Thursday, 17 May 2012

True Story : Lungsuran Sepatu

Lungsuran Sepatu
By : Nyi Penengah Dewanti


    Aku memejamkan mataku, dan tahun-tahun itu mulai bergerak merasuki ingatanku. Perlahan, berputar, berkunjung ke masa lalu. Layaknya jarum jam berputar ke arah berlawanan. Kadang adakalanya aku ber harap semua kesedihan yang terjadi di sana ditiadakan. Tapi sebagian perasaanku berkata, kalau aku melakukannya, hal-hal yang membahagiakan juga ikut sirna. Semakin bertambahnya usiaku, aku semakin menyadari setiap petak kenangan yang terjadi memiliki arti tersendiri, membawakan bekal di masa datang, aku mulai banyak bersyukur atas sebab akibat pusaran waktu yang pernah kugayuh.

    Bila lebaran tiba, anak-anak kakek buyutku yang tinggal di kota berdatangan sowan ke kampung. Mereka selalu membawa ritual berbox-box lungsuran. Ada baju, sepatu, mainan, dan amplop berisikan uang ribuan. Semua mendapatkan jatah rata, aku paling senang mendapatkan sepatu. Sejak TK, ibu membiasakan aku untuk hidup sederhana. Tidak membeli barang yang sudah tersedia. Yang layak pakai untuk beberapa tahun mendatang. Seperti lungsuran sepatu itu. Aku harus menanti pintalan tahun berganti jika tak ada lungsuran sepatu yang dibagi.

    Aku harus merelakan ujung sepatuku menganga, menghirup udara dunia. Jika musim hujan tiba. Kaki dan sepatuku bekerjasama dengan baik, lekas memburu waktu agar tangis langit tak menjatuhkan derainya pada lubang-lubang yang menyembul pada kulit luar dan dalam sepatuku. Dan kalau sudah kepalang basah, terjebak di tengah derasnya, kecipak riak air itu akan merembes masuk hingga kaos kakiku. Dingin. Sesampainya di rumah setelah kulepas kaos kakiku, telapak kakiku mengembang, membuat pori-pori kulit kakikku seperti parit.

    Hal yang paling membuatku malu adalah ketika guru menyuruhku maju ke depan. Mengerjakan soal lalu semua mata memandang ke arahku. Dari ujung kaki hingga rambut mengawasi penampilanku. Tapi aku selalu ingat kata-kata ibu, “Sekolah bukan untuk pamer barang mewah, sekolah untuk menelaah ilmu yang belum kita tahu. Kenapa harus malu Nak? Buat teman yang mengejekmu bungkam dengan prestasimu.”

    Dan kata-kata ibu selalu menjadi mantra bagiku, ketika aku nyaris hilang percaya diri. Aku menghajar mereka dengan nilai, bukan dengan umpatan balik atau caci maki. Lungsuran sepatu masih menjadi tradisi di keluarga kami hingga kini. (*)

17/5/2012/6:43pm
Valais – Sheung Shui– Hongkong



   

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir ke blog sederhana saya, salam hangat