Friday, 13 January 2012

Hambatan dalam Menulis & Cara Mengatasinya

  1. Berpikir bahwa Menulis adalah Hal yang Sulit.
 Menulis memang sulit, dan tentu saja menulis memang sulit, bagi yang berpikir demikian. Padahal bila kita berpandangan sebaliknya, menulis akan terasa ringan dan mudah. Kita tinggal menggerakkan jari-jari di atas tuts keyboard, atau mencoret2 di atas kertas. Semakin terbiasa kita,  semakin lincah dan mahir kita melakukannya.
 Mengubah paradigma adalah hal pertama yang harus dilakukan untuk menjadi seorang penulis handal, yang produktif dalam berkarya.
 Menulis hanya membutuhkan 1% bakat, dan selebihnya adalah kemauan kita dalam berusaha, berusaha dan selalu berusaha!!!

  1. Kebiasaan Malas & Menunda-nunda.
 Kebiasaan kedua yang harus kita hancurkan adalah kebiasaan malas dan menunda-nunda waktu. Bagi penulis pemula, ide tidak muncul setiap waktu. Karenanya, menunda-nunda pekerjaan menulis mengakibatkan hilangnya kesempatan mereka dalam berkarya.
 Saat ide tersebut datang, segeralah ambil pena dan kertas dan mulailah menulis. Jika tidak memungkinkan, catat ide-ide global yang menjadi kata kuncinya. (kita bisa menuliskannya di HP, misalnya).
 Jadwalkan waktu satu-dua jam sehari untuk menulis. Berkomitmenlah pada diri sendiri untuk menepatinya.

  1. Berpikir bahwa Kita Tidak Cukup Kompeten.
 Karena keterbatasan pemikiran, terkadang kita membatasi diri pada topik yang kita ketahui. Kita menulis hanya pada ruang lingkup yang membuat kita ‘nyaman’. Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut membuat kita stagnan dan tidak bisa mengembangkan diri.
 Belajar hal baru adalah kunci untuk membuka cakrawala kita. Akan banyak ide yang bergulir jika ‘wadah’ dalam diri diperluas. Bila kita merasa tak kompeten dalam bidang sastra, itu berarti mulai sekarang kita mesti memperbanyak bacaan sastra. Bila kita sama sekali buta filsafat, itu berarti mulai sekarang kita  harus memperkaya kosa kata bijak dari para pendahulu.

  1. Kehabisan Ide.
 Terkadang, saat berada di depan layar Komputer, atau saat sudah memegang pena dan kertas, hujan ide yang tadi deras datangnya, seolah lenyap tiba-tiba.
Bagaimana mengatasinya?
a.       Rekam ulang memori, sambil memejamkan mata, merekontruksi apa yang pernah terlintas dalam benak.
b.      Baca kembali KATA KUNCI yang telah ditulis/dicatat sebelumnya. (saat hujan ide datang, segeralah mencatat ide-ide penting, yang menarik minat).
c.       Lakukan Icebreaking dengan cara :
* Blogwalking:  membaca bahan atau cerita hasil karya orang lain,
* Searching gambar-gambar yang berkenaan dengan ide yang akan ditulis, untuk menguatkan daya imajinasi.
* Putar musik yang sesuai dengan selera! Bila tulisan kita sifatnya menggugah semangat, putar musik yang agak menghentak. Bila tulisan kita sifatnya kontemplasi/perenungan, putar musik dengan irama pelan.

Selamat Mencoba...!!!

http://motivasik.multiply.com/journal/item/19 

Bagaimana Menulis Novel? (1)

Bagaimana Menulis Novel? (1)

Bulan lalu saya berjanji untuk menyerahkan naskah novel saya ke penerbit. Harus saya akui, saya mengurungkannya: mundur lagi. Ada beberapa hal di dalam novel itu yang harus saya perbaiki dan saya masih mencari-cari cara terbaik. Untuk itu, hari-hari ini saya kembali menggelar karpet di ruang tamu. Buku-buku referensi kembali digelar di sekeliling karpet. Begitu pula naskah yang sudah saya print-out, agar saya bisa mengecek kembali. Komputer sedia setiap saat.
Bagaimanapun, meski saya merasa ada sesuatu yang enggak bener, bukan hal yang gampang untuk melacaknya dimana. Satu-satunya hal yang mungkin saya kerjakan, adalah mengingat-ingat kembali urutan kerja saya. Dalam hal ini disiplin kerja saya cukup memudahkan pelacakan ini. Saya terbiasa bekerja dengan agak metodis. Saya akan menuliskannya di sini, berdasarkan pengalaman saya menulis dua novel sebelumnya. Ini untuk mengingatkan saya, sekaligus barangkali ada yang tertarik mencontek cara kerja saya (hehe):

1. Bab Pertama

Seperti paragraf pertama dalam cerita pendek atau esai, bab pertama dalam sebuah novel selalu saya anggap penting. Bahkan saya tak akan pernah menulis bab kedua jika bab pertama belum yakin. Bab yang lain bisa saya tulis dengan acak, tapi tidak bab pertama. Bab pertama bagaikan resepsionis sebuah hotel, atau percakapan pertama dengan seorang gadis. Jika saya merasa berhasil dengan bab ini, saya bisa merasa yakin dengan keseluruhan novel. Jika bab ini gagal, saya akan merasa sia-sia menyelesaikan sisanya.
Kafka merupakan guru terbaik saya dalam menulis bab pertama. Bagi saya, ia tak hanya terbaik dalam menulis bab pertama, tapi juga yang terbaik dalam menulis paragraf pertama. Perhatikan kutipan dari The Trial: Someone must have traduced Joseph K., for without having done anything wrong he was arrested one fine morning. Atau dari Metamorphosis yang terkenal itu: When Gregor Samsa woke up one morning from unsettling dreams, he found himself changed in his bed into a monstrous vermin. (Terjemahan keduanya bisa berbeda dari satu versi ke versi lain).
Kenapa saya menganggap Kafka istimewa? Dalam karya-karyanya, Kafka selalu langsung masuk ke dalam masalah di kalimat pertama! Tak ada prolog yang bertele-tele. Dan yang terpenting kemudian, ia memberi rasa ingin tahu. Saya tahu ada banyak penulis juga mempergunakan metode ini, tapi saya merasa Kafka merupakan satu yang terbaik.

2. Arsitektur Novel

Mungkin ini tak menyenangkan bagi kebanyakan penulis, tapi saya melakukannya: Sejak awal saya sudah merencanakan berapa bab yang ingin saya tulis. Bahkan lebih dari itu, saya juga merencanakan berapa halaman sebuah novel akan saya tulis. Kalaupun ada perubahan, pasti saya lakukan di akhir, ketika saya mengedit. Sebagai contoh, Lelaki Harimau sejak awal sudah saya bayangkan berisi lima bab, dan Cantik itu Luka sebanyak dua puluh bab (di akhir, saya membuang dua bab, menjadi hanya delapan belas bab).
Kenapa saya demikian ketat soal ini? Pertama-tama, meskipun saya percaya dengan improvisasi, saya juga percaya dengan rancang-bangun sebuah karya. Jika saya merencanakan sebuah novel dalam lima bab, saya bisa merancang-bangun beragam aspek novel tersebut dalam setiap babnya. Di bab berapa saya perkenalkan seorang tokoh? Di bab mana sebuah klimaks harus saya letakkan? Dimana problem baru harus muncul? Mana bab yang mestinya melodrama, dan mana bab yang sebaiknya tragis?
Mungkinkah sebuah karya dirancang aspek kuantitasnya sejak awal (jumlah bab, jumlah halaman)? Bagi saya sangat mungkin. Barangkali karena saya terbiasa menulis dengan batasan tertentu untuk media, saya juga menjadi terbiasa menebak, cerita tertentu bisa saya tulis lima puluh halaman atau tiga ratus halaman. Cantik itu Luka tak mungkin saya tulis hanya dua ratus halaman, begitu pula Lelaki Harimau tak akan pernah saya paksakan ditulis lima ratus halaman. Masing-masing memiliki proporsinya masing-masing.
Dalam hal arsitektur novel, Gabriel Garcia Marquez saya pikir yang terbaik. Kita bisa merasakan aliran yag dinamis dari bab ke bab dalam novelnya. Seperti sebuah alur yang sempurna. Ia bukan tipe penulis yang linear, tapi aliran plotnya tak pernah tersendat. Misalnya, ia selalu melakukan flashback di tempat yang tepat, di bab yang mestinya memang flashback. Bayangkan jika bab kedua One Hundred of Solitude bukan kisah mengenai nenek-moyang keluarga Buendia ketika desa mereka diserang bajak laut Francis Drake. Di bab mana lagi bagian itu bisa ditempatkan?


Tips menulis dari Primadonna Angela

Tips menulis dari Primadonna Angela
(Penulis novel Teenlit dan Metropop)
http://vervain.blogspot.com belanglicious@gmail.com

Menulis itu gampang atau susah sih? Semua tergantung pola pikir. Kalau kamu beranggapan menulis itu mudah, maka ide akan berkeliaran di sekitarmu, menunggu untuk ditangkap. Malah kamu akan terus-menerus menulis, sulit berhenti! Akan tetapi kalau belum apa-apa kamu sudah melabeli menulis sebagai sebuah pekerjaan yang mahasulit, ya akan begitu juga jadinya.

Tiap orang punya cara masing-masing dalam menulis. Ada yang langsung dapat menemukan metode yang membuatnya bersemangat untuk berkarya, ada juga yang mentok dan baru menemukan pencerahan setelah membaca-baca tips atau buku mengenai kepenulisan. Semoga dengan membaca tips-tips di bawah ini, kamu jadi lebih semangat dalam menulis.
  1. Cari tahu mengapa kamu ingin menulis. Kalau perlu catat dan tempelkan di tempat yang kamu lihat setiap hari. Saat kecewa karena naskahmu ditolak penerbit atau mendapatkan komentar menyebalkan, ingat-ingat alasanmu menulis supaya tetap termotivasi.
  2. Perbanyak membaca dan latihan menulis. Practice does make perfect!
  3. Bikin target yang realistis agar kamu tetap semangat. (Satu halaman sehari, misalnya.)
  4. Disiplin! Kalau niatmu menulis untuk jadi profesional (atau minimal semi-pro lah), mana bisa hanya dengan mengandalkan mood. Kalau memungkinkan, buat jadwal khusus dalam sehari untuk menulis.
  5. Ciptakan suasana menulis yang mendukung. Bisa dengan menyetel lagu-lagu kesayanganmu, menyiapkan camilan serta minuman favoritmu sebagai penyemangat beraktivitas. Bisa juga dengan membereskan tempat khususmu menulis. Idealnya kita punya ruangan tersendiri untuk berkreasi dalam dunia tulis-menulis, tapi kalaupun tidak kita toh masih bisa menghiasi meja menulis kita dengan pernak-pernik unik serta menarik.
  6. Bawa buku catatan kecil ke mana pun kamu pergi. Begitu sebuah ide muncul, segera catat.
  7. Cara terbaik menghadapi writer’s block adalah dengan memercayai writer’s block itu hanya mitos. Kebingungan mereka plot? Kan bisa disiasati dari awal dengan membuat kerangka.
  8. Bedakan writer’s block dengan kejenuhan dalam menulis. Kadang seorang penulis harus “mengendapkan” naskahnya sebentar dan bersosialisasi atau bermeditasi, apa pun yang bisa membuatmu kembali segar.
  9. Cari tahu kelebihanmu apa. Bidang apa yang paling kamu kuasai? Misalnya kamu kuliah di bidang kedokteran. Akan lebih alami bagimu menulis kisah mengenai seorang dokter dan bukannya seorang pengacara.
  10. Hindari menulis mengenai diri sendiri. That’s what diaries are for! Boleh-boleh saja menulis berdasarkan pengalamanmu, tapi ingat kata-kata Tom Clancy: The difference between fiction and reality? Fiction has to make sense.
  11. Ikuti berbagai kegiatan dan perbanyak temanmu. Dengan memperluas pergaulan, kamu bisa mendapatkan inspirasi dari mereka. Pengetahuanmu juga akan bertambah. Lumayan tuh, untuk background information bagi karyamu.
  12. Cari sahabat sesama penulis, agar bisa saling memberi dukungan dan masukan. Jauhkan pikiran untuk berkompetisi atau apa pun lah. Iri karena sahabatmu sudah menghasilkan tulisan dan kamu belum? Tenang saja. Kalau kamu tekadnya kuat dan tetap disiplin, someday, your time will come.
  13. Kalau ingin menjadi penulis profesional, pikirkan untuk berinvestasi membeli KBBI alias Kamus Besar Bahasa Indonesia juga kamus tesaurus. Selain menambah kosa katamu, kamu juga bisa mengecek ejaan kata yang membuatmu bingung. Seorang penulis yang baik seharusnya mempermudah kerja editor dengan cara memoles naskahnya secantik dan sesempurna mungkin. Menulis dengan ejaan yang tepat dan tata cara yang benar akan membuat naskahmu jadi lebih rapi dan enak dibaca.
  14. Saat ingin menerbitkan buku, pelajari dulu karakteristik sebuah penerbit sebelum mengirimkan naskahmu ke sana. Caranya bagaimana? Baca beberapa buku penerbit tersebut. Kalau “nadanya” mirip-mirip dengan karyamu, berarti ada kemungkinan naskahmu akan diterbitkan mereka.
  15. Tulisanmu ditolak? Biasa. Bahkan penulis sekaliber Stephen King pun sering ditolak di masa mudanya. Tetap berusaha. Ada banyak koran/majalah/tabloid/penerbit di luar sana.
  16. Kalau capek menerima penolakan, kamu bisa mempertimbangkan untuk menerbitkan sendiri karyamu.

Tetap semangat dalam menulis!
Primadonna Angela

Tips Menulis Novel ala Tere Liye


Darwis Tere Liye, siapa yang nggak kenal novelis satu ini? Kiprahnya di dunia menulis patut diacungi jempol. Betapa tidak, ia telah menggarap banyak judul novel, di antaranya: Semoga Bunda Disayang Allah (2007), Hafalan Sholat Delisa (2007), Bidadari-bidadari Surga (2008), Rembulan Tenggelam di Wajahmu (2009) dan Pukat (2010).

Novel “Hafalan Sholat Delisa” mengangkat kisah keluarga Delisa yang selamat dari bencana tsunami Aceh. Karyanya itu kini telah difilmkan dan diputar serentak di bioskop-bioskop Indonesia pada 22 Desember 2011 lalu.

Dalam rangka peluncuran dan diskusi novel “Marwah di Ujung Bara” karya Rh. Fitriadi di gedung AAC Dayan Dawood, Unsyiah, Minggu (8/1/2012) pagi, Tere Liye berkesempatan hadir menjadi salah seorang pemateri dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh itu.
Pria berdarah Palembang tersebut juga menjadi pemateri tunggal dalam workshop menulis yang digelar setelah acara launching dan diskusi novel “Marwah di ujung Bara”. Dalam workshop tersebut, ia menjelaskan beberapa poin penting dalam menulis sebuah novel, sebagaimana yang dirangkum dalam ringkasan di bawah ini:

Ide cerita
Ide cerita merupakan salah satu poin penting dalam penulisan novel, namun ide yang baik selalu lahir dari sudut pandang yang spesial. “Ide itu tidak ada yang jelek. Pada dasarnya ide itu sama, hanya saja yang membuat ia menjadi spesial ketika penulis melihat dari sudut pandang yang spesial,” ujarnya.

Mengapa Naskah Anda Ditolak?

 Mengapa Naskah Anda Ditolak?

Salah satu Kebahagiaan terbesar seorang penulis adalah saat menerima kabar bahwa naskah yang dikirimkannya diterima oleh penerbit dan siap untuk diterbitkan. Suka cita ini akan makin besar kalau naskah tersebut akan menjadi buku pertamanya yang terbit. Tetapi jauh lebih banyak orang yang bersusah hati karena lebih banyak naskah yang ditolak oleh penerbit daripada yang diterima. Tulisan kali ini akan membahas apa yang menyebabkan sebuah naskah ditolak oleh penerbit. Kebanyakan penerbit tidak mencantumkan mengapa naskah tersebut ditolak. Bahkan banyak penerbit yang tidak memberi kabar apapun kalau suatu naskah ditolak, seolah-olah naskah Anda nyemplung ke laut.
Banyak orang beranggapan kalau naskah ditolak maka alasannya adalah naskahnya yang jelek, kualitasnya tidak memadai atau berbagai hal teknis lainnya. Padahal sebenarnya alasan ini hanya salah satu alasan saja. Masih banyak alasan lain yang justru tidak ada kaitannya dengan kualitas tulisan.
Berikut ini adalah kemungkinan beberapa alasan naskah Anda ditolak oleh penerbit:


1. Kualitas naskah tidak sesuai dengan keinginan penerbit
Bila Anda seorang penulis pemula dan belum satupun memiliki buku yang diterbitkan, maka apakah naskah Anda ditolak atau diterima sangat bergantung pada kualitas naskah yang dikirimkan.

2. Penerbit memiliki prioritas buku yang akan diterbitkan
Setiap penerbit tentunya memiliki preferensi tentang buku yang diterbitkannya. Hal ini biasanya berkaitan dengan visi, misi dan latar belakang penerbit. Walaupun buku yang Anda tulis bagus, kalau tidak sesuai dengan visi dan misinya, jangan harap naskah Anda diterima.
3. Naskah Anda tidak sejalan dengan trend pasar
Penerbit yang berorientasi komersial akan berusaha mempertimbangkan pasar saat memilih naskah buku. Jika misalnya Anda mengirimkan naskah teenlit saat novel teenlit sedang booming di pasar, maka kemungkinan besar naskah Anda akan diterima, walaupun misalnya kualitas naskahnya biasa-biasa saja. Pada umumnya penerbit berusaha memanfaatkan momen trend yang cuma sebentar sehingga main sabet naskah yang sesuai dengan trend pasar.

4. Nilai jual naskah Anda rendah
Penerbit yang berorientasi komersial akan berusaha menghindari naskah buku yang "tidak menjual". Kata "tidak menjual" diberi tanda kutip karena sifatnya yang subyektif. Dengan asumsinya sendiri penerbit bisa menetapkan sebuah naskah memiliki nilai jual atau tidak. Kenyataannya, penerbit sering salah memprediksi nilai jual suatu naskah. Anda mungkin perlu tahu kalau buku best seller seperti Chicken Soup for The Soul, Who Moved My Cheese, bahkan Harry Potter pada awalnya ditolak habis-habisan oleh banyak penerbit.

5. Kapasitas penerbit sudah penuh
Beberapa penerbit memiliki kapasitas untuk menerbitkan buku dalam jumlah yang sangat minim. Bahkan penerbit besar pun memberi jatah jumlah yang bisa diterbitkan pada buku jenis tertentu. Jadi kalau kuota yang ada habis, maka naskah yang Anda dikirimkan kemungkinan besar akan ditolak oleh penerbit.

6. Naskah Anda terlewat tanpa sengaja
Ini adalah hal paling buruk yang dapat terjadi pada naskah Anda. Maklumlah, penerbit juga manusia. Surat proposal dan sinopsis yang buruk biasanya akan menyebabkan naskah Anda terlewat. Naskah yang belum jadi saat dikirimkan juga berpotensi merugikan karena mungkin penerbit akan beranggapan hanya seginilah kualitas naskah tersebut.
Jadi, kalau Anda melihat alasan-alasan di atas yang berkaitan dengan teknis menulis hanya sebagian dari alasan mengapa naskah Anda ditolak oleh penerbit. Bahkan lebih banyak alasan yang berada di luar naskah dan penulis. Kalau naskah Anda ditolak, mungkin bukan salah naskah Anda. Keep on writing!


oleh Didik Wijaya

CONTOH -CONTOH MEMBUAT GENRE SINOPSIS

1. MetroPop: Crash Into You [novel]
Oleh aliaZalea

Sinopsis

Hanya ada satu orang yang paling dibenci Nadia di dunia ini, seorang anak laki-laki bernama Kafka. Cowok jail itu tidak bisa berhenti mengisenginya setiap hari, enam hari dalam seminggu, selama hampir dua tahun. Terakhir kali Nadia bertemu dengannya adalah sekitar dua puluh tahun yang lalu ketika mereka sama-sama masih mengenakan seragam putih-merah. Semenjak itu Nadia berjanji untuk tidak akan pernah lagi sudi bertatap muka dengannya.

Tetapi ketika suatu pagi, di usia dewasanya, Nadia terbangun dengan hanya mengenakan pakaian dalam di kamar hotel Kafka, dia harus mengevaluasi ulang pendapatnya tentang laki-laki satu ini.  Kafka bukan saja kelihatan superhot, tetapi Nadia secuil pun tak pernah membayangkan bagaimana cowok iseng dan jail itu kini bisa menjadi dokter jantung ternama yang menangani ayahnya.


2. Nur 'Ala Nur: 10 Tema besar Al-Qur'an sebagai Pedoman Hidup [buku Agama]
Oleh Prof. DR. H. Muhammad Chirzin, M.AG.


Sinopsis

Buku ini menyajikan ayat-ayat Al-Qur’an yang diklasifikasikan ke dalam 10 tema besar.

- Tema pertama: Allah, meliputi al-Asma’ul Husna, Allah Maha Bijaksana, Allah Mahaesa, Allah Mahakuasa, Allah Maha Menghidupkan dan Mematikan, Allah Maha Pemberi Keputusan, Allah Maha Pencipta, Allah Maha Pengampun, Allah Maha Penolong, Allah Mahatahu, Allah pemilik langit dan bumi.

- Tema kedua: Manusia, meliputi penciptaan manusia, ruh, jiwa, nafsu, mimpi, keutamaan manusia, kecenderungan manusia, persamaan hak, mati, tokoh-tokoh wanita, tokoh-tokoh pria, umat, dan kaum.

- Tema ketiga: Nabi dan Rasul, meliputi eksistensi dan tugas para rasul serta 25 nabi dan rasul.

- Tema keempat: Makhluk Gaib, meliputi malaikat, jin dan setan atau iblis.

- Tema kelima: Agama, meliputi ahli Kitab Yahudi dan Nasrani, Islam, Shabi’in, Majusi, iman, kafir, munafik, murtad, musyrik, kitab-kitab suci, wahyu, dakwah, petunjuk, hijrah, jiha, wali, kebebasan beragama, dan pelecehan agama.

- Tema keenam: Hidup dan Kehidupan, meliputi kehidupan dunia, sunnatullah, senang dan bahagia, kebajikan, ilmu dan hikmah, harta (utang, jizyah, pajak, jual-beli, riba, warisan, wasiat), makanan dan minuman, nikah (pernikahan, pasangan hidup, anak, menyusui, talak, iddah, zhihar, zina), pemimpin, perjanjian, ujian, nikmat dan karunia, rezeki, perang, perumpamaan, kezaliman (pembunuhan, keburukan, pencurian, dosa, ingkar dan durhaka, dusta, lalai, judi, makar, dan kerusakan).

- Tema ketujuh: Ibadah, meliputi shalat, zakat, puasa, haji, doa, zikir, infak, dan kurban.

- Tema kedelapan, Akhlak, meliputi adab pergaulan, adil, cinta, rukun dan damai, istiqamah, menutup aurat, sabar, salam, syukur, taat, takwa, tawakal, tobat, bakhil, dan benci.

- Tema kesembilan, Alam, meliputi langit, bumi, matahari, bulan, bintang, air, laut, angin, gunung, pohon, tumbuh-tumbuhan, binatang, dan ternak.

- Tema kesepuluh, Akhirat, meliputi kiamat, balasan, surga, neraka, azab, dan siksa. Dengan pembagian tema ini, Anda dimudahkan untuk memahami isi Al-Qur’an dan menjadikannya pedoman hidup sehari-hari.

3. 100 Resep Makanan Sehat untuk Anak Agar Terhindar dari Penyakit Degeneratif Saat Dewasa [ buku masak]
Oleh Tuti Soenardi 

Tuesday, 10 January 2012

Resensi Buku "Edgar & Ellen : Hewan Langka - Rare Beasts"





Judul : Edgar & Ellen : Hewan Langka - Rare Beasts
Penulis: Charles Ogden
Penerbit: Matahari
Tgl terbit: 2007-03-00
Price: Rp 24.500

Sinopsis Buku:
Kenakalan Edgar dan Ellen sudah terkenal di kota Nod's Limbs. Kali ini, si kembar nakal itu mulai bosan dengan kenakalan yang "biasa-biasa saja". Mereka ingin membuat sesuatu yang luar biasa, namun itu butuh biaya.

Tayangan acara televisi memberi mereka ide untuk membuka toko hewan langka agar bisa mendapat banyak uang. Berhasilkah si kembar menjalankan aksi mereka?

Simak rencana gila mereka untuk mendapatkan binatang paling langka di dunia!
***
"Lucu, lucu, lucu! Cerita yang fresh dan menyenangkan!"Dimas Beck (Artist)

"Petualangan menakjubkan dua bocah nakal yang kehi-langan figur orangtua. Menegangkan sekaligus menghibur. Benar-benar cerdas."Majalah Hai

"Asli, si kembar ini bandel banget! Lucu, apalagi in the end kita bisa ketawa coz theyve to pay 4 what theyve done."Majalah Aneka Yess!

Resensi By Nyi Pede :

    Cerita dibuka pada waktu sudah larut tengah malam. Ellen mengecat wajah Edgar dengan cat warna merah. Lalu mereka saling menjegal dari atap tergelincir ke bawah sungai, basah kuyup. Seolah mereka sedang terluka parah.

    Nod’s Limb adalah kota bersejarah dan tempat berbelanja yang menarik. Ellen dan Edgar adalah saudara kembar. Rambut Ellen dikuncir menggantung melampau dagu yang lancip, sedang Edgar memiliki rambut pendek, dan sedikit rambut panjang di belakang yang dibiarkan agak panjang. Kulit mereka pucat, mata keduanya besar, dan wajah mereka kaku. Ellen lebih tua 2 menit 13 detik saat kelahiran mereka 12 tahun lalu.

Langkah Cepat Menguasai Isi Buku

Langkah Cepat Menguasai Isi Buku
 
Satu kunci awal sebelum sukses membaca cepat, kata Soedarso, penulis buku Speed Reading (Sistem Membaca Cepat dan Efektif), adalah bahwa kita harus membaca sesuai dengan tujuan awal kita. Umumnya, tujuan kita membaca adalah untuk memperoleh informasi atau sekadar bersantai.

Menurut Soedarso, kita tidak boleh diperbudak oleh apa yang tercetak dengan membaca semua kata yang ada. Kita harus berani menjadi tuan dan bacaan itulah yang menjadi budak kita, bukan sebaliknya.

Oleh karena itu, kata dia, semua orang harus berani membuat prioritas membaca. Jangan asal membaca, karena waktu kita terbatas. Kategorisasi akhirnya mutlak dilakukan. Artinya, kita harus menetapkan, apa yang dapat menambah informasi, meningkatkan studi, karier dan pekerjaan. Kita juga harus menetapkan, apa yang tidak menarik dan tidak berguna bagi diri kita ataupun tugas kita.

Ketika menghadapi buku, langkah awal sebelum membacanya adalah skimming atau survei selama satu atau dua menit. Hal ini akan memudahkan kita memilah bagian penting dan tidak penting dalam sebuah buku. Menurut Soedarso, skimming merupakan jurus ampuh dalam membaca cepat.

Skimming antara lain meliputi: memperhatikan judul, sub judul, bagian-bagiannya, paragraf, gambar, hingga tabel sebagai satu kesatuan, memperhatikan judul dengan seksama, apa implikasi-implikasinya, dan melihat pembagian-pembagian selanjutnya untuk mendapatkan apresiasi struktur tulisan.

Belajar : Fakta dalam Fantasi

Fantasi, dari Sudut Pandang Pembaca

Apakah fiksi fantasi? Kalau dilihat dari pengelompokkan jenis fiksi, fantasi bercerita tentang segala hal yang tak masuk akal. Sihir, makhluk-makhluk dongeng, dunia lain, dan sebagainya.

Menurut buku The Complete Idiot's Guide to Publishing Science Fiction karangan Cory Doctorow dan Karl Scroeder, variasi fiksi fantasi dibagi menjadi sebagai berikut:

1. High Fantasy: bercerita mengenai dunia antah-berantah yang sama sekali tidak berhubungan dengan dunia nyata yang kita tinggali. Dunia itu memiliki peraturan yang berbeda, ras makhluk yang beragam. Contoh: The Lord of the Rings karya JRR Tolkien.

2. Traditional Fantasy: mirip dengan High Fantasy tapi tanpa peraturan sama sekali, semua mungkin terjadi. Dunia yang nyata adalah dunia fantasi ini, sedangkan dunia yang kita tinggali hanyalah bayangan saja. Contoh: The Chronicles of Narnia karya CS Lewis.

3. Dark Fantasy: dimana black magic menguasai dunia. Sihir dianggap perbuatan makhluk jahat dan diperangi. Contoh: The Dark Tower Series karya Stephen King.

Saturday, 7 January 2012

Writing Dream, Mewujudkan Impian Menjadi Penulis


Telah terbit di LeutikaPrio!!!
Antologi ke 22 ku <3

Judul : Writing Dream, Mewujudkan Impian Menjadi Penulis
Penulis : Writing Revolution
Tebal : xxxviii + 189 hlm
Harga : Rp. 46.500,-
ISBN : 978-602-225-234-4


Sinopsis:

Semua berawal dari impian. Orang-orang besar membangun kesuksesannya dari batu bata impian yang mereka susun dari awal. Boleh saja orang-orang menganggap itu gila, tapi mereka menggigit kuat-kuat impiannya itu sampai terwujud. Inilah saatnya kamu mewujudkan impian menjadi seorang penulis. Semua orang berhak bermimpi untuk menjadi penulis hebat. Nah, tulislah sekarang juga impian besarmu itu. Kemudian berusahalah untuk mewujudkannya dengan segenap perjuangan, kegigihan, konsistensi, dan antusiasme yang meluap-luap. Buku ini berisi impian-impian besar calon penulis masa depan Indonesia. Tanpa membatasi umur, mulai dari anak SD sampai ibu-ibu turut menulis impiannya di dalam buku ini. Ramuan semangat dan kisah nyata terasa teramat manis sebagai langkah awal yang penting dalam menapaki karier kepenulisanmu. Genggam erat impianmu, dan jadilah bagian dari penulis yang berdedikasi untuk membangun peradaban Indonesia lebih maju dan bermartabat di mata dunia.


Ps : Buku ini sudah bisa dipesan sekarang via website www.leutikaprio.com
, inbox Fb dengan subjek PESAN BUKU, atau SMS ke 0821 38 388 988. Untuk pembelian minimal Rp 90.000,- GRATIS ONGKIR seluruh Indonesia. Met Order, all!!

Banten Zone

    Dapet info lomba dari teman saya namanya Ila, baru saja. Kalau blogger Banten ngadain lomba dan deadlinenya hari ini. Meski saya anak bau kencur di dunia blog, tidak ada salahnya mencoba berpartisipasi mengikuti. Pas ada syarat harus memasukkan banner lomba, kelimpungan ga tau caranya, ironis :D . Lagi-lagi Ila yang saya uber-uber.

    Banten, namamu sering kudengar disebut-sebut dalam televisi. Tapi kuabaikan berita tentangmu. Kali ini aku harus mencari tahu tentangmu demi sebuah lomba. Kubaca biodatamu di wikipedia. Kubaca perkembanganmu di website Pemprov Banten. Dari sekian banyak yang tertulis tentangmu, yang kuingat hanya satu: golok, senjata tradisionalmu. Payah sekali ingatanku, padahal semua baru saja kubaca --" .

Wednesday, 4 January 2012

Buku Sabda Hati Untuk Negeri

 
 
Air mata darah telah tumpah selaksa menahan amarah yang kian menghunjam pada kehidupan di tanah pertiwi yang kian membunuh mimpi anak-anak negeri. Haruskah jiwa kecil menderu bagai tsunami? Derita bertubi mencabik hati? Merobek jiwa yang kian tertatih? Haruskah nadi berhenti di sini? Lihatlah bunda pertiwi yang berduka menancapkan duri pada jejak kebisuan hati. Dari teriakan jiwa dan jeritan nurani, dukanya kian berkarat dari era ke era karena hanya makan janji. Inilah ratap pertiwi yang usang bermandikan duka lara. Puisi menggambarkan ke-20 cerpen “Sabda untuk Negeri”. Kumpulan cerpen yang sengaja dipersembahkan untuk negeri tercinta, betapa kemiskinan masih merajai pelosok tanah air. Antologi ini menceritakan bagaimana anak kecil harus berjuang mencari uang demi bertahan hidup agar terus bisa sekolah, gusuran rumah yang tanpa mengenal belas kasihan, sampah-sampah yang berjejalan di sungai-sungai. Suap-menyuap pun tak luput diceritakan, perjuangan seorang guru muda, dan kisah menarik lainnya.
 
Judul : Sabda Hati Untuk Negeri
Penerbit : Leutika Prio
ISBN: 978-602-225-220-7
Terbit: Januari 2012
Tebal: 132 halaman
Harga: Rp. 32.400,00

Mencari Ide

Banyak cara yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan ide. Ada yang jongkok berlama-lama di kamar mandi sambil merokok sampai mendapatkan ide cemerlang. Ada yang pergi jauh-jauh ke desa terpencil untuk menyepi. Ada yang melamun, sambil menatap kertas putih di hadapannya atau halaman putih di layar komputer sambil jarinya mengetuk-ngetuk menja. Tidak ada yang salah dengan semua cara itu. Semua orang punya cara unik untuk mendapatkan ide.

Semua cara di atas punya kesamaan. Kita menunggu sampai ide itu datang. Kalau cepat datang sih ok. Tetapi kalau kereta idenya mogok entah dimana, proses menunggu ini bisa sangat lama. Tentunya Anda tidak akan segera berproduksi. Padahal di sekitar Anda bertebaran ide-ide. Anda mungkin melewatkannya.
Sempatkan diri Anda untuk membaca lebih banyak. Sediakan waktu khusus untuk membaca, sedikitnya 30 menit sehari. Baca apa saja. Majalah, koran, buku, novel, roman, sastra. Apa saja yang menarik perhatian Anda. Semua yang Anda baca bisa menjadi ide.
Berjalan-jalanlah. Perhatikan lingkungan Anda. Kegiatan sepele seperti berjalan-jalan bisa mendatangkan ide.

Tunggu ! Mungkin Anda protes, "Saya sudah membaca ratusan buku, majalah, koran, apa saja yang bisa saya bisa. Bahkan kertas bungkus gorengan pun saya buka dan saya baca. Saya juga sudah melanglang buana kemana saja. Tidak ada sejengkal tanahpun yang belum saya injak-injak. Tetapi kenapa saya tetap sulit mendapatkan ide?"
Jawabannya sederhana saja, "Anda hanya melewatkannya." Kita hidup di jaman informasi. Lebih mudah penulis sekarang untuk mendapatkan informasi daripada penulis jaman dulu. Suratkabar, TV, dan apalagi sekarang sudah ada internet. Transportasi lebih mudah. Mau ke belahan dunia bisa naik pesawat terbang. Dulu cuma ada kapal laut. Problemnya adalah kita melewatkan informasi begitu saja. Ini adalah fenomena baru di dunia informasi. Kita cenderung membaca dengan cepat suatu headline demi headline. Jari-jari jemari kita dengan mudah mengganti channel TV. Akibatnya kita memperlakukan otak kita seperti tong sampah. Semua informasi masuk dan terbuang dengan cepat. Kita cukup bahagia dengan hanya sebatas mengetahui informasi.

Untuk mendapatkan ide dari semua yang Anda lihat atau dengarkan, Anda harus mengubah cara Anda memperlakukan informasi. Pada saat Anda membaca sesuatu. Berhenti. Benar-benar berhenti. Kemudian pikirkan apa saja yang bisa Anda lakukan dengan informasi itu. Imajinasikan. Biarkan pikiran liar Anda berkelana. Saat Anda membaca koran, ada ulasan tentang penyakit flu burung. Dari koran tersebut, Anda mengetahui bahwa virus tersebut tidak menular dari unggas kepada manusia secara langsung. Jika Anda berpindah ke berita lain, maka berita itu hanya menjadi berita.

Bagaimana jika Anda berhenti, dan kemudian menggunakan formula sakti "WHAT IF...."
Bagaimana jika penyakit tersebut menular dari unggas kepada manusia? Bagaimana jika muncul virus strain baru yang lebih berbahaya? Bagaimana jika virus itu sebetulnya telah menjangkiti suatu keluarga di suatu desa terpencil? Bagaimana jika kemudian ada pendatang yang kemudian tertular? Bagaimana jika pemerintah dan masyarakat panik dan menuduh keluarga itu memiliki virus menular yang perlu di basmi? Bagaimana Anda membayangkan ketakutan keluarga itu? Bagaimana jika anak keluarga itu memiliki teman yang kemudian dipisahkan paksa karena takut tertular? Bagaimana perjuangan ayah keluarga itu untuk melindungi anggota keluarganya? Dan seterusnya Anda bisa melanjutkan sendiri.

Semuanya hanya dari satu berita. Anda hanya perlu berhenti dan memikirkan apa saja yang bisa Anda lakukan dengan apa saja yang Anda lihat dan dengar. Anda tidak mau otak Anda menjadi tong sampah saja kan?

oleh Didik Wijaya

Not In The Mood

Bete. Suntuk. Bad Mood. Ide sama sekali tidak keluar. Dibela-belain begadang juga tidak keluar idenya. Untuk menuliskan kalimat pertama saja sulitnya tak terkira. Kadang ide sudah didapat, tetapi bingung dimana harus memulainya. Setiap penulis pasti pernah mengalami hal ini. Ada banyak cara untuk mengatasi hal ini. Namun di bawah ini akan dijelaskan dua cara sederhana untuk mengatasinya.

Salah satu cara yang bisa Anda lakukan adalah memaksa diri Anda untuk menulis. Ketika Anda membaca ini, mungkin Anda akan mengatakan ini adalah cara paling konyol yang bisa Anda temui. Lha, orang sedang susah menulis koq dipaksa menulis. Memang cara ini tidak bisa mujarab untuk semua orang, tetapi sedikitnya Anda bisa mencobanya.

Anda harus memaksa diri untuk menulis apa saja. Semua yang Anda alami, tulislah. Semua yang Anda ingat, tulislah. Jangan pedulikan kalau tulisan Anda salah ketik, salah tata bahasanya. Biarkan mengalir apa adanya. Kali ini Anda hanya menulis untuk diri sendiri, tidak ada orang lain yang akan membacanya. Setelah Anda menulis beberapa paragraf, boleh jadi suatu ide akan muncul dan Anda akan lancar menulis kembali.

Cara yang lain berlawanan dengan cara sebelumnya. Kali  ini janga paksa diri Anda untuk menulis. Tutup buku Anda, matikan komputer, lakukan kegiatan lain selain menulis. Berjalan-jalan, membaca, atau apa saja. Yang penting, jangan pikirkan sedikitpun tentang tulisan Anda. Rileks. Setelah pikiran Anda segar, maka ide akan mudah muncul di benak Anda.

oleh Didik Wijaya

Panduan Menulis Sinopsis Yang Baik

Penerbit yang menerima naskah untuk diterbitkan biasanya mensyaratkan naskah yang dikirim disertai oleh sinopsis. Banyak penulis kadang cuek dengan penulisan sinopsis dan menulis sinopsis seadanya. Padahal itu sangat merugikan dirinya sendiri. Nah di dalam artikel ini kita akan membahas sebenarnya apa itu sinopsis, apa peran sinopsis dan bagaimana menulis sinopsis yang baik.

APA ITU SINOPSIS
Anda tentu pernah membeli buku di toko buku kan? Nah, tahu sendiri kan bagaimana susahnya mencari buku yang diinginkan di antara tumpukan buku yang ribuan jumlahnya di toko buku. Kita tentu akan mencari buku yang sesuai dengan minat dan kebutuhan kita. Kita akan kesulitan jika harus membaca seluruh isi buku satu persatu. Itulah fungsi sinopsis yang ada di belakang cover buku. Sinopsis tersebut memberikan gambaran sekilas dan menyeluruh terhadap isi buku sehingga kemudian Anda dapat menentukan apakah Anda akan membaca lebih lanjut isi buku tersebut.

Apakah Anda pernah membuat skripsi? Di awal skripsi selalu dibuat ringkasan eksekutif (executive summary) yang biasanya hanya berkisar 1/2-1 halaman. Seperti namanya ringkasan ini dibuat untuk para eksekutif, misalnya dosen penguji, yang terlalu sibuk atau tidak sempat membaca semua naskah. Benar kan, mana ada dosen penguji yang membaca seluruh isi skripsi sampai titik komanya. Ringkasan itu akan memberi gambaran pada para eksekutif itu seperti apa sebenarnya isi skripsi tersebut. Sama seperti sinopsis.

FUNGSI SINOPSIS
Fungsi sinopsis yang Anda kirimkan beserta naskah kepada penerbit juga demikian, sama seperti ringkasan eksekutif pada skripsi. Penerbit menerima ratusan bahkan ribuan naskah yang harus dibaca dan diteliti setiap hari. Dari membaca sinopsis, editor akan tahu setidaknya gambaran isi naskah tersebut. Boleh dibilang sinopsis menjadi gerbang awal yang menentukan naskah Anda selanjutnya akan dibaca atau tidak oleh editor yang bersangkutan. Dari sinopsis, editor dengan mudah akan tahu apakah naskah yang dikirimkan sesuai dengan visi dan misi penerbitannya atau tidak. Fungsi sinopsis akan makin besar pada penerbit skala besar. Jadi walaupun sepele sinopsis ini sangat besar fungsinya.

Dengan adanya sinopsis kerja editor yang memeriksa naskah juga akan lebih cepat. Tentunya ini berpengaruh pada karir Anda sebagai penulis. Dengan jawaban yang lebih cepat dari penerbit, entah itu diterima atau tidak, tentu akan sangat membantu langkah Anda selanjutnya.

TIPS MENULIS SINOPSIS YANG BAIK
Setelah kita tahu peran dan fungsi sinopsis, sekarang kita akan membahas bagaimana menulis sinopsis yang baik. Di bawah ini ada beberapa tips yang dapat menjadi acuan:

  1. Sinopsis sebaiknya tidak lebih dari satu halaman. Sepertinya mudah menulis sinopsis satu halaman daripada menulis satu novel. Jika Anda sudah mencobanya, mungkin Anda akan berpikir sebaliknya. Bahkan jika Anda dapat menceritakan seluruh isi naskah Anda dalam satu paragraf saja, itu lebih baik.
  2. Jangan menulis sinopsis dengan bentuk seperti resensi. Sinopsis berbeda dengan resensi. Sinopsis secara obyektif menceritakan isi buku, sedangkan resensi adalah ulasan tentang buku yang berisi pendapat pribadi tentang kelebihan dan kekurangan suatu buku. Editorlah yang akan menilai naskah Anda, bukan Anda.
  3. Berbeda dengan resensi, sinopsis yang Anda kirimkan pada penerbit dapat menceritakan seluruh isi buku termasuk elemen-elemen penting yang dirahasiakan dan menjadi kejutan. Di dalam resensi, hal ini tidak dianjurkan karena akan merusak keasyikan membaca orang lain.
  4. Jangan mencontoh mutlak sinopsis yang ada di cover belakang buku yang dijual di pasaran. Sinopsis yang ada di situ biasanya sudah tidak murni sinopsis karena sudah ada muatan promosinya. Sinopsis yang Anda kirimkan untuk penerbit adalah sinopsis yang menceritakan isi buku, tidak kurang tidak lebih.
  5. Jangan gunakan bahasa sastra yang berbelit-belit. Gunakan bahasa formal yang memudahkan editor untuk memahami naskah Anda secara keseluruhan.
  6. Pastikan keunggulan naskah Anda terdapat di dalam sinopsis. Apakah itu idenya, keunikan temanya, dll. Tentunya tidak dengan memuji-muji keunggulan tersebut, tetapi dengan menyatakan keunggulan tersebut secara obyektif.
  7. Selamat membuat sinopsis

Belajar Editing Cerpen

Berikut ini contoh cerpen yang telah diedit, silakan diperhatikan baik-baik di mana letak kesalahannya (ditulis tebal) dan catatan perbaikannya (dalam kurung yang dicetak tebal dimiringkan). Semoga bisa jadi bahan perbandingan ketika mengedit cerpen sendiri.
----------------------------------------------

My Soul In Seoul
         Oleh Joni Lis Efendi WR di WRITING REVOLUTION            

Matahari bersinar meredup terhalang gumpalan awan. Tak biasanya begitu, ketika jarum jamku menunjukan angka enam lewat lima menit. Aku berlari dan terus berlari, rasanya lorong-lorong ini terasa semakin jauh dari biasanya ditambah kedua kakiku terhalang rok abu-abu ini. “Semoga gak hilang! Semoga masih ada!” kalimat itu terlontar dari mulutku, aku biarkan itu menjadi sinyal positif untuk pikiranku. Suhu pagi ini berada di titik lebih rendah tetapi peluhku berlomba terjun dari kening ketika aku berusaha memasuki kelas yang tak seorangpun di sana, kurasa. Karena pandanganku tertuju pada satu sudut “Mejaku!” aku semakin mempercepat langkah lalu kulihat ruang dalam mejaku, syukurlah! Kamus bahasa koreaku masih berada disana dengan tenang tanpa lecet sedikitpun, masih bersih. Tapi dimana majalahku? Majalah yang berisi artis-artis kesayanganku dari negeri gingseng. “Oh Tuhan! majalahku hilang!” tak sadar suaraku merambat keseluruh ruang kelas.                         
“Kenapa Han? Dateng pagi teriak-teriak?” seorang gadis manis berambut panjang menepuk pundakku, seketika jantungku berpacu cepat. Kukira makhluk halus dan kawan-kawannya ternyata Lita temanku. Kugeser kepalaku dan terlihat badan gempal Zuki tepat di sampingnya.  “Majalahku hilang! Edisi special yang aku tunggu-tunggu” suaraku setengah meninggi dan tak jelas. Kulihat wajah kedua temanku terpaku membisu, entah mereka kaget atau tak mengerti. Tidak peduli dengan ekspresi  mereka aku memeriksa kolong-kolong kumpulan meja di kelas. Tidak ada! Tapi aku yakin majalah itu tidak pulang bersamaku. Kemana? Kemana lembaran-lembaran tentang idolaku?                                                   “Han majalahnye di kolong?” Zuki mulai mengeluarkan sedikit suaranya.                                            “Iya!” suaraku lantang menjawab Karena aku yakin kutinggal disana dan berharap temanku ini tahu dimana keberadaannya.                                                                                                                       “Depannye ada gambar cowok-cowok, matanye sipit, kertasnye licin?”                                                 “Iya!!” kali ini aku benar-benar yakin Zuki tahu sesuatu karena ciri-ciri itu mengarah pada cover majalah yang tercetak foto Super Junior, boys band korea idolaku.                                                                   “Ehm… ntu..nntu.. gue kira udah kagak kepake. Ja..di.. jadi gue pake buat bungkus nasi”         “Apaaaaaa!!!!” serontak suaraku menjadi sopran, mengagetkan seisi kelas. Seperti suara guntur yang tiba-tiba menjalar ke telingaku pada waktu yang sama dan rintikan hujan tak sanggup tertahan gumpalan awan di luar sana. Sepertinya alam merasakan apa yang kurasa.
[beberapa paragraf di atas sebaiknya dihapus, karena tidak relevan dengan tema cerita dan tidak fokus pada inti cerita]
            Tak habis pikir aku dibuatnya. Tak ada ekspresi lain yang menggambarkan kekesalanku selain tatapan dingin dan suara yang seketika membisu dari mulutku ketika Zuki meminta maaf berulang kali hingga bel pelajaran pertama berbunyi nyaring dan membuat hentakan kaki-kaki berlarian di luar kelas. [kalimat di atas kepanjangan dan harus dibagi jadi beberapa kalimat, idealnya panjang 1 kalimat 10-12 kata] Pelajaran kewarganegaraan, itu pelajaran yang akan mengawali hariku yang kelam. Rasanya tak bersemangat! Pikiranku terisi penuh dengan ingatan tentang majalah yang baru dua hari kubeli itu. Aku memang fanatik dengan semua hal tentang korea selatan, [Korea Selatan, nama negara atau bangsa huruf kapital] mungkin sejak kelas lima SD. Tak tahu kenapa aku suka musik, film, drama, komik, budaya dan selalu ingin mencicipi makanan mereka. Kebahagianku menikmati dan mengaguminya. Yang kutahu pasti, setiap hari aku dicekoki drama serial korea yang ditayangkan salah satu stasiun televisi oleh kakakku. Parahnya dari satu stasiun TV itu menulari stasiunTV lain untuk menayangkan hal yang sama. Hasilnya, tanpa sadar aku terhipnotis jalan ceritanya yang menarik dengan para aktor rupawan yang tidak berlebihan memerankannya dan aku tidak mau melakukan apapun sebelum melihat tayangan itu.
            Sibuk dengan semua pikiran tadi, pandangan serta pendengaranku tak terfokus pada pelajaran dan itu terlihat jelas. Sebuah penghapus papan tulis tiba-tiba bergerak berputar dengan kecepatan 0,04 m/s membentuk gerak parabola dan mendarat tepat di mejaku. Efeknya seperti bom atom yang meluluh ratakan Hiroshima Nagasaki, begitu juga efek yang kuterima sukses meluluh ratakan lamunanku.      
“Hani! Kenapa kamu tidak fokus!” tiba-tiba suara bass pak [Pak] Tito meneriakiku yang masih kosong.   “Emmm…” aku tak tahu mau menjawab apa. Hanya bibir bawahku yang bisa aku gigit.                
“Apa yang kamu ketahui tentang PBB?” Pak Tito menembakan pertanyaan tanpa menungu jawabanku sebelumnya.
[pengaturan paragraf selanjutnya lihat paragraf di atas, dijorokkan ke dalam atau cukup tekan tombol TAB di kiri atas keyboard]
[Tab] “Ban Ki Moon pak! [dalam kata sapaan keluarga langsung (yang terlibat secara langsung sebagai tokoh cerita) ditulis huruf besar baik dalam dialog maupun narasi/deskripsi seperti Emak, Ibu, Bunda, Simbok, Mama, Abah, Ayah, Papa, Papi, Bapak, Adik, Abang, Kakak, Paman, Om, Tante, Nak, Nenek, Kakek, Mbak, Mbah, dll. Kalau diikuti dengan nama, juga huruf besar seperti Ibu Ani, Bang Poltak, Kak Rini, dll.] Salah satu yang pernah jadi sekjen PBB”  huft.. beruntungnya aku ada bangsa korea selatan yang pernah berhubungan dengan PBB, pikirku.                   
 [Tab] “Dimana markas besar PBB?” Pak Tito menyerangku lagi secara membabi buta dengan pertanyaannya. Gawat! Dimana ya? Kali ini aku lupa sama sekali, rasanya ingin kukibarkan bendera putih. Tapi kuurungkan niat setelah melihat tatapan sinisnya. [paragraf baru] “Mati atau menjawab?” sepertinya itu yang ditangkap imajinasiku. Oh tidak!! Aku masih muda untuk mati dan belum sempat bertemu Choi Shi Won salah satu personil super junior sebagai penggemarnya, baiklah cukup berlebihan memang tapi tak apalah aku rela menanggung malu.                                                                                                                                           [Tab] “ ehmm.. mungkin di seoul, korsel pak!”                                                                                                    [Tab]Tiba-tiba seluruh penghuni kelas tertawa dengan kompaknya seperti ada konduktor yang mengomandoi mereka semua.                                                                                                                                    [Tab] “Sejak kapan disana? Kamu yang mindahin? Makanya Nak jangan melamun perhatikan ke depan!” Pak Tito membalikan badannya mengisi dua jam kejayaannya tanpa ada pemberontak setelah menang telak dengan semua soalnya.
             Setelah semua organisasi ini aku paksa berimpitan dengan semua hal tentang korea dan majalahku yang berdesakkan di dalam otak. Seorang wanita paruh baya memasuki kelas yang terasa begitu dingin. Wajahnya tak asing lagi, ia seorang yang kukenal, motivator semangat angkatanku, pemberi solusi dan tempat mencurahkan tanda tanya kami. Kali ini guru BK-ku mengeluarkan beberapa kertas tanpa noda ke setiap meja. Dalam satu jam pelajaran yang singkat itu aku harus menggoreskan tintaku, memberitahu apa cita-cita, keinginan dan tujuanku di masa depan. Pertanyaan yang cukup sederhana tapi tanganku mendadak berat dan otakku membeku seketika. Aku bingung huruf-huruf apa yang akan aku torehkan. Kulihat teman-temanku sudah mulai sibuk dengan tulisannya. semua [awal kalimat huruf besar] temanku aku yakin sudah tahu pasti cita-cita mereka, bahkan sudah mempersiapkan diri. Kebanyakan dari mereka ingin masuk perguruan tinggi negeri dan kerja dengan gaji bagus. Di sebelahku Lita menggerakkan penanya dengan cepat, bisa aku tebak apa yang dia tulis. Cita-citanya selalu terucap dari bibirnya kalau kami mengobrol, sampai aku hafal jalan ceritanya. Sejak di SD dia ingin sekali menjadi pasukan pengibar bendera di istana Negara dan menjadi pegawai di pemerintahan atau mejadi politikus. Sepertinya aku mulai merasa iri dengan Lita, salah satu cita-citanya akan segera terwujud. Lita sudah lulus seleksi Purna paskibraka Indonesia tingkat provinsi tinggal satu langkah lagi menuju istana. Bahkan dia rela memotong rambut kesayangannya setelah berusaha sekuat tenaga memanjangkannya kembali dengan ramuan rahasia neneknya yang super tak sedap demi cita-citanya itu. [paragraf baru] Aku buru-buru meninggalkan Lita yang mulai aneh tersenyum sendiri melihat tulisannya dan ketika aku membalikan wajah pandanganku menangkap sosok Zuki. “Ya tuhan [Tuhan] bahkan seorang Zuki sepertinya sudah tahu cita-citanya?!” Kenapa aku jadi meremehkan orang lain? Seharusnya aku sudah tahu cita-cita Zuki menjadi koki spesialis masakan betawi yang go internasional, cita-cita sederhana tapi menjadi luar biasa. Lalu bagaimana denganku? Apa cita-citaku? Dari dulu aku tidak pernah menetapkan hatiku pada satu profesi. Satu keinginanku  adalah dapat mengunjungi korea selatan, entah untuk apa dan menjadi apa aku disana asal jangan menjadi pramuwisma atau pramu-pramu yang lain. Agak aneh mungkin, tidak jelas, terlalu kekanak-kanakan bahkan aku tak tahu itu bisa disebut cita-cita atau bukan. Sudahlah kutulis dan kukumpulkan saja apa yang ada di benakku sebelum lipatan di keningku bertambah akibat pertanyaan yang menurut orang banyak mudah. Guru BK-ku mungkin tak akan membahasnya kali ini karena waktu yang mengejarnya untuk menyudahi jamnya. Tapi aku yakin dengan separuh hatiku apa yang ada dipikiran guruku ketika ia tersenyum tipis melihat salah satu dari tumpukan  kertas itu. Mudah-mudahan itu bukan milikku! Tapi sepertinya itu memang kertasku. Yasudahlah!
            Bunyi bel istirahat menggetarkan gendang telingaku. Kuhadapkan pandanganku ke bingkai jendela, hujan sepertinya sudah lelah terjun bebas dari langit, hanya beberapa tetes kecil air yang nekat turun ke bumi walaupun begitu aku malas keluar kelas. Suasana dingin nampaknya membekukan hatiku. Tapi aku merasakan hawa panas?! Hawa panas seperti Angin Bohorok yang kering. kulihat dari cermin kecil yang kupegang bayangan zuki tepat di belakangku. Ternyata itu nafas Zuki! Hembusannya kuat sekali hingga terasa menyentuh ubun-ubunku. Dia nampak ragu, mungkin ingin menyapaku tapi tersendat rasa takut hingga akhirnya Lita mendahuluinya.                                                       [Tab] “Han! Kamu lucu tadi, kena lagi deh sama pak Tito. Haha kebiasaan sih setiap pertanyaan yang dikasih pasti jawabannya nyasar ke korsel. Sekarang markas PBB pindah ke seoul, besok patung liberty jalan-jalan ke pulau jeju? Dasar!”  Lita tanpa bersalah me-restore memori yang sengaja kudelete dengan asiknya membuka bungkusan nasi di sebelahku. [paragraf baru] Aku juga tersadar, memang benar apa yang dikatakan Lita. Beberapa kali bahkan bisa dibilang sering aku menghubungkan pelajaran terutama sejarah dan PKN ke Korsel, bahkan aku berniat membuat terusan seperti terusan suez karena terlalu seringnya. Aku ingat dulu ada salah seorang guru bertanya siapa tokoh emansipasi wanita? Serontak semua kelas kecuali aku berteriak “R.A Kartini!” memang benar itu jawabanya. Tapi ketika guru itu bertanya kepadaku wajahnya berubah bingung sepertinya ia salah orang untuk menjawab karena jawabanku adalah “Jang geum, Pak guru!” mungkin kalau dia menonton drama korea Jawel In The Palace mukanya tak akan sebingung itu. Ketika guruku bertanya siapa itu? [paragraf baru] Dengan wajah polos anak sekolah dasar aku mejawab[koma] “Pak guru gak tahu? dia dayang istana sekaligus dokter wanita pertama di korea yang pinter. Tapi karena orang jahat dia harus keluar dari istana. Nah terus dia berjuang jadi perawat terus jadi dokter. Padahal waktu itu hanya laki-laki yang bisa jadi dokter loh pak. Hebat kan!” teman-temanku dan guruku seketika terdiam dan mengalihkan pembicaraan. Tersadar dengan keaadaan ini satu kesimpulanku, mereka bingung.                        “Jangan-jangan kamu cuma tahu tentang Korsel ya?” Lita menerobos kesadaranku.                              “My soul in seoul. Jiwaku ada  di seoul jantung Korsel kayanya Ta. Jadi semua pikiranku terhubung ke semua isi badan Negara ini. Sepertinya otakku hanya mau menyimpan apa yang kutahu dari korsel walaupun aku juga mencari pengetahuan tentang dunia ini dan semua unsurnya[koma]” aku tidak sadar apa yang kuucap tadi, tiba-tiba gigi, lidah dan semua yang berada dimulutku bekerja sama membentuk kata-kata itu atau lebih tepat curahan hatiku.                                                                             “Han,, emm maapin gu..gue ye.. i..i..ini nasi pesenan lu kaye biase.. maapin ye..pokoknye maapin gue!!” [tulis biasa saja] Zuki mengagetkanku! Akhirnya dia berani mengeluarkan suaranya walau dia terbata-bata dan langsung berlari keluar kelas setelah melepas kepergian nasi udukku di meja. Seperti adegan di film India saja! Rasa laparku di udara dingin ini mengalahkan amarahku, segera kubuka bungkus nasinya. Tapi, sepertinya aku tak asing lagi dengan kertas pembungkus ini. Licin? Seperti kertas??? [paragraf baru]  “aaaaaaghhh… majalahku!!! Zukiiiiii!!!!!” teriakku melengking hingga Lita disebelahku memuncratkan hasil kunyahannya dan terbatuk-batuk karena kaget. [paragraf baru] Kulihat bungkus nasi Lita ternyata sama! Itu majalahku. Pantas saja Zuki kabur setelah memberikan ini. Badanku lunglai, selera makanku musnah. Kucoba memberanikan melihat majalahku yang menjadi korban dalam kasus ini. Menyedihkan, bentuknya tak berbentuk lagi mungkin bila tak jelih aku tak akan mengenalinya. Bila majalahku bisa berbicara pasti dia akan meminta tolong sejadi-jadinya. Aku menundukkan kepala lebih rendah, mencoba melihat lebih dekat nasib kertas ini. Ya ampun.. bila artis dalam robekan majalah ini melihat pasti dia akan sangat marah, wajah dan rambutnya berminyak padahal dia bintang iklan sampho dan pembersih muka ternama, minyak goreng rupanya telah merusak hasil akhir perawatannya selama ini. Emosiku meluap dan menimbulkan panas di udara lembab. Aku bergegas keluar kelas mencari Zuki untuk membuat perhitungan, kutahu dia pasti ada di lapangan basket. Aku menulusuri lorong ini hingga sampai di luar gedung sekolah. Sudah kuduga tak sulit menemukan badan besarnya di kerumunan lalu lalang orang banyak, dia tepat di belakang ring basket.      “Zukiiiiiiii!!!” aku berteriak tanpa mempedulikan keramaian di[spasi]sini [kata "di" sebagai kata depan ditulis terpisah dengan kata setelahnya, contoh di pasar, di sekolah, di rumah, di mana, di sini, di sana dll. "di" sebagai imbuhan ditulis serangkai dengan kata setelahnya contoh ditulis, dibaca, dimulai, disiapkan, dll. Untuk seterusnya, "di" yang kena warna merah berarti penulisannya salah] dan sukurlah Zuki[spasi]pun [partikel "pun" dipisahkan penulisannya kecuali pada kata hubung, contoh: walaupun, jikapun, bagaimanapun, apapun, dll. Keterangan yang sama untuk tanda merah selanjutnya] tahu diri untuk menoleh ke arah sumber suara. “Kamu tuh bodoh atau apa?! Memangnya kamu gak pernah diajarin untuk gak mengambil yang bukan milikmu atau mencari pemilik dari barang yang kamu temui? Aku tahu ini bukan ketidak sengajaan. Udah tahu majalah itu ada di kolong mejaku, masih juga diambil. Enggak ngerasa bersalah apa kamu ngerobeknya dan ngejadiin bungkus nasi?” Aku kalap. tak perlu pengeras suara, suaraku sudah mengundang kerumunan orang banyak yang melihat kami.                                                                                
[Tab] “Maap Han, gue kire ntu sampah. Lu kan sering ngebuang sampah di kolong meja lu[koma]” muka Zuki mulai memelas dan merah mungkin dia merasa bersalah atau malu karena diteriaki. [paragraf baru] Tak peduli! Setan terlanjur menghasutku, menutup jalan hati nuraniku dan menaikan suaraku. “kamu benar-benar bodoh atau pura-pura bodoh sih? Memang majalahku terlihat seperti gumpalan kertas atau secarik kertas yang penuh coretan? Itu masih baru. Maaf aja gak bisa ngembaliin majalah itu! Asal kamu tahu majalahku lebih mahal daripada daganganmu!” aku melangkah meninggalkan Zuki dan membiarkan beberapa pasang mata menyorotiku.
            Lorong ini terasa sunyi, aku bisa mendengar pantulan suara sepasang kaki berlari. Ternyata Lita  mengekor bayanganku dari tadi. Langkah kakiku kuhentikan sejenak untuk melihat wajahnya. Samar-samar terlihat dengan cahaya seredup ini, yang terlihat jelas alis tebalnya yang merapat satu sama lain.Lita memperlambat larinya dan berhenti tepat di depan. [paragraf baru] “Hani kamu berlebihan deh! Cuma gara-gara majalah kamu teriak-teriak di lapangan marahin  Zuki? kasian tahu Zuki!” Lita sepertinya ingin menimpaliku dengan rasa bersalah.                                                                     “Ini tuh majalah khusus ngebahas bintang korea. Aku rela-relain gak jajan buat beli itu. Kalau majalah biasa gak bakal aku permasalahin kaya begini[koma]” aku berusaha membela diri.                      “Kita sama Zuki tuh udah kenal dan bersahabat dari SMP lebih lama dari majalah yang baru kamu beli itu. Majalahkan bisa dicari dan dibeli lagi! Tapi persahabatan gak akan pernah bisa dicetak ulang atau dibeli lagi kalau udah hilang[koma]” Lita pergi meninggalkanku tapi setelah beberapa meter jarak kami dia berbalik lagi.      [paragraf baru] “Oh iya dari dulu aku mau ngomong ini” Lita kembali mengatakan sesuatu “Aku inget kamu pernah bilang jiwamu di seoul kan? Wajar kamu bilang seperti itu karena seoul adalah jantung dari korea, negara yang indah dan luar biasa dengan sumber daya alam juga manusianya aku juga kagum dan itu hak kamu menyukainya. Tapi kamu ditakdirkan untuk lahir disini. Setidaknya kamu harus lebih mengenal negerimu terlebih dahulu, kamu malah gak tahu sama sekali. Bukan aku sok nasionalis tapi aku cuma tidak ingin kamu kehilangan identitasmu sebagai putri bangsa. Kamu memuja berlebihan jadi bukan hanya Zuki yang bersalah[titik]” Lita tersenyum tipis dan membalikan badannya, melanjutkan langkah ke ruang kelas. Aku terenyuh mendengarnya. Benarkah itu? Apakah itu cermin diriku? Serasa tertampar, aku tersadar dari apa yang selama ini tak kusadari.
            Jarum jam terasa bergerak semakin cepat. Aku membuat lamunan lebih panjang dengan memikirkan kalimat yang kudengar ketika jam istirahat tadi. Tuhan mungkin mengasihaniku hingga tak satupun guru memperhatikannya hingga akhirnya “Teeett!!!” bunyi bel meraung mengakhiri hariku disekolah. Bolehkah aku mengakhiri lamunanku juga? Hush hush pergilah kalian semua, lamunanku! Karena sepertinya aku tahu harus melakukan apa untuk menebus rasa bersalah ini. “Maaf bapak ibu guru.. hari ini tak satu jampun aku mendengarkan kalian. Aku berjanji besok pasti akan kubayar perhatianku hari ini. Sungguh!” setelah berbicara sendiri aku bergegas keluar kelas yang baru saja ditinggal seluruh penghuninya. Aku segera keluar area sekolah dan memberhentikan angkutan umum.
            Aku harus membulatkan tekat! Menjadi warga negara sesungguhnya. hal pertama untuk mewujudkannya, aku harus menyingkirkan barang-barang kesayanganku yang berbau korea karena sekeras apapun aku mencoba tidak berlebihan kalau melihat barang-barang itu pasti aku kembali menjadi maniak. Aku segera menerobos kamar setelah sampai di rumah. “Apa yang akan aku singkirkan?” benakku. Kubuka lemari penyimpananku di sudut kamar “Astaga!” ternyata hampir semua isinya barang koleksiku yang berbau korea. Aku terperangah! Ternyata selama ini aku mengumpulkan sebanyak ini? Berapa banyak uang jajanku yang aku korbankan? [paragraf baru] “Oke! Lemari belakangan saja. kita mulai dari kamar. Ayo Hani semangat!” aku berusaha menenangkan diri berbicara seperti itu. Lalu kulihat seisi kamar miniku. Ternyata hampir 360 derajat aku memutar badan, aku bisa menjumpai poster-poster aktor dan penyanyi korsel juga souvenir-souvenir korea dari ukuran S,M,L hingga XL bahkan lampu tidurku juga berbau korea! Aku mulai memilih dan memisahkan barang-barang yang akan kubuang atau tetap kusimpan.                                                             “Yang ini masih bagus jangan dibuang. Hanbok ini mahal gak bakal aku buang. Ini masih aku pakai. Ini baru beli..” satu jam lebih aku memilih dan tak satupun barang yang bersisa semua sudah pindah ke tumpukan mereka masing-masing. Sebelah kanan masih aku simpan sebelah kiri akan dibuang. Ketika aku menoleh ke sebelah kiri “Hah! Dimana barangku? Cuma segini yang aku lempar ke kubu kiri?” lalu dengan ragu kutolehkan kepalaku ke kanan “Waduh! Mereka semua bertumpuk disini? Haaaaaah..” aku pasrah semangatku berubah jadi malas aku jatuhkan saja tubuhku di kasur empukku “Ya ampun[koma] kenapa disaat kaya begini ada tumpukan barang yang menggunung menghalangiku? Masa harus aku daki atau aku cari jalan artenatif melewatinya saja? Huaah! Ngaco.. kayanya tuhan gak ngijinin aku ngebuang semua ini dan melupakan korsel.. oh seoul..” aku tak sanggup melihat tumpukan itu, aku pejamkan saja mataku tapi tiba-tiba bunyi bel rumah samar-samar kudengar berbunyi. Aku segera bergegas membuka pintu. Ketika pintu aku buka tak lebar, Lita dan Zuki tepat di depannya  
             “Han gue mau ganti majalah lu yang gue ambil tanpa sengaja[koma]” tanpa basa basi Zuki menyodorkan majalah yang sama persis dengan majalahku. [paragraf baru] “Tadinya kita udah nyerah nyari, soalnya udah pada abis kejual. untungnya kakak aku punya walau harus bayar dua kali lipat[koma]” Lita menatapku memelas.                                                        
            “Ya ampun tadimah kamu bilang dulu. Aku udah gak marah kok! Aku yang salah mengorbankan persahabatan demi kebagiaanku sesaat. Lagipula majalah ini cuma seminggu aku baca abis itu tinggal di lemari deh” Aku memberikan kembali majalahnya ke Lita. Aku sadar tak seharusnya persahabatan lama kami terputus hanya karena kesenanganku sesaat, walau bagaimanapun aku menyukainya dan aku juga sadar Zuki tak sengaja mengambilnya setelah melihat pengorbanannya mencari pengganti majalah itu. Aku mengajak mereka masuk ke rumahku sebelum adik terkecilku berlari seraya berteriak kepadaku memberikan berita yang nampaknya mengagetkannya.                           
 “Kakak! Kakak ikut kuis yang hadiahnya jalan-jalan ke seoul kan?”        
 “Sepertinya sih begitu, sering malah tapi itu udah agak lama[koma]” aku berusaha mengingat-ingat. [paragraf baru] “Kakak menang! Liat nih nama kakak ada di pengumuman situs resmi kedubes Korsel!” adikku menyerahkan laptop yang dari tadi dibawanya. Tak percaya aku pun merampas laptop itu dari adikku. Kulihat layarnya dari bawah keatas dan ternyata benar ada nama lengkapku Hanifah putri pertiwi [awal nama orang huruf besar] tertulis diurutan pertama pemenang hadiah utama.                         “Aahhhhaha aku menang. Aku bakal ke Seoul!” aku berteriak kegirangan dan kedua temanku hanya saling menatap. Benarkan! my seoul in seoul sekarang jiwaku memanggilku kesana. Sekeras apapun usahaku untuk tidak mengagumi Korsel ternyata membuatku semakin tidak bisa jauh dari Negara [kecil] itu.  Lalu bagaimana niatku tadi? Sudahlah! Bukankah tidak masalah seseorang menyukai dan mengagumi sesuatu asal tidak sesuatu yang negatif? Litapun mengakui itu. Aku tak perlu menghilangkan sama sekali kesukaanku bila masih ingin dianggap putri bangsa ini, yang perlu kulakukan menyisihkan slebih banyak pikiran, tenaga untuk hal lain yang bermanfaat, tidak berlebihan sehingga tidak menghilangkan identitasku sebagai putri bangsa dan tetap mencintai negaraku Indonesia.
            Jadi apa yang kudapat hari ini? Semuanya! Arti persahabatan, kesenangan, kegilaan, kekecewaan, harapan, kebahagiaan  kudapat hari ini. Dan tahukah? Sekarang aku tahu cita-citaku. Menjadi duta besar mewakili negaraku di Seoul pasti sangat menyenangkan. Aku bisa mempererat persahabatan keduanya dan aku bisa menyusul jiwaku disana “Because my soul in Seoul!” semoga ini bukan kebahagiaan,harapan dan cita-cita remajaku saja yang terkadang bisa musnah pergi entah kemana tanpa permisi. Aku harap ini bisa terus berlanjut dan terwujud menjadi kisah yang akan mengisi sejarahku. Semoga.. [hapus]
Catatan:
1)      Tema cerpen ini menarik.
2)      Plot cerita perbaiki lagi.  Masih ada bagian yang seharusnya dihapus karena tidak terlalu penting. Ending belum klop dengan cerita dan mudah ditebak. Judul kurang menarik, perbaiki lagi.
3)      Penulisan masih harus diperbaiki. Dicetak TEBAL penulisan atau tanda baca yang salah. Tulisan dicetak TEBAL DAN MIRING dalam kurung [] adalah catatan perbaikannya. Tolong konsisten menggunakan tanda baca dalam kalimat dialog.
4)       Format cerpen standar, kertas A4, margin (garis pembatas) atas, bawah, kiri dan kanan adalah 3 cm [atau 1,18 inci]. Spasi ganda (spasi 2) dan diberi nomor halaman.

Kaidah Penulisan Kata Sapaan

www.menulisdahsyat.blogspot.com
Oleh Joni Lis Efendi


Kata sapaan adalah kata yang digunakan untuk menegur sapa orang yang diajak berbicara (orang kedua) atau menggantikan nama orang ketiga. Kata sapaan ini harus ditulis dengan huruf kapital, baik dalam kalimat dialog maupun di narasi atau deskripsi.
Berikut adalah beberapa contoh kata yang dapat digunakan sebagai kata sapaan.

Pertama, nama diri, seperti Anto, Karni, Nurmala. Nama diri ini biasanya untuk menyebut diri sendiri atau memanggil tokoh cerita yang lain.
Contoh:
  • Yully duduk gelisah, “Apakah ibu harus diberi tahu? Tapi aku takut masalah ini akan membuat ibu jadi murka.” Gamang hati Yully terus menghantuinya.
  • Edel, apakah kau tidak mendengar pesan ibu? Dasar anak bandel!” gerutu Okti, kakaknya Edel.
  • Siang itu Rik sedang berbelanja di sebuah toko makanan. Namun niatnya urung setelah sepintas melihat Kun ada di toko itu, pasti anak itu akan menodongnya untuk membayar makanannya, mana ini akhir bulan.

Kedua, kata sapaan yang berhubungan dengan hubungan darah/kekeluargaan: Bapak, Ibu, Mama, Emak, Umi, Paman, Bibi, Pakde, Bude, Adik, Anak, Kakak, Abang, Kangmas, Mas, Uda, Umak, Abah, Abak, Om, Kakek, Eyang, dll.
Contoh:
  • Sedari tadi Emak menatap gelisah ke halaman rumah. Berharap gadis kecilnya segera pulang. “Sudah magrib, kenapa Tina belum pulang?” gumam Mak Edel dalam hati.
  • “Maaf Mak, aku tak sengaja menjatuhkan vas bunga itu,” suara Tally gemetar.
  • “Sudah Bapak bilang, kamu jangan bermain lagi sama Sandza!” suara Bapak terdengar bergemuruh di dada Andri.
  • “Kamu ikut Om saja. Hidupmu akan jauh lebih bahagia,” bujuk Ali kepada Nonna.
  • “Seingat Tante gak ada temen cowok kamu yang ganteng, apalagi tajir,” mata Tante Phoe mendelik sinis kepada Yazmin.
  • Untuk beberapa hari Mas Hadi menginap di rumah kami. Kesempatan ini disambut baik oleh Mbak Repita dengan senyuman manisnya, ini kesempatan emas untuk mengenal lebih lekat lelaki berjenggot sejengkal itu.
Bukan kata sapaan jika tidak tokoh cerita dan hanya bersifat umum: ditulis huruf kecil.
Contoh:
  • Dalam acara itu, setiap ibu harus membawa bekal sendiri dari rumah. Sedangkan bapak-bapak tidak dibolehkan merokok selama acara. Dan, anak-anak diminta untuk tidak bergelut atau bermain-main selama acara berlangsung.
  • Sebagai seorang ayah, seharusnya Haris berani mengakui kalau Tri itu adalah anaknya.
  • Hati emak mana yang tega melihat anaknya belum menikah yang usianya sudah mendekati kepala tiga.

Ketiga, profesi atau jabatan atau gelar kepangkatan, seperti Jenderal, Kapten, Profesor, Dokter, Lurah, Camat, Pak RT/RW, Menteri, Presiden. Tapi harus diingat kata sapaan profesi ini hanya digunakan dalam kalimat percakapan langsung atau kalimat narasi/deskripsi yaitu menjelaskan posisi tokoh cerita. Jika tidak tokoh cerita maka cukup ditulis huruf kecil (nanti bagian bawah akan dijelaskan lebih lanjut).
Contoh:
  • Pagi ini, Jenderal Ali Musafa akan datang berkunjung ke Kampung Writing Revolution.
  • Kepala Kampung datang tergesa-gesa, “Mana kepala suku yang lain? Aku akan menagih utang kepada mereka.”
  • “Selamat pagi Suster Ayu,” sapa Teguh dengan senyum termanisnya.
  • “Sudah aku bilang, lapor dulu sebelum meninggalkan kampung!” kesal Kepala Suku Kampung Writing Revolution 01 kepada Makedel yang sering lupa membagikan jatah kuaci warga.
  • Kali ini Bu Guru Wahyu menampakkan ketegangan tingkat tinggi. Wajahnya yang ayu seketika jadi setengah matang waktu berpapasan dengan Kopral Inggar.
Bukan kata sapaan jika bukan tokoh cerita dan tidak diiringi dengan penyebutan nama: ditulis huruf kecil.
Contoh:
  • Rombongan itu terdiri dari seorang jenderal bintang empat dan beberapa ajudannya, juga diikuti oleh bupati, camat, lurah dan ketua RW sekeluruhan itu.
  • Kali ini kepala kampung itu tidak bisa berkata-kata lagi.
  • Setiap desa seharusnya memiliki seorang dokter yang bisa setiap saat melayani masyarakatnya.

Keempat, nama panggilan yang menentukan kedudukan pelakunya dalam masyarakat, seperti Tuan, Juragan, Pak Haji, Nyonya, Nona, Datuk, Batin, Tabib, Dukun Ketua Adat.
  • Semua tidak menyangka jika Juragan Deka bisa pulang kampung begitu cepat. Padahal katanya tidak akan pulang kampung sebelum bisa memboyong istrinya pulang.
  • “Si Ivy nanti kasih obat ramuan bunga 7 bau ini ya,” pesan Mak Dukun Ghara kepada Anung, ayahnya Ivy.
  • Terlihat Tabib Agus melafaz mantra dengan mulut monyong ke kiri, kanan, atas, bawah, lalu meludah ke delapan mata angin tanpa peduli cipratannya hinggap di dahi siapa saja yang  ada di ruangan kecil itu.
  • Pak Haji Yogi tersenyum senang bakal dapat mantu kaya.
Bukan kata sapaan jika bukan tokoh cerita dan tidak diiringi dengan penyebutan nama: ditulis huruf kecil.
  • Sebagai seorang tabib yang disegani di kampung ini, seharusnya Malym tidak melalukan tindakan tidak terpuji itu.
  • Semua orang di kampung ini kenal dengan juragan pemilik penggilingan padi itu.


Kelima, nama pelaku, seperti: Penonton, Peserta, Pendengar, atau Hadirin. Ini hanya diucapkan pada kalimat dialog saja yang tujuanya untuk memuliakan jika dalam kalimat narasi/deskripsi cukup ditulis huruf kecil.
Contoh:
  • “Diberitahukan, semua Peserta Kelas Gokil Online harap memperagakan gerakan ngakak tanpa suara.”
  • “Semua Hadirin dipersilakan tidur kembali.”
  • “Baiklah, Pendengar sekalian harap mencatat dengan baik resep antimati muda seperti yang Suster Ayu sampaikan tadi. Semoga berguna bagi keawetan kamu di kemudian hari,” kata Penyiar radio yang diselingi lagu “Bujangan” Om Haji Rhoma.
Bukan kata sapaan jika tidak orang yang disapa dan tidak diiringi dengan penyebutan nama: ditulis kecil.
Contoh:
  • Setelah diberi aba-aba, semua peserta guling-guling memegang kepalanya.
  • Sebagai pendengar yang baik, aku tidak akan memotong pembicaraannya asalkan dia nanti harus mentraktirku dengan bakso kambing.
  • Para penonton dibuat terpukau oleh kebolehan Repita mengangkat gentong cuma dengan jari kelingkingnya.

Tuesday, 3 January 2012

"Warna-Warni Kehidupan"

"Warna-Warni Kehidupan"
Antologi Flash Fiction, persembahan dari Komunitas Pena Santri.
Antologi ke 18 ♥


Judul : Warna-Warni Kehidupan
Penerbit : Hamasah, Sidoarjo
Halaman : 106 Halaman
Ukuran : 14 X 21 cm
Cetakan 1 : Desember 2011
Harga : Rp. 30.000,00

Sinopsis :
Hidup dan masalah bagaikan dua sisi mata uang yang tak mungkin terpisahkan. Hadirnya ujian dan coban adalah keniscayaan.
Kehidupan dengan segenap ragamnya, senang-sedih, gembira-kecewa, bahagia-luka, jika direkatkan akan membentuk sebuah kepingan yang elok.
Kumpulan FF ini menghadirkan warna-warni kehidupan yang semoga bisa memberikan hikmah bagi pembacanya.
***

Buku ini kami dedikasikan untuk Almarhumah Raka, Semoga tenang di sisiNya. Cerita tentangnya bisa ditengok dalam “Raka ingin Sembuh Ma” karya Nenny Maknun.

Pemesanan silakan via inboks @Hamasah Komunitas atau Akh Daud Al Insyirahd Al Insyirah, bisa juga ke no 085733520180 atau bisa melalui email rumahhamasah@yahoo.com Atau kunjungi http://rumahhamasah.wordpress.com/




****
Kebijakan khusus untuk Para Kontributor
Diskon 10% Jika membeli 1-3 Buku
Diskon 15% atau bebas Ongkir Jika membeli 4-7 Buku
Diskon 20% jika membeli 8 buku atau lebih

" Mutiara Relung Hati" (Antologi Puisi)

" Mutiara Relung Hati" (Antologi Puisi)
Penulis: Joni Lis Efendi, Noorhani Dyani Laksmi, Tubagus Rangga Efarasti, dkk.
Antologi ke 17 ♥

ISBN: 978-602-225-212-2
Terbit: Desember 2011
Tebal: 214 halaman
Harga: Rp. 44.300,00
pesan di www.leutikaprio.com


Deskripsi:

Mutiara Relung Hati…. Bila saatnya beban hidup semakin terasa berat sehingga memaksa kita dalam titik beku sebuah keputusasaan. Inilah saatnya kita untuk kembali menyelami mutiara yang selalu jujur dalam relung hati setiap insan. Bisikan yang menjernihkan akal sehat, logika, kejujuran, dan menghalau arogansi yang berkecamuk. Melafalkan syair-syair hidup yang penuh kedamaian. Bisikan inilah yang menjadi mutiara-mutiara cantik, sejenak menarik kita untuk menyelami waktu terlewat. Menyimak berbagai untaian mutira relung hati dari berbagai penulis yang berbaur tanpa memedulikan umur, kasta, dan senioritas.

Cobalah maknai setiap mutiara yang hadir dari relung hati mereka, percayalah walau hadir dari berbagai muara ternyata setiap maknanya adalah sebuah keindahan, kedamaian yang akan membawa kembali kita untuk berkaca pada berbagai peristiwa sepanjang zaman. Sebagai insan yang melewati siklus masa kanak-kanak, dewasa, dan senja. Dalam setiap langkahnya dengan beban yang berbeda. Belajarlah dalam setiap fasenya dan nikmatilah. Hingga semua fase selesai per episodenya dengan cinta. Tidak bisa diingakari sebuah episode yang terindah dan penuh kejujuran adalah masa kanak-kanak, cobalah sejenak kembali ke masa ini. Penuh dengan dekapan Bunda dan Ayah, menitikkan air mata sepuasnya. Tetapi bila itu sulit untuk mengenangnya, hanya mutiara relung hati yang menjadi kita lebih kuat dan tegar menyelesaikan amanat Sang Khalik. (Persembahan Writing Revolution).