itu.
    “Sudah malam,” ujarnya lembut.
  6. Arm to waist (meletakkan tangan di pinggang)
    Bayangkan adegan dansa, pelukan mesra dari belakang, atau momen ‘kecelakaan’ yang membawa pembaca ke suasana intens antar tokoh utama. Contoh:
    Sejurus kemudian, Juliet menyesali kekeraskepalaannya. Menepis uluran tangan Romeo justru membuatnya terjerumus ke masalah yang lebih besar. Dia tergelincir di atas lantai marmer yang baru dipel itu dan laki-laki itu langsung sigap menangkap tubuhnya. Sesaat, Juliet merasa beruntung karena tak sampai mempermalukan diri di depan Romeo. Tapi merasakan lengan berotot laki-laki itu di pinggulnya adalah masalah besar.
    “Lepaskan!” perintahnya dengan suara gemetar. Menatap langsung mata cokelat Romeo mengisi daftar panjang kesalahannya sepanjang hati itu.
    “Tapi kamu nanti bakal jatuh.” Brengsek, dia tersenyum!
  7. Mouth to mouth (berciuman)
    Apa ini masih perlu dijelaskan? Semua yang berjiwa romantis tahu, berciuman dengan orang yang disayang akan menjadi kenangan terindah selamanya.... Contoh:
    Tora mencondongkan tubuhnya dan menekan bibirnya ke bibir Lidya. Tuhan, bibirnya lembut dan mengingatkannya pada es krim. Lembut dan adiktif. Dia menemukan sensasi dingin mint dari permen karet yang tadi dikunyah cewek itu. Pikiran warasnya hilang sesaat, terbius pengalaman baru yang ditemukannya bersama Nadia.
    “Apa kamu mikirin Gita saat nyium aku?” tanya Nadia setelah mereka menghentikan ciuman itu.
    Tora nggak menjawab. Dan, seperti bisa membaca pikirannya, Lidya menampar cowok itu.