Friday, 13 January 2012

Tips Menulis Novel ala Tere Liye


Darwis Tere Liye, siapa yang nggak kenal novelis satu ini? Kiprahnya di dunia menulis patut diacungi jempol. Betapa tidak, ia telah menggarap banyak judul novel, di antaranya: Semoga Bunda Disayang Allah (2007), Hafalan Sholat Delisa (2007), Bidadari-bidadari Surga (2008), Rembulan Tenggelam di Wajahmu (2009) dan Pukat (2010).

Novel “Hafalan Sholat Delisa” mengangkat kisah keluarga Delisa yang selamat dari bencana tsunami Aceh. Karyanya itu kini telah difilmkan dan diputar serentak di bioskop-bioskop Indonesia pada 22 Desember 2011 lalu.

Dalam rangka peluncuran dan diskusi novel “Marwah di Ujung Bara” karya Rh. Fitriadi di gedung AAC Dayan Dawood, Unsyiah, Minggu (8/1/2012) pagi, Tere Liye berkesempatan hadir menjadi salah seorang pemateri dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh itu.
Pria berdarah Palembang tersebut juga menjadi pemateri tunggal dalam workshop menulis yang digelar setelah acara launching dan diskusi novel “Marwah di ujung Bara”. Dalam workshop tersebut, ia menjelaskan beberapa poin penting dalam menulis sebuah novel, sebagaimana yang dirangkum dalam ringkasan di bawah ini:

Ide cerita
Ide cerita merupakan salah satu poin penting dalam penulisan novel, namun ide yang baik selalu lahir dari sudut pandang yang spesial. “Ide itu tidak ada yang jelek. Pada dasarnya ide itu sama, hanya saja yang membuat ia menjadi spesial ketika penulis melihat dari sudut pandang yang spesial,” ujarnya.


Amunisi
Seorang penulis, khususnya penulis novel haruslah memiliki amunisi yang cukup untuk menyelesaikan “proyek” novel yang telah digarap. Amunisi yang dimaksud Tere adalah kapasitas pengetahuan sang penulis. Lantas bagaimana cara meningkatkan kapasitas pengetahuan? “Ya membaca dong, tidak hanya di buku-buku, sekarang kan sudah ada internet, berita televisi, radio, dan sebagainya. Maksimalkan dari situ,” tuturnya.
Tidak ada tulisan yang baik, tidak ada tulisan yang buruk
“Sebutkan satu judul karya yang buruk dan sebutkan satu judul karya yang baik beserta alasannya!” instruksi Tere kepada peserta. Tere menjelaskan tentang status tulisan, pada dasarnya tidak ada yang sangat baik dan tidak ada tulisan yang sangat buruk. Bagus tidaknya tulisan menurutnya adalah relatif, tidak ada karya yang terlepas dari kritik pedas.
Oleh sebab itu, jangan pernah malu dan takut untuk memublikasikan karyamu, karena penulis yang baik adalah penulis yang mau menerima kritikan dan memperbaiki setiap kesalahan.

Mulailah dari tulisan kecil
Tere menyarankan kepada setiap penulis pemula untuk “awaliah” (pembuka tulisan, -red) sebuah tulisan, “Mulailah dari tulisan kecil, pendek tapi bertenaga, sederhana tapi bermanfaat,” ungkapnya.
Banyak penulis yang mengeluh dalam memulai menulis. Tere berpendapat, tidak penting dimulai dari mana, cukup ditulis saja. ”Jika susah menulis paragraf pertama, mulai saja dengan paragraf kedua. Paragraf pertama dikosongkan saja,” candanya.

Mood jelek adalah anugerah
Adalah hal yang lumrah, ketika seorang penulis dihinggapi oleh mood (perasaan, -red) jelek atau tidak mood. Namun mood yang terus-terusan jelek adalah sebuah masalah. “Mood jelek adalah anugerah, namun ketika mood terus-terusan jelek adalah masalah,” ungkapnya. Cara untuk menghadapi mood yang jelek adalah terus berlatih.”Tidak ada solusi selain berlatih, berlatih, dan berlatih,” tutur Tere.
Berlatih yang dimaksud adalah dengan tidak berhenti untuk menulis. Tere menyarankan kepada setiap penulis untuk menulis 1.000 kata per hari. Hal tersebut dimaksudkan untuk membuat seorang penulis terbiasa dan “efek samping” dari kegiatan itu adalah menurunnya kadar mood jelek yang biasa terjadi.

Pantang menyerah
Setelah penulis selesai mengerjakan sebuah novel, kini saatnya ia mengirimkan karya tersebut kepada penerbit. “Setelah diselesaikan, langsung dikirim ke penerbit.” Ia menyarankan untuk mengirimkan karya ke penerbit ternama di tanah air, seperti Gramedia Pustaka Utama, Mizan, Republika, dan sebagainya. Setelah karya dikirim, secepatnya dua minggu, penerbit yang dituju menjawab. Jangan menyerah ketika penerbit tidak bersedia menerbitkan karyamu. “Hafalan Sholat Delisa sendiri sempat ditolak oleh dua penerbit besar Indonesia, namun teruslah mencoba. Sampai ketika novel tersebut diterbitkan oleh Republika, penerbit yang tadi menolak karya saya meminta untuk mengirimkan karya saya,” ujarnya lagi.

bahwa Kesimpulannya, apapun motivasi menulismu, yang terbaik adalah penulis yang menganggap menulis itu teman sejatinya yang selalu menemani saat kesepian, kerinduan, dan segala asa dan rasa.

sumber :klik

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir ke blog sederhana saya, salam hangat