Wednesday, 4 January 2012

Belajar Editing Cerpen

Berikut ini contoh cerpen yang telah diedit, silakan diperhatikan baik-baik di mana letak kesalahannya (ditulis tebal) dan catatan perbaikannya (dalam kurung yang dicetak tebal dimiringkan). Semoga bisa jadi bahan perbandingan ketika mengedit cerpen sendiri.
----------------------------------------------

My Soul In Seoul
         Oleh Joni Lis Efendi WR di WRITING REVOLUTION            

Matahari bersinar meredup terhalang gumpalan awan. Tak biasanya begitu, ketika jarum jamku menunjukan angka enam lewat lima menit. Aku berlari dan terus berlari, rasanya lorong-lorong ini terasa semakin jauh dari biasanya ditambah kedua kakiku terhalang rok abu-abu ini. “Semoga gak hilang! Semoga masih ada!” kalimat itu terlontar dari mulutku, aku biarkan itu menjadi sinyal positif untuk pikiranku. Suhu pagi ini berada di titik lebih rendah tetapi peluhku berlomba terjun dari kening ketika aku berusaha memasuki kelas yang tak seorangpun di sana, kurasa. Karena pandanganku tertuju pada satu sudut “Mejaku!” aku semakin mempercepat langkah lalu kulihat ruang dalam mejaku, syukurlah! Kamus bahasa koreaku masih berada disana dengan tenang tanpa lecet sedikitpun, masih bersih. Tapi dimana majalahku? Majalah yang berisi artis-artis kesayanganku dari negeri gingseng. “Oh Tuhan! majalahku hilang!” tak sadar suaraku merambat keseluruh ruang kelas.                         
“Kenapa Han? Dateng pagi teriak-teriak?” seorang gadis manis berambut panjang menepuk pundakku, seketika jantungku berpacu cepat. Kukira makhluk halus dan kawan-kawannya ternyata Lita temanku. Kugeser kepalaku dan terlihat badan gempal Zuki tepat di sampingnya.  “Majalahku hilang! Edisi special yang aku tunggu-tunggu” suaraku setengah meninggi dan tak jelas. Kulihat wajah kedua temanku terpaku membisu, entah mereka kaget atau tak mengerti. Tidak peduli dengan ekspresi  mereka aku memeriksa kolong-kolong kumpulan meja di kelas. Tidak ada! Tapi aku yakin majalah itu tidak pulang bersamaku. Kemana? Kemana lembaran-lembaran tentang idolaku?                                                   “Han majalahnye di kolong?” Zuki mulai mengeluarkan sedikit suaranya.                                            “Iya!” suaraku lantang menjawab Karena aku yakin kutinggal disana dan berharap temanku ini tahu dimana keberadaannya.                                                                                                                       “Depannye ada gambar cowok-cowok, matanye sipit, kertasnye licin?”                                                 “Iya!!” kali ini aku benar-benar yakin Zuki tahu sesuatu karena ciri-ciri itu mengarah pada cover majalah yang tercetak foto Super Junior, boys band korea idolaku.                                                                   “Ehm… ntu..nntu.. gue kira udah kagak kepake. Ja..di.. jadi gue pake buat bungkus nasi”         “Apaaaaaa!!!!” serontak suaraku menjadi sopran, mengagetkan seisi kelas. Seperti suara guntur yang tiba-tiba menjalar ke telingaku pada waktu yang sama dan rintikan hujan tak sanggup tertahan gumpalan awan di luar sana. Sepertinya alam merasakan apa yang kurasa.
[beberapa paragraf di atas sebaiknya dihapus, karena tidak relevan dengan tema cerita dan tidak fokus pada inti cerita]
            Tak habis pikir aku dibuatnya. Tak ada ekspresi lain yang menggambarkan kekesalanku selain tatapan dingin dan suara yang seketika membisu dari mulutku ketika Zuki meminta maaf berulang kali hingga bel pelajaran pertama berbunyi nyaring dan membuat hentakan kaki-kaki berlarian di luar kelas. [kalimat di atas kepanjangan dan harus dibagi jadi beberapa kalimat, idealnya panjang 1 kalimat 10-12 kata] Pelajaran kewarganegaraan, itu pelajaran yang akan mengawali hariku yang kelam. Rasanya tak bersemangat! Pikiranku terisi penuh dengan ingatan tentang majalah yang baru dua hari kubeli itu. Aku memang fanatik dengan semua hal tentang korea selatan, [Korea Selatan, nama negara atau bangsa huruf kapital] mungkin sejak kelas lima SD. Tak tahu kenapa aku suka musik, film, drama, komik, budaya dan selalu ingin mencicipi makanan mereka. Kebahagianku menikmati dan mengaguminya. Yang kutahu pasti, setiap hari aku dicekoki drama serial korea yang ditayangkan salah satu stasiun televisi oleh kakakku. Parahnya dari satu stasiun TV itu menulari stasiunTV lain untuk menayangkan hal yang sama. Hasilnya, tanpa sadar aku terhipnotis jalan ceritanya yang menarik dengan para aktor rupawan yang tidak berlebihan memerankannya dan aku tidak mau melakukan apapun sebelum melihat tayangan itu.
            Sibuk dengan semua pikiran tadi, pandangan serta pendengaranku tak terfokus pada pelajaran dan itu terlihat jelas. Sebuah penghapus papan tulis tiba-tiba bergerak berputar dengan kecepatan 0,04 m/s membentuk gerak parabola dan mendarat tepat di mejaku. Efeknya seperti bom atom yang meluluh ratakan Hiroshima Nagasaki, begitu juga efek yang kuterima sukses meluluh ratakan lamunanku.      
“Hani! Kenapa kamu tidak fokus!” tiba-tiba suara bass pak [Pak] Tito meneriakiku yang masih kosong.   “Emmm…” aku tak tahu mau menjawab apa. Hanya bibir bawahku yang bisa aku gigit.                
“Apa yang kamu ketahui tentang PBB?” Pak Tito menembakan pertanyaan tanpa menungu jawabanku sebelumnya.
[pengaturan paragraf selanjutnya lihat paragraf di atas, dijorokkan ke dalam atau cukup tekan tombol TAB di kiri atas keyboard]
[Tab] “Ban Ki Moon pak! [dalam kata sapaan keluarga langsung (yang terlibat secara langsung sebagai tokoh cerita) ditulis huruf besar baik dalam dialog maupun narasi/deskripsi seperti Emak, Ibu, Bunda, Simbok, Mama, Abah, Ayah, Papa, Papi, Bapak, Adik, Abang, Kakak, Paman, Om, Tante, Nak, Nenek, Kakek, Mbak, Mbah, dll. Kalau diikuti dengan nama, juga huruf besar seperti Ibu Ani, Bang Poltak, Kak Rini, dll.] Salah satu yang pernah jadi sekjen PBB”  huft.. beruntungnya aku ada bangsa korea selatan yang pernah berhubungan dengan PBB, pikirku.                   
 [Tab] “Dimana markas besar PBB?” Pak Tito menyerangku lagi secara membabi buta dengan pertanyaannya. Gawat! Dimana ya? Kali ini aku lupa sama sekali, rasanya ingin kukibarkan bendera putih. Tapi kuurungkan niat setelah melihat tatapan sinisnya. [paragraf baru] “Mati atau menjawab?” sepertinya itu yang ditangkap imajinasiku. Oh tidak!! Aku masih muda untuk mati dan belum sempat bertemu Choi Shi Won salah satu personil super junior sebagai penggemarnya, baiklah cukup berlebihan memang tapi tak apalah aku rela menanggung malu.                                                                                                                                           [Tab] “ ehmm.. mungkin di seoul, korsel pak!”                                                                                                    [Tab]Tiba-tiba seluruh penghuni kelas tertawa dengan kompaknya seperti ada konduktor yang mengomandoi mereka semua.                                                                                                                                    [Tab] “Sejak kapan disana? Kamu yang mindahin? Makanya Nak jangan melamun perhatikan ke depan!” Pak Tito membalikan badannya mengisi dua jam kejayaannya tanpa ada pemberontak setelah menang telak dengan semua soalnya.
             Setelah semua organisasi ini aku paksa berimpitan dengan semua hal tentang korea dan majalahku yang berdesakkan di dalam otak. Seorang wanita paruh baya memasuki kelas yang terasa begitu dingin. Wajahnya tak asing lagi, ia seorang yang kukenal, motivator semangat angkatanku, pemberi solusi dan tempat mencurahkan tanda tanya kami. Kali ini guru BK-ku mengeluarkan beberapa kertas tanpa noda ke setiap meja. Dalam satu jam pelajaran yang singkat itu aku harus menggoreskan tintaku, memberitahu apa cita-cita, keinginan dan tujuanku di masa depan. Pertanyaan yang cukup sederhana tapi tanganku mendadak berat dan otakku membeku seketika. Aku bingung huruf-huruf apa yang akan aku torehkan. Kulihat teman-temanku sudah mulai sibuk dengan tulisannya. semua [awal kalimat huruf besar] temanku aku yakin sudah tahu pasti cita-cita mereka, bahkan sudah mempersiapkan diri. Kebanyakan dari mereka ingin masuk perguruan tinggi negeri dan kerja dengan gaji bagus. Di sebelahku Lita menggerakkan penanya dengan cepat, bisa aku tebak apa yang dia tulis. Cita-citanya selalu terucap dari bibirnya kalau kami mengobrol, sampai aku hafal jalan ceritanya. Sejak di SD dia ingin sekali menjadi pasukan pengibar bendera di istana Negara dan menjadi pegawai di pemerintahan atau mejadi politikus. Sepertinya aku mulai merasa iri dengan Lita, salah satu cita-citanya akan segera terwujud. Lita sudah lulus seleksi Purna paskibraka Indonesia tingkat provinsi tinggal satu langkah lagi menuju istana. Bahkan dia rela memotong rambut kesayangannya setelah berusaha sekuat tenaga memanjangkannya kembali dengan ramuan rahasia neneknya yang super tak sedap demi cita-citanya itu. [paragraf baru] Aku buru-buru meninggalkan Lita yang mulai aneh tersenyum sendiri melihat tulisannya dan ketika aku membalikan wajah pandanganku menangkap sosok Zuki. “Ya tuhan [Tuhan] bahkan seorang Zuki sepertinya sudah tahu cita-citanya?!” Kenapa aku jadi meremehkan orang lain? Seharusnya aku sudah tahu cita-cita Zuki menjadi koki spesialis masakan betawi yang go internasional, cita-cita sederhana tapi menjadi luar biasa. Lalu bagaimana denganku? Apa cita-citaku? Dari dulu aku tidak pernah menetapkan hatiku pada satu profesi. Satu keinginanku  adalah dapat mengunjungi korea selatan, entah untuk apa dan menjadi apa aku disana asal jangan menjadi pramuwisma atau pramu-pramu yang lain. Agak aneh mungkin, tidak jelas, terlalu kekanak-kanakan bahkan aku tak tahu itu bisa disebut cita-cita atau bukan. Sudahlah kutulis dan kukumpulkan saja apa yang ada di benakku sebelum lipatan di keningku bertambah akibat pertanyaan yang menurut orang banyak mudah. Guru BK-ku mungkin tak akan membahasnya kali ini karena waktu yang mengejarnya untuk menyudahi jamnya. Tapi aku yakin dengan separuh hatiku apa yang ada dipikiran guruku ketika ia tersenyum tipis melihat salah satu dari tumpukan  kertas itu. Mudah-mudahan itu bukan milikku! Tapi sepertinya itu memang kertasku. Yasudahlah!
            Bunyi bel istirahat menggetarkan gendang telingaku. Kuhadapkan pandanganku ke bingkai jendela, hujan sepertinya sudah lelah terjun bebas dari langit, hanya beberapa tetes kecil air yang nekat turun ke bumi walaupun begitu aku malas keluar kelas. Suasana dingin nampaknya membekukan hatiku. Tapi aku merasakan hawa panas?! Hawa panas seperti Angin Bohorok yang kering. kulihat dari cermin kecil yang kupegang bayangan zuki tepat di belakangku. Ternyata itu nafas Zuki! Hembusannya kuat sekali hingga terasa menyentuh ubun-ubunku. Dia nampak ragu, mungkin ingin menyapaku tapi tersendat rasa takut hingga akhirnya Lita mendahuluinya.                                                       [Tab] “Han! Kamu lucu tadi, kena lagi deh sama pak Tito. Haha kebiasaan sih setiap pertanyaan yang dikasih pasti jawabannya nyasar ke korsel. Sekarang markas PBB pindah ke seoul, besok patung liberty jalan-jalan ke pulau jeju? Dasar!”  Lita tanpa bersalah me-restore memori yang sengaja kudelete dengan asiknya membuka bungkusan nasi di sebelahku. [paragraf baru] Aku juga tersadar, memang benar apa yang dikatakan Lita. Beberapa kali bahkan bisa dibilang sering aku menghubungkan pelajaran terutama sejarah dan PKN ke Korsel, bahkan aku berniat membuat terusan seperti terusan suez karena terlalu seringnya. Aku ingat dulu ada salah seorang guru bertanya siapa tokoh emansipasi wanita? Serontak semua kelas kecuali aku berteriak “R.A Kartini!” memang benar itu jawabanya. Tapi ketika guru itu bertanya kepadaku wajahnya berubah bingung sepertinya ia salah orang untuk menjawab karena jawabanku adalah “Jang geum, Pak guru!” mungkin kalau dia menonton drama korea Jawel In The Palace mukanya tak akan sebingung itu. Ketika guruku bertanya siapa itu? [paragraf baru] Dengan wajah polos anak sekolah dasar aku mejawab[koma] “Pak guru gak tahu? dia dayang istana sekaligus dokter wanita pertama di korea yang pinter. Tapi karena orang jahat dia harus keluar dari istana. Nah terus dia berjuang jadi perawat terus jadi dokter. Padahal waktu itu hanya laki-laki yang bisa jadi dokter loh pak. Hebat kan!” teman-temanku dan guruku seketika terdiam dan mengalihkan pembicaraan. Tersadar dengan keaadaan ini satu kesimpulanku, mereka bingung.                        “Jangan-jangan kamu cuma tahu tentang Korsel ya?” Lita menerobos kesadaranku.                              “My soul in seoul. Jiwaku ada  di seoul jantung Korsel kayanya Ta. Jadi semua pikiranku terhubung ke semua isi badan Negara ini. Sepertinya otakku hanya mau menyimpan apa yang kutahu dari korsel walaupun aku juga mencari pengetahuan tentang dunia ini dan semua unsurnya[koma]” aku tidak sadar apa yang kuucap tadi, tiba-tiba gigi, lidah dan semua yang berada dimulutku bekerja sama membentuk kata-kata itu atau lebih tepat curahan hatiku.                                                                             “Han,, emm maapin gu..gue ye.. i..i..ini nasi pesenan lu kaye biase.. maapin ye..pokoknye maapin gue!!” [tulis biasa saja] Zuki mengagetkanku! Akhirnya dia berani mengeluarkan suaranya walau dia terbata-bata dan langsung berlari keluar kelas setelah melepas kepergian nasi udukku di meja. Seperti adegan di film India saja! Rasa laparku di udara dingin ini mengalahkan amarahku, segera kubuka bungkus nasinya. Tapi, sepertinya aku tak asing lagi dengan kertas pembungkus ini. Licin? Seperti kertas??? [paragraf baru]  “aaaaaaghhh… majalahku!!! Zukiiiiii!!!!!” teriakku melengking hingga Lita disebelahku memuncratkan hasil kunyahannya dan terbatuk-batuk karena kaget. [paragraf baru] Kulihat bungkus nasi Lita ternyata sama! Itu majalahku. Pantas saja Zuki kabur setelah memberikan ini. Badanku lunglai, selera makanku musnah. Kucoba memberanikan melihat majalahku yang menjadi korban dalam kasus ini. Menyedihkan, bentuknya tak berbentuk lagi mungkin bila tak jelih aku tak akan mengenalinya. Bila majalahku bisa berbicara pasti dia akan meminta tolong sejadi-jadinya. Aku menundukkan kepala lebih rendah, mencoba melihat lebih dekat nasib kertas ini. Ya ampun.. bila artis dalam robekan majalah ini melihat pasti dia akan sangat marah, wajah dan rambutnya berminyak padahal dia bintang iklan sampho dan pembersih muka ternama, minyak goreng rupanya telah merusak hasil akhir perawatannya selama ini. Emosiku meluap dan menimbulkan panas di udara lembab. Aku bergegas keluar kelas mencari Zuki untuk membuat perhitungan, kutahu dia pasti ada di lapangan basket. Aku menulusuri lorong ini hingga sampai di luar gedung sekolah. Sudah kuduga tak sulit menemukan badan besarnya di kerumunan lalu lalang orang banyak, dia tepat di belakang ring basket.      “Zukiiiiiiii!!!” aku berteriak tanpa mempedulikan keramaian di[spasi]sini [kata "di" sebagai kata depan ditulis terpisah dengan kata setelahnya, contoh di pasar, di sekolah, di rumah, di mana, di sini, di sana dll. "di" sebagai imbuhan ditulis serangkai dengan kata setelahnya contoh ditulis, dibaca, dimulai, disiapkan, dll. Untuk seterusnya, "di" yang kena warna merah berarti penulisannya salah] dan sukurlah Zuki[spasi]pun [partikel "pun" dipisahkan penulisannya kecuali pada kata hubung, contoh: walaupun, jikapun, bagaimanapun, apapun, dll. Keterangan yang sama untuk tanda merah selanjutnya] tahu diri untuk menoleh ke arah sumber suara. “Kamu tuh bodoh atau apa?! Memangnya kamu gak pernah diajarin untuk gak mengambil yang bukan milikmu atau mencari pemilik dari barang yang kamu temui? Aku tahu ini bukan ketidak sengajaan. Udah tahu majalah itu ada di kolong mejaku, masih juga diambil. Enggak ngerasa bersalah apa kamu ngerobeknya dan ngejadiin bungkus nasi?” Aku kalap. tak perlu pengeras suara, suaraku sudah mengundang kerumunan orang banyak yang melihat kami.                                                                                
[Tab] “Maap Han, gue kire ntu sampah. Lu kan sering ngebuang sampah di kolong meja lu[koma]” muka Zuki mulai memelas dan merah mungkin dia merasa bersalah atau malu karena diteriaki. [paragraf baru] Tak peduli! Setan terlanjur menghasutku, menutup jalan hati nuraniku dan menaikan suaraku. “kamu benar-benar bodoh atau pura-pura bodoh sih? Memang majalahku terlihat seperti gumpalan kertas atau secarik kertas yang penuh coretan? Itu masih baru. Maaf aja gak bisa ngembaliin majalah itu! Asal kamu tahu majalahku lebih mahal daripada daganganmu!” aku melangkah meninggalkan Zuki dan membiarkan beberapa pasang mata menyorotiku.
            Lorong ini terasa sunyi, aku bisa mendengar pantulan suara sepasang kaki berlari. Ternyata Lita  mengekor bayanganku dari tadi. Langkah kakiku kuhentikan sejenak untuk melihat wajahnya. Samar-samar terlihat dengan cahaya seredup ini, yang terlihat jelas alis tebalnya yang merapat satu sama lain.Lita memperlambat larinya dan berhenti tepat di depan. [paragraf baru] “Hani kamu berlebihan deh! Cuma gara-gara majalah kamu teriak-teriak di lapangan marahin  Zuki? kasian tahu Zuki!” Lita sepertinya ingin menimpaliku dengan rasa bersalah.                                                                     “Ini tuh majalah khusus ngebahas bintang korea. Aku rela-relain gak jajan buat beli itu. Kalau majalah biasa gak bakal aku permasalahin kaya begini[koma]” aku berusaha membela diri.                      “Kita sama Zuki tuh udah kenal dan bersahabat dari SMP lebih lama dari majalah yang baru kamu beli itu. Majalahkan bisa dicari dan dibeli lagi! Tapi persahabatan gak akan pernah bisa dicetak ulang atau dibeli lagi kalau udah hilang[koma]” Lita pergi meninggalkanku tapi setelah beberapa meter jarak kami dia berbalik lagi.      [paragraf baru] “Oh iya dari dulu aku mau ngomong ini” Lita kembali mengatakan sesuatu “Aku inget kamu pernah bilang jiwamu di seoul kan? Wajar kamu bilang seperti itu karena seoul adalah jantung dari korea, negara yang indah dan luar biasa dengan sumber daya alam juga manusianya aku juga kagum dan itu hak kamu menyukainya. Tapi kamu ditakdirkan untuk lahir disini. Setidaknya kamu harus lebih mengenal negerimu terlebih dahulu, kamu malah gak tahu sama sekali. Bukan aku sok nasionalis tapi aku cuma tidak ingin kamu kehilangan identitasmu sebagai putri bangsa. Kamu memuja berlebihan jadi bukan hanya Zuki yang bersalah[titik]” Lita tersenyum tipis dan membalikan badannya, melanjutkan langkah ke ruang kelas. Aku terenyuh mendengarnya. Benarkah itu? Apakah itu cermin diriku? Serasa tertampar, aku tersadar dari apa yang selama ini tak kusadari.
            Jarum jam terasa bergerak semakin cepat. Aku membuat lamunan lebih panjang dengan memikirkan kalimat yang kudengar ketika jam istirahat tadi. Tuhan mungkin mengasihaniku hingga tak satupun guru memperhatikannya hingga akhirnya “Teeett!!!” bunyi bel meraung mengakhiri hariku disekolah. Bolehkah aku mengakhiri lamunanku juga? Hush hush pergilah kalian semua, lamunanku! Karena sepertinya aku tahu harus melakukan apa untuk menebus rasa bersalah ini. “Maaf bapak ibu guru.. hari ini tak satu jampun aku mendengarkan kalian. Aku berjanji besok pasti akan kubayar perhatianku hari ini. Sungguh!” setelah berbicara sendiri aku bergegas keluar kelas yang baru saja ditinggal seluruh penghuninya. Aku segera keluar area sekolah dan memberhentikan angkutan umum.
            Aku harus membulatkan tekat! Menjadi warga negara sesungguhnya. hal pertama untuk mewujudkannya, aku harus menyingkirkan barang-barang kesayanganku yang berbau korea karena sekeras apapun aku mencoba tidak berlebihan kalau melihat barang-barang itu pasti aku kembali menjadi maniak. Aku segera menerobos kamar setelah sampai di rumah. “Apa yang akan aku singkirkan?” benakku. Kubuka lemari penyimpananku di sudut kamar “Astaga!” ternyata hampir semua isinya barang koleksiku yang berbau korea. Aku terperangah! Ternyata selama ini aku mengumpulkan sebanyak ini? Berapa banyak uang jajanku yang aku korbankan? [paragraf baru] “Oke! Lemari belakangan saja. kita mulai dari kamar. Ayo Hani semangat!” aku berusaha menenangkan diri berbicara seperti itu. Lalu kulihat seisi kamar miniku. Ternyata hampir 360 derajat aku memutar badan, aku bisa menjumpai poster-poster aktor dan penyanyi korsel juga souvenir-souvenir korea dari ukuran S,M,L hingga XL bahkan lampu tidurku juga berbau korea! Aku mulai memilih dan memisahkan barang-barang yang akan kubuang atau tetap kusimpan.                                                             “Yang ini masih bagus jangan dibuang. Hanbok ini mahal gak bakal aku buang. Ini masih aku pakai. Ini baru beli..” satu jam lebih aku memilih dan tak satupun barang yang bersisa semua sudah pindah ke tumpukan mereka masing-masing. Sebelah kanan masih aku simpan sebelah kiri akan dibuang. Ketika aku menoleh ke sebelah kiri “Hah! Dimana barangku? Cuma segini yang aku lempar ke kubu kiri?” lalu dengan ragu kutolehkan kepalaku ke kanan “Waduh! Mereka semua bertumpuk disini? Haaaaaah..” aku pasrah semangatku berubah jadi malas aku jatuhkan saja tubuhku di kasur empukku “Ya ampun[koma] kenapa disaat kaya begini ada tumpukan barang yang menggunung menghalangiku? Masa harus aku daki atau aku cari jalan artenatif melewatinya saja? Huaah! Ngaco.. kayanya tuhan gak ngijinin aku ngebuang semua ini dan melupakan korsel.. oh seoul..” aku tak sanggup melihat tumpukan itu, aku pejamkan saja mataku tapi tiba-tiba bunyi bel rumah samar-samar kudengar berbunyi. Aku segera bergegas membuka pintu. Ketika pintu aku buka tak lebar, Lita dan Zuki tepat di depannya  
             “Han gue mau ganti majalah lu yang gue ambil tanpa sengaja[koma]” tanpa basa basi Zuki menyodorkan majalah yang sama persis dengan majalahku. [paragraf baru] “Tadinya kita udah nyerah nyari, soalnya udah pada abis kejual. untungnya kakak aku punya walau harus bayar dua kali lipat[koma]” Lita menatapku memelas.                                                        
            “Ya ampun tadimah kamu bilang dulu. Aku udah gak marah kok! Aku yang salah mengorbankan persahabatan demi kebagiaanku sesaat. Lagipula majalah ini cuma seminggu aku baca abis itu tinggal di lemari deh” Aku memberikan kembali majalahnya ke Lita. Aku sadar tak seharusnya persahabatan lama kami terputus hanya karena kesenanganku sesaat, walau bagaimanapun aku menyukainya dan aku juga sadar Zuki tak sengaja mengambilnya setelah melihat pengorbanannya mencari pengganti majalah itu. Aku mengajak mereka masuk ke rumahku sebelum adik terkecilku berlari seraya berteriak kepadaku memberikan berita yang nampaknya mengagetkannya.                           
 “Kakak! Kakak ikut kuis yang hadiahnya jalan-jalan ke seoul kan?”        
 “Sepertinya sih begitu, sering malah tapi itu udah agak lama[koma]” aku berusaha mengingat-ingat. [paragraf baru] “Kakak menang! Liat nih nama kakak ada di pengumuman situs resmi kedubes Korsel!” adikku menyerahkan laptop yang dari tadi dibawanya. Tak percaya aku pun merampas laptop itu dari adikku. Kulihat layarnya dari bawah keatas dan ternyata benar ada nama lengkapku Hanifah putri pertiwi [awal nama orang huruf besar] tertulis diurutan pertama pemenang hadiah utama.                         “Aahhhhaha aku menang. Aku bakal ke Seoul!” aku berteriak kegirangan dan kedua temanku hanya saling menatap. Benarkan! my seoul in seoul sekarang jiwaku memanggilku kesana. Sekeras apapun usahaku untuk tidak mengagumi Korsel ternyata membuatku semakin tidak bisa jauh dari Negara [kecil] itu.  Lalu bagaimana niatku tadi? Sudahlah! Bukankah tidak masalah seseorang menyukai dan mengagumi sesuatu asal tidak sesuatu yang negatif? Litapun mengakui itu. Aku tak perlu menghilangkan sama sekali kesukaanku bila masih ingin dianggap putri bangsa ini, yang perlu kulakukan menyisihkan slebih banyak pikiran, tenaga untuk hal lain yang bermanfaat, tidak berlebihan sehingga tidak menghilangkan identitasku sebagai putri bangsa dan tetap mencintai negaraku Indonesia.
            Jadi apa yang kudapat hari ini? Semuanya! Arti persahabatan, kesenangan, kegilaan, kekecewaan, harapan, kebahagiaan  kudapat hari ini. Dan tahukah? Sekarang aku tahu cita-citaku. Menjadi duta besar mewakili negaraku di Seoul pasti sangat menyenangkan. Aku bisa mempererat persahabatan keduanya dan aku bisa menyusul jiwaku disana “Because my soul in Seoul!” semoga ini bukan kebahagiaan,harapan dan cita-cita remajaku saja yang terkadang bisa musnah pergi entah kemana tanpa permisi. Aku harap ini bisa terus berlanjut dan terwujud menjadi kisah yang akan mengisi sejarahku. Semoga.. [hapus]
Catatan:
1)      Tema cerpen ini menarik.
2)      Plot cerita perbaiki lagi.  Masih ada bagian yang seharusnya dihapus karena tidak terlalu penting. Ending belum klop dengan cerita dan mudah ditebak. Judul kurang menarik, perbaiki lagi.
3)      Penulisan masih harus diperbaiki. Dicetak TEBAL penulisan atau tanda baca yang salah. Tulisan dicetak TEBAL DAN MIRING dalam kurung [] adalah catatan perbaikannya. Tolong konsisten menggunakan tanda baca dalam kalimat dialog.
4)       Format cerpen standar, kertas A4, margin (garis pembatas) atas, bawah, kiri dan kanan adalah 3 cm [atau 1,18 inci]. Spasi ganda (spasi 2) dan diberi nomor halaman.

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir ke blog sederhana saya, salam hangat