Tuesday, 10 January 2012

Belajar : Fakta dalam Fantasi

Kalau ada yang bertanya kepada kita, sebenarnya buku fantasi itu apa sih, benak kita mungkin akan langsung menyusun jawaban yang terdiri atas kata-kata seperti: mustahil benar-benar terjadi, hasil khayalan tingkat tinggi, dunia lain di luar dunia "nyata", dan sebagainya. Tapi justru keyakinan bahwa elemen-elemen magis dalam karya fantasi sangat berkaitan erat dengan realitalah yang membuat saya menulis skripsi saya (Analisis Wacana pada Sastra Anak: Ideologi J.K. Rowling dalam Dunia Sihir Harry Potter, 2001).

Walau sudah terbit sejak tahun 1997 di negeri asalnya, saya pertama kali mengenal Harry Potter pada tahun 2000. Setelah sekian lama tidak membaca sesuatu yang bisa membuat saya begitu bersemangat mengikuti cerita sampai akhir, J.K. Rowling menjawab kerinduan itu dengan Harry Potter dan Batu Bertuah, yang tak lama kemudian disusul Harry Potter dan Kamar Rahasia. Saking tersentuhnya, saya memutuskan menjadikan dua buku itu bahan penelitian.

Berhubung saya mengambil jurusan Komunikasi Massa, maka saya memperlakukan buku Harry Potter sebagai media massa. Dan kalau menurut Denis McQuail dalam Mass Communication Theory: an Introduction, media massa memiliki peran perantara (mediating) antara realita sosial yang objektif dengan pengalaman pribadi. Saya meneliti isi buku karya JK Rowling ini pun atas dasar keyakinan bahwa isi media merupakan dokumen sosial yang bisa menjadi bukti keadaan masyarakat dan kebudayaan di mana media tersebut dibuat, para produsen dan tujuan mereka, termasuk audiens yang dituju dan minat mereka.

Saya pun setuju dengan Charles W. Wright dalam Sosiologi Komunikasi Massa, yang mengatakan bahwa isi pesan media massa menarik untuk diteliti karena walau sehari-hari diterpa arus komunikasi, kita jarang termotivasi untuk menganalisis aspek-aspek berharga dari isi pesan secara sosiologis.

Ketika menyaksikan televisi untuk hiburan pribadi kita sendiri, misalnya, sebenarnya kita bisa mendapatkan berbagai informasi tentang representasi masyarakat. Kita tentu saja cenderung tidak akan terlalu memerhatikan atau menganalisis kelas sosial atau karakteristik pekerjaan dari para pahlawan, penjahat, di layar televisi. Padahal analisis ini dapat memberi kita perspektif yang diperlukan dan data penting yang akurat dan bersifat sosiologis.

Mendukung alasan Wright, Dennis McQuail juga berkata isi (content) media itu sebenarnya kumpulan data yang paling berisi dan mudah diakses yang bisa memberikan banyak petunjuk tentang masyarakat, dan kemudahan akses ini melewati batas waktu dan bahkan terkadang melewati batas negara. Isi media juga muncul dalam bentuk-bentuk yang kelihatan lebih konstan sejalan dengan waktu dibandingkan fenomena budaya lain. Karena alasan ini isi media dihargai ahli sejarah, sosiolog, dan antropolog.

Fakta dalam Fantasi
Teori dan metode di atas dapat diaplikasikan pada semua tipe isi (content), termasuk pada hiburan dan fiksi. Dalam fiksi, pengeks-presian dan komunikasi dapat dilakukan dengan baik melalui usaha meniru kejadian nyata, mengajukan kasus khusus, atau dengan menyediakan kekontrasan dari yang dianggap normal. Fiksi dapat menggunakan penemuan dan fantasi untuk berkomentar terhadap kenyataan melalui representasi.

Sejak lama tradisi buku fantasi pun sering dikaitkan dengan representasi. Sebenarnya genre ini mulai berkembang sejak abad ke-19 ketika The Water Babies (1863) karya Charles Kingsley dan Alice's Adventures in Wonderland (1865) karya Lewis Carroll diterbitkan. Keduanya menyajikan dunia alternatif yang ditemukan secara tidak sengaja, kalau Tom dalam The Water Babies karena tercebur ke sungai, sedangkan Alice terperosok ke dalam lubang. Keduanya membuat tonggak kuat dalam genre fantasi dan menuai berbagai analisis/tulisan ilmiah.

Salah satu analisis yang ingin saya kutip adalah dari Leeson: "Fantasi membantu Alice menantang otoritas keluarga dengan menyajikan hewan, kartu-kartu hidup, bidak-bidak catur untuk mengambil posisi orang dewasa (1985)."

Dalam hal hubungan fantasi dan representasi ini ada juga pendapat Humphrey Carpenter: "...Sisi lain dari menulis untuk anak... adalah representasi, dan dideskripsikan secara umum sebagai 'fantasi'". Walaupun tidak secara terbuka bersifat realistis dan dianggap tidak punya hubungan apa-apa dengan dunia 'nyata', dalam usaha menulis karya-karya fantasi ini ditemukan beberapa observasi mendalam tentang karakter manusia dan masyarakat masa kini dan (sering kali) tentang agama." (1985)

Saya jadi teringat pada karakter masyarakat Inggris yang sering diasosiasikan dengan kelas sosial. Pertentangan kelas cenderung tampak sebagai bumbu atau bahkan isu utama dalam menyajikan fiksi karya-karya penulisnya. David Cannadine, Class in Britain, Penguin Books 2000, bilang begini: adalah diketahui secara luas, baik di Inggris sendiri maupun di luar negeri, bahwa orang Inggris sangat terobsesi dengan kelas dengan cara yang sama negara-negara lain terobsesi pada makanan, ras, seks, narkoba, atau alkohol. Biasanya kisah fiksi menampilkan kaum kelas bawah sebagai pahlawan yang meraih kemenangan sedangkan kelas atas sebagai penjahat dengan segala kesialannya, bahkan pada buku anak-anak.

Perhatian khusus pun saya berikan ketika membaca kembali buku-buku Harry Potter. Apakah ideologi pertentangan kelas juga ada di dalam karangan J.K. Rowling itu?

Dari sana, saya langsung melihat kontras yang jelas sekali pada tokoh-tokoh dalam buku Harry Potter. Harry digambarkan sebagai anak yatim-piatu, miskin (walau kemudian dia tahu dia punya simpanan yang lumayan di Bank Sihir Gringotts), dan merana hidup bersama keluarga Dursley. Sementara itu ada tokoh Draco Malfoy, musuhnya, yang berasal dari keluarga sihir tua yang terkenal berabad-abad, kaya, punya puri dan segala macam materi yang tidak dimiliki Harry Potter.

Kalau boleh berinterpretasi, Harry Potter seperti perwakilan kelas menengah yang harus berjuang dalam kehidupan sehari-harinya, sementara Draco Malfoy adalah representasi kelas atas/aristokrat yang selama hidupnya penuh dengan privileges, hak-hak istimewa karena keturunan, karena punya "darah murni".

Teman-teman Harry di Griffindor punya ciri-ciri yang serupa dengan sang tokoh utama. Keluarga Weasley misalnya, dari berbagai ciri yang ditebarkan di mana-mana di dalam buku, tergambar jelas mereka adalah keluarga sederhana, serba pas-pasan, segala perlengkapan Ron selalu bekas kakak-kakaknya, mulai dari jubah, tongkat, dan buku. Hal ini kembali kontras dengan Malfoy yang begitu mudahnya mendapat sapu terbang baru hanya dengan meminta pada sang ayah.

Segala deskripsi sifat baik yang ditempelkan kepada kelas pekerja dan menengah (Harry Potter dan teman-temannya), tidak berhenti pada masalah ekonomi, bahkan hingga deskripsi fisik. Keluarga Weasley digambarkan berambut merah, wajah berbintik-bintik yang mencerminkan kehangatan. Sedangkan keluarga Malfoy digambarkan punya image dingin: wajah runcing pucat, mata berwarna abu-abu dingin, dan rambut pirang pucat.

Semua sifat buruk ada pada keluarga Malfoy, mulai dari sombong, selalu mau menang sendiri, egois, kejam terhadap budak (dilihat dari kasus Dobby si Peri Rumah pada buku HP2), sampai rasis (kebenciannya pada penyihir yang berdarah muggle) diungkapkan dengan jelas dalam setiap buku.

Sebenarnya segala keburukan yang dialami kelas atas ini bisa kita temui juga pada The Great Ghost Rescue dan Not Just A Witch-nya Eva Ibbotson, sang tokoh utama adalah anak miskin dan tokoh antagonis biasanya berasal dari kalangan orang kaya. Dalam buku pun berbagai komentar sarkastis terhadap gaya hidup orang kaya kerap dilontarkan Ibbotson melalui narasi. Tokoh jahat dalam di Great Ghost Rescue misalnya adalah seorang lord kaya berhati dingin yang berniat memusnahkan semua hantu di Inggris. Digambarkan Lord Bullhaven ini seorang konservatif, orang yang tidak menyukai semua yang berbeda, tidak bisa menerima apa pun yang agak aneh atau tidak biasa. Sedikit mengingatkan Anda pada keluarga Dursley, kan?

Sebagai kesimpulan, saya melihat ada ideologi nyata yang dibawa JK Rowling dalam buku-buku fantasi karyanya. Selain menempatkan dirinya sebagai anggota kelas menengah/bawah, dia juga menempatkan pembaca pada posisi yang sama, dan bersama-sama kita diajak "memerangi" dominasi kelas atas dan mewujudkan a classless society.

Dunia yang Bersentuhan
Apakah itu menciptakan dunia sendiri, seperti di The Chronicles of Narnia, Lord of the Rings, atau Eragon, atau menggabungkan dunia fantasi dengan dunia nyata masa kini, seperti Harry Potter dan Artemis Fowl karya Eowin Colfer, keduanya punya daya tarik sendiri.

Menariknya, bila kedua dunia digambarkan berdiri secara pararel, selalu diceritakan ada "gerbang/perisai" yang bisa membawa kita ke sana. Dalam Narnia, Lucy masuk ke lemari yang ternyata menghubungkan dunianya dengan tanah Narnia. Seorang teman bercerita, ini sempat membuatnya rajin membuka lemari karena berharap di belakang lemari dia juga ada dunia lain. Dalam Harry Potter ada dinding batu di belakang Bar Leaky Quadron yang bila diketuk dengan cara rahasia, akan terbuka dan menampilkan dunia sihir. Dalam Artemis Fowl, si tokoh utama mendapati bahwa sebenarnya di bawah tanah dunia kita ada dunia peri, namun ada perisai khusus yang membuat kita tidak bisa melihatnya.

Tapi di negeri mana pun kejadiannya, bagaimanapun bentuk dunianya, seaneh apa pun makhluk-makhluknya, kisah fantasi rasanya tetap tidak akan terpisahkan dari dunia nyata karena masalah-masalah yang diangkat menjadi konflik sebenarnya sama. Perang antara baik-jahat, cinta, kesombongan, keserakahan, dan sebagainya.

Daya Tarik Kisah Fantasi
Kesukaan saya terhadap cerita fantasi sebenarnya berasal dari rasa kagum. Kok bisa ya Pak Tolkien dan Pak CS Lewis begitu detailnya menciptakan dunia baru dengan makhluk-makhluk luar biasanya? Bagaimana Rowling bisa menyatukan sistem pemerintahan dunia kita dengan dunia sihir, lengkap dengan segala peraturan yang sering membuat Harry dan kawan-kawan sebal? Bagaimana Eowin Colfer bisa menggambarkan pasukan peri seperti pasukan SWAT-nya film-film Amerika?

Deskripsi mereka begitu mendetail sehingga kita bisa membayangkan dunia itu, bahkan seolah bisa benar-benar masuk ke dalamnya. Konflik-konflik yang mereka ciptakan pun begitu masuk akal, tidak mengada-ada. Misalnya kita bisa paham kenapa masalah kecil bisa jadi persiteruan besar antara elf dan dwarf dalam Lord of the Rings. Atau kenapa sebagian besar dwarf memihak Penyihir Putih dalam Narnia.

Lalu tentunya karena seru! Masalah klasik persiteruan antara baik dan jahat yang "biasa", yang mungkin bila dimasukkan ke cerita nyata akan terasa kejam, entah bagaimana lebih indah dan menarik jika direpresentasikan menjadi peperangan antara mahluk-makhluk penghuni dunia fantasi yang ajaib.

CV singkat:
Editor fiksi di Gramedia Pustaka Utama (GPU), biasa mengedit buku anak-anak dan remaja. Saat ini juga menjadi redaktur Gramedia Junior, buletin informasi buku-buku baru anak dan remaja terbitan GPU.
Buku yang pernah diedit antara lain: 101 Dating: Jo dan Kas karangan Asma Nadia, Let's Go Fatimah! karya Sri Izzati, Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela, berbagai judul TeenLit, serial Darren Shan, dsb. Saat ini sedang mengedit Kumcer Jempolankarya Sri Izzati.
Buku yang pernah diterjemahkan: karya Eva Ibbotson: The Great Ghost Rescue, Not Just a Witch, Haunting Hiram, beberapa TeenLit, dsb. Saat ini sedang menerjemahkan The Chronicles of Narnia bersama rekan.

Indah S. Pratidina

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir ke blog sederhana saya, salam hangat